PENGERTIAN KHARISMA

By On Monday, October 7th, 2013 Categories : Sosiologi

Kharisma adalah salah satu konsep sosiologis yang paling kompleks, mengingat istilah tersebut telah digunakan untuk keperluan populer, sekurang-kurangnya oleh media massa, yang telah menyimpang dari makna aslinya. Istilah ini ber-sumber dari satu konsepsi theologis yang berarti keanggunan dan wibawa yang langsung dikaruniakan Tuhan kepada seseorang. Max Weber mengembangkan penggunaan sosiologisnya demi memperluas makna istilah tersebut. Weber mengartikannya sebagai kemampuan seseorang dalam memperoleh pengakuan alamiah dari orang lain sebagai pemimpin berkat adanya kekuatan supranatural atau kualitas individual tertentu yang dibacanya sejak lahir. Tulisan Weber ini justru menimbulkan kerancuan disatu sisi dinyatakan bahwa hakekat kharisma terdapat pada kekuatan atau kualitas tertentu dari seseorang, sehingga seharusnya dapat dijelaskan berdasarkan atribut-atribut psikologis personal dari para pemimpin. Di lain pihak, dinyatakan pula bahwa karakter kharisma itu ditentukan pula oleh pengakuan orang lain sehingga seharusnya dijelaskan berdasarkan psikologis sosial hubungan antar-pribadi, yakni antara pemimpin dan pengikutnya. Penggunaan istilah kharisma sehari-hari mengandung elemen-elemen dari kedua pendekatan tersebut. Kita secara awam mengidentikkan sosok kharismatik sebagai seseorang yang mampu memancarkan daya tarik personal, popularitas, atau kekuatan tersendiri yang mendorong orang lain untuk patuh kepadanya. Namun pengertian ini sesungguhnya bertolak-belakang dari konsepsi Weber. Weber secara tajam membedakan kharisma dengan bentuk-bentuk wewenang lainnya yang bersumber dari tradisi dan dari pertimbangan-pertimbangan rasionalistik atau legal lainnya. Seorang pemimpin kharismatik adalah yang mampu atau merombak tradisi atau menjungkirbalikkan norma-norma hukum yang tengah berlaku, dan membangkitkan kepatuhan mutlak seperti halnya para nabi yang diyakini punya kekuatan supranatural tertentu. Oleh karena itu. para pemimpin yang dipilih melalui prosedur konvensional atau lewat warisan (para raja) tidak bisa disebut sebagai pemimpin kharismatik. Para pengikut dari seorang tokoh kharismatik bersedia menyerahkan kepatuhan dan pengabdiannya karena mereka merasa terpanggil atau merasa yakin bahwa kepatuhan dan pengabdian mereka itu akan menyelamatkan diri mereka sendiri. Secara umum, kepatuhan itu bersifat permanen. Namun adakalanya kepatuhan itu perlu dipupuk dan dibina secara periodik agar tidak luntur, dan hal itu menjadi tugas si pemimpin. Pemimpin kharismatik biasanya lebih mengandalkan sekelompok kaki tangan atau kalangan tertentu yang secara personal dekat dengannya ketimbang jajaran staf administratif yang mapan. Seringkali, kalangan terdekatnya, khususnya bila kharisma pemimpinnya bersifat religius, terdiri dari sanak famili terdekat yang tinggal di suatu lingkungan tertentu yang memungkinkan mereka menjalin hubungan komunal dan emosional yang erat dengan sang pemimpin. Mereka menerima bagian wewenang dari pemimpin bukan atas dasar keahlian teknis melainkan atas dasar kepatuhannya. Wewenang itu pun bersifat ad hoc. Tidak ada penugasan yang bersifat rutin, dan kalau pun ada hanya bersifat sementara. Setiap saat sang pemimpin selalu melakukan intervensi. Pertimbangan ekonomi hanya menjadi salah satu alasan pendelegasian wewenang. Pengambilan keputusan pun bersifat inspirasional dan tidak pasti.
Secara umum, kharisma merupakan bentuk wewenang yang rapuh. Max Weber menyatakan bahwa bentuk kharisma yang paling murni hanya bisa bertahan singkat, dan cenderung berubah ke bentuk wewenang lain, baik itu yang bersifat tradisional maupun yang lebih bersifat legal-rasional. Pergeseran itu dengan sendirinya mengubah pula struktur kalangan yang mendukungnya. Cakupan pendukung yang diperlukan kian luas sehingga kebutuhan akan adanya koordinasi, supervisi dan delegasi kian meningkat. Sebagai konsekuensinya karakter personal akan luntur dan unsur rutinitas akan membesar seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan stabilitas dan prediktabilitas. Masalah suksesi acapkali memperkuat proses rutinisasi tersebut. Kharisma biasanya sulit diwariskan sehingga “kharisma warisan” atau “kharisma resmi” merupakan tahapan perantara dalam proses transformasi wewenang menjadi lebih tradisional atau legal-rasional.

PENGERTIAN KHARISMA | ok-review | 4.5