PENGERTIAN KORPORATISME

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Korporatisme, baik itu korporatisme korporat, klerikal, atau fasis, pada awalnya adalah sebuah ideologi organisasi yang mengasumsikan bahwa berbagai pihak akan mau dan mampu bekerja sama selama mereka punya kesamaan nilai-nilai. Korporatisme (disebut pula neo-korporatisme atau korporatisme-liberal) juga berpendapat bahwa adanya konflik-konflik fundamental takkan menghancurkan organisasi, apalagi jika negara ikut turun tangan membantu. Konsep ini untuk pertama kalinya muncul pada tulisan para ilmuwan Skandinavia seusai Perang Dunia Kedua, namun konsep ini dipopulerkan oleh Schmitter. Namun cikal bakal istilah yang setara dengan “kapitalisme terorganisir” ini dapat dilacak pada karya Hilferding (1915) tentang demokrasi sosial di Jerman dan Austria. Jadi, konsep ini berkembang di negara-negara yang memiliki serikat-serikat buruh yang kuat dan didukung pemerintah. Korporatisme telah berkembang pesat. Para teorisi sayap-kiri ikut mencoba menjelaskan bagaimana krisis bisa dicegah lewat manipulasi dan bagaimana konflik sosial bisa diredam. Sedangkan para ilmuwan konservatif lebih tertarik membahas kemungkinan mengatasi situasi yang sulit dikendalikan oleh pemerintah yang acapkali muncul di berbagai masyarakat demokratis modern, ketika begitu banyak pihak yang ingin ikut bicara dan terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Korporatisme menawarkan suatu alternatif untuk memahami dan mengatasi situasi yang dipenuhi pihak-pihak yang saling berlawanan. Di negara-negara yang ide kontrak sosial tidak berkembang, seperti Italia, atau di mana korporatisme harus dinegosiasikan terlebih dahulu, seperti Inggris, konsepsi korporatisme itu sendiri ditolak oleh kalangan yang paling berkepentingan. yakni serikat-serikat buruh. Ketika strategi negosiasi dan penanggulang-an konflik berkembang, kemungkinan tumbuh-nya neo-korporatis cenderung dibesar-besarkan.
Tinjauan mengenainya telah dilakukan dalam studi mengenai perencanaan tata ruang kota, kebijakan kesehatan dan pendidikan. Begitu banyak kepentingan yang terlibat sehingga model-model pasar pluralis lebih efektif dalam memberikan penjelasan, khususnya mengenai artikulasi kepentingan yang sangat bervariasi itu. Jika dimensi ideologis dari alternatif-alternatif pemecahan yang disodorkan masih diragukan, seperti yang terjadi pada perumusan kebijakan pelestarian lingkungan hidup, maka kemungkinan kompromi sulit terwujud. Korporatisme merupakan bidang kajian yang tumbuh pesat selama 1980-an. Hampir setiap buku tentang proses pengambilan keputusan menyebut-nyebut korporatisme. Namun di akhir 1980-an, banyak alternatif pemikiran baru yang dimunculkan, terutama oleh para mahasiswa studi kebijakan di Jepang, Swiss dan AS. Korporatisme lalu dikaitkan dengan konsensus dasar demokrasi sosial. Gaungnya menyusut seiring dengan aliran ekonomi Keynes dan optimisme peran negara dalam menegakkan kesejahteraan dan moral masyarakat. Erosi sosialisme di Eropa Timur, khususnya di Polandia dan Hongaria, masih dijelaskan dalam kerangka strategi korporatis, namun dalam kenyataannya strategi itu lumpuh berbarengan dengan komunisme. Paradigma-paradigma baru tentang transisi menuju demokrasi tumbuh pesat, menggusur tipe-tipe penjelasan parsial seperti halnya korporatisme. Skeptisisme terhadap kapasitas sistem politik itu juga terlihat pada pergeseran paradigma teori- teori sistemik. Sejumlah ilmuwan lain, termasuk yang merintis teori-teori korporatis di awal tahun 1980-an, mencari varian-varian baru untuk menjelaskan kerja sama antara pemerintah dengan kelompok-kelompok kepentingan. Ada pula yang lebih suka berusaha merumuskan teori umum tentang “dasar pertukaran politik” (Pizzorno, Marin, Mayntz) guna mengatasi kelemahan teoretis atas teori-teori korporatis yang acapkali tidak sesuai dengan fakta empiris masyarakat-masyarakat modern dan pasca modern.

PENGERTIAN KORPORATISME | ok-review | 4.5