PENGERTIAN KONSEP PENDIDIKAN DALAM ADAT MINANG

By On Thursday, October 31st, 2013 Categories : Antropologi

Dapat dikatakan bahwa ciri utama kultur Minang adalah adanya kebebasan berpendapat, kebebasan menyampaikan kritik dan kebiasaan berdialog, sebagaimana disebutkan dalam mamangannya basilang kayu dalam tungku, baitu api mangko iduik, artinya dari pendapat yang berbeda-beda akan menghasilkan suatu pemikiran yang tajam. Oleh karena itu kekuasaan pemerintahan nagari terletak di tangan rakyat, bukan terletak di tangan seorang raja, karena raja di Minang-kabau berfungsi sebagai lambang, khususnya di tiga daerah inti adat yaitu Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Di luar ketiga daerah ter-sebut adalah rantau yang kekuasaannya dipegang oleh raja sebagaimana digambarkan dalam pepatah Minang berikut Nagari bapangulu, rantau barajo, (nagari dikuasai oleh ninik mamak, rantau dikuasai oleh raja). Corak pemerintahan di Minangkabau yang ber-basiskan di nagari-nagari yaitu merupakan daerah otonom (luasnya satu tingkat di bawah kecamatan) yang mengatur dirinya sendiri dengan program dan pemerintahan masing-masing. Pemerintahan seperti sistem nagari yang sangat mengakomodasi pendapat rakyat ini, mirip dengan pemerintahan negara federal di Eropa atau negara kota di Yunani. Sistem pemerintahan demokrasi inilah yang telah membangun pemikiran dan dasar pendidikan di Minangkabau yaitu “demokrasi dalam pendidikan”. Demokrasi dalam pendidikan telah memberi peran kepada lembaga-lembaga sosial keagamaan di Minang-kabau untuk mewujudkan gagasan menjadi kenyataan. Salah satu lembaga sosial ini adalah surau, yang sangat berperan dalam usaha mengembangkan intelektual dan kreatifitas masyarakatnya. Di samping merupakan tempat beribadah, surau berfungsi sebagai lembaga multi guna, seperti tempat berkumpul dan pertemuan masyarakat, bahkan tempat tidur bagi remaja dan duda sebagai konsekuensi adat yang menganut sistem matrilineal. Adat Minang yang keberadaannya bersamaan dengan perkembangan sejarah Nusantara merupakan kekayaan budaya nasional yang telah banyak berperan dalam memajukan bangsa dan agama di tanah air, khususnya di Minangkabau. Adat adalah ketentuan atau aturan dalam suatu prilaku baik sebagai pribadi atau lembaga sosial yang diakui secara bersama oleh anggota masyarakatnya. Adat adalah tradisi, hukum dan aturan setempat yang turun temurun secara institusional. Adat is perceived as an all embracing term for the t ales of behaviour and social institution that the society hold to be legitimated and right. Adat refers to local tradition, rules and regulations, and institutional remnants from pre-islamic times. Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa adat bukan hanya sekedar aturan atau kebiasaan, tetapi di dalamnya terdapat nilai-nilai falsafah dan kultur. Adat merupakan suatu ketentuan yang sistemik, mengandung nilai-nilai luhur, filsafat dan susila untuk kehidupan pribadi maupun untuk kehidupan bermasyarakat, demi kesejahteraan hidup Sedangkan pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan fitrah-fitrah yang terdapat dalam diri seseorang untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebudayaan yang secara umum diartikan sebagai suatu keseluruhan yang kompleks merupakan manifestasi atau produk dari gabungan ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Edward B. Tailor dalam Tilaar:2000). Definisi ini menunjukan bahwa adat, pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah merupakan komponen kebudayaan (kultur). Oleh karena itu adat dan pendidikan merupakan dua unsur yang saling terkait satu sama lain dalam memanifestasikan suatu budaya, sehingga pendidikan dalam kaca mata budaya dapat didefinisikan sebagai suatu usaha sadar untuk membentuk manusia yang berbudaya dan berperadaban. Jika pendidikan merupakan suatu lembaga penting untuk mencetak manusia yang berkualitas, maka pendidikan merupakan institusi penting untuk mewariskan nilai-nilai tradisi adat. Minangkabau adalah teritorial berdasarkan kultur Minang yaitu budaya yang dianut oleh suku Minangkabau yang wilayahnya meliputi daerah inti Sumatera Barat ditambah dengan sebagian wilayah di sekitarnya seperti Jambi, Riau, Tapanuli Selatan, Bengkulu dan Negeri Sembilan di Malaysia. Fakta menunjukkan bahwa banyak putra daerah ini yang menjadi pelopor dan tokoh pemikir bangsa yang berkiprah menegakkan negara Republik Indonesia. Diawali pada abad ke 19, tahun 1802, kepulangan tiga orang Minangkabau dari tanah suci Mekkah yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik, telah membawa inspirasi pemurnian akidah Islamiyah di wilayah Minangkabau. Tujuan utamanya adalah kembali kepada ajaran Al Qur’an dan Hadits yang murni seperti pada masa ulama salaf di Mekkah, dan pelaksanaarvagama dalam pandangan paham seperti tahayuL mistik dan bid’ah diupayakan diberantas. Dampak dari kegiatan ini mengakibatkan meletusnya perang saudara dan berlanjut dengan perang melawan Belanda yang dikenal dengan nama perang Paderi (1821 -1837). Pada awal abad ke 20, beberapa orang lagi putra Minang terkemuka pulang dari tanah suci Mekkah, dan menjadi tokoh pembaharu Islam serta pelopor pendidikan di Minangkabau, di antaranya Syeikh Abdullah Ahmad, Syeikh Muhammad Jamil Jambek, pendiri surau Inyiak Jambek di Bukittinggi, Haji Abdul Karim Amrullah pendiri pendidikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sedangkan di pulau Jawa, pada waktu itu, dua orang tokoh yang juga baru saja pulang dari tanah suci; yaitu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pada tahun 1912, KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama (N.U). Pada tahun 1926 selama berada di Mekkah para tokoh tersebut beserta kedua tokoh dari Minangkabau, sempat menghadiri pengajian dari guru besar Masjidil Haram. Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Pada masa perjuangan untuk kemerdekaan republik Indonesia tercinta ini, banyak pemikir dan tokoh yang berasal dari negeri Minangkabau ini ikut aktif berjuang, di antaranya Haji Agus Salim, Muhammad Hatta;Wakil Presiden RI, Muhammad Natsir, Sutan Syahrir, Mr. Muhammad Yamin, Buya Hamka. Hal ini membuktikan bahwa negeri yang memiliki budaya dinamis mendorong putra-putra daerah bergerak untuk peningkatan kualitas dirinya. Kedinamikaan yang ada dalam kultur Minang sudah tentu merupakan produk dari adat yang dianut oleh masyarakat Minang itu sendiri. Sesuai dengan filsafat yang yang dianut masyarakatnya “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Adat bertumpu pada agama, yang ditafsirkan secara dinamis ke dalam adat, sehingga keduanya membentuk suatu penyatuan yang tidak terpisahkanj Adat telah membentuk masyarakatnya kepada suatu tradisi berfikir, belajar dan berdemokrasi yang sampai hari ini tradisi tersebut sangat diperlukan dalam usaha meraih ilmu. Beberapa keunikan yang terdapat di dalam kultur Minangkabau, di antaranya pertama, sistem keturunan yang matrilineal, yaitu garis keturunan ditarik dari pihak ibu, bukan dari keturunan bapak sebagai mana pada umumnya di dunia ini. Sistem ini sekaligus mengangkat kedudukan kaum wanita pada posisi yang lebih dihormati. Kedua, sistem oemerintahan nagari (wilayah yang luasnya lebih kurang sama dengan dua kelurahan dalam sistem pemerintahan saat ini) bercirikan mufakat, sebagaimana yang disebutkan dalam ungkapan arifnya bulek kato dek mufakat dan nan rajo kato mufakat, artinya mufakat dicapai setelah musyawarah. Musyawarah merupakan pembahasan bersama untuk mencapai suatu kesepakatan (mufakat), melaiui proses dengar pendapat, dialogis, penyampaian kritik, lobbying dan lain lain. Dalam sistem kekeluargaan matrilineal, anak laki- laki tidak mendapat jatah kamar di rumahnya sendiri (rumah gadang) karena kamar diperuntukkan bagi anak perempuan. Keberadaan remaja di surau merupakan tempat transit karena setelah mencapai kemandirian hidup, ia dimotivasi oleh adat untuk bermigrasi atau merantau meninggalkan kampung halaman dengan tujuan mencari pengalaman baru di negeri orang, dan menghidupkan keluarga serta membangun kampung halaman.
Terkait dengan dunia pendidikan, dewasa ini sedang terjadi perubahan paradigma pembelajaran, dari dominasi guru (teacher centered approach) kepada dominasi murid (student centered approach). Sudah tentu pengaruhnya sangat besar dan menyeluruh ke dalam dunia pendidikan tersebut. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus disikapi secara serius yaitu; Pertama, peserta didik, meliputi pengembangan mental intelektual, potensi diri, lingkungan pendidikan yang sangat kompleks, kedua, pendidik, siapa yang berhak menjadi pendidik dan kategori yang harus dimiliki seorang pendidik, ketiga, metodologi pendidikan dan pembelajaran, yaitu potensi diri, gaya belajar dan gaya berfikir, keempat, materi pendidikan meliputi materi apa yang harus diberikan kepada peserta didik, (karena antara materi dan buku paket sering terjadi ketidak sesuaian; banyak materi yang mubazir karena berulang-ulang, terlalu mudah atau terlalu sulit sehingga tidak sesuai dengan perkembangan mental intelektual peserta didik), kelima, tempat penyelenggaraan pendidikan, yaitu apakah tempat penyelenggaraan memadai untuk pengembangan kurikulum secara keseluruhan, apakah ratio peserta didik dengan pendidik sudah sesuai menurut kaidah belajar, dan apakah susunan tempat duduk sudah baik menurut cara belajar yang seharusnya. Perkembangan seorang anak manusia merupakan produk kombinasi antara faktor genetis dan faktor lingkungan di luar dirinya. Potensi diri secara keseluruhan terkait dan didominasi oleh fungsi kerja otak, di antaranya adalah fungsi kerja kedua belahan otak, bakat, kecerdasan, emosi dan spiritual, sedangkan potensi lingkungan terkait dengan semua sumber informasi yang berasal dari luar diri peserta didik. Faktor genetis adalah faktor yang berkaitan dengan sifat bawaan yang diwariskan oleh kedua orang tua, yang meliputi bakat, cara kerja otak, kecerdasan, emosi dan spiritual. Sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan semua sumber informasi yang berasal cari luar diri peserta didik; seperti keluarga, teman, guru, masyarakat, budaya, buku, internet, multi media. Bakat, sebagai faktor genetis di dalam diri manusia, dibawa sejak dari lahir sebagai warisan dari kedua orang tua, kemudian dapat berkembang menjadi kecerdasan yang menurut para ahli kecerdasan bakat memiliki bentuk yang tidak hanya satu tapi jamak. Di dalam diri manusia terdapat delapan jenis kecerdasan yang disebut kecerdasan jamak (multiple –intelligences). Berdasarkan uraian di atas masalah pokok dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep pendidikan dalam adat Minangkabau? Dalam penelitian ini secara deskriptif berusaha untuk mengungkapkan konsep pendidikan yang terkandung dalam adat Minang.

PENGERTIAN KONSEP PENDIDIKAN DALAM ADAT MINANG | ok-review | 4.5