PENGERTIAN KOMISI TINJU INDONESIA (KTI)

By On Wednesday, April 23rd, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN KOMISI TINJU INDONESIA (KTI) – Satu-satunya organisasi tinju profesional, dengan status pembina, pengendali, dan pengawas kegiatan tinju profesional di Indonesia. Fungsinya sebagai unsur penunjang pemerintah, khususnya Badan Pembina Olahraga Profesional Indonesia (Bapopi), dalam melaksanakan PP No. 18/1984 tentang pembinaan olahraga profe­sional.
KTI berdiri tanggal 27 Agustus 1970 di Jakarta. Tujuannya untuk (1) membangun dan membina ma­syarakat Indonesia yang sehat dan kuat, baik jasmani maupun rohani, serta mengembangkan rasa persauda­raan, persatuan, kesatuan, dan kebanggaan nasional; (2) menjadikan olah raga tinju profesional bagian tak terpisahkan dari upaya pemerintah memperluas ke­sempatan kerja, serta mengejar prestasi dan kesejah­teraan dengan mengindahkan keselamatan dan kea­manan petinju; serta (3) memupuk rasa persaudaraan antarbangsa, atas dasar persamaan hak dan derajat melalui olahraga tinju profesional, dalam upaya mem­bantu menciptakan dunia yang aman sejahtera dengan mengutamakan kepentingan nasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, KTI berusaha me­ngembangkan, membina, dan meningkatkan muttt olahraga tinju profesonal melalui pendidikan, latihan, kursus, penataran, bimbingan, dan penyuluhan. Da­lam mengembangkan dan membina organisasi, ter­masuk masalah keanggotaan dan persatuan antar­anggota, disusun peraturan, pedoman, dan tata tertib penyelenggaraan tinju profesional, baik di tingkat na­sional maupun internasional. Selain itu dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pertandingan ter­sebut.
KTI memiliki anggota biasa dan anggota kehor­matan yang diangkat dalam musyawarah KTI. Ang­gota biasa dipilih berdasarkan profesinya di bidang tinju profesional dan memperoleh lisensi atau diakui pengurus KTI. Selain itu, dilihat pula kemampuan dan dedikasinya sebagai pengurus KTI. Anggota kehor­matan KTI berasal dari kalangan yang berjasa terha­dap KTI.
Susunan organisasi KTI terdiri atas KTI Pusat, KTI Daerah Tingkat I, KTI Daerah Tingkat II, dan Perwa­kilan. Walaupun organisasi KTI sudah menyebar di seluruh Indonesia, potensi tinju profesional negara ini masih terbatas di Pulau Jawa. Jawa Barat, Jawa Ti­mur, dan DKI Jakarta merupakan penggerak utama tinju profesional Indonesia sampai tahun 1980-an.
Syarat-syarat bagi petinju yang ingin menjadi ang­gota KTI, antara lain, harus berkewarganegaraan In­donesia, berusia sekurang-kurangnya 18 tahun, berke­lakuan baik berdasarkan keterangan dari POLRI, bukan petinju amatir, serta dinyatakan sehat jasmani dan rohani oleh dokter.
Untuk manajer tinju profesional yang ingin men­jadi anggota KTI diharuskan memiliki sekurang- kurangnya seorang petinju profesional dan tempat berlatih yang tetap. Sementara bagi promotor, di­perlukan bukti kebonafiditasan, antara lain dengan menunjukkan bahwa kepromotorannya atas nama per­orangan atau badan hukum; memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan mempunyai referensi bank.
Walaupun promotor dan manajer tinju profesional memiliki organisasi sendiri-sendiri, sebagai individu, mereka masih bernaung pada KTI di daerah masing- masing.
Dalam tahun 1980-an, tercatat 75 petinju profesio­nal, 30 promotor, dan 25 manajer anggota KTI. Dari jumlah petinju profesional yang terdaftar itu, ada be­berapa yang berhasil diorbitkan KTI. Di ring Interna­tional Boxing Federation (IBF), misalnya, Ellyas Pi- cal dan Nico Thomas pernah menjadi menjadi juara. Di ring World Boxing Commission Junior (WBC Ju­nior), Pulo Sugare, Hengky Gun, Nurhuda, Wongso Indrajit, dan John Arief berhasil menduduki tempat tersendiri. Di tingkat Oceania Pasific Boxing Federa­tion (OPBF), KTI berhasil mengorbitkan Wongso Su- seno, Thomas Americo, Suwarno, Polly Pasireron, Johari, dan Fransisco Lisboa.
Dalam mengorbitkan petinjunya, KTI menunggu “usulan” promotor sebagai match maker pertandingan tinju profesional. Promotor itu sendiri baru dapat mengajukan permintaan pertandingan kepada KTI se­telah manajer tinju sudah siap dengan petinjunya, sedangkan kesiapan petinju untuk naik ring ditentu­kan oleh pelatihnya. Rantai yang tidak pendek ini, di­tambah dengan masalah danaTseringkali menimbul­kan masalah dalam penyelenggaraan pertandingan tinju profesional.
Kelahiran tinju profesional di Indonesia erat kaitannya dalam upaya memompa tinju amatir. Alasannya, agar setiap petinju profesional terlebih da­hulu menjadi juara amatir, walaupun ketentuan seper­ti itu tidak bersifat mutlak karena ada petinju yang ter­jun ke dunia tinju profesional tanpa pernah menjuarai tinju amatir sebelumnya. Walaupun tahu tentang hal itu, KTI tak bisa bertindak, karena salah satu peratur­an di dalam anggaran dasarnya menyatakan bahwa la­han tinju profesional merupakan lapangan kerja, dan setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pekerjaan. Sebagai wadah bisnis tinju profesional, agaknya KTI masih memerlukan waktu untuk memprofesionalkan tinju.

PENGERTIAN KOMISI TINJU INDONESIA (KTI) | ok-review | 4.5