PENGERTIAN KRIMINOLOGI

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Psikologi

Buku-buku teks standar kriminologi mencatat dua aliran besar, yakni “aliran klasik” dan “aliran positivis” Sejarah kedua aliran ini sudah ditulis secara panjang-lebar. Konflik antara kedua aliran itu tampaknya justru bermanfaat untuk memahami disiplin ilmu yang secara konvensional dinyatakan sebagai “studi ilmiah tentang kejahatan dan pengendaliannya” . Perkembangan aliran kriminologi klasik dapat dilacak pada abad 18 melalui kontribusi para tokoh seperti Beccaria dan Bentham yang berjasa mengungkap sistem pengadilan “bar-bar” di Barat di masa itu yang melihat kriminalitas sebagai suatu tindakan buruk yang harus dibalas setimpal Beccaria dan rekan-rekan berusaha meredam kegatalan menghukum itu karena kriminalitas bukan masalah sederhana, dan usaha penanggulangannya tidak bisa hanya dilakukan dengan menghukum; harus sudah ada hukum yang jelas untuk mengaturnya. Aliran klasik itu telah mengajukan model rasional yang melihat kriminalitas sebagai bentuk ekstrim kebebasan individu dalam mengejar kepentingannya. Untuk meredam dampak negatifnya, aliran ini menawarkan suatu sistem hukum yang terbuka dan menghormati hak-hak azasi. Nuansa humas pendekatan klasik ini begitu menonjol sehingga bagi pihak lain terkesan sebagai rasionalisasi tindak kejahatan. Betapa pun, aliran itu dalam berbagai wujudnya, mulai dari Kan- tianisme, liberalisme, anarkisme telah mendorong reformasi sistem hukum dengan lebih memperhatikan hak-hak tertuduh. Dalam perkembangan selanjutnya, tinjauan politik, yurisprudensi dan sosiologi hukum juga dilibatkan. Seabad setelah munculnya aliran klasik, kriminologi mulai tampil sebagai disiplin ilmiah yang berdiri sendiri, terutama sejak adanya “revolusi” positivis yang antara lain tercermin pada Delinquent Man (1876) karya Lombroso. Ini adalah positivisme yang mengandung banyak konotasi sosial-ilmiah atau, seperti dikemukakan David Matza (1964; 1969), positivisme unik yang memberi jubah ilmiah bagi kriminologi, dan menyisihkan aliran klasik yang dianggapnya terlalu banyak mengandung spekulasi metafisik. Fokusnya bergeser dari kriminalitas (tindakan) ke kriminal (pelakunya), yang diyakini berbuat jahat bukan atas dasar alasan rasional atau kebebasan, melainkan unsur-unsur determinisme (aspek- aspek biologis, psikis, atau sosial tertentu yang mendorong seseorang berbuat jahat). Pelaku kri¬minal tidak lagi dipandang sebagai manusia biasa, melainkan sebagai makhluk yang ditakdirkan menjadi anggota kelas khusus yang ditakuti dan dibenci.
Konsep-konsep pokok kriminologi baru ini berkembang di akhir abad 19. Tipe pelaku kriminal Lombroso dijadikan acuan dalam struktur dan logika paradigma positif yang mencoba menjelaskan lingkungan biologi, psikologi dan sosiologi sebagai sumber kejahatan. Pada intinya, pendekatan ini mencoba menjawab pertanyaan “mengapa orang berbuat jahat?” yang juga menjadi pijakan berkembangnya “studi ilmiah tentang sebab- sebab kejahatan”. Dalam perkembangannya, kriminologi selalu berusaha mengukuhkan diri sebagai studi tersendiri yang otonom dan multidisipliner. Namun dalam prakteknya, kriminiogi itu seperti parasit yang terus menempel pada pohon keilmuan lain yang lebih mapan seperti ilmu hukum, psikologi, dan terutama, sosiologi. Metode-metodenya pun dipinjam dari sana-sini. Dalam waktu bersamaan, kriminologi berusaha menterapkan ide-ide baru mulai dari Freudanisme, behaviorisme, dan berbagai gagasan baru lainnya dalam sosiologi (fungsionalisme dari aliran Chicago, teori anomie, interaksionisme, dan lain-lain), Marxisme, feminisme, teori pilihan rasional, dan bahkan aliran pasca modernisme. Setiap buku teks baru kriminologi selalu memuat adaptasi atas gagasan- gagasan itu. Ketika aliran positivis mulai mapan, para kriminolog memusatkan perhatiannya pada soal hukuman dan kontrol terhadap kejahatan, namun dalam waktu bersamaan mereka tidak sepenuhnya meninggalkan ide-ide klasik, terutama salah satu cabangnya, yakni penologi, yang berfokus pada hakikat dan batas-batas sanksi kriminal. Ini memunculkan perdebatan tentang definisi kejahatan, yakni apakah sesuai dengan definisi legal, ataukah lebih luas dari itu (kriminalisasi versus dekriminalisasi; perdebatan kian sengit atas adanya berbagai bentuk penyimpangan yang sampai batas tertentu ditolerir masyarakat (minum minuman keras, atau konsumsi obat- obatan berbahaya). Soal hukuman dan kontrol sosial juga terus menjadi bahan kajian. Kriminologi berusaha mengkontruksikan pengetahuan empiris mengenai fungsi sistem pengadilan pidana. Temuan-temuan dari riset tentang sepak-terjang polisi, pengadilan, penjara dan berbagai lembaga lainnya yang terlibat dalam penanganan kriminalitas, dikumpulkan dan dianalisis sebagai bahan perumusan teori. Struktur dan ideologi lembaga-lembaga itu, juga prakteknya, dianalisis untuk mengevaluasi kinerjanya. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam kriminologi. Di balik itu, tradisi klasik tetap berpengaruh. Para kriminolog modern masih berpegang pada azas rasionalitas dan kemajuan, dan mereka masih berkeyakinan bahwa fungsi penanganan kriminalitas tidak saja bisa dibuat lebih efisien, namun juga bisa dibuat lebih manusiawi. Sebagai reformis, penasihat dan konsultan, para kriminolog menyatakan disiplin mereka bukan suatu himpunan pengetahuan yang berdiri sendiri, melainkan sekedar aspek praktis dari ilmu-ilmu yang sudah ada, bahkan suatu profesi. Jadi di satu sisi kriminologi dinyatakan sebagai bidang studi tersendiri, sedangkan di sisi lain diklaim sebagai bidang profesi. Pandangan ganda ini nampak jelas pada dua hal yang diutamakan para kriminolog, yakni pada kajian mengenai sebab-sebab dan kontrol terhadap kejahatan. Dalam pandangan positivisme, itu merupakan wujud hubungan organik: dengan mengetahui sebab, maka kita akan mengetahui langkah penanggulangannya. Sistem-sistem penjara di awal abad 19 amat tergantung pada masukan dari teori- teori rehabilitasi serta modifikasi perilaku dan anomi yang menjadi tulang punggung kriminologi ilmiah. Namun karakterisasi Foucault terhadap disiplin itu masih diperdebatkan.
Pada masa radikalisasi ilmu-ilmu sosial di tahun 1960-an, kriminologi kembali mengalami perombakan. Sosok pokoknya dianggap terlalu diwarnai aliran positivis. Ada tiga kritik utama terhadapnya (masing-masing kritik itu nampaknya mencerminkan bangkitnya kembali aliran klasik). Pertama, kriminologi dianggap terlalu mudah menelan konsep-konsep sosiologi sehingga menyerupai teori label yang terlalu terpaku pada interaksionisme simbolik. Kalau kejahatan semata-mata dilihat sebagai salah satu kategori tindakan sosial, maka kriminologi seharusnya dilebur saja ke dalam sosiologi penyimpangan (deviance sociology). Terlepas dari aspek konseptual dan disiplinernya, pengutamaan tinjauan pada sebab-sebab kejahatan dinilai tidak terlalu bermanfaat, dan seharusnya diganti dengan kajian mengenai standar perilaku. Jadi, yang harus dikaji bukan sekedar mengapa ada orang melakukan tindakan buruk, tetapi juga mengapa tindakan itu dianggap buruk. Ini perlu agar penanggulangan tidak didikte oleh kejahatan, melainkan sebaliknya, dan agar pelaku kejahatan tidak diperlakukan seperti makhluk aneh yang harus dijauhi. Kedua, kriminologi dikritik terlalu berbau Marxis, karena terlalu banyak memberi porsi perhatian kepada konflik, dan berbagai aspeknya (karena itu para pengritik menamai kriminologi yang ada sebagai kriminologi Marxis, atau kriminologi kiri/radikal). Seharusnya kriminologi juga berusaha mengkonstruksikan ekonomi politik kejahatan dan usaha penanggulangannya, tanpa melepaskan tugas normatifnya untuk memperbaiki sistem-sistem pengadilan pidana yang selama ini dinilai terlalu mengeksploitir hal-hal yang kurang fundamental. Kritik ketiga tertuju pada aspek teoretis dan politik, yang dinyatakan terlalu hambar. Sampai batas tertentu kritik ini diterima sehingga pada 1970-an berkembanglah semacam koalisi dua aliran yang kemudian disebut aliran “neo-klasik atau “realisme”. Bagi yang kurang menyukainya, istilah “neo-liberalisme” atau “neo-konservatisme” lebih disukai karena lebih menyiratkan menguatnya pengaruh aliran klasik. Meskipun demikian, mereka mau juga terlibat untuk meningkatkan pemahaman tentang kejahatan yang terasa mendesak sehubungan dengan terus meningkatnya angka kejahatan, khususnya di berbagai masyarakat Barat. Lagipula, aliran mana yang lebih menonjol nampak tidak penting kalau dibandingkan dengan kebutuhan untuk merumuskan suatu kebijakan kontrol kejahatan yang efektif. Pada awal 1990-an, fragmentasi diskursus kriminologi terus berlangsung, kali ini dengan poia yang berbeda. Label-label awal telah diganti dengan apa yang disebut “kriminologi realis-kiri” yang lebih terbuka terhadap kebijakan sosial reformis dan lebih memberi perhatian pada korban (victim) kejahatan dan sebab-sebab terjadinya kejahatan. Victimology pun berkembang menjadi subdisiplin tersendiri. Tekanan yang lebih besar pada penjajagan sebab-sebab kejahatan itu lebih bersifat pragmatis dan mendasarkan diri pada teori pilihan rasional, sehingga ia makin dekat dengan administrasi publik. Namun aliran yang lebih mementingkan teori juga terus berkembang meskipun ia belum bisa melepaskan pengaruh pemikiran Durkheim. Kebanyakan kriminolog kini menekuni pula bidang-bidang yang di Amerika sengaja dipisahkan sebagai disiplin terapan kriminologi. Perdebatan atas teori-teori dasar — misalnya tentang hakikat subyek dan tindakan kriminalitas — masih berlangsung sekalipun tidak seramai sebelumnya. Subyeknya masih bersifat etnosentrik, dan jarang melibatkan aspek-aspek yang relatif baru seperti kejahatan negara maju terhadap negara berkembang, atau kejahatan politik. Keragaman tinjauan dalam kriminologi modern bertolak dari dua hal. Pertama, kriminalitas adalah perilaku, yang terorganisir sedemikian rupa menantang hukuman. Kedua, kriminalitas senantiasa memunculkan minat publik secara pragmatis, bukan sekedar teoretis.

PENGERTIAN KRIMINOLOGI | ok-review | 4.5