PENGERTIAN KOMUNIKASI

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Sosiologi

Pada kategori ini, para peneliti berfokus pada komunikasi massa, komunikasi lintas budaya, komunikasi kesehatan, komunikasi yang diperantarai oleh teknologi, komunikasi organisasional, komunikasi pendidikan, komunikasi kelompok kecil, komunikasi keluarga, komunikasi perkawinan, komunikasi di kalangan anak-anak. komunikasi antar-pribadi, komunikasi non-verbal, serta komunikasi intra-personal. Studi sosial ilmiah mengenai komunikasi manusia bermula pada akhir 1930-an di Amerika Serikat. Schramm (1983) mengaitkan kelahiran ilmu baru tersebut dengan empat ilmuwan yakni ilmuwan politik Harold Lasswell, sosiolog Paul Lazarsfeld, serta psikolog sosial Kurt Lewin dan Cari Hovland. Meskipun sulit dibuktikan, para peneliti komunikasi pada umumnya mempercayai atribusi Schramm tersebut, mengingat keempat pionir tersebut tidak hanya melakukan riset awal komunikasi yang sangat berpengaruh, namun juga berperan besar dalam mendidik generasi kedua ilmuwan komunikasi yang kemudian mengembangkan bidang studi baru ini. Karya penting Lasswell dan Lazarsfeld berfokus pada dampak media massa terhadap sikap dan informasi publik. Sedangkan karya rintisan Hovland di Universitas Yale berfokus pada masalah yang sama. Sementara itu Katz dan Lazarsfeld (1955) mencatat bahwa tradisi awal ilmu komunikasi berfokus pada media komunikasi publik sebagai instrumen manipulasi terselubung atau sebagai agen integrasi sosial. Para ilmuwan dari kedua tradisi tersebut mengajukan model “jarum hipodermik” dampak media yang mengisyaratkan bahwa media dapat “menginjeksikan” informasi dan sikap baru kepada masyarakat seperti halnya seorang dokter menginjeksikan serum kepada pasiennya. Bertolak dari studi klasik mengenai pemilihan umum pada 1940-an oleh Lazarsfeld dan rekan-rekannya (1948), berkembang suatu pandangan yang menempatkan media massa sebagai sumber pengaruh para pemimpin pendapat umum yang selanjutnya akan menyebarkannya ke masyarakat. Jadi Lazarsfeld melihat adanya dua tahapan penyebaran informasi yang kemudian diberi label “hipotesis arus dua tahap”. Meskipun riset yang belakangan ini mengungkapkan bahwa model jarum hiperdemik/suntik dan hipotesis arus dua tahap kelewat menyederhanakan permasalahan untuk menjelaskan dampak media massa terhadap sikap dan perilaku individu, keduanya tetap memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para peneliti komunikasi massa selama beberapa dasawarsa sesudahnya. Selama kurang lebih periode yang sama. Lewin melaksanakan studinya yang terkenal di Universitas Iowa mengenai dampak-dampak pembuatan keputusan kelompok dan kepemimpinan kelompok terhadap produktivitas dan moral para anggota kelompok. Pelaksanaan studi ini antara lain dimotivasikan pula oleh bangkitnya rezim-rezim fasis di Jerman dan Italia. Seiring dengan pecahnya Perang Dunia Kedua, perhatian atas cara-cara kampanye informasi publik secara efektif guna melawan propaganda pihak lawan terus berkembang dan berhasil membuahkan program-program penelitian komunikasi dan persuasi yang efektif, yang antara lain dilaksanakan oleh Hovland dari rekan-rekannya di Yale. Mereka menyusun suatu program yang kemudian memberi pengaruh besar bagi perkembangan studi ini selama pertengahan abad 20. Karya mereka sangat mempe-ngaruhi para peneliti komunikasi yang berminat menekuni komunikasi dan persuasi kelompok kecil. Setelah itu, studi-studi komunikasi pada umumnya berorientasi pada pemecahan masalah praktis, dan para ilmuwan dari berbagai disiplin mulai terlibat di dalamnya. Komunikasi baru muncul sebagai disiplin akademis tersendiri pada akhir 1940-an, dan salah satu momentumnya adalah pembentukan Institut Riset Komunikasi (institute of Communication Research) di Universitas Illinois pada tahun 1947 yang dipimpin oleh pakar dan perintis ilmu komunikasi Wilbur Schramm. Bertolak dari keberhasilan di Illinois, sejumlah unit riset serupa juga dibentuk di beberapa universitas terkemuka di Barat Tengah Amerika, khususnya di Machigan State University, Universitas Minnesota, dan Universitas Winsconsin. Perkembangan ilmu komunikasi kian pesat pada 1960-an dan 1970-an. Dua sekolah komunikasi Annenberg yang terkenal itu dibentuk pada masa tersebut, pertama di Universitas Penssylvania dan yang kedua Universitas Southern California. Unit-unit tersebut diperkuat oleh para staf fakultas dari berbagai disiplin ilmu mulai dari jurnalisme, ilmu pidato, sosiologi, psikologi, ekonomi dan ilmu politik. Kesemuanya memiliki komitmen yang sama untuk mempelajari proses-proses komuni-kasi manusia.
Seperti halnya pada disiplin akademik lainnya, konsensus berkenaan dengan pokok-pokok konseptual di bidang komunikasi ini tercapai secara lambat dan tidak utuh. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa ilmu ini berfokus pada berbagai konteks situasional di mana komunikasi berlangsung. Pendekatan kedua berfokus pada fungsi komunikasi, seperti sosialisasi, penyelesaian konflik, negosiasi dan tawar-menawar, persuasi serta pengaruh sosial. Sampai akhir 1960-an sebagian besar kepustakaan teoritis, metodologis dan empiris dicurahkan untuk memahami proses persuasi McGuire 1969) menyusun rangkuman mengena: hai ITU yang lantas diterbitkan sebagai dokumen setebal 42 halaman di tahun 1960-an. Meskipun riset tentang persuasi: belum lumpuh para mahasiswa komunikasi tidak lagi terpaku pada masalah tersebut. Minat mereka sudah berkembang-biak dan sangat beragam. Terbitnya karya Watzlawick et al (1967) Pragmatics of Human Communication dan tumbuhnya studi tentang hubungan antar-pribadi di berbagai universitas, mendorong sejumlah peneliti meng-alihkan perhatiannya pada transaksi-transaksi simbolik dalam hubungan tatap-muka yang lebih intim. Minat para ilmuwan itu juga kian tercurah pada upaya untuk memahami rancangan pesan dan pertukaran pesan ditinjau dari perspektif transaksional dan relasional. Pendekatan ini tidak menggunakan komunikator individual sebagai unit analisis, melainkan menggunakan hubungan itu sendiri: “Fokus analisisnya terletak pada aspek-aspek sistemik yang dimiliki para pelaku secara kolektif, bukannya secara individual”. Disamping itu penekanan juga lebih diberikan pada upaya pelacakan hubungan-hubungan komunikasi yang berkembang secara bertahap; artinya para ilmuwan juga berusaha mempelajari evolusi hubungan manusia dari waktu ke waktu.
Ada tiga paradigma utama pada pendekatan-pendekatan awal. Perspektif sistem menekankan struktur dan organisasi semua komponen dari suatu sistem ketimbang berfokus pada satu atau beberapa eiemen dasar yang dipilih oleh pendekatan reduksionis. Studi-studi kontemporer berfokus pada bagaimana sistem-sistem komunikasi bergeser dari ketertiban menjadi kekacauan (sistem yang kacau balau) atau dari kekacauan menjadi ketertiban (sistem yang dapat mengorganisir dirinya sendiri). Paradigma utama kedua, yakni perspektif interpretif menitikberatkan arti penting makna dalam interaksi-interaksi sosial. Pendekatan ini mencoba memadukan makna subjektif dan makna konsensual yang melandasi realita sosial melalui serangkaian studi naturalistik yang mendokumentasikan bagaimana simbol-simbol memperoleh interpretasi selama berlangsungnya interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain. Paradigma ketiga yakni perspektif kritis, terfokus pada realitas sosial subjektif. Namun berbeda dengan paradigma interpretif. mereka yang menggunakan pendekatan kritis ini mengasumsikan suatu kedudukan politik tertentu sehingga mereka melihat masyarakat senantiasa memiliki karakter yang bersumber dari hubungan-hubungan kekuasaan (termasuk kekuatan-kekuatan materialistik seperti modal) dan konflik. Pendekatan ini menumpukan perhatiannya ke aspek-aspek budaya populer (Grossberg, 1992), masalah-masalah gender (Treichler dan Kramarae, 1988), yang acapkali memadukan strategi-strategi intervensionis dalam menyoroti kondisi material dan immaterial. Dalam perkembangan ilmu komunikasi menjelang abad 21, perdebatan antara paradigma yang satu dengan yang lain nampaknya akan terus berlangsung. Kemajuan teknologi yang sangat pesat itu turut menambah tuntutan bagi adanya upaya yang lebih intensif dalam mengidentifikasikan kaitan antaic. sistem komunikasi yang berlangsung melalui perantaraan, dan komunikasi tatap muka.

PENGERTIAN KOMUNIKASI | ok-review | 4.5