PENGERTIAN MASA PEMBURU DAN PERAMU

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Istilah-istilah pemburu dan peramu, pemburu-peramu, serta prajurit-pemimpin memiliki makna yang kurang-lebih sama dalam masyarakat sub-sistem tradisional (mengupayakan pemenuhan nafkah sebatas kebutuhan pokok). Terkadang istilah pembum dan peramu digunakan secara agak longgar untuk merujuk komunitas yang memperoleh sebagian besar pemenuhan kebutuhannya dari berburu dan meramu (memanfaatkan apa yang diperoleh dari hasil buruan, hasil sungai dan tanaman hutan). Pada 10.000 SM, seluruh penduduk Bumi adalah pemburu (termasuk pemancing) dan peramu. Pada 1500, ketika pastoralisme dan teknik pertanian sudah berkembang cukup luas, proporsi penduduk Bumi yang “berprofesi” sebagai pemburu dan peramu turun, hingga tinggal 1 persen. Pada 1990-an, jumlahnya jauh lebih kecil lagi, dan hanya dapat ditemukan pada masyarakat-masyarakat terpencil seperti suku Aborigin di Australia, suku Bushmen dan Pygmi di Afrika, serta suku indian Inuit atau Eskimo di Amerika Utara. Itu pun, fungsi pemburu dan peramu bukan satu-satunya. Artinya, para warga suku-suku terpencil tersebut juga sudah melakukan kegiatan-kegiatan lain yang lebih “canggih” seperti bertani, atau berternak.
Meskipun pelakunya sangat sedikit, konsep pemburu dan peramu punya kedudukan penting dalam teori sosial. Para antropolog evolusioner dan ahli etologi manusia sangat mementingkan konsep tersebut, karena keduanya merupakan fungsi atau kegiatan utama manusia selama 2 juta tahun, sekaligus menjadi awalan bagi berkembangnya peradaban modern dan mengakhiri pola hidup primitif. Namun bagi para ilmuwan lain, konsep pemburu dan peramu dalam kenyataannya masih berlaku hingga sekarang, sehingga kedua hal itu, bersama pola ekonomi subsisten, tidak bisa dikaitkan dengan beranjaknya manusia dari pola hidup primitif. Para arkeolog pra-sejarah juga mempelajari pola hidup para pemburu di zaman modern ini, untuk membantu mereka dalam menafsirkan temuan-temuan arkeologisnya. Masalahnya, para pemburu dan peramu di zaman sekarang hanya ada di hutan rimba, bentaran es dan gurun pasir terpencil, yang tentunya tidak bisa disamakan dengan para pemburu dan peramu di masa lampau yang memenuhi Eropa dan Amerika Utara. Minat teoretis atas konsep ini juga dapat ditemukan dalam antropologi ekonomi. Menurut Sahlins (1974), pemburu dan peramu merupakan cikal bakal “masyarakat berkelimpahan” yang kemudian menjadi ciri masyarakat modem, karena merekalah yang kemudian mengubah pola subsisten (sekedar bisa hidup) ke pola berikutnya. Ini diawali ketika para pemburu dan peramu tetap menjaga ritme aktivitasnya sekalipun persediaan makanan sudah cukup, untuk menghadapi kemungkinan masa-masa sulit (akibat musim dingin atau kekeringan yang panjang, dan sebagainya). Pola berjaga-jaga inilah yang kemudian menciptakan praktek pertanian. Terlepas dari luasnya minat teoretis itu, sejumlah ilmuwan mulai meragukan kegunaan konsep pemburu dan peramu. Ellen (1982) menyatakan bahwa pola hidup subsisten mereka tidak banyak berbeda dengan pola hidup masyarakat yang sudah mengenal pertanian, ingold (1980) juga berpendapat bahwa kegiatan perburuan dan peternakan sesungguhnya sulit dibedakan. Para ilmuwan lain mempertanyakan keunikan fundamental dari kegiatan berburu dan meramu, karena dalam prakteknya kedua kegiatan itu bukanlah satu-satunya kegiatan yang dijalani masyarakat pasca primitif, sehingga kedua hal ini sebenarnya tidak perlu dipelajari secara terpisah. Woodburn (1980) mencoba mempertajam konsep berburu dan meramu, dan ia membuat kategori baru, yakni ekonomi yang sepenuhnya subsisten (orang-orang harus berburu atau meramu hanya untuk makan), dan ekonomi yang tidak hanya mengandalkan kegiatan berburu dan meramu (meskipun kedua kegiatan ini masih penting) dan sudah mulai melakukan kegiatan ekonomi lain seperti pertanian, pemeliharaan hewan tertentu (misalnya kuda, untuk memudahkan kegiatan perburuan). Pembedaan ini dimaksudkan untuk melenyapkan kesan bahwa kegiatan berburu dan meramu sedemikian dominan. Sejak pertengahan 1980-an, munculah perdebatan seru yang dipicu oleh para “revisionis”. Mereka, seperti Wilmsen (1989), menolak anggapan bahwa kehidupan para pemburu dan peramu di zaman sekarang masih bertahan karena mereka terpencil atau terisolasi. Mereka bertahan karena masyarakat pelakunya merasa bahwa kedua kegiatan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sampai batas tertentu mereka sesungguhnya sudah mengetahuinya pola hidup lain, dan ini bukan semata-mata berkat meningkatnya globalisasi ekonomi, karena hal itu pun sudah terjadi pada abad-abad sebelum bangsa-bangsa Eropa melakukan kolonisasi. Ironisnya, usaha-usaha untuk mengikis kesan eksklusif konsep berburu dan meramu sebagai gaya hidup justru mengukuhkannya sebagai gaya hidup unik dan penting.

PENGERTIAN MASA PEMBURU DAN PERAMU | ok-review | 4.5