PENGERTIAN KOMUNITAS

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Antropologi

Istilah komunitas berkaitan dengan banyak fenomena, pola penafsiran dan juga asosiasi. Tercatat tidak kurang dari 94 defenisi dari istilah komunitas yang telah melampaui batasan pengertian pertamanya yang lazim digunakan oleh para sosiolog. Kerancuan makna mulai muncul ketika komunitas diartikan sebagai suatu bentuk kolektivitas atau unit sosial, dan sekaligus sebagai suatu tipe hubungan sosial atau sentimen. Akar permasalahan tersebut dapat dilacak dari Gemein schaft karya Tonnies menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan kolektivitas sekaligus hubungan sosial. Selanjutnya, sebagian besar ilmuwan menggunakan istilah komunitas untuk menjelaskan kolektivitas (dengan atau tanpa ikatan Gemein- schafi), namun masih banyak di antaranya seperti Nisbet (1953) yang tetap mengartikan komunitas sebagai suatu perasaan atau sentimen yang mewarnai upaya pembentukan komunitas, yang sangat terasakan ketika orang-orang mulai merasakan susut atau hilangnya komunitas dalam kehidupan moderen. Nampak jelas bahwa pendekatan seperti ini mengandung nuansa nostalgia mengenai ketenteraman di masa lampau. Namun seperti yang dikemukan oleh Schmalenbach (1960), gemeinschaft Tonnies sesungguhnya hubungan yang bersifat spontan dan ada dengan sendirinya. Ikatan persahabatan yang harus diupayakan secara sengaja oleh orang dan lebih bermuatan emosional menjadi lebih jelas jika digambarkan dengan istilah ikatan komuni (bund). Ikatan seperti itulah yang sering dijumpai pada sekte-sekte keagamaan atau kelompok-kelompok ideologis. Ikatan komuni biasanya diciptakan oleh mereka yang tidak puas dengan rutinisasi ikatan komunitas yang ada (sehingga mereka merasakan kehilangan makna dan rasa keterlibatan). Jika diartikan sebagai suatu bentuk kolektivitas, komunitas biasanya merujuk pada suatu kelompok yang para anggotanya menghuni ruang fisik atau wilayah geografis yang sama di lingkungan tetangga, desa atau kota. Komunitas juga bisa diartikan sebagai suatu kelompok yang anggota- anggotanya memiliki ciri-ciri serupa, yang biasanya dihimpun oleh suatu rasa memiliki, atau bisa pula oleh ikatan dan interaksi sosial tertentu yang menjadikan kelompok itu sebagai suatu entitas sosial tersendiri. Contohnya adalah suku bangsa atau etnik, kaum beragama tertentu, kalangan akademik, atau komunitas profesional. Di sini kita melihat adanya perbedaan yang mencolok, yakni yang satu menggunakan pendekatan teritorial, sedangkan yang lain non-teritorial.
Bagi sementara ilmuwan landasan terpenting bagi kebersamaan adalah teritori atau wilayah yang sama. Mereka tidak mengabaikan arti penting elemen- elemen ikatan kebersamaan lainnya, namun mereka berpendapat ikatan-ikatan itu tidak cukup membentuk suatu komunitas. Sebaliknya, pendekatan teritorial menekankan pentingnya ikatan kebersamaan selain dari kesamaan wilayah atau tempat hunian. Istilah komunitas masih mengisyaratkan suatu entitas sosial dengan ikatan-ikatan kebersamaan, namun bukan mempersoalkan ikatan itu sendiri. Wilayah atau teritori memang penting, namun itu hanya merupakan salah satu unsur kebersamaan. Ikatan kebersamaan dan rasa saling memiliki itu bisa pula bersumber dari ikatan sejarah, kesamaan nasib, kesamaan nilai atau pandangan, kesamaan kepentingan, hubungan kekerabatan dan seba- gainya. Pendekatan ini nampaknya cocok untuk memahami komunitas-komunitas etnik atau agama yang para anggotanya bisa saja tinggal di tempat-tempat yang terpencar. Namun kerancuan pengertian itu belum terselesaikan hingga sekarang. Hanya saja pendekatan non-teritorial kini lebih banyak mendapatkan perhatian sehubungan dengan kemajuan komunikasi yang memperkecil arti penting kedekatan atau kesamaan teritorial sebagai landasan asosiasi manusia sehingga menciptakan apa yang oleh Weber 1964 disebut “komunitas tanpa kesamaan hunian”. Para teorisi sosial khususnya yang menekuni soal jaringan, juga menggunakan pendekatan itu. Durkheim mempelopori studi semacam itu yang sangat kontras bila dibandingkan dengan pendekatan intraksionis yang dikembangkan oleh Simmel. Hiilery (1968) dan Gottschalk (1975) telah membuat upaya yang paling sistematik untuk membedakan organisasi forma! dari komunitas (atau organisasi yang iebth bersifat komunal). Orientasi utama organisasi formal tertuiu pada suatu tujuan spesifik, sedangkan organis komunal memiliki orientasi yang lebih beragam. Azarya (1984) menambahkan bahwa organisasi formal pada dasarnya adalah instrumen yang dioptakan untuk mencapai tujuan-tujuan ekstemai sedangkan tujuan komunitas lebih bersifat internal berorientasi ke dalam, seperti pembinaan hubungan baik antara segenap anggota. Setiap anggota dalam organisasi formal memiliki peran tertentu, sedangkan dalam organisasi komunal peran itu tidak ditetapkan secara ketat dan bisa mencakup berbagai aspek yang lebih luas. Perusahaan, sekolah, gereja, angkatan bersenjata, gerakan politik dan asosiasi profesi merupakan organisasi-organisasi formal, sedangkan keluarga, suku bangsa atau etnik, dan lingkungan bertetangga adalah organisasi komunal. Tentu saja keduanya dapat mencakup pula sub-sub unit dan lawan jenisnya. Sebagai contoh komunitas informal seperti kelompok sahabat di kalangan pekerja di sebuah pabrik, atau bisa juga asosiasi resmi dibentuk di kalangan lingkungan bertetangga atau komunitas etnik tertentu.
Penetapan batasan-batasan komunitas merupakan kesulitan utama yang mengganjal upaya identifikasinya. Kurang jelasnya batasan itu sesungguhnya memang merupakan salah satu karakteristik komunitas yang tidak dimiliki oleh organisasi formal (Hiilery, 1968). Dalam komunitas-komunitas non-teritorial, perbatasan yang jelas dan diferensiasi yang tajam antara anggota dan non-anggota merupakan tanda-tanda pembentukan asosiasi dalam komunitas, yang akan mengarah pada pembentukan organisasi formal. Sedangkan dalam komunitas teritorial, jika tidak ada batasan jumlah orang yang tinggal bersama sebagai landasan penyebutannya selaku sebuah komunitas, maka konsep itu bisa diperluas sehingga bisa mencakup sebuah negara secara keseluruhan atau bahkan dunia (Warren, 1973). Sejumlah ilmuwan lebih suka membatasi isniah komunitas pada ukuran tertentu di mana penduduk dan anggotanya terlibat dalam hubungan yang cukup akrab dalam kehidupan sehari-han. Hubungan keakraban itu sendiri ditandai dengan sikap dan perilaku saling mengenal. Jika pengertian ini yang kita gunakan, maka istilah komunitas tidak bisa kita terapkan pada kawasan global, nasional atau bahkan metropolitan. Namun seandainya ukuran maksimal seperti itu dapat ditentukan lantas berapa jumlah minimal yang harus dipenuhi oleh suatu komunitas teritorial? Semakin kecil komunitasnya, akan semakin besar keakraban dalam kehidupan sehari-hari para anggotanya: namun apakah satu rumah besar yang dihuni oleh banyak keluarga (atau sebuah bangunan apartemen) bisa disebut sebagai sebuah komunitas? Menurut Warren, ada beberapa fungsi yang dimiliki oleh sebuah komunitas, termasuk pengaturan tentang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonomi dasar, sosialisasi, kontrol sosial, partisipasi sosial, dan perilaku saling mendukung. Komunitas adakalanya tergantung pada organisasi eksternal dalam melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, dan para anggotanya tidak harus mengutamakan jasa atau produk lokal. Namun sekurang-kurangnya ada kegiatan-kegiatan yang disebutkan di atas agar suatu kelompok hunian bisa disebut sebagai komunitas. Atas dasar itu, bangunan apartemen atau rumah besar yang dihuni oleh banyak keluarga tidak bisa disebut sebagai komunitas. Komunitas juga sering disebut sebagai mikrokosmos dari suatu masyarakat. Tidak seperti kolektivitas, komunitas adalah sebuah sistem sosial yang berdiri sendiri, yang memiliki pranata atau subsistem-subsistem penting seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, dan keluarga, seperti lazimnya yang ditemukan pada masyarakat yang lebih luas. Jadi ukuran komunitas itu sendiri memang sulit ditentukan. Lagipula suatu komunitas bisa kehilangan karakteristik-karakteristik khasnya ketika ia berkembang semakin luas dan kian terdiferensiasikan. Kekaburan konseptual ilmu sosial berkenaan dengan komunitas tidak menghalangi studi-studi mengenai komunitas, sebagian di antaranya bahkan merupakan karya ilmu sosial yang menonjol Serangkaian hasil studi dari universitas Chicago di tahun 1920-an dan 1930-an, karya Warren dan Lunt (1941) yang berjudul Yankee City, karya Redfield (1949) berjudul Tepotzlan: A Mexican Village, karya Whyte (1961) yang berjudul Street Corner Society, karya Gans (1962) yang berjudul Urban Villagers dan Levittowner (1967) adalah beberapa contohnya. Minat akademik pada komunitas juga merambah pada unit-unit atau aspek-aspeknya yang menonjol mulai dari soal ukuran komunitas, otonomi, komposisi demografi, aspek teknologi, ciri-ciri ekonomi, budaya dan sebagainya. Karakteristik-karakteristik komunitas juga telah sering digunakan untuk menjelaskan fenomena lain, mulai dari ketimpangan sosial, penyimpangan perilaku, kapasitas transformatif dan lain-lain. Belakangan ini perhatian ekstra dicurahkan untuk memahami perbedaan-perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan sebagai bahan untuk menyimak berbagai variasi dan interaksi komunitas (Wirth, 1938). Namun sementara itu gaya naratif metodologi idiosinkretik yang digunakan di banyak studi komunitas mulai dipertanyakan karena hasil-hasilnya memang sulit dikembangkan dan saling dibandingkan. Ruht Glass menyebutnya sebagai “kegagalan para sosiolog dalam membuat novel”, meskipun mungkin saja kualitas dan keunggulan studi komunitas itu memang terletak pada sifat pemaparannya yang naratif menyerupai novel.

PENGERTIAN KOMUNITAS | ok-review | 4.5