PENGERTIAN KOLONIALISME

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Sosiologi

Pada dasarnya kolonialisme adalah bagian dari imperialisme yang termaktub dalam ekspansi bangsa-bangsa Eropa Barat ke berbagai wilayah lainnya di dunia sejak abad 16. Ketika sejumlah wilayah jajahan memperoleh kemerdekaan dan tampil sebagai negara-negara berdaulat pada pertengahan abad 20, istilah kolonialisme nampaknya telah kehilangan entitas logis maupun historisnya. Pada puncak kolonialisme, yakni sekitar abad 19, hampir setiap negara di Eropa memiliki daerah jajahan di wilayah luar. Kolonialisme bermula dari serangkaian petualangan liar mencari kejayaan. Kedaulatan wilayah-wilayah seberang lautan diambil-alih baik melalui paksaan militer atau melalui perjanjian licik. Kalau pun penguasa lokal masih bertahan, kekuasaan riilnya sudah jauh berkurang atau bahkan lenyap sama sekali. Tatkala kekuasaan kolonial semakin kuat mereka bertindak lebih jauh dengan mencampuri kehidupan sehari-hari penduduknya. Tindakan inilah yang lalu membangkitkan perlawanan sekaligus mengawali transfer bertahap dari kekuasaan kolonial ke para pemimpin nasionalis lokal. Perlawanan terhadap kolonialisme itu sama sekali tidak mudah. Kesibukan Perang Dunia Kedua dan tuntutan yang dikumandangkan melalui PBB memungkinkan sejumlah negara baru di Asia Selatan dan Asia Tenggara merebut kemerdekaan dengan cepat. Sejumlah negara Afrika harus menegosiasikan kemerdekaannya sebelum mereka sendiri memiliki aparat birokrasi yang cukup handal. Keterbatasan-keterbatasan yang melilit kawasan jajahan itu acapkali menyulitkan mereka untuk meraih kemerdekaan secara penuh, sekalipun pihak penjajah sudah bersedia melepaskannya. Karena itulah masih cukup banyak wilayah di seberang lautan yang belum tampil sebagai negara berdaulat, dan masih punya ikatan tertentu dengan negara penjajahnya. Sebagian di antaranya cukup beruntung, karena penduduknya diperlakukan sama seperti warga negara penjajahnya. Namun ada pula yang mengalami perlakuan yang sewenang-wenang seperti dijadikan tempat pengujian senjata nuklir atau bahkan sebagai tempat pembuangan limbah beracun. Namun secara umum, para pengamat berpendapat sejarah kolonialisme telah berakhir sejak munculnya di abad 16 dan saat kematangannya di awal abad 20. Meskipun demikian kolonialisme masih menarik minat para ilmuwan sosial terapan dan teoretis. Negara-negara merdeka yang mengambil-alih wilayah jajahan acapkali memiliki tapal batas teritorial yang tidak sama dengan pembagian wilayah suku bangsa asli yang menghuninya, dan hal itulah yang acapkali menjadi sumber konflik etnik dan disintegrasi. Sebagian ilmuwan memusatkan perhatian pada posisi negara-negara baru tersebut yang relatif lemah selama berkecamuknya perang dingin. Para ilmuwan itu juga mencatat sejumlah usaha yang berani di kalangan negara-negara yang merdeka itu untuk mengukuhkan kemandiriannya terhadap negara-negara lain yang lebih mapan. Banyak di antara negara tersebut merdeka tanpa persiapan yang memadai. Birokrasi di sejumlah negara baru itu lebih terbiasa mengendalikan ketimbang merangkul penduduknya, dan banyak aparatnya bermental minta dilayani ketimbang melayani. Pola-pola ekonomi zaman kolonial juga masih banyak bertahan, seperti ekspor komoditi mentah. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada tidak mampu dengan cepat menyesuaikan diri guna memenuhi tuntutan-tuntutan penduduk. Harapan bahwa kemerdekaan dapat segera memperbaiki secara keseluruhan tidak terpenuhi secara memuaskan, dan upaya-upaya pembangunan serta modernisasi berlangsung tidak selancar seperti yang diinginkan semula. Pencanangan Dekade Pembangunan oleh PBB sebenarnya dimaksudkan untuk menarik perhatian internasional guna membantu negara-negara tersebut. Sejumlah pusat pendidikan di negara maju telah mengembangkan pusat-pusat studi pembangunan yang lalu berperan penting dalam usaha pembangunan di negara-negara berkembang.
Sedikit saja wilayah bekas jajahan yang mampu mengadakan intensifikasi ekonomi secara terencana dan mengupayakan diversifikasi produksi. Sebagian besar negara Afrika Tropis dan negara-negara bekas jajahan lainnya di seluruh dunia belum mampu mengembangkan perekonomiannya sehingga mereka pun tertatih-tatih ketika harus berpartisipasi dalam perekonomian global. Keberhasilan yang dicatat oleh negara-negara industri baru di Asia Timur Laut dan Tenggara sangat kontras bila dibandingkan dengan kemelaratan yang berlarut-larut di berbagai kawasan lainnya. Satu persamaan yang perlu dicatat adalah kebanyakan negara baru tersebut dikuasai oleh rezim-rezim yang kurang lebih bersifat otoriter, menyerupai struktur kontrol kolonial yang tentu saja sulit dikatakan sebagai bagian dari modernisasi. Kecenderungan-kecenderungan itu turut memicu pemikiran pasca modernisme yang mengkritik positivisme akademis. Teori-teori mengenai tahapan kemajuan manusia ditolak mentah-mentah oleh para ilmuwan yang menganut pemikiran pasca modernisme. Kolonialisme mulai dipandang sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya negatif. Sejumlah ilmuwan bahkan melihatnya sebagai bagian inheren dari abad Pencerahan (Enlightenment) Eropa, dengan mengutip, misalnya, pendapat Jonh Locke yang mengatakan “Tuhan memberikan dunia kepada orang kebanyakan namun karena ia memberikan karunia terbesar kepada siapa saja yang paling mampu memanfaatkan hidup, maka tidak bisa diharapkan Ia akan memberikan semuanya sama rata dalam kondisi siap pakai. Ia memberikan dunia kepada mereka yang rasional dan mampu mengolah karunianya”. Karya Edward Said (1978) yang berjudul Orientalism dan karya-karya lainnya dari studi tentang Asia (Guha, 1994) menyatakan bahwa kolonialisme bukanlah suatu periode tertentu, maupun seperangkat mekanisme pemerintahan. Dengan demikian, pencapaian situasi serba lebih baik pasca kolonialisme mensyaratkan.
Tatkala komunitas di berbaga: tempat mencari naungan perlindungan dan kompetisi terbuka, dalam aneka bentuk solidaritas yang diejawantahkan dalam hubungan-hubungan pasar maka identitas etnik kembali bangkit dan piagam-piagam perjanjian lama ditinjau kembali. Terbebas dari apakah tuntutan yang dikumandangkan itu menyangkut pengakuan politik dan pelembagaan disentralisasi, atau pemberian haK-hak atas tanah, atau keuntungan material lainnya, spektrum nasionalisme etnik terus berkembang belakangan ini sehingga pada titik ekstnmnya mengakibatkan pertumpahan darah yang tidak kalah buruknya dari yang terjadi di masa kolonialisme Perluasan istilah itu mengaburkan ikatannya dengan Kapitalisme dan imperialisme, sehingga setiap gerakan dari suatu kelompok pemukim ke dalam suatu wilayah yang telah dinyatakan milik kelompok lain dapat disebut sebagai kolonialisme atau kolonisasi.

PENGERTIAN KOLONIALISME | ok-review | 4.5