PENGERTIAN KONSEP EKOLOGI

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Konsep ekologi bermula dari istilah “jaring-jaring kehidupan” (web of life) Darwin, meskipun sejak zaman Aristoteles sudah ada pemikiran tentang saling-keterkaitan antara berbagai makhluk hidup yang lantas mengilhami para ilmuwan abad 18. Istilah ekologi itu sendiri (okologie) diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1834-1919). Sejak awal abad 20, teori dan generalisasi mentahnya kemudian dituangkan ke dalam serangkaian studi empiris, bermula dengan studi sejarah alamiah tumbuh-tumbuhan. Secara singkat ekologi bisa diartikan sebagai studi tentang hubungan antara berbagai makhluk hidup serta lingkungan biotik dan fisik yang melingkupi mereka melalui pertukaran kalori, materi dan informasi. Konsep adaptasi menduduki peran sentral karena kehidupan dan perilaku makhluk hidup ditentukan oleh kemampuannya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam kerangka ini, perhatian utama ekologi biologis kontemporer adalah dinamika populasi, transfer energi, pemodelan sistem, siklus nutrisi, degradasi dan pelestarian lingkungan, serta, sejak 1970-an, aplikasi pemikiran Neo-Darwin terhadap sosio- ekologi.
Dalam ilmu-ilmu sosial, konsep ekologi dalam pengertiannya yang ketat untuk pertama kalinya diterapkan pada geografi manusia (human geography) melalui biogeografi, dan segera setelah itu para ahli geografi meredefinisikan subyek mereka secara eksplisit dalam istilah-istilah ekologis. Pada 1930-an Chicago School of Urban Sociology di bawah R.E. Park dan E.W. Burgess merumuskan serangkaian peristilahan yang kemudian disebut ekologi manusia (human ecology). Konsepsi ini didasarkan pada leksikon biologi dalam membahas hubungan-hubungan spasial manusia seperti “suksesi” dan mobilitas antara berbagai kelas sosial. Pemikiran Chicago ini segera menyebarkan pengaruh, meskipun analoginya agak naif, dan induktivisme serta empirismenya agak mentah. Aplikasi pendekatan ekologis dalam ilmu sosial yang paling berhasil terjadi pada bidang studi antropologi. Tokoh yang berpengaruh adalah Emile Durkheim (1858-1917) dan Franz Boas (1858-1942) yang banyak menyumbangkan pemikirannya selama tiga dekade pertama abad 20 yang secara efektif menggugurkan konsepsi determinisme lingkungan abad 19. Meskipun soal-soal lingkungan belum sepenting sekarang, pada saat itu sudah ada studi tentang interaksi lingkungan. Karya Boas (1888) tentang suku Eskimo, dan karya Mauss serta Beuchat (1979) adalah contohnya. Kerangka teoretis umumnya disusun oleh Daryll Forde (1934) dalam karyanya yang berjudul Habitat. Economy and Society. Penggunaan pertama konsep ekologi secara eksplisit dalam antropologi dapat ditemukan pada karya-karya Julian Steward selama 1930-an (Steward dan Murphy, 1977). Dalam teori Steward, konsep adaptasi budaya sangat dipentingkan, yang kemudian menjadi basis perumusan strategi- strategi adaptasi budaya dalam konteks kelembagaan sosial dan pengaturan teknis. Karya Steward ini sangat berpengaruh, namun teori ekologi kulturalnya — yang membuat tafsiran baru atas konsep adaptasi — dan rumusannya yang memisahkan unsur organik dan supra-organik (juga ciri adaptasi kunci dan periferal tidak bisa diterima (Ellen 1982).
Kemajuan-kemajuan ekologi biologi yang erat kaitannya dengan konsep ekosistem, pengukuran empiris arus energi dan pemakaian bahasa sibernetika dan teori sistem. Belakangan ini perhatian lebih dicurahkan pada masalah kerusakan lingkungan (Vayda dan McCay 1975- dan konsep yang digunakan adalah metode individualisme ekonomi, teori optimalisasi, dan ekologi revolusioner yang tentu saja lebih kompleks ketimbang konsep-konsep adaptasi terdahulu (Winterhalder dan Smith, 1981). Kecenderungan ini nampak jelas pada karya Ingold (1986) yang secara eksplisit mengesampingkan ekologi umum era Steward, dan rumusan-rumusan lain yang terlalu terpaku pada konsepsi Darwin. Sementara itu, perhatian juga lebih banyak diberikan pada evolusi sistem sosial dan ekologis (Ingold 1980), dengan fokus pada umpan balik positif, bukannya negatif seperti sebelumnya, dan ini mengarah pada berkembangnya demografi sejarah yang berpuncak pada munculnya mahzab Annales (Viazzo 1989). Dampak penting berikutnya dari konsep-konsep ekologi dalam ilmu-ilmu sosial adalah terungkapnya hubungan antara lingkungan dan politik (political environmentalism), serta lingkungan dan pembangunan. Garret Hardin dan Kenneth Boulding memberi warna ekologis dalam pemikiran ekonomi. “Model pertumbuhan” yang semula diagungkan di negara maju maupun berkembang kini mulai dipertanyakan karena dampak destruktifnya terhadap lingkungan hidup. Keprihatinan yang terus meningkat atas degradasi lingkungan kemudian memunculkan teori- teori tentang pembangunan berkesinambungan atau yang “ramah terhadap lingkungan. Sebagian rumusannya memang utopis, misalnya rumusan yang mencoba mempertautkan Marxisme dengan environmentalisme (Redclift 1984), namun secara umum hal itu memberi warna baru yang lebih baik dalam teori dan praktik pembangunan, yang kini kian memperhatikan nasib lingkungan (Croll dan Parkin 1992), metode usaha dan teknologi asli/ pribumi (misalnya Richards 1986), manajemen sumber daya secara kolektif (McCay dan Acheson 1987), dan sejarah lingkungan itu sendiri.

PENGERTIAN KONSEP EKOLOGI | ok-review | 4.5