PENGERTIAN KREDIT

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Istilah kredit yang berasal dari bahasa Latin cre-dere (artinya: percaya) memiliki beberapa makna yang sebagian di antaranya tidak berhubungan dengan bidang keuangan. Bahkan dalam bidang keuangan pun istilah tersebut digunakan secara bervariasi, antara lain untuk mengartikan transaksi positif pada pembukuan, kenaikan kekayaan atau pendapatan atau, dan ini yang akan kita gunakan, penundaan pembayaran. Kredit tidak hanya mencakup pinjaman formal namun juga berbagai pengaturan informal di mana pembayaran baru dilakukan beberapa waktu setelah barang atau jasanya diserahkan. Dalam dunia akuntansi, istilah kredit tidak hanya mengacu pada kredit dagang antar-perusahaan namun juga merujuk pada berbagai transaksi yang disebut akrual (accrual). Contoh akrual adalah pembayaran gaji setelah seseorang bekerja selama seminggu atau sebulan dan pembayaran di muka premi asuransi selama satu tahun. Dalam makroekonomi istilah kredit digunakan untuk merujuk angka-angka besaran agregat bagi perekonomian secara keseluruhan. Dalam prakteknya istilah kredit dikaitkan dengan jumlah kredit yang disalurkan oleh sistem perbankan. Karena bank dapat menyalurkan simpanan pihak ketiga kepada pihak lain maka dikatakan pinjaman bank menciptakan deposito bank. Dengan mengendalikan volume kredit bank. otorita moneter dapat mengontrol pula volume deposito bank yang merupakan elemen terpenting dalam pena-waran uang. Kontrol terhadap kredit bank, baik itu dalam volume total maupun seleksi sektor-sektor ekonomi yang boleh dikucuri kredit, merupakan instrumen utama kebijakan moneter. Kredit memainkan peran penting dalam teori intermediasi (perantaraan) keuangan. Tahap pertama perkembangan suatu sistem finansial dapat berwujud pergeseran dari transaksi barter ke transaksi yang menggunakan uang. Meskipun pergeseran ini membebaskan pertukaran komoditi dari berbagai pembatasan atau kendala yang biasa dijumpai dalam barter, penggunaan uang itu sendiri tidak menjamin kenaikan pertumbuhan bisnis karena dana yang tersedia untuk keperluan investasi senantiasa terbatas. Perkembangan kredit, dalam bentuk peminjaman dan penarikan pinjaman secara langsung memungkinkan akumulasi saldo uang pada pengusaha yang akan meng-gunakannya guna menggarap peluang-peluang investasi yang menguntungkan. Pihak penyedia dan penerima kredit akan sama-sama diuntungkan karena kredit senantiasa disertai bunga tertentu sebagai biayanya. Di sejumlah masyarakat perkembangan kredit tidak begitu lancar karena ada kendala sosial dan agama yang mengharamkan bunga. Hal ini memunculkan perkembangan baru berupa tumbuhnya perbankan Islam yang perhitungan kreditnya tidak didasarkan pada bunga melainkan pada bagi hasil. Di beberapa negara, kredit, baik sebagai pinjaman formal maupun instrumen penggerak perdagangan, dibatasi hanya untuk perusahaan dan rumah tangga kaya. Baru sejak pertengahan 1930- an, rumah tangga miskin memperoleh akses untuk mendapatkan kredit formal dan informal. Ekstensi kredit ini tercipta berkat adanya serangkaian inovasi bentuk-bentuk kredit. Sedikit saja di antaranya yang benar-benar baru. karena sebagian dari inovasi itu sesungguhnya sudah digunakan dalam berbagai tingkatan di masa-masa sebelumnya.
Ada dua syarat yang dituntut oleh pihak penyedia kredit sebelum melepas uangnya, yakni kemampuan pembayaran kembaii oleh si penerima kredit dan adanya niat baik untuk melunasinya. Secara tradisional kemampuan pembayaran kembali diukur berdasarkan kapasitas kemampuan ekonomi yang biasanya ditopang pula oleh keharusan untuk menyerahkan agunan atau ja-minan kalau-kalau kredit itu macet karena sesuatu sebab. Kecuali kredit perumahan, rumah tangga pada umumnya tidak memiliki agunan untuk mendapatkan kredit dalam jumlah besar. Dari kondisi itu berkembanglah kredit-kredit berskala lebih kecil yang hanya menuntut agunan bernilai tidak terlalu besar seperti mobil, alat-alat elektronik berharga seperti televisi dan sebagainya. Karena persyaratannya masih cukup ketat, maka berkembang pula bisnis leasing di mana ada pihak ketiga yang menjadi perantara antara penyedia dan penerima pinjaman. Perubahan terpenting dalam kredit konsumen adalah diterimanya pendapatan di masa mendatang sebagai jaminan, jadi tidak lagi terbatas pada aset-aset yang sudah ada. Karena resikonya cukup besar maka munculah lembaga-lembaga perantara yang kemudian membentuk apa yang disebut sebagai pasar keuangan sekunder. Selama 1960- an, perkembangan pada sektor kredit konsumen tersebut juga diterapkan pada kredit perusahaan yang kini dikenal sebagai kredit atas dasar cash flow. Untuk kredit perusahaan berskala besar bank lebih suka menggunakan komputernya sendiri untuk mensimulasikan cash flow perusahaan yang mengajukan permohonan kredit. Jadi jelaslah bahwa syarat utama penyaluran kredit adalah kelayakan kredit dari calon penerimanya. Di masa lampau kelayakan itu lebih bersifat personal atau subyektif karena antara pemilik/pengurus bank dan calon penerima pinjaman saling mengenal, dan peran agunan sangat penting. Kini setelah jumlah nasabah kian banyak dan bervariasi, para manajer bank tentunya tidak bisa mengenal calon penerima kredit secara pribadi sehingga mereka memerlukan metode penilaian yang lebih formal. Berbagai indikator dan metode statistik, seperti yang disebut analisis diskriminan multivarian (MDA) atau varian-variannya kian luas diterapkan. Setiap pemohon dinilai sejumlah karakteristik seperti nilai aset yang dimiliki, pekerjaan yang ada, kepemilikan telepon, catatan kredit di masa lampau, dan sebagainya. Selama 1980-an dan awal 1990-an ini telah muncul pula sejumlah aspek baru dalam penilaian kelayakan kredit. Pada periode sebelumnya, yakni 1970-an, bank-bank di seluruh dunia acap- kali mengalami kesulitan untuk menghimpun dana yang sangat besar bagi calon pemohon yang sangat potensial. Karena itu mereka mulai menggabungkan kekuatan dan membentuk apa yang disebut sindikasi perbankan yang juga dimaksudkan untuk memecah resiko. Krisis utang internasional yang bermula sejak tahun 1982 menyadarkan bank bahwa resiko merupakan suatu hal yang tidak pernah dapat diabaikan. Dampak positifnya, mereka kian kreatif dalam menciptakan skema-skema kredit di mana resiko diperhitungkan secara lebih cermat. Berbagai indikator baru pun dikembangkan sebagai penunjangnya, seperti angka resiko negara yang juga memperhitungkan aspek-aspek politik. Pada awal 1990-an, syarat penyaluran kredit internasional berskala besar kian ketat. Namun hal itu dapat dipahami mengingat bank-bank internasional sudah beberapa kali terpukul oleh kredit macet sehingga mereka perlu lebih cermat dalam memperhitungkan resiko. Di sisi lain, bank tidak dimungkinkan untuk bersikap terlalu ketat karena kompetisi perbankan juga kian ketat sehingga mereka kian membutuhkan calon-calon peminjam yang potensial.
 

PENGERTIAN KREDIT | ok-review | 4.5