PENGERTIAN KOTA, PERKOTAAN DAN URBANISME

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Antropologi

Istilah-istilah seperti kota, urban dan urbanisme/perkotaan, merujuk pada berbagai fenomena yang sangat bervariasi sesuai dengan perbedaan sejarah dan wilayah. Sejumlah disiplin ilmu telah mengembangkan perspektif masing-masing fenomena urban atau perkotaan tersebut. Kita mengenal adanya antropologi perkotaan, iimu ekonomi perkotaan, geografi perkotaan, sosiologi perkotaan dan sebagainya. Berbagai masyarakat perkotaan ternyata berbeda-beda di setiap bahasa. Pemilahan antara keta besar dan kota kecil dalam bahasa Inggris misalnya, tidak sama dengan yang kita temukan di dalam bahasa-bahasa lain. Secara umum, kita dapat menyebut kota sebagai tempat di wilayah tertentu yang dihuni oleh canyak orang. Studi tentang masyarakat tidak hanya menelaah kehidupan secara luas, namun juga karakteristik- karakteristik tertentu dan kehidupan internalnya. Budaya perkotaan, bermula di enam daerah peradaban kuno yang terpisah, yakni Mesopotamia. lembah sungai Nil dan Indus, Cina Utara, Mesoamerica. Pegunungan Andes dan kawasan Yorubaland di Afrika Barat (Wheatley, 1971). Di pusat-pusat pemukiman itulah terdapat sentral monarki dan lembaga keagamaan yang masing-masing memiliki staf administrasi dan pengawal resmi yang berkuasa mengendalikan para petani dan penduduk di tempat-tempat sekitarnya, serta memanfaatkannya. Bangunan-bangunan pusat budaya suku berkembang menjadi serangkaian kompleks arsitektur monumental yang meliputi candi-candi, piramida, istana, gedung peradilan agung dan sebagainya. Di situ kita tidak hanya menemukan cikal bakal suatu kota, namun juga awal dari peradaban dan lembaga kenegaraan. Kota-kota di Yoruba, yang nampaknya tumbuh secara independen, merupakan tempat pengembangan teknologi arsitektur dan berbagai teknologi lainnya, dan juga struktur sosial.
Tempat-tempat tersebut menjadi awal pusat perkotaan berkat kapasitasnya mengorganisir kehidupan di seluruh pelosok wilayah di sekitarnya, yang terutama dilangsungkan melalui kontrol simbolik. Namun kehidupan perkotaan di masa itu tidaklah seperti sekarang, di mana segala sesuatunya serba terpusat. Pada saat itu, penduduk tidak tinggal di pusat-pusat keramaian itu melainkan terpencar di berbagai tempat dan mereka hanya datang di pusat keramaianAota itu untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan ritual yang penting. Pada saat itulah situasinya mirip dengan kondisi perkotaan saat ini. Namun dari waktu ke waktu, akibat ancaman dan berbagai faktor lainnya, kian dirasakan perlunya meningkatkan kontrol politik yang kemudian diikuti oleh meningkatnya konsentrasi penduduk di pusat-pusat keramaian tadi. Perkembangan serupa juga terjadi di Eropa. Dalam La Cite Antique (“Kota Kuno [1864]), Fustel de Coulanges menjelaskan perkembangan awal perkotaan di Eropa yang prosesnya lebih kompleks ketimbang sekedar perkembangan politik ritual. Di masa kejayaannya, kota-kota di zaman Graeco-Roman, dipenuhi oleh kaum elit pemilik tanah dan panglima perang yang segala aktivitasnya ditunjang oleh ribuan budak.
Pada masa itu kota merupakan pusat kekuasaan dan konsumen. Perdagangan dan industri belum memainkan peranan penting. Namun begitu kerajaan-kerajaan kuno dan kota-kotanya mulai merosot pada abad pertengahan, suatu urbanisme baru muncul di Eropa Barat. Landasan utamanya adalah kegiatan komersial, sehingga bisnis menjadi elemen dominan di kota-kota tersebut. Dalam waktu yang relatif cepat kota-kota tersebut berkembang menjadi otonom dan independen dari struktur sosial feodal yang mengelilinginya. Sejarawan Belgia Henri Pirenne adalah salah seorang ilmuwan yang memusatkan perhatiannya terhadap kota-kota Eropa di abad pertengahan ini. Tokoh lainnya adalah Max Weber, yang mengembangkan suatu tipe kota ideal dalam karyanya yang berjudul The City (1958 [1921]). Apa yang dianggapnya ideal adalah suatu ko-munitas perkotaan dengan pasar sebagai institusi sentralnya, ditunjang oleh suatu sistem administratif dan hukum yang otonom, dan menyerupai suatu asosiasi yang merangkum segenap unsur dari kehidupan perkotaan itu sendiri (salah satu unsur yang dikemukakannya secara eksplisit adalah kalangan pekerja). Rumusan Weber yang banyak dikutip itu sesungguhnya merupakan urbanisme yang sangat ketat. Perbedaan kota dan wilayah-wilayah yang mengelilinginya sudah jelas namun sosok institusionalnya dalam sejarah Eropa berbeda dari masa ke masa. Weber juga membandingkan kota-kota baru di Eropa itu dengan kota-kota di Timur. Ia menyebut kota-kota di kawasan Timur lebih terfragmentasikan secara internal dan lebih terkait secara integratif dengan administrasi kerajaan yang berkuasa. Singkatnya kota-kota di Timur tersebut masih bercirikan sebagai kota kekuasaan dengan penekanan kekuasaan melalui aspek-aspek simbolis. Industrialisme jelas memberikan pengaruh dan warna terhadap jenis perkotaan. Salah satu dampaknya adalah kemelaratannya yang mewarnai pusat-pusat pemukiman penduduk di kota-kota yang sarat industri. Gambaran itu terekam dengan baik dalam karya Friedrich Engels, The Condition of the Working Class in England (1969 [1845]), yang didasarkan pada observasinya terhadap hiruk-pikuk kota Manchester. Karya klasik berikutnya mengenai kehidupan perkotaan semasa industrialisme dibuat oleh para sosiolog aliran Chicago, seperti Robert E. Park. Louis Wirth dan beberapa ilmuwan lainnya, pada 1920-an dan 1930-an. Para sosiolog Chicago itu mengulas organisasi parsial kota industri dan perubahan- perubahan yang ditimbulkannya yang selanjutnya menjadi pijakan bagi mereka untuk memunculkan istilah “ekologi perkotaan”. Dalam waktu bersamaan, mereka membuat serangkaian etnografi berskala kecil yang menyoroti kehidupan di sudut-sudut kota sebagai bagian dari kajian spasial kota yang lebih luas. Saat itulah mereka merintis studi tentang berbagai topik yang kini menjadi inti antropologi perkotaan, yakni mulai dari kawasan-kawasan di perkotaan yang dihuni oleh etnik tertentu, geng-geng pemuda, ketenagakerjaan, kelompok-kelompok yang menyimpang dan kajian mengenai peran tempat-tempat umum.¬†Dalam tulisannya yang terkenal, Louis Wirth (1938) menyebut kontak-kontak sosial perkota-an sebagai sesuatu yang bersifat “impersonal, supervisial, sementara, dan segmental” .Ini sejalan dengan pandangan para sosiolog Chicago yang memang cenderung pesimis mengenai kemungkinan terciptanya kehidupan manusiawi yang memuaskan di perkotaan yang dipenuhi oleh Meskipun sering dimusuhi, sektor informal terbukti menjadi andalan dalam penciptaan lapangan kerja, khususnya bagi para pendatang dari desa-desa yang kemampuan teknis maupun pendidikan formalnya minim. Sektor itulah yang menghimpun para pengrajin, pedagang kecil, penarik becak, penjaja es krim, pedagang asongan, penyemir sepatu, dan berbagai mata pencaharian kecil-kecilan lainnya yang nampak sepele namun terbukti efektif menciptakan pekerjaan dan sumber nafkah bagi banyak orang. Meski demikian kita harus berhati-hati agar tidak terlalu membesar-besarkan peran sektor informal tersebut dalam mengatasi berbagai persoalan di perkotaan di Dunia Ketiga atau pun di tempat-tempat lain. Perdebatan mengenai peran sektor informal itu sendiri masih terus berlangsung. Setiap generalisasi mengenai kota dan kehidupan perkotaan harus selalu ditunjang oleh bukti-bukti yang kuat. Sampai sejauh ini belum tersedia bukti yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa sektor informal selalu berperan positif, mengingat banyak juga kota-kota yang dirusak oleh perkembangan sektor informal yang tidak seimbang.
Keragaman kehidupan kota sangat dipengaruhi oleh hubungan-hubungan antara kota dan manusia-manusia yang menghuninya. Sejumlah riset mengambil perspektif berbeda dengan menempatkan kajian mereka mengenai pusat-pusat perkotaan dalam konteks yang lebih luas. Daiam ilmu ekonomi geografi dan regional, oerbagai model telah dikembangkan guna mempelajari distribusi parsial fungsi-fungsi perkotaan yang berskala luas. Salah satunya adalah teori tempat sentral (central place theory) yang di-kembangkan untuk pertama kalinya oleh Walter Christailer (1933) selama periode 1930-an, yang khusus mempelajari lokasi pusat-pusat komersial, administratif dan transportasi. Sementara itu para ahli geografi berfokus pada masalah klasifikasi kota berdasarkan fungsi kemasyarakatannya serta menganalisis struktur internalnya sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut. Salah satu klasifikasi cemerlang yang telah dirumuskan mengungkapkan adanya delapan tipe komunitas perkotaan di Amerika Serikat: kota yang merupakan pusat pedagang eceran, pusat grosir, pengusaha manufaktur, pertambangan, transportasi, pusat peristirahatan dan pensiun, pusat pendidikan atau pusat universitas, dan pusat kegiatan campuran. Sejak 1960-an telah bangkit suatu kecenderungan interdisipliner yang memandang proses-proses kehidupan perkotaan, khususnya di Eropa Barat dan Eropa dalam kerangka ekonomi politik kapitalisme industri. Kecenderungan ini bertolak dari inspirasi Marxis yang mengaitkan urbanisme dengan soal-soal kelas, kekuasaan dan gerakan sosial (Castells, 1977). Sejak Max Weber mengadakan studi perbandingan antara kota-kota di Eropa dengan yang ada di Timur, sudah cukup banyak usaha yang dilakukan untuk memilah-milah tipe perkotaan regional seperti kota khas Timur Tengah atau kota khas Amerika Latin. Para sejarawan budaya dan para spesialis kewilayahan memainkan peran penting dalam perkembangan minat intelektual tersebut, dan mereka tidak selamanya terdorong oleh hasrat untuk mencapai suatu pemahaman komparatif yang komprehensif mengenai urbanisme dunia. Akibat kolonialisme dan berbagai bentuk ekspansi Barat lainnya, bentuk-bentuk perkotaan di luar Eropa tidak bisa berkembang sesuai aslinya. Di Asia, Afrika, Asia dan Amerika Latin, begitu banyak kota-kota, khususnya di daerah pelabuhan, seperti di Dakkar, Bombay, Calcuta Shanghai, Buenos Aires, dan kota-kota besar lainnya di Dunia Ketiga, yang mirip dengan kota-kota di Barat, dan polanya pun menyerupai hubungan pusat-pinggiran seperti yang dikemukakan oleh para teorisi ketergantungan. Kota-kota besar di Dunia Ketiga sedikit banyak merupakan replika dari apa yang ada di Barat Pemilahan bagian-bagian kota menjadi pusat-pusat komersial, administratif, industri, budaya dan berbagai fungsi lainnya banyak yang mirip. Kolonialisme turut menciptakan jenis-jenis lain dalam komunitas perkotaan, seperti kota pertambangan, kota kecil pusat administratif, kota pensiunan, kota peristirahatan, dan sebagainya yang semuanya berdampingan dengan tradisi perkotaan pribumi. Akibat variasi seperti ini kita perlu lebih jeli dalam menelaah bentuk-bentuk urbanisme regional, karena pengaruh internasional telah ikut bermain bersama dengan kekuatan-kekuatan sosial lokal dan diferensi spasialnya.
Perubahan-perubahan urbanisme sekarang dan di masa mendatang secara kompleks akan dipengaruhi oleh faktor demografi, ekonomi, teknologi dan berbagai faktor lainnya. Abad 20 telah menyaksikan pertumbuhan perkotaan pada tingkat kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Megalopolis” dan “Conurbation” adalah konsep-konsep baru yang bisa diterapkan terhadap fenomena perkotaan Dunia Barat maupun non-Barat. Meningkatnya globalisasi memperbesar arti penting ekonomi dan budaya dari “kota-kota dunia” yang kini merupakan fokus perhatian para ilmuwan sejak 1980-an (Sassen, 1991). Mode-mode transportasi dan komunikasi baru cenderung membuat manusia tidak begitu tergantung pada kerumunan di sekitarnya, meskipun mereka sama-sama menghuni tempat yang terbatas. “Kontraurbanisasi” merupakan fenomena modem berikutnya yang menarik perhatian.

PENGERTIAN KOTA, PERKOTAAN DAN URBANISME | ok-review | 4.5