PENGERTIAN MASYARAKAT INFORMASI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Masyarakat informasi adalah sebuah konsep luas yang mulai digunakan sejak 1970-an untuk merujuk pada berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang terkait dengan meningkatnya dampak dan peran teknologi informasi. Konsep ini menonjolkan peran yang dimainkan oleh teknologi informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat kerja, perjalanan dan sarana-sarana hiburan yang tersedia. Penggunaan istilah masyarakat informasi kini sudah begitu meluas sehingga konsep ini tidak lagi dipahami sebagai referensi baku bagi tesis spesifik tertentu. Para jurnalis, futurolog dan ilmuwan sosial sering menggunakan istilah ini untuk mengartikan setiap masyarakat yang bertumpu atau mementingkan informasi sehingga istilah tersebut menjadi tumpang-tindih dengan istilah lain seperti ekonomi informasi, wired nation, revolusi komunikasi, revolusi elektronika dan masyarakat pengetahuan (knowledge society).
Ada pula ilmuwan yang mengartikan masyarakat informasi sebagai suatu bentuk kehidupan yang perlu diraih (bukannya yang akan terjadi dengan sendirinya). Di Jepang dan Eropa dan juga di Amerika Utara, masyarakat informasi dipromosikan sebagai suatu visi abad 21 yang oleh para pembuat kebijakan digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan sektor informasi pada perekonomian tingkat lokal, regional dan nasional. Pada 1990-an, Amerika Serikat dan negara-negara lain mulai meluncurkan program pengembangan infrastruktur informasi modern atau apa yang disebut sebagai “information super highway“, yang pada dasarnya dilandaskan pada visi seperti itu. Bagi ilmuwan sosial yang ingin mempelajari peran teknologi informasi dan komunikasi dalam pembangunan sosial ekonomi, konsepsi masyarakat informasi merupakan gagasan sentral. Konsepsinya sendiri sudah dikembangkan oleh sosiolog Amerika Daniel Bell (1974), yang berfokus pada prediksi akan adanya “Masyarakat Pasca Industri”. Bell melihat informasi sebagai kekuatan utama pada masa seusai Perang Dunia Kedua, sedangkan bahan-bahan mentah merupakan kekuatan utama bagi masyarakat agraris, dan energi adalah kekuatan utama dalam masyarakat industri yang merupakan bentuk-bentuk masyarakat terdahulu sebelum terciptanya masyarakat pasca industri. Secara umum teknologi informasi merujuk pada segenap pengetahuan mengenai penciptaan, pengelolaan dan pemanfaatan informasi guna mencapai tujuan-tujuan manusia, sehingga di dalamnya tidak hanya tercakup berbagai kemajuan dalam teknologi komputer dan telekomunikasi, namun juga berbagai kemajuan dalam teknik dan kecakapan penggunaan sistem-sistem tersebut dalam menyusun model dan simulasi komputer. Bell mengidentifikasikan berbagai kecenderungan menonjol dalam apa yang disebutnya sebagai masyarakat pascaindustri, dengan berfokus pada Amerika Serikat sebagai contoh kasus. Kecenderungan utama yang mengiringi proses terbentuknya masyarakat informasi meliputi pesatnya pertumbuhan berbagai jenis lapangan kerja yang berhubungan dengan informasi; meningkatnya kaitan antara bisnis dan industri dengan produksi, transmisi dan analisis informasi; serta meningkatnya sentralitas peran para teknolog, yakni para manajer dan profesional terdidik yang memiliki keahlian khusus dalam mengolah dan memanfaatkan informasi untuk keperluan pembuatan keputusan.
Kecenderungan yang terpenting adalah bergesernya sebagian besar angkatan kerja dari sektor pertanian (sektor primer) dan manufaktur (sektor sekunder) ke sektor jasa-jasa (sektor tersier). Pembiakan lapangan kerja informasi, khususnya yang bersifat kerah putih, ikut menopang pesatnya pertumbuhan sektor jasa-jasa itu. Pekerjaan informasi itu sendiri sangat beragam, mulai dari pemrograman dan pembuatan perangkat lunak komputer hingga ke pengajaran dan penelitian berbagai hal yang berkaitan dengannya. Industri-industri informasi baru, seperti penyedia jaringan data dan jasa-jasa komunikasi juga termasuk di dalamnya, dan semuanya itu membuat pekerjaan informasi menjadi pilar perekonomian, termasuk dalam sektor pertanian dan manufaktur yang semula dominan. Dalam hal ini, bergesernya jenis-jenis pekerjaan dalam masyarakat informasi itu tidak harus diartikan bahwa sektor primer dan sekunder telah merosot bagi perekonomian nasional yang bersangkutan atau bagi perekonomian global. Apa yang perlu dicermati adalah berkurangnya kebutuhan ketenagakerjaan bagi sektor-sektor tersebut, karena sebagian besar aspeknya telah ditopang oleh berbagai teknik manajemen komputasi dan telekomunikasi dalam meredisain setiap prosedur pelaksanaan pekerjaan dalam sektor-sektor tadi. Kecenderungan penting kedua yang mengiringi munculnya masyarakat pasca industri adalah meningkatnya arti penting pengetahuan termasuk pengetahuan teoretis dan metodologis serta berbagai kodifikasinya yang menjelma dalam manajemen institusi-institusi sosial dan ekonomi. Pengetahuan dan teknik seperti itu. termasuk pula teori sistem, riset operasi, pembuatan model dan simulasi yang merupakan kunci penyusunan prediksi, perencanaan dan pengelolaan organisasi serta sistem dalam masyarakat pasca industri yang semakin kompleks, yang menurut Bell merupakan masalah-masalah utama yang akan dihadapi oleh masyarakat tersebut. Lebih jauh menurut Bell, kompleksitas dan besarnya skala sistem-sistem sosial dan ekonomi itu menuntut adanya kemampuan perencanaan dan peramalan sistematik yang lebih baik yang tidak bisa lagi diperoleh dari survei dan eksperimen biasa. Kecenderungan yang ketiga adalah bergesernya kekuasaan, di mana kalangan profesional dan kelas manajerial (para pekerja pengetahuan) kian dominan. Mereka adalah individu-individu yang memahami bagaimana bekerja dengan pengetahuan, sistem-sistem informasi, simulasi dan berbagai teknik analitis yang terkait. Mereka akan semakin vital dalam setiap proses pembuatan keputusan yang segala aspeknya kian kompleks. Itu berarti kekuasaan relatif para ahli itu akan meningkat seiring dengan berkembangnya masyarakat informasi. Meskipun daya tarik dan arti penting konsep tersebut cukup besar, sampai sejauh ini belum tercapai suatu konsensus mengenai definisi dari masyarakat informasi. Para ilmuwan juga belum menyepakati prospek kemunculan masyarakat informasi tersebut. Perdebatan masih terjadi di seputar proses dan latar balakang sejarah bagi munculnya masyarakat seperti itu. Kritik-kritik terhadap teori Bell berfokus pada identifikasinya atas kedudukan sentral teknologi informasi yang diyakininya merupakan penentu berbagai perubahan dalam masyarakat, khususnya dalam struktur pekerjaan dan strata sosial. Pandangan Bell ini dinilai terlalu deterministik. Terlepas dari bobot akurasi prediksi akan munculnya masyarakat informasi tersebut, adanya konsepsi itu sendiri telah menimbulkan perubahan dalam fokus ilmu sosial. Kini yang dilihat bukan hanya berbagai implikasi sosial dari perubahan teknologi, namun juga faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang telah ikut membentuk disain dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

PENGERTIAN MASYARAKAT INFORMASI | ok-review | 4.5