PENGERTIAN LEMBAGA DAN ORGANISASI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Untuk memenuhi kebutuhan ilmiah banyak sekali konsep sosiologis yang diambil dari citra pengetahuan awam. Pengertian sehari-sehari atas istilah institusi (lembaga, pranata) bermacam-macam, namun umumnya merujuk pada organisasi-organisasi yang berisi manusia-manusia, seperti rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, penjara, pusat perawatan mental, dan sebagainya. Pengertian ini diambil dari rumusan Erving Goffman dalam karyanya yang berjudul total institution. Goffman (1961) menjelaskan institusi total sebagai suatu lingkungan di mana terdapat orang- orang dengan situasi yang kurang lebih sama, yang sengaja dikumpulkan dan dipisahkan dari masyarakat luas atas dasar status mereka atau untuk tujuan tertentu. Selain dari yang sudah disebutkan, contoh-contoh institusi yang diajukan Goffman juga mencakup sekolah, pusat latihan tentara, dan kapal selam. Dalam lingkungan itu, setiap orang menghadapi masalah atau tantangan yang sama, dan masing-masing bergerak searah untuk, biasanya namun tidak selalu, mencapai tujuan yang sama pula. Meskipun konsepsi Goffman bisa diterapkan secara luas untuk mencakup berbagai organisasi, hal itu mengaburkan perbedaan antara organisasi yang para anggotanya sama-sama punya komitmen tertentu dan bergabung secara suka rela (contohnya biara atau akademi militer) dengan organisasi yang para anggotanya masuk secara terpaksa dan sulit menerima semua aturan yang ada (misalnya penjara, atau rumah sakit jiwa). Dalam organisasi pertama, kesamaan budaya dan kesatuan langkah untuk menuju satu tujuan yang sama bisa dengan mudah dikembangkan, sedangkan dalam organisasi yang kedua, kesamaan pandangan sangat sulit atau bahkan mustahil diwujudkan. Di penjara, misalnya, selalu saja ada narapidana yang berontak atau berusaha meloloskan diri meskipun mereka tahu bahwa resmi¬nya mereka masuk penjara untuk menjalani hukuman dan berusaha memperbaiki diri. Pengertian umum kedua dari institusi adalah entitas-entitas luas atau berskala besar yang dimaksudkan untuk melayani kepentingan tertentu atau mengatasi masalah-masalah sosial tertentu. Contohnya adalah keluarga, hukum, negara, agama, dan sebagainya. Makna institusi inilah yang dipakai dalam sosiologi.
Tradisi fungsionalis mulai dari Herbert Spencer hingga Talcott Parsons membedakan struktur dan proses dalam masyarakat, yang masing-masing analog dengan struktur fisik (lembaga) dan struktur organik (pranata) dari suatu organisme dan kegiatan-kegiatan yang dijalankannya. Jadi. institusi-institusi sosial dipandang sebagai komponen-komponen struktural dari suatu masyarakat yang melandasi pengorganisasian kegiatan-kegiatan sosial dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Bentuknya bisa berupa organisasi, kelompok atau praktek tertentu yang berulang-ulang, yang masing-masing menuntut komitmen anggota. Unit-unit ini bisa ditemukan di berbagai bidang kehidupan. Di dalamnya ada aturan-aturan baku yang menyangkut prosedur, dan bentuk- bentuk artikulasi hubungan dan kepentingan. Pengertian di atas bersifat teoretis, dan kegunaan analitisnya baru muncul jika kita memakai pendekatan fungsionalis dalam upaya memahami masyarakat (rinciannya tidak akan dipaparkan di sini karena terlalu panjang). Namun karena masyarakat itu sendiri merupakan suatu organisme yang kompleks dan saling berhubungan, maka pemilahan antara struktur dan prosesnya acap-kali justru tidak perlu dilakukan. Kini kian jelas bahwa institusi selama ada dalam proses formasi, negosiasi, dan peluruhan, yang masing-masing menjadi topik analisis tersendiri. Di sini, institusi lebih tepat jika diartikan sebagai pola perilaku yang berulang-ulang dan selalu berperan dalam formasi identitas, atau dalam investasi energi atau pengejaran kepentingan sosial. Jadi, kegiatan-kegiatan sosial atau pola-pola perilaku yang ada senantiasa terinstitusionalisasi, atau sedikit-banyak selalu melibatkan formalisasi, warna nilai atau emosi, cenderung menolak perubahan, serta berorientasi mempertahankan diri. Pola-pola perilaku yang sepenuhnya baru bisa saja muncul lewat berbagai wahana, mulai dari munculnya tokoh karismatik yang tindak-tanduknya menjadi panutan, inovasi politik dan sosial, atau pemberontakan budaya. Jika masyarakat mau menerimanya, maka pola-pola baru itu pun melebur ke pola-pola lama. Prosesnya sendiri disebut sebagai “institusionalisasi”, yang lagi-lagi diambil dari pengertian awam, merujuk pada terciptanya suatu kebiasaan seperti membaca The Time, atau minum martini setiap makan siang. Jadi. jika pada pembahasan di atas institusi dipadankan dengan “proses”, maka di sini dipadankan dengan muncul dan mapannya sesuatu yang baru. Istilah ini kemudian dipakai dalam kajian tentang, misalnya, bagaimana gaya hidup elite dijadikan acuan, menyebar, dan menjadi unsur penting dalam struktur budaya dan sosial. Ini merupakan topik penting dalam sosiologi perkembangan sosial, yang berfokus pada perubahan-perubahan.
Para fungsionalis melihat institusi sebagai sesuatu yang baik, yang membantu masyarakat menjalankan kegiatan-kegiatan penting. Namun aspek moral ini sesungguhnya tidak jelas, baik itu dalam konsep Goffman maupun dalam fokus terhadap institusionalisasi sebagai suatu proses. Rutinitas, prediktabilitas. stabilitas dan kesinambungan merupakan unsur-unsur penting bagi masyarakat mana pun sehingga hal-hal itu dipandang sebagai hal yang baik dan harus ada. Namun jika hal-hal itu tidak ada di suatu masyarakat (biasanya untuk sementara), maka masya-rakat tersebut tidak bisa dikatakan telah melanggar moralitas. Bahkan sebenarnya, perubahan itu sangat diperlukan karena jika tidak semua hal yang semula dianggap baik itu bisa menjadi dogma yang mencekik. Begitu terinstitusionalisasikan, suatu ide atau gagasan biasanya juga kehilangan daya tariknya. Masyarakat yang terlalu stagnan akan mengalami kemerosotan vitalitas, idealisme dan gairah. Jadi, perubahan ada kalanya lebih perlu ketimbang kesinambungan, sekalipun masyarakat juga tidak bisa terus menerus berubah. Yang jelas, semangat manusia tidak boleh dinomorduakan setelah struktur institusional yang jika berlebihan justru akan menghilangkan kegunaannya.

PENGERTIAN LEMBAGA DAN ORGANISASI | ok-review | 4.5