PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Sosiologi

Istilah kewirausahaan mulai masuk ke khazanah teori ekonomi berkat jasa Cantillon. meskipun istilahnya sendiri baru diperkenalkan oleh Say di tahun 1803. Istilah ini diterjemahkan secara bervariasi dalam bahasa Inggris, mulai dari “pedagang” (merchant), “pemilik usaha”, hingga “petualang”. Makna aslinya kurang lebih adalah “pelaksana dari suatu proyek”. John Stuart Mill (1848) mempopulerkan istilah itu di Inggris. Dalam teori perusahaan neo-klasik, kemampuan kewirausahaan analog dengan kelimpah- an faktor tetap (fixed factor endowment) karena hal itu secara pasti memberi batasan efisiensi perusahaan. Peran statis dan pasif kewirausahaan dalam teori neo-klasik mencerminkan penekanan teori ini pada adanya informasi sempurna yang mengkordinasikan semua hal yang perlu dilakukan (secara tidak langsung teori ini menganggap manajemen dan pembuatan kepu- tusan yang baik sudah ada dengan sendirinya).
Menurut Schumpeter (1934), para wirausaha adalah motor penggerak ekonomi; fungsi inovasi yang mereka jalankan menduduki tempat sentral. Ada lima tipe inovasi yang menonjol, yakni: pengenalan barang baru atau barang lama dengan mutu lebih baik; penemuan metode produksi yang baru; pembukaan pasar baru, khususnya untuk ekspor; perolehan sumber pasokan bahan baku yang baru: serta penciptaan organisasi industri yang baru. misalnya pembentukan jaring usaha terpadu yang bisa beroperasi monopoli. Schumpeter juga memberikan penjelasan gamblang tentang hal-hal yang bukan kewirausahaan. Wirausaha bukan penemu murni, namun mereka yang pertama kali memanfaatkan penemuan itu, mempertaruhkan sumber dayanya sendiri untuk mencapai suatu hasil yang tak terbayangkan oleh orang lain. Namun wirausaha juga bukan penjudi resiko; mereka memperoleh dana pinjaman dari para kapitalis pemikul resiko untuk menggarap suatu rencana yang telah tersusun secara masak dengan faktor resiko minimal. Singkatnya, Schumpeter menyatakan bahwa fungsi utama wirausaha adalah di bidang manajerial dan pembuatan keputusan. Pandangan ini didukung oleh Hayek (1937) dan Kirzner (1973) yang menekankan peran kewirausahaan dalam pencarian dan pemanfaatan informasi. Kepekaan para wirausaha atas hal-hal yang bisa mendatangkan keuntungan dan kesigapan mereka dalam mengeksploitasikan sumber daya, merupakan kunci penguasaan mereka atas proses-proses pasar. Hayek dan Kirzner melihat para wirausaha sebagai agen perubahan, sedangkan Schumpeter melihatnya sebagai sumber atau pencipta perubahan itu sendiri. Kedua pandangan ini tidak sama, karena yang satu memberi pengakuan lebih besar terhadap peran lingkungan. Hayek dan Kirzner tidak melihat para wirausaha sebagai manusia-manusia yang selalu berhasil, namun mereka mendukung pendapat Schumpeter mengenai peran krusial yang dijalannya. Knight (1921) berpendapat bahwa proses pembuatan keputusan selalu diliputi ketidakpastian. Setiap situasi bisnis selalu unik, dan frekuensi tinggi suatu peristiwa tidak menjamin ha! itu akan terulang lagi. Menurut Knight, kemampuan menghadapi ketidakpastian itu merupakan kunci dalam ekonomi karena, tidak seperti resiko yang bisa dipagari dengan asuransi, tidak ada cara untuk melenyapkan ketidakpastian; kemampuan itulah andalan para wirausaha. Mereka bukan manajer upahan, melainkan pengelola dan pemilik yang setiap hari harus membuat keputusan. Leibenstein (1968) melihat para wirausaha sebagai pemetik sukses melalui pencegahan inefisiensi orang-orang (atau organisasi) yang berurusan dengannya. Dalam pandangan Leibenstein, mereka adalah manusia super yang bisa memetik keberhasilan di tengah norma kegagalan. Casson (1982) mengartikan wirausaha sebagai sebagai seseorang yang berspesialisasi dalam pembuatan keputusan karena ia punya akses khusus dalam memperoleh informasi. Menurutnya, ketajaman inovatif yang dikemukakan Schumpeter dan daya penciptaan peluang dari Hayek dan Krizner merupakan kasus khusus, sehingga tidak perlu bertentangan dengan konsepsinya sendiri tentang kewirausahaan. Knight mementingkan fungsi, dan terbuka peluang bagi konsep-konsep ekonomi konvensional untuk disesuaikan dengannya, demikian pula dengan penilaian peran atau aspek pasar yang dikuasai para wirausaha. Mungkin aspek kewirausahaan yang paling banyak menarik perhatian adalah aspek motivasinya. Hayek dan Krizner meminjam konsepsi mahzab Austria untuk menerangkan perilaku kewirausahaan dalam mecapai tujuan individualistic Sedangkan Schumpeter lebih suka merujuk pada dorongan impian kejayaan; Weber (1930) berfokus pada etika protestan yang mewajibkan kerja keras; dan Redlich (1956; menggarisbawahi peran nilai-nilai militeristik dalam kebudayaan kewirausahaan. Ragi para mahasiswa perilaku bisnis, sosok wirausaha petualang dan pencipta keberhasilan di dunia bisnis. Konsep heroik ini begitu populer karena banyak orang tidak ingin berpusing-pusing mencari penjelasan ilmiah atas peran kewirausahaan itu sendiri. Kewirausahaan yang berhasil membuka jalan bagi kemajuan sosial, dan menarik datangnya para pengikut yang gagal memperoleh kesempatan di tempat lain. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa kebanyakan wirausaha adalah para pendatang atau imigran yang datang dengan se mangat dan kantong kosong, anggota kelompok minoritas keagamaan yang militan, dan mereka yang gagal memperoleh tempat di perguruan tinggi. Tidak ada bukti yang memadai bahwa kewirausahaan ini bersifat turunan.

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN | ok-review | 4.5