PENGERTIAN KREATIVITAS

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Sosiologi

Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Wujudnya adalah tindakan manusia. Melalui proses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau suatu kelompok, produk- produk kreatif tercipta. Produk itu sendiri sangat bervariasi, mulai dari penemuan mekanis, proses kimia baru, solusi baru atau pernyataan baru mengenai sesuatu masalah dalam matematika dan ilmu pengetahuan; komposisi musik yang segar, puisi, cerita pendek atau novel yang menggugah yang belum pernah ditulis sebelumnya; lukisan dengan sudut pandang atau gaya tarikan yang baru, seni lukis, seni patung atau potografi yang belum ada sebelumnya; sampai dengan terobosan aturan hukum, agama, pandangan filsafat, atau pola perilaku baru. Dalam semua bentuk produk kreatif yang diuraikan di atas selalu ada sifat dasar yang sama, yakni keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat itulah yang menandai produk, proses atau orang kreatif Produk- produk kreatif dapat dibedakan berdasarkan orisinalitasnya, keunikannya, validitasnya, kegunaannya atau bisa juga karena adanya ciri-ciri tambahan tertentu yang tidak ditemukan pada produk-produk sejenis. Sedangkan proses baru adalah cara-cara yang belum pernah ditempuh sebelumnya dalam menghadirkan barang-barang atau produk-produk yang sudah ada. Sedangkan orang-orang kreatif adalah mereka yang senan-tiasa memikirkan hal-hal baru yang sekiranya lebih baik dari yang sudah ada. Mereka tidak mengenal usia, agama, etnik, nasionalitas atau gaya hidup. Siapa saja bisa jadi orang kreatif selama ia mau berpikir secara logis dan mandiri guna menemukan hal-hal yang tidak terbayangkan oleh orang lain. Dalam proses kreatif, ini visi merupakan pijakan awal, yang diikuti oleh proses kreatif, dan ditutup dengan verifikasi.
Kelahiran kreativitas
Mind dan Will telah mengadakan penelitian mendalam mengenai aspek-aspek kreatif yang terkandung dalam pikiran para filsuf dan psikolog di akhir abad 19 dan awal 20. Alfred Binet, si penemu uji kecerdasan, mulai dikenal melalui karya-karyanya yang terangkum dalam L’Annee Psychologique yang terbit di tahun 1880-an dan 1890-an. Di dalamnya termuat hasil-hasil studi empiris mengenai kreativitas termasuk riset yang dilakukan melalui metode kuesioner dan wawancara oleh para ilmuwan Perancis dan sejumlah ilmuwan yang berjasa menciptakan metode-metode baru dalam menguji imajinasi manusia (yang semula hanya dibuat untuk bahan permainan anak-anak mereka). Dari permainan sederhana itu berkembanglah suatu tipe uji kemampuan dan kecerdasan yang selanjutnya juga digunakan untuk mengukur tingkat kreativitas. Dari metode itu terungkap bahwa sebagian anak yang sangat kreatif ternyata justru sering mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah dasar. Psikoanalisis terkemuka Carl Jung memberikan kontribusi yang lebih besar ketimbang Freud dalam bidang ini. Jung mengembangkan konsepsi intuisi dan alam bawah sadar kolektif sebagai sumber-sumber kreasi. Henri Bergson dalam Creative Evolution membedakan intuisi dari daya intelektual sebagai mesin utama yang melangsungkan proses kreatif dalam pikiran, dan hal itu berkaitan dengan daya kehendak manusia yang merupakan sumber motivasi berlangsungnya proses kreatif secara alamiah. Sekitar se abad kemudian. Gregory Bateson (1979) mengulas hal serupa dan mengembangkan konsepsi yang kemudian disebut “ekologi pikiran’dalam bukunya yang berjudul Mind and Nature: A Necessary Unity.
Studi empiris modern tentang kreativitas
Metode-metode baru observasi dan pengukuran telah dikembangkan di seputar kreativitas, baik itu orangnya, proses dan produk-produknya, sejak usainya Perang Dunia Kedua. Perkembangan penting yang diakui oleh banyak pihak adalah rumusan J.P. Guilford tahun 1950 yang pernah menjabat sebagai presiden Asosiasi Psikologi Amerika, la mengemukakan bahwa hanya 186 dari 121.000 entri dalam buku panduan Psychological Abstracts menyinggung soal imajinasi kreatif. Baru pada dekade-dekade berikutnya publikasi mengenai kreativitas berkembang biak. Sedangkan studi yang dilakukan di Universitas California terhadap sejumlah penulis, arsitek, artis, ahli matematika dan ilmuwan yang sangat kreatif membuahkan sejumlah temuan yang sangat berharga yang kemudian dikembangkan dalam penelitian mengenai kepribadian dalam kaitannya mengenai kreativitas. Studi yang sangat mahal ini terlaksana berkat bantuan sejumlah yayasan seperti Carnegie, Ford, Rockefeller dan Richardson. Pemerintah melalui kantor pendidikan juga memberikan dukungan bagi dilangsungkannya riset mengenai kreativitas dalam pendidikan. Sebuah bibliografi yang cukup lengkap telah diterbitkan di akhir tahun 1960-an oleh Creative Education Foundation yang memuat 4.176 referensi, dan 3.000 di antaranya merupakan rumusan baru yang muncul setelah tahun 1960. Hasil-hasil yang dibuahkan oleh penelitian psikologis mengenai kreativitas ternyata meng-ajukan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Hal ini antara lain disebabkan oleh ketidakkonsis¬tenan memilih metode pengukuran, tingkat kehandalan masing-masing metode yang berbeda- beda, serta penggunaan kriteria yang berubah-ubah. Secara umum para psikolog mengartikan istilah kreativitas sebagai produksi berbagai hal berharga bagi manusia yang lebih dari sekedar ekspresi kreativitas itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Artinya kreativitas tidak semata-mata merupakan niat atau kehendak melainkan juga hasilnya. Hanya saja bernilai atau tidaknya suatu produk kreativitas acapkali tergantung pada siapa yang menilai.
Cakupan nilai kreativitas juga belum disepakati. apakah hal itu hanya mencakup bidang-bidang kesenian seperti musik, kesusastraan dan seni rupa ataukah juga bisa diterapkan untuk produk matematika, ilmu pengetahuan dan teknologi? Sebagian besar ilmuwan memperluas makna “kreatif” ke bidang-bidang iptek tersebut, dan tidak sekedar pada proses kreatif dalam penciptaan kesusastraan, seni musik atau seni rupa yang serba indah. Belakangan muncul pula upaya untuk memperluas makna kreativitas pada bidang-bidang bisnis, olah raga, pengajaran, terapi, pengasuhan anak, dan pengaturan rumah tangga. Persoalan nilai dan standar ini tidak bisa dipecahkan hanya dengan menetapkan domain kegiatan tertentu yang bisa disebut sebagai perwujudan kreativitas. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana nilai atau standar yang harus dipenuhi agar sesuatu bisa dikatakan sebagai produk kreatif, tidak perduli apakah itu di bidang seni atau iptek. Dari patokan nilai dan standar yang jelas kita bahkan bisa mengetahui seni seperti apa yang kreatif dan mana yang tidak, atau sejarah dan iptek mana yang bisa dikatakan kreatif dan mana yang tidak. Kalau perilaku dalam kehidupan keseharian seperti pengasuhan anak juga hendak diperhitungkan, maka terlebih dahulu kita perlu mengetahui siapa yang berhak menentukan kelayakan dan efektivitas perilaku itu dan bagaimana tata cara pengukurannya. Hal yang erat kaitannya dengan nilai dan standar adalah hakikat atau bentuk dampak dan tindakan kreatif. Sejumlah teorisi berusaha membedakan tindakan-tindakan kreativitas “primer“, yakni yang langsung memancarkan nilai-nilai pokok, dan yang sekunder atau yang didasarkan pada perhitungan tak langsung atas nilai atau standar yang dianggap penting, atau kegiatan yang dilakukan dalam domain atau bidang kehidupan yang baru. Secara umum perdebatan mengenai makna dan cakupan tafsiran istilah kreatif dan kreativitas tidaklah menghalangi riset-riset untuk menggali karakteristik orang kreatif dan juga proses serta produk kreatif. Kreativitas seseorang biasanya diidentifikasikan berdasarkan prestasi, kecakapan dan kemampuan, atau kegiatan dan karakteristik pribadinya. Kajian mengenai karakteristik orang- orang kreatif menumbuhkan sejumlah pertanyaan penting yang sampai sekarang belum terjawab, seperti apakah kreativitas itu dapat diajarkan atau merupakan bawaan sejak lahir. Jika kita membaca literatur psikologi mengenai kreativitas kita perlu mengetahui perspektif konseptual yang digunakan oleh penulisnya karena masing-masing penulis biasanya menggunakan tolok ukurnya sendiri dalam mengukur orang, proses dan produk kreatif. Jadi masalah yang harus dihadapi bukan sekedar keterbatasan prediktor dan kriteria dalam aspek definisi namun juga hakekat arti penting kreativitas itu sendiri yang ternyata belum juga dapat disepakati. Namun banyaknya masalah yang belum terjawab itu justru membuat riset mengenai kreativitas kian menarik. Ada sebuah kajian kritis mengenai literatur profesional di bidang kreativitas yang dilangsungkan pada dekade 1970-1980 (Barron dan Harrington , 1981) yang mencatat sekitar 2500 penelitian, sehingga rata-rata setiap tahunnya dilangsungkan 250 penelitian mengenai kreativitas. Literatur itu terus tumbuh pesat dengari mencakup tema-tema baru pada 1980-an dan awal 1990-an, termasuk pula topik-topik khusus seperti kreativitas di kalangan wanita, kreativitas dalam kaitannya dengan teknologi komputer dengan pertimbangan moral, dan sebagainya. Minat para peneliti juga tercurah pada hubungan antara gangguan afektif bipolar dan kreativitas, perkembangan kreativitas dan arti pentingnya bagi seseorang seumur hidupnya, serta kaitan antara alam sadar dengan kreativitas dalam menghadapi lingkungan sosial, historis, ekonomis dan kultural. Alam bawah sadar itulah yang merupakan topik kajian baru yang kemudian memunculkan serangkaian bidang kajian baru seperti perspektif “ekologis” atau “sistemik” yang sama-sama mencoba mengintegrasikan segala sesuatu yang telah diketahui mengenai orang, proses dan produk kreatif dan berbagai konteks sosial, yang selanjutnya menjadi pijakan bagi studi mengenai aspek-aspek sosial dan kultural kreativitas. Luasnya dan beratnya tantangan teoretis dibidang ini mengharuskannya digunakan pendekatan-pendekatan multidisipliner, demi terciptanya pemahaman yang lebih baik mengenai kreativitas manusia.
 

PENGERTIAN KREATIVITAS | ok-review | 4.5