PENGERTIAN KRISIS KEUANGAN

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Ekonomi

Krisis keuangan didefinisikan sebagai kemerosotan tajam dan mendadak atas semua indikator keuangan mulai dari suku bunga jangka pendek, nilai-nilai aset (saham, real estat, tanah, obligasi), harga-harga, serta terjadinya kekacauan pembayaran, dan goyahnya lembaga-lembaga keuangan. Proses terjadinya krisis finansial seringkali dijelaskan sebagai suatu rangkaian dari beberapa tahapan, yakni perubahan mendadak (kejutan eksogen), kepanikan spekulatif (ditandai dengan peningkatan transaksi jual beli secara serampang- an; kelangkaan instrumen-instrumen keuangan, dan akhirnya gelombang kekacauan. Pada tahap pertama, kejutan eksogen melanda suatu sistem ekonomi secara tak terduga dan mengubah perhitungan untung rugi sehingga memaksa dilakukannya berbagai perubahan mendadak atas segala investasi yang dilakukan. Kejutan ini bisa berupa perang, berakhirnya perang, atau revolusi politik. Atau bisa juga hal-hal yang bersifat ekonomis seperti ditemukannya sumber daya baru, adanya inovasi penting, panen melimpah atau sebaliknya paceklik. Kejutan juga bisa bersifat finansial, seperti keberhasilan tak terduga dari penerbitan suatu sekuritas, naik atau turunnya suku bunga secara tajam yang kesemuanya mendorong para pemilik modal mengambil langkah-langkah cepat untuk menyesuaikan total investasinya. Apa pun peristiwa yang mengganggu sistem, hal itu akan senantiasa mengubah peta peluang investasi yang biasanya mendorong spekulasi untuk mendapatkan capital gains. Jika perubahan mendadak itu berlangsung cukup lama, maka tahap kedua, yakni transaksi dagang yang berlebihan dan cenderung tergesa-gesa, akan terjadi. Obyek yang ramai diperjualbelikan tergantung dari jenis kejutan itu sendiri dan bisa berupa apa saja mulai dari komoditi, saham, obligasi (luar negeri atau domestik), investasi infrastruktur seperti jalan-jalan raya, pabrik, pertambangan, bangunan kantor, perumahan, tanah, dan semua hal yang mengandung nilai ekonomis. Kenaikan harga pertama akan mendorong kenaikan harga berikutnya dan inilah yang disebut sebagai efek “gelembung” (bubble effect). Keberhasilan investor perintis akan mendorong pihak lain untuk melakukan investasi serupa. Ketika lebih banyak dana ditarik untuk mengadakan investasi itu, maka dana kredit menjadi kian langka sehingga suku bunga akan meningkat dan mereka yang tidak memiliki cukup modal terpaksa melikuidasi investasinya. Bagi para spekulan yang beruntung, kenaikan harga-harga itu akan memberi mereka keuntungan yang besar. Namun sampai pada titik tertentu kenaikan harga akan terhenti dan kemudian akan konstan atau turun. Selanjutnya terjadilah periode berikutnya yakni kelangkaan keuangan karena perkiraan kenaikan harga tidak dipercaya lagi. Jika perkiraan harga secara mendadak berubah menjadi perkiraan penurunan harga, maka yang terjadi adalah krisis finansial. Penjualan atau pengubahan besar- besaran berbagai aset menjadi uang tunai akan menyusutkan harga-harga aset tersebut dan dalam kasus yang ekstrim akan mengakibatkan kebangkrutan bagi individu atau badan usaha yang masih mempertahankan aset-aset tersebut, dan adakalanya hal ini bisa pula membangkrutkan bank-bank. Dalam sejarah ekonomi moderen kita dapat menemukan contoh krisis finansial. Krisis-krisis pertama yang tercatat dalam sejarah antara lain adalah kepanikan Bursa Tulip di Belanda (1637) dan krisis South Sea Bubble di Inggris (1719). Selama abad 19 perekonomian Inggris mengalami siklus bisnis naik turun setiap sepuluh tahun. Depresi besar yang bermula dari krisis bursa saham di tahun 1929 praktis mempengaruhi seluruh dunia. Itulah sebabnya krisis Black Monday pada bulan Oktober 1987 ketika bursa saham New York mengalami kekacauan membangkitkan kekhawatiran akan terjadinya gejolak finansial yang sama parahnya dengan yang terjadi di masa Depresi Besar. Utang luar negeri yang kelewat besar bisa tak terbayar dan hal itu bisa mengakibatkan krisis. Hal inilah yang dialami oleh beberapa negara Amerika Latin seperti Meksiko. Brazil dan Argentina ketika mereka tidak sanggup mengembalikan pinjaman dari sindikasi perbankan internasional. Pada awalnya negara-negara tersebut memiliki alasan yang sah untuk menarik pinjaman dalam jumlah yang besar. Ini diawali oleh diterapkannya kebijakan uang longgar di Amerika Serikat sejak tahun 1970, dan didorong pula oleh lonjakan harga-harga minyak di tahun 1973 dan 1979 yang tidak hanya meningkatkan surplus dana negara-negara produsen minyak namun juga menekan kalangan perbankan (yang menerima deposito petrodolar itu) untuk melonggarkan prosedur penyaluran kredit khususnya bagi negara-negara berkembang yang sangat membutuhkan pinjaman tambahan untuk membiayai kenaikan harga minyak tersebut. Namun tiba-tiba saja suku bunga di Amenka melonjak, sehingga negara-negara yang memiliki banyak pinjaman luar negeri mengalami kesulitan besar dalam membayar bunga dan cicilan utang luar negerinya. Di Amerika Serikat, ketika inflasi mendorong naiknya suku bunga melampaui Regulation Q, yakni batas maksimum suku bunga deposito yang diperlakukan pada periode 1970-an, Lembaga Asosiasi Simpan-pinjam (S & L, Savings and Loans Association) tiba-tiba saja kehilangan nasabah tabungannya. Deregulasi suku bunga yang kemudian diterapkan semula dapat membantu S & L namun dalam perkembangan selanjutnya hal itu justru membawa dampak negatif. S & L yang dilindungi oleh Korporasi Asuransi Deposito Federal (FDIC, Federal Deposits Insurance Corporation) tampaknya terlalu nekad melibatkan diri dalam investasi-investasi yang berisiko tinggi sehingga banyak unit simpan pinjam yang bernaung di bawah S & L itu terjerembab dalam kesulitan keuangan. Mereka baru dapat diselamatkan oleh kucuran dana pemerintah yang terpaksa menarik sejumlah besar uang pajak dari kas negara, yakni lebih dari 80 milyar dolar di tahun 1992.
Krisis finansial juga dialami oleh negara-negara di Asia Timur. Kemajuan ekonomi Jepang pada periode Perang Dunia Pertama diguncangkan oleh krisis bursa saham di tahun 1920 yang diperburuk lagi oleh gempa bumi di tahun 1923. Guna mengurangi dampak negatif terhadap sistem kredit nasional, Bank Sentral Jepang menyediakan diri sebagai penyedia pinjaman terakhir (lender of last resort) dan tindakan cepat inilah yang menyelamatkan sektor perbankan di negeri itu. Namun karena pukulannya begitu keras, sejumlah bank besar tidak mampu bertahan meski pun telah dibantu oleh pemerintah sehingga menteri keuangan terpaksa mengoreksi pidatonya di parlemen (Diet) dengan memberitahukan telah terjadinya serangkaian kebangkrutan bank. Krisis itulah yang dikenal sebagai “krisis finansial” 1927. Setelah terjadinya insiden ini peraturan perbankan di Jepang sangat diperketat.
Pada periode 1990-an sektor perbankan Jepang kembali diguncang oleh krisis meskipun hal ini tidak bisa dibandingkan dengan krisis finansial di tahun 1927. Kekacauan di era 1990-an itu nampaknya diakibatkan oleh terlalu ekspansifnya kebijakan moneter Bank Sentral Jepang antara tahun 1987 hingga 1989, diawali ketika Jepang berusaha membantu nilai tukar dolar melalui instrumen koordinasi kebijakan makroekonomi antar-negara, yang kemudian disusul oleh kontraksi moneter secara mendadak (Hamada, 1995). Berkembang atau tidaknya kelangkaan Aelum-puhan finansial menjadi krisis finansial tergantung pada berbagai faktor seperti tingkat kelancaran atau kekakuan penyaluran kredit, kecepatan perubahan ekspektasi/perkiraan para aktor keuangan, tingkat gangguan terhadap kepercayaan masyarakat setelah terjadinya musibah finansial (seperti kegagalan spekulasi yang mengakibatkan kerugian besar), regulasi industri perbankan yang berlaku, tingkat kepercayaan masyarakat keuangan, serta, ini sangat penting, peranan bank sentral sebagai penyedia pinjaman terakhir. Faktor dugaan ekspektasi, atau perkiraan selalu memainkan peran penting. Pandangan-pandangan konvensional secara eksplisit mengakui pentingnya peran perkiraan irrasional dan aspek-aspek psikologis pada fase-fase kritis menjelang terjadinya krisis finansial. Kebanyakan orang mudah dipengaruhi oleh rasa takut, desas-desus, dan juga rasa panik apalagi dalam situasi-situasi krisis hingga mereka cenderung berperilaku menyimpang dari perkiraan rasional para ekonom. Aspek-aspek ekonomi, kesenjangan informasi telah dikembangkan menjadi model-model yang mencoba menjelaskan krisis perbankan dan keuangan berdasarkan asumsi adanya ekspektasi atau perkiraan rasional para pelakunya. Sebagai contoh, Diamond dan Dybvig (1987) mencoba menjelaskan karakteristik situasi operasi bank di mana perkiraan publik terhadap kredibilitas bank tersebut sangat menentukan nasib bank itu sendiri. Koordinasi dan respon yang keliru atas perkiraan para pelaku ekonomi bisa mengakibatkan masya┬Črakat terjebak dalam pemilihan kondisi ekuilibrium yang salah. Serius atau tidaknya krisis finansial ditentukan oleh sejauh mana hal tersebut ditangani oleh otorita moneter. Banyak ekonom yang menganut doktrin yang mengatakan bahwa bank sentrailan yang bertanggung jawab sebagai penyelamat dalam situasi krisis finansial dengan memainkan peran sebagai penyedia pinjaman terakhir, suatu konsep yang dirasionalisasikan oleh Walter Bageh ot dalam karyanya yang berjudul Lombard Street (1873). Pelaksanaan peran sebagai penyedia pinjaman terakhir tidaklah mudah karena di situ terkandung masalah insentif. Semakin banyak informasi yang diperoleh pasar keuangan, penanganan dalam situasi darurat memang akan semakin mudah dilakukan, namun dalam waktu bersamaan akan kian besar dorongan untuk melakukan tindakan- tindakan atau peluang terjadinya krisis serupa. Inilah prinsip “beban moral” dalam asuransi: semakin banyak asuransi jiwa yang dimiliki oleh seseorang maka ia akan semakin ceroboh dalam menjaga keselamatannya. Atas dasar perhitungan itulah bank sentral jarang mau memberikan jaminan bahwa ia akan bertindak sebagai penyedia pinjaman terakhir atau memainkan fungsi sebagai penyelamat ketika krisis finansial terjadi. Krisis finansial bisa terjadi serentak di beberapa negara. Propagasi atau penyebaran momentum perkembangan ekonomi berlangsung meiaiui kenaikan nilai perdagangan komoditi atau sekuritas, peningkatan arus permodalan yang meningkatkan basis moneter pihak penerima yang selanjutnya memperbesar peluangnya untuk mengadakan ekspansi kredit, atau bisa juga melalui saluran-saluran komunikasi. Dalam Depresi Besar di tahun 1929, krisis bermula di Jerman dan beberapa negara kecil di Eropa segera setelah di Amerika Serikat, dalam upayanya mengatasi krisis bursa saham New York di tahun 1928, mengurangi penyediaan kredit jangka panjang secara besar-besaran. Krisis bursa saham di tahun 1929 kian parah akibat macetnya penyaluran modal jangka pendek dari London sebagai respon terhadap terjadinya krisis Hatry di bulan September 1929 (Kindleberger. 1986). Krisis finansial internasional dengan sendirinya memerlukan pihak-pihak tertentu yang dapat dan mau bertindak sebagai penyedia pinjaman terakhir berskala internasional. Pada abad 19 kota London memainkan peran itu, terkadang dibantu pula oleh bank-bank sentral dari negara lain. Pada depresi 1929 Inggris yang secara finansial telah melemah akibat Perang Dunia Pertama, mencoba untuk bertindak sebagai penyedia pinjaman terakhir berskala internasional namun upaya ini tidak dibantu oleh Amerika Serikat dan Perancis yang merupakan pihak-pihak yang paling potensial untuk memikul peran tersebut. Amerika Serikat baru mengambil peran utama untuk menstabilkan perekonomian dunia pada periode seusai Perang Dunia Kedua sampai tahun 1971. Ketika krisis utang mencapai puncaknya di tahun 1981 dan 1982, dunia tidak berpaling ke Amerika melainkan ke IMF. IMF selanjutnya berhasil menyusun operasi-operasi penyelamatan terhadap sejumlah negara pengutang terbesar mulai dari Meksiko, Argentina dan Brazil, dengan menggunakan sumber dayanya sendiri, dukungan BIS (Bank of International Settlement) dan bank sentral Amerika Serikat yang berhasil membujuk bank-bank komersial di negara itu untuk tidak mempercepat penarikan pinjaman melainkan justru menambahnya.

PENGERTIAN KRISIS KEUANGAN | ok-review | 4.5