PENGERTIAN KESADARAN

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Psikologi

Kesadaran dalam makna intinya merujuk pada suatu kondisi atau kontinum di mana kita mampu merasakan, berpikir dan membuat persepsi. Sedangkan istilah kesadaran dalam ilmu sosial dan populer seperti kesadaran kelas, peningkatan kesadaran dan kesadaran tentang diri sendiri, mengacu pada kandungan, gaya atau objek kesadaran, jadi bukan pada fakta primer mengenai kesadaran itu sendiri. Kesadaran itu bersifat paradoks karena kita memiliki pengetahuan personal yang bersifat langsung dan seketika mengenainya, namun dalam waktu bersamaan kita begitu sulit memberi penjelasan ilmiah terhadapnya. Ilmu sosial maupun ilmu alam belum dapat memberi jawaban yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan di seputar hakikat kesadaran. Sekarang mari kita asumsikan bahwa sekelompok neuron atau sel dalam otak menyala setiap kali kita melihat sesuatu yang berwarna merah, dan ada kelompok neuron lain yang akan menyala jika kita melihat sesuatu yang berwarna hijau. Ini mungkin dapat menjelaskan bagaimana kita dapat membuat respon-respon yang berlainan terhadap warna-warna yang berbeda, namun hal itu nampaknya tidak cukup untuk menjelaskan tampilan subjektif dari warna-warna tersebut. Pemberian istilah linguistik terhadap warna tertentu sebagai merah (seperti yang sering kita lakukan terhadap anak-anak) mungkin dapat menjelaskan mengapa kita dapat menyepakati bahwa strawberi matang dan kotak pos di Inggris berwarna merah, namun dapatkah hal itu menjelaskan mengapa benda-benda tersebut berwarna merah? Lalu bagaimana kalau anda melihat sesuatu yang memiliki kualitas subyektif merah, sedangkan saya melihatnya sesuatu yang kualitas subyektifnya hijau Dari kerancuan inilah kebingungan mulai muncul Betapa pun kita dapat menyepakati nama- nama warna karena hampir setiap obyek memberikan sensasi pribadi yang sama bagi setiap orang.
Para filsuf memberi nama qualia untuk menyebut kualitas sensorik tertentu, seperti bau roti yang baru dipanggang, suara kaca pecah, atau warna dan tekstur kulit pohon oak. Untuk mengetahui hal-hal itu secara gamblang dan tepat kita tidak cukup dengan hanya diberitahu namun juga harus mengalami atau melihatnya sendiri. Kesadaran nampaknya tergantung pada sudut pandang individual, dan kita mungkin bisa mengatakan kalau aspek-aspek subyektif dari kesadaran itu berada di luar penjelasan sistem ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman bersama (Nagel, 1986), dan bahkan berada di luar semua makna yang terkonstruksikan secara sosial. William James (1990) mengawali kritik dan sintesis apakah pikiran itu bersumber dari otak materi ataukah jiwa non-materi, yang selanjutnya menjadi sumber perdebatan sengit pada abad 19. la menyimpulkan bahwa pikiran secara psikologis ada pada otak, namun pikiran memiliki hukum-hukumnya sendiri. Analisisnya mengenai kesadaran ini dimulai dengan introspeksi. Secara umum kesadaran dipandang sebagai suatu kontinum dan senantiasa berubah. Pikiran bersifat personal, yang selalu terkait dengan persepsi diri, selalu memiliki objek, bersikap selektif dan evaluatif. Kesadaran memiliki rentang tertentu. Jumlah obyek yang dapat kita sadari dalam satu waktu senantiasa terbatas, dan ada pula keterbatasan dalam memori langsung sehingga daya ingat kita mengenai hal-hal di masa lampau juga senantiasa terbatas. Persoalan introspektif sebagai perangkat ilmiah mulai muncul ketika hal itu diterapkan dalam behaviourisme yang berkembang pada 1920-an hingga 1950-an. Para ahli perilaku atau behavioris berpendapat bahwa perilaku dapat diamati secara jelas, namun tidak demikian halnya dengan kondisi mental. Jika kita dapat mencipta- kan hukum-hukum yang mengaitkan stimuli dan respon, maka kita akan memperoleh penjelasan yang lengkap mengenai perilaku, terlepas dari status kausalitas ataupun aspek mentalnya. Kesadaran memang suatu yang pelik untuk dipahami. Pesatnya perkembangan psikologi kognitif pada 1960-an ikut memperjelas status kausal peristiwa-peristiwa mental; kognisi (yang analog dengan program komputer) diidentifikasikan sebagai pengolahan informasi yang diterima oleh indera perasa. Terbukalah peluang untuk mempelajari berbagai topik seperti bangunan mental dan hal-hal obyektif seperti kepekaan reaksi. Sebagian besar proses kognitif, termasuk tahap-tahap awal analisis perseptual, ternyata terbukti tidak memiliki kaitan langsung dengan kesadaran yang lebih berhubungan dengan perhatian atau atensi vokal. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa kesadaran tergantung pada fungsi-fungsi otak tertentu. Serangkaian studi terhadap pasien yang mengalami kerusakan otak membuktikan hal itu. Jika konteks visual pada salah satu sisi otak akibat penyempitan pembuluh darah, maka sisi yang terdapat pada bagian otak visual akan lenyap hingga separuhnya. Pada kasus tertentu pasien bahkan kehilangan penglihatan. Itu berarti ada dissosiasi antara pengalaman sadar dalam melihat sesuatu dengan proses visual yang diperlukan otak untuk memberitahu kita bahwa mata kita melihat sesuatu. Visi tanpa kesadaran itu disebut blindsight. Jika korteks bagian kanan rusak, pasien cenderung mengalami suatu sindroma yang dikenal sebagai “pengabaian unilateral“. Dalam situasi ini mereka kehilangan kesadaran diri. Bisiach dan Luzzatti menunjukkan bahwa pengabaian unilateral bisa merusak daya imajinasi maupun pemahaman terhadap dunia nyata. Luria mengatakan pasien-pasien seperti itu menjadi sangat pasif, dan mereka tidak memiliki keinginan atau harapan apa-apa. Menurut Luria ini merupakan gangguan yang menyerang bentuk kegiatan sadar berskala tinggi, dan bukan merupakan gejala kelumpuhan otak secara total. Reaksi pasien seperti ini terhadap stimuli apa pun akan bersifat otomatis (tanpa sadar) bahkan ketika si pasien bercakap-cakap.
Shallice berpendapat bahwa hal tersebut berkaitan dengan bagian frontal pada sistem atensi kontrol yang mengendalikan dan memodulasikan proses perilaku rutin, suka rela, atau yang bersifat kebiasaan, serta persepsi terhadap pemikiran sadar yang biasa berfungsi dalam kondisi normal. Velmans (1992) justru berpendapat bahwa hal itu berkaitan dengan atensi vokal, bukan kesadaran, karena hal itulah yang berperan penting dalam proses pengolahan informasi manusia. Apa sesungguhnya cikal bakal kesadaran? Vygotsky (1986) menganggap kesadaran subjektif individu sebagai suatu hal yang sekunder dan merupakan turunan dari kesadaran sosial, atau suatu internalisasi proses dan konsepsi yang berkembang dalam kebudayaan yang lebih luas yang menyebar ke setiap individu di suatu masyarakat melalui percakapan. Di sini, yang menentukan adalah kemampuan pemantauan seseorang terhadap pengalamannya sendiri dan perilaku orang lain (meta-representasi). Menurut Pemer (1991), anak-anak di bawah usia empat tahun tidak tahu apakah mereka memiliki keinginan tertentu atau tidak. Sebagai contoh, dalam menyelesaikan suatu tugas atau teka-teki mereka sendiri tidak mengetahui apakah mereka sudah memilih jawaban yang benar atau tidak, karena mereka sekedar menduga bahwa segala tindakannya benar. Teori-teori kesadaran sosial dan kognitif diimbangi dengan pendekatan fungsionalis yang terfokus pada berbagai persoalan di seputar interaksi antara pikiran dan tubuh. Dennett berpendapat bahwa petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh psikologi, ilmu-ilmu sosial, ilmu syaraf dan ilmu komputer sudah cukup untuk menjelaskan pokok-pokok kesadaran. Hanya saja aspek filosofinya masih menjadi masalah, namun Dennett tidak terlalu menganggapnya penting karena terlepas dari terpecahkan atau tidaknya aspek tersebut, yang lebih penting adalah pemahaman dasar mengenai kesadaran itu sendiri, dan lagipula ia merasa bahwa aspek tersebut tidak akan terpecahkan untuk selamanya. Crick (1994) menyatakan bahwa neurofisiologi kesadaran dalam cakupan ilmu pengetahuan. Karena itu kita bisa mengidentifikasikan korelasi neural dari kesadaran visual Neuron pada bidang visual yang lebih tinggi, seperti V4 dan V5. memiliki respon-respon yang berkorelasi secara lebih erat dengan respon-respon perseptual ketimbang neuron yang terletak pada bidang-bidang visual yang lebih rendah seperti VI. Sel-sel V4 memberi respon terhadap nuansa warna, yang paralel dengan persepsi manusia mengenai warna itu sendiri. Sedangkan sel-sel pada VI cenderung menyederhanakan respon warna dan hai itulah yang kita alami ketika melihat cahaya. Crick juga menelaah fenomena proyeksi ulang dari bidang fisual yang lebih tinggi ke yang lebih rendah sebagai mata rantai pemicu kesadaran melalui suatu analisis hirarkis. Sampai sejauh ini kajian mengenai kesadaran belum memuaskan dan dalam banyak hai temuan- temuan yang ada justru bersifat bertentangan. Sebagai contoh, Penrose menduga bahwa kedudukan pengalaman sadar sesungguhnya berada di luar paradigma fungsionaiis. ia menjelaskannya melalui teori komputasi dan fisika kuantum, yang kemudian ditutupnya dengan semacam kesimpulan bahwa ada hubungan yang sangat dalam antara masalah nyata dengan masalah-masalah di seputar kesadaran.

PENGERTIAN KESADARAN | ok-review | 4.5