PENGERTIAN KRIMINALITAS DAN KENAKALAN

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Psikologi

Dalam bahasa sehari-hari, kriminalitas dan kenakalan mengandung muatan emosional. Semua tindakan orang dewasa yang tidak menyenangkan biasa disebut kriminal, dan perilaku anak- anak yang kurang kena di hati langsung saja disebut kenakalan. Tolok ukurnya berakar pada budaya setiap masyarakat, dan studi-studi ilmiah telah mengungkapkan keragaman tolok ukur itu. Lebih lanjut, para ilmuwan menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai kriminalitas adalah berbagai tindakan yang jelas-jelas melanggar ketentuan hukum. Definisi yang dimaksudkan untuk mempersempit pengertian kriminalitas ini pun masih terlalu luas, karena banyak tindakan yang sesungguhnya melanggar hukum justru dibenarkan karena sesuai dengan kepentingan pemerintah (misalnya rencana pembunuhan terhadap Fidel Castro), apalagi di dunia bisnis dan politik yang segala bentuk pelecehan hukum terkemas dengan rapi. Akibatnya, pengertian kriminalitas seolah- olah hanya berlaku untuk pencurian kecil-kecilan, pemerkosaan atau pencopetan, sedangkan bentuk-bentuknya yang lebih halus namun lebih destruktif justru tidak tersentuh.
Masalah konseptual itu juga ada sisi positifnya. Pertama, dengan diterimanya kedua istilah itu sebagai definisi legal, maka keduanya bisa dinyatakan secara tegas sebagai tujuan penegakan hukum, meskipun cakupan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal atau kenakalan/penyimpangan tidak begitu jelas. Berikutnya, kerancuan itu justru memungkinkan dilakukannya komparasi kriminalitas dan kenakalan dari satu kebudayaan terhadap yang ada di kebubayaan lain. Dari perbandingan itu dapat diketahui mana tindak kejahatan yang bersifat “universal” (perampokan) dengan yang hanya dijumpai di tempat tertentu (misalnya kejahatan kerah putih yang hanya terdapat di negara-negara yang cukup maju, atau kejahatan tersembunyi yang dilakukan para jurnalis). Jika menteri kehakiman Inggris dan AS hendak bekerja sama menangani kejahatan jurnalisme, tentunya mereka harus menyepakati dulu tindakan apa saja yang harus dikontrol. Kalau jurnalis AS beroperasi di negara lain dengan tetap memakai gaya bebasnya, maka bisa dipastikan mereka akan memenuhi penjara setempat. Di sejumlah negara, pecandu heroin bisa mendapatkan barang haram itu secara sah lewat program-program kesehatan pemerintah. Marijuana yang ditakuti di Amerika justru dijual bebas di Belanda. Singkatnya, apa yang boleh dan yang tidak boleh selalu bervariasi di tiap negara. Pengadilan harus peka akan hal ini Kaum Indian Amerika menolak memegang paspor jika mereka bepergian ke kerabatnya di negara-negara tetangga, sama seperti para petani tradisional di Afrika dan Meksiko. Antropolog Laura Nader (1990), dalam studi lintas- budayanya mengemukakan bahwa komunitas terpencil acapkali tidak punya kewarganegaraan dan mereka sulit dikenai batasan hukum negara mana pun. Definisi kriminalitas dan berbagai variasinya yang kabur itu hanya menyiratkan bahwa mak-nanya tergantung pada tempat dan waktu. Ini sudah merupakan awalan yang menarik bagi studi-studi mengenainya, karena hal itu sudah menjadi pertanyaan yang memenuhi syarat bagi dilakukannya kajian ilmiah. Studi tentang kriminalitas dan kenakalan sama beragamnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, namun selalu ada tiga pertanyaan dasar yang ingin dijawab.
Pertama dan terpenting, mengapa sebagian orang melakukan tindak kriminal sedangkan yang lain tidak? Sejak studi-studi pertama di Italia, Inggris dan Perancis, usaha untuk menjawab pertanyaan itu terus dilakukan tanpa henti, dengan melibatkan variabel-variabel biologi, sosiologi, psikologi, ekonomi dan bahkan perilaku, yang semuanya diramu dalam kajian tentang hubungan kausalitas terjadinya kriminalitas dan kenakalan. Kalau usaha-usaha untuk menjawab pertanyaan di atas tidak begitu berhasil, itu tidak mengejutkan karena sejak awal disadari bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan tindakan kejahatan selama hidupnya sehingga kriminalitas bukan sesuatu yang eksklusif. Betapa pun, usaha tersebut memberikan kontribusi penting bagi teori-teori psikologi dan sosiologi mengenai perilaku kejahatan. Kedua, mengapa tipe dan tingkat kriminalitas di satu negara berbeda dari yang ada di negara- negara lain? Jawabannya yang telah diajukan ternyata juga bermacam-macam, sebagian bahkan bertentangan. Seperti halnya semua fenomena sosiologis lainnya, kombinasi pengaruh kultur dan subkultur selalu hadir, dibarengi dengan pengaruh ekonomi dan sosial di masing-masing masyarakat/negara. Setiap teori bertumpu pada setiap aspek itu, namun belum ada yang bisa merangkum semuanya. Ketiga, terutama sejak pertengahan 1980-an setelah usaha-usaha untuk menjawab dua pertanyaan di atas terus meningkat, kekuatan sosial apakah yang mendorong pengkategorian tindakan tertentu sebagai aksi kriminal, sedangkan tindakan lain tidak? Dan, bagaimana fungsi sistem pengadilan kriminal/pidana yang melibatkan para hakim, pengacara, polisi dan penjara, serta apa pengaruh semua itu terhadap keberadaan kriminalitas dan kenakalan? Pertanyaan ini terus meliputi pikiran mereka yang berkecimpung dalam sosiologi hukum. Sampai sekian jauh, teori-teori yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu masih diwarnai oleh pemikiran Durkheim, Marx, dan Weber. Belum ada kesepakatan tentang paradigma terbaik untuk mencari jawabannya. Kemungkinan besar, studi tentang kriminalitas dan kenakalan di masa mendatang takkan beranjak dari ketiga pertanyaan dasar itu. Hanya saja memang ada perkembangan baru, yakni studi yang menyoroti aspek politik dan ekonominya. Inilah yang dilakukan oleh antara lain kriminolog Swedia Nils Christie yang memperkenalkan istilah “industri kriminalitas”. Namun kita tetap bisa berkeyakinan bahwa ketiga pertanyaan di atas yang menjadi tumpuan studi kriminalitas sejak dua ratus tahun lampau akan tetap menjadi fokus.

PENGERTIAN KRIMINALITAS DAN KENAKALAN | ok-review | 4.5