PENGERTIAN KOMIK

By On Tuesday, April 22nd, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN KOMIK – Adalah cerita gambar serial sebagai perpa­duan karya seni rupa atau seni gambar dan seni sastra. Di Perancis, orang menyebutnya sastra ekspresi gra­fis. Komik berbentuk rangkaian gambar, masing-ma­sing dalam kotak, yang keseluruhannya merupakan rentetan satu cerita. Gambar-gambar itu pada umum­nya dilengkapi balon-balon ucapan dan ada kalanya masih disertai narasi sebagai penjelasan. Komik di­muat secara tet£p sebagai cerita bersambung dalam majalah dan surat kabar, atau diterbitkan sebagai bu­ku dan dalam bentuk majalah.
Dalam bahasa Inggris, komik sekali muat atau ber­sambung dalam penerbitan pers disebut comic strip atau strip cartoon. Komik yang diterbitkan dalam bentuk buku disebut comic book. Secara umum, seluruhnya disebut comics.
Kata komik berasal dari bahasa Perancis comique, yang sebagai kata sifat artinya lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak atau badut. Umpamanya, dalam bidang kesenian dikenal opera komik dan lagu komik. Comique sendiri berasal dari bahasa Yunani komikos.
Cerita gambar ini disebut komik karena pada masa lampau umumnya mengacu kepada cerita-cerita humoristis atau satiris untuk menghibur khalayak. Yang termasuk dalam kategori ini bukan hanya komik berisi cerita panjang yang menggelikan seperti kisah- kisah petualangan Tintin karya Herge (nama samaran Georges Remi) dari Belgia, Asterix dan Obelix karya Goscinny dan Albert Uderzo dari Perancis, atau kar­ya-karya Walt Disney dari Amerika Serikat tentang Donald Duck dan Mickey Mouse, melainkan juga ko­mik pendek sekali muat dalam surat kabar atau maja­lah seperti “Blondie” karya Chic Young, “Peanuts”! karya Charles Schulz, “Garfield” karya Jim Davis,] “Beetle Bailey” karya Mort Walker, dan sejenisnya.
Tetapi di Indonesia, sementara pengamat menama-1 kan komik pendek seperti itu komik-kartun atau kartun-komik karena mengandung ciri-ciri kedua jenis  cerita gambar itu. Isi dan susunan gambarnya, yang biasanya terdiri atas tiga sampai enam kotak, merupakan perpaduan antara komik dan kartun. Isinya meng­arahf kepada ciri -kartun,. y aitu pesan atau komentar humoristis atau satiris tentang suatu peristiwa atau masalah aktual dengan sedikit mengekstremkan per­soalan. Tetapi bentuknya serupa komik, yaitu rang­kaian gambar yang dilengkapi teks cerita.
Di Indonesia, contoh-contoh komik-kartun, antara] lain, karya-karya Kho Wan Gie (“Put On” di harian! Sin Po), Dwi Koendoro (“Panji Koming”, harian 1 Kompas), G.M. Sudarta (“Oom Pasikom”, Kompas)} Pramono (“Keong”, harian Sinar Harapan), Keliekj Siswojo (“Doyok”, harian Pos Kota), Rachmat Gazali j (“Mr. Boss”, harian Bisnis Indonesia), Johny Hidayat (“Bung Joni”, harian Berita Buana), dan Bambang Sugeng (“Mat Karyo”, harian Suara Karya). Selain komik gambar, dikenal pula komik foto, baik yang diterbitkan dalam bentuk seperti majalah maupun yang dimuat sebagai cerita bersambung dalam penerbitan pers. Komik jenis ini berisi foto-foto, umpamanya yang diambil dari adegan-adegan film dan dirang­kaikan sesuai dengan urutan cerita dalam film. Di In­donesia, komik foto mengenai suatu cerita yang di­filmkan sering dijual di bioskop-bioskop yang sedang mempertunjukkan film tersebut.
Bacaan Seluruh Dunia.
Komik telah menjadi bahan bacaan yang merata di seluruh dunia dan penggemar­nya boleh dikatakan berada pada semua tingkat usia. Penduduk Meksiko mungkin pecandu komik nomor satu di dunia. Jika dipukul rata, setiap warga membaca sekitar satu buku komik dalam sebulan. Di negeri yang berpenduduk kurang lebih 82 juta jiwa dan juta­an orang di antaranya masih buta huruf itu, setiap bu­lan diterbitkan 70 juta eksemplar buku komik gambar dan komik foto – dalam bahasa mereka fotonovelas. Di Amerika Serikat, negeri yang komiknya menyebar atau diekspor ke segala penjuru dunia dan ditiru di mana-mana, beredar 150 juta eksemplar majalah dan buku komik selama tahun 1985. Di Jepang, lebih dari 1,5 miliar eksemplar majalah dan buku komik terjual pada tahun 1986. Majalah komik paling populer di Je­pang, Shonen Jump, setiap minggu terbit dengan oplah rata-rata lebih dari 4 juta eksemplar – melebihi sirkulasi majalah Amerika Serikat Newsweek yang beroplah 3,5 juta untuk seluruh dunia.
Jepang tidak hanya menerbitkan komik sebagai ba­caan hiburan tetapi juga mengembangkan komik se­rius untuk membantu pengajaran di kalangan masya­rakat umum dan pendidikan di sekolah. Temanya cukup berat, tetapi dapat dibaca dengan santai. Di an­taranya mengenai masalah ekonomi, perbankan, poli­tik, sejarah, hukum, fisika, teknik permobilan, dan teknologi komputer sampai kepada etika, perkawinan, dan falsafah Konfusianisme.
Cerita gambar semacam komik sudah dijumpai di Cina sejak abad ke-12. Di Eropa pada Abad Perte­ngahan, telah dikenal Biblia pauperum, suatu bentuk penerbitan Kitab Suci bergambar. Pada abad ke-19, dikenal cerita gambar karya Rodolphe Topffer (1799- 1864) di S wis dan Gustave Dore (1832-1883) di Pe­rancis.
Tetapi komik dengan bentuk seperti yang dikenal sekarang mula-mula berkembang di Amerika Serikat, misalnya The Katzenjammer Kids, yang sejak dicipta- kan pada tahun 1897 tetap hadir di tengah penggemar­nya selama 70 tahun. Tokoh komik Amerika yang per­nah amat lama populer di Indonesia, Tarzan, mula-mula muncul di Amerika Serikat pada tahun 1929. Pada waktu yang bersamaan, di Eropa dicipta kan tokoh-tokoh komik seperti Tom Poes dan Tintin (1929), yang keduanya kelak juga diterbitkan di Indo­nesia.
Di Indonesia.
Cerita gambar, yang biasa disingkat cergam, di Indonesia dapat dijumpai umpamanya pa­da kompleks percandian Prambanan di perbatasan Yogyakarta-Surakarta dan di Candi Borobudur dekat Magelang, Jawa Tengah. Pada dinding lima dari anta­ra sepuluh tingkat Borobudur terdapat rangkaian ukir­an gambar timbul (relief) sebanyak 1.300 panel (ko­tak) berisi kisah manusia sejak kelahiran sampai kematian, yang dijelmakan sebagai Budha. Di Pram­banan, peninggalan agama Siwa, pada dinding tiga di antara candi-candinya terukir rangkaian gambar tim­bul tentang kisah Ramayana (dari Candi Siwa bersam­bung ke Candi Brahma) dan Kresnayana (di Candi Wisynu). Borobudur diduga dibangun pada masa ke­kuasaan Raja Syailendra antara akhir abad ke-8 dan awal abad ke-9, sedangkan Prambanan didirikan pada pertengahan abad ke-9.
Di Yogyakarta dan Pacitan, Jawa Timur, dikenal wayang beber yang rentetan lakonnya dilukiskan ba­gaikan cerita komik di atas gulungan kain atau kertas panjang. Adegan demi adegan lakon itu diceritakan oleh dalang di muka penonton dengan membuka (mzm-beber-kan) gulungan itu berangsur-angsur. Di Bali, sebelum Belanda masuk ke Indonesia dan me­mulai masa penjajahannya, dikenal pula cerita gam­bar seperti komik berjudul Dharma Lelangon dan Dampati Lelangon.
Tetapi kelahiran komik dan komik-kartun Indone­sia seperti yang dikenal sekarang agaknya tidak diil­hami oleh sumber-sumber budaya dalam negeri, me­lainkan karena pengaruh komik impor dari Amerika Serikat, seperti Tarzan dan Flash Gordon, dan dari Eropa, seperti Tom Poes – yang terakhir selama ber­tahun-tahun dimuat di harian berbahasa Belanda Java Bode (1852-1958) di Jakarta.
Komik-kartun pertama yang muncul dalam media pers Indonesia diduga “Put On” karya Kho Wang Gie, yang untuk pertama kali dimuat di harian Sin P o di Jakarta tanggal 2 Agustus 1930. Komik panjang per­tama agaknya karya pelukis dan ilustrator Nasroen A.S. berjudul Mentjari Poeteri Hidjau, yang dimuat secara bersambung di majalah tengah bulanan Ratoe Timoer sejak edisi tanggal 1 Februari 1939. Majalah itu terbit di Yogyakarta dan diasuh oleh Andjar As­mara sebagai anggota redaksi, yang dibantu Nasroen sebagai ilustrator: Buku komik pertama – tayang diterbitkan di Indonesia, menurut pengamatan pengarang dan wartawan Arswendo Atmowiloto, ialah karya Abdulsalam Kissah Pendudukan Jogya yang mulai beredar tanggal 19 Desember 1952. Komik bertema sejarah ini sebelum­nya pernah dimuat secara bersambung di harian Ke­daulatan Rakyat di Yogyakarta antara tanggal 19 De­sember 1948 dan 29 Januari 1949. Penelitian Arswendo membantah pengamatan peneliti Perancis Dr. Marcei Bonneff dalam bukunya Les Bandes Des- sines Indonesiennes bahwa buku komik pertama ada­lah Sri Asih karya R.A. (Raden Achmad) Kosasih. Komik itu, cerita khayal tentang seorang wanita tang­guh yang dapat terbang seperti superhero Superman dari Amerika Serikat, pertama kali diterbitkan di Ban­dung pada tahun 1953 atau 1954.
Abdulsalam, yang dianggap sebagai pelopor pem­buatan komik bertema perjuangan, juga mengarang Pangeran Diponegoro dan Djoko Ting kir. Kedua ko­mik ini dimuat “di majalah Minggu Pagi di Yog­yakarta, masing-masing mulai tanggal 2 April 1950 dan 16 November 1952. R.A. Kosasih, komikus pro­duktif pada jamannya, menghasilkan pula buku-buku komik yang memuat cerita wayang seperti Mahabha- rata dan Ramayana dan cerita daerah Ganesha Ba­ngun. Komikus terkenal lainnya pada jaman itu ialah Kwik Ing Ho, pencipta Tarzan Indonesia bernama Wiro yang sebagian besar ceritanya ditulis oleh Lie Djoen Lim {Wiro, Anak Rimba Indonesia, 10 jilid), dan John Lo, pencipta Tarzan wanita Nina atau Ninayati (Nina Putri Rimba). Sejaman dengan mereka, pe­lukis Siauw Tik Kwie (kemudian bernama Oto Suastika) menciptakan komik bertema silat Cina yang luas pengagumnya, Sie D jin Koei T jeng Tang dan Sie D jin Koei Tjeng See. Komik yang ceritanya ditulis oleh Oei Kim Tia (terkenal dengan singkatan OKT) itu di­muat di majalah mingguan Star Weekly di Jakarta se­lama tujuh tahun (1954-1961) sebelum dibukukan.
Di Medan, dalam kurun waktu yang sama sepan­jang tahun 1950-an dan 1960-an, bermunculan pula sejumlah komikus terkemuka yang karya-karyanya dimuat di surat kabar dan majalah atau dibukukan. Menurut pengamatan Arswendo, yang paling menon­jol ialah Taguan Hardjo, baik dilihat dari banyaknya komik ciptaannya maupun variasi pilihan ceritanya. Serial komiknya yang pertama, Tjip Tupai (1957) un­tuk bacaan anak-anak, dimuat di harian Waspada. Menyusul kemudian dongeng daerah Mentjari Mu­sang Berdjanggiit, yang ketika diterbitkan sebagai buku sejak tahun 1958 dicetak tiga kali dengan uplah 60.000 eksemplar. Komikus Medan lainnya yang me­nonjol termasuk Zam Nuldyn (kadang-kadang ditulis Zam Nuldeyn atau Zam Nuldeyin, nama samaran Zai- nal Abidin Mohamad), Djas (adik kandung Zam), Delsy Syamsumar, M. Nur, Saleh Hasan, BahsjarS.J., Iwan Gayo, M. Ali’s, Tino Sidin (yang kemudian memberikan pendidikan menggambar di TVRI Jakar­ta), Lufthi dan Troy.
Pada akhir tahun 1960-an dan selama tahun 1970- an, eksistensi komik semakin mendapat perhatian se­perti ditunjukkan oleh pembuatan tiga film berdasar­kan karya-karya Ganes Th., ilustrator yang men­ciptakan banyak komik untuk remaja. Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes adalah komik pertama yang difilmkan di Indonesia pada tahun 1970, disusul de­ngan dua komiknya yang lain, Tuan Tanah Kedawung (1972) dan Sorga yang Hilang (1977). Di antara para komikus sejamannya yang paling menonjol ialah Jan Mintaraga (komik pertama Cinde Laras dan Rajawali Menuntut Balas), Teguh Santosa (komik pertama Su- ma, beberapa jilid, kemudian Sandhora, 10 jilid), ser­ta S.H. Mintardjo (Naga Sasra Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh).
Dikenal juga pada masa itu, pencipta tokoh-tokoh superhero seperti E. Haryo Suraminata (dengan nama samaran Hasmi, Harya, atau Nemo) pencipta tokoh Gundrtia yang berkostum seperti Captain America (Gundala Put era Pe>ir dan Trouble), Wid N. S. pen­cipta tokoh Godam, Johny Andreas, Nono, Kus Bra- miana, dan Ricky N.S. Nama-nama lain yang tampil di pasaran komik pada masa itu di antaranya Usyah- budin (komiknya Pendekar Bqmbu Kuning telah difilmkan), Zaldy, Mopizar, Budiangin, Tatang S., fylansur Dawan, Budiyanto, Djair, Tati, Judah Noor, Leo, Sim, Hans Jaladara, Rio Purbaya, Fasen, Absoni, Wedha, Hasim Katamsi, Abuy Ravana, dan Haryono. Banyak di antara komik yang mereka terbitkan ber­tema percintaan remaja.
Tahun 1970-an, dan terus berlanjut ke tahun 1980- an, merupakan masa subur bagi pemasaran komik-komik luar negeri yang diterjemahkan ke bahasa Indo­nesia. Komik-komik yang pada umumnya berasal dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa dan dice­tak berwarna itu menyingkirkan dari pasaran banyak komik Indonesia yang dicetak hitam-putih.

PENGERTIAN KOMIK | ok-review | 4.5