PENGERTIAN LINGKUNGAN

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Pertentangan dan penyeimbangan manusia hanyalah sebagian tema dari diskusi tentang lingkungan.¬†Einstein konon pernah mengartikan lingkungan sebagai ‘ segala sesuatu kecuali saya”. Aforisme ini menyiratkan salah satu dilema dalam konsepsi lingkungan. Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia dapat melihat dunia sekelilingnya sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya. Toynbee (1976) mengaitkannya dengan daya pikir rasional dan kekuatan emosi manusia. Manusia adalah penakluk alam, sekaligus pihak yang paling merasa terancam olehnya. Manusia membunuhi bison, sekaligus menjadikan Samudera Antartika sebagai cagar terakhir ikan paus. Lingkungan adalah metafora yang melanggengkan kontradiksi kondisi dasar manusia. Ia punya kekuatan untuk menaklukkan, namun ia juga diliputi berbagai kelemahan yang selalu membuatnya terancam Di satu sisi manusia membuat berbagai perbaikan, di sisi lain ia membuat keru sakan. Konflik antara individualisme konsumerisme dan solidaritas tidak pernah lepas dari masyarakat manusia. Hal ini sangat ditekankan oleh Atkinson (1991), Dickens (1992), Dobson (1990), Eckersley (1992), dan Sachs (1993). Dari waktu ke waktu manusia memandang alam dengan nafsu penaklukan sekaligus rasa bersalah. Hal ini diuraikan secara cemerlang oleh Glacken (1967); sedangkan karya yang kaya referensi dapat ditemukan pada Simmons (1989; 1993). PBenturan tradisional antara mereka yang ingin memanfaatkan alam dengan yang hendak melestarikannya sudah sejak lama mengisi agenda lingkungan. Namun aksentuasinya sudah berubah sejak filsuf-naturalis Amerika John Muir berjuang mempertahankan lembah Hetch Hetchy di kawasan Yosemite, California. Kini yang lebih dipersoalkan adalah apa yang dapat dikerjakan manusia demi melestarikan lingkungan bagi kepentingannya sendiri. Tragedinya, ada sebagian orang yang merasa menjadi korban. Lingkungan kini menjadi ajang perjuangan keadilan sosial dan penyelamatan alam global, yang mengarah pada integrasi antara hak-hak sipil dan hak-hak alamiah; di sinilah lingkungan mempertautkan berbagai disiplin ilmu sosial, dan berfungsi sebagai penguji bekerjanya demokrasi. Manusia sejak lama menyadari betapa uniknya kehidupan di Bumi ini. Kosmos di mana kita hidup merupakan anugerah tak terperi, dan juga tak tergantikan, yang terbentuk dari jutaan proses kimiawi, biologis dan fisik secara terus-menerus. Pengagungan alam seperti ini dapat ditemukan pada berbagai tulisan ilmiah, termasuk karya cemerlang Lovelock, Gaia thesis. Biosfer yang menyangga kehidupan manusia dilukiskan sebagai suatu zona yang disebut Gaia, yang punya mekanisme pengaturan tersendiri, yang justru sering terusik oleh perilaku manusia. Ini adalah suatu konsepsi ilmiah bermakna khusus, karena penulisnya dapat memaparkan kajian filosofis dalam bahasa yang begitu sederhana, bahkan nyaris puitik, tanpa melepaskan kaidah-kaidah logis. Gaia tidak punya sosok tertentu, tidak dibebani moralitas, namun memberi batasan batasan yang tak terlampaui bagi kehidupan manusia. Jika manusia tak mau menyesuaikan diri, maka alam akan memaksanya.
Inti pandangan enviromentalisme yang kini terus diminati ada tiga, yakni pandangan teknosentrik, ekosentrik dan deep green. Mode teknosentrik (O’Riordan 1981) menggambarkan hakikat manusia sebagai manipulator alam, yang harus membatasi penlakunya agar ia dapat terus melakukan manipulasinya itu. Pandangan konservasionis ini berkembang luas di AS. cenderung optimistik dan bersifat maskulin. Ini merupakan produk ilmu konservasi yang menekankan pemeliharaan alam untuk keperluan manusia sendiri. Meskipun lugas, jauh dari kesan romantik, pandangan ini justru aktif mendorong dilakukannya konservasi secara nyata (Simon dan Kahn 1984). Eksploitasi dan teknologi dipandang positif, sejauh itu tidak merusak alam fisik dan sosial secara berlebihan. Pandangan ekosentrik (Dobson 1990. O’Riordan 1981: Pepper 1986) juga optimis, namun ia lebih jauh lagi dalam menganjurkan pelestarian lingkungan. Kalau dalam pandangan terdahulu alam dijadikan sebagai faktor pengimbang sekunder, maka dalam pandangan ini kelestarian harus selalu dinomorsatukan Semua tindakan manusia sedapat dapat harus didasarkan pada usaha pelestarian aiam. Contoh konsepsi pelaksanaannya yang menonjol ada lima. Pertama, konsep pembangunan berkesinambungan (sustainable development), yang tertuang dalam laporan Komisi Brundtland (1987) dan Konferensi Lingkungan dan Pembangunan PBB (UNCED) di Rio Janeiro di tahun 1992 yang menghasilkan Agenda 21, suatu program integrasi pembangunan dan lingkungan. Pandangan sebaliknya dapat ditemukan pada laporan International Union for the Conservation of Nature (1989) dan karya Sachs (1993). Kedua adalah prinsip kehati-hatian (precau-tionary principle) yang hanya menerima segala iptek selama itu tidak merusak lingkungan. Prinsip ini kemudian mengembangkan civic science (integrasi semua ilmu konvensional dengan dan proses demokrasi alamiah) serta ecological space yang dibarengi dengan prinsip altering the burden of proof. Ini adalah argumen ilmiah yang mendesak negara maju memberi kelonggaran dan bantuan bagi negara berkembang agar dalam pembangunannya tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Ketiga, ilmu ekonomi ekologis (ecological economics) yang menggali berbagai keuntungan ekonomis bagi manusia jika alam dibiarkan apa adanya (critical natural capital), atau jika kegiatan pembangunan dilakukan secara hati-hati sehingga tidak mengganggu lingkungan (natural resource account); istilah lainnya adalah “kesejahteraan lingkungan” (environmental welfare). Keempat, penilaian dampak lingkungan (environmental impact assessment), atau anjuran bagi dilakukannya analisis menyeluruh tentang dampak lingkungan dari setiap proyek atau kebijakan. Ini khususnya ditujukan bagi perusahaan-perusahaan, sehingga memunculkan bidang bisnis jasa baru. yakni biro-biro konsultan lingkungan yang di negara-negara maju sangat berperan bagi turunnya izin resmi, khususnya bagi kegiatan-kegiatan yang dianggap peka terhadap lingkungan. Kelima, ecoauditing, yakni pemeriksaan atas semua usaha, kegiatan atau kebijakan yang ada, demi memastikan bahwa semua itu tidak merusak lingkungan. Tekniknya sendiri bervariasi, misalnya life cycle analysis dan environmental burden analysis. Semuanya merupakan bagian dari sistem manajemen lingkungan terpadu, yang standar-standarnya dibakukan secara internasional. Konsepsi ini dikampanyekan kepada pemerintah di setiap negara yang standar lingkungannya dinilai memprihatinkan. Semuanya pada hakikatnya merupakan kom-promi antara hasrat membangun secara ekonomis, dengan keinginan untuk memelihara alam sejauh mungkin. Para penganjurnya yakin bahwa pelaksanaan langkah-langkah di atas tidak bisa ditunda-tunda lagi, dan harus segera dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pandangan ini pun tidak lepas dari kritik. Sachs (1993), misalnya, meragukan bahwa pengutamaan lingkungan akan menciptakan aneka kendala ekonomis yang pada akhirnya bisa berakibatan pada perusakan lingkungan alam itu sendiri. Terakhir, pandangan deep green bertumpu pada struktur etika dan sosial yang radikal (istilah lainnya adalah deep ecology atau steady-state economics). Pandangan ini menganjurkan ditinggalkannya pola hidup masai yang dianggapnya tidak bisa tidak merusak lingkungan, dan menghimbau masyarakat untuk hidup dalam pola komunal yang dekat dengan alam. Teknologi yang harus dipilih adalah yang paling canggih, tetapi yang tidak perlu aneka perangkat penduduk berskala besar. Pandangan ini menentang globalisme ekonomi dan ketergantungan politik; dalam waktu bersamaan ia mempromosikan pasifisme (hidup serba damai dan bersahaja), ecofeminisme, penegakkan hak-hak konsumen demi mengontrol produsen, serta pengakuan atas hak hidup makhluk lain di luar manusia. Pandangan ini berakar pada tradisi anarkisme dan pemberdayaan komunitas. Meskipun demikian, pandangan ini juga mengakui bahwa semua usulnya tak mungkin diterapkan seketika. Karena itu ia menyambut baik konsepsi pembangunan berkesinambungan yang dianggapnya sebagai batu loncatan menuju kondisi serba lebih baik, jauh dari hingar-bingar politik atau militer yang pada akhirnya akan menghancurkan lingkungan.

PENGERTIAN LINGKUNGAN | ok-review | 4.5