PENGERTIAN KELAS SOSIAL

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Antropologi

Setelah diambil-alih oleh teori sosial dari konteks aslinya pada kancah perdebatan politik maka istilah “kelas” selanjutnya lebih mengacu pada ketegori-kategori penduduk yang terlepas dari aspek kekayaan dan posisi sosialnya yang semata-mata menunjukkan status berdasarkan lokasi seseorang dalam proses produksi dan distribusi kekayaan sosial. Selama tiga dekade pertama pada abad kesembilanbelas, istilah kelas secara bertahap digantikan oleh istilah golongan, peringkat atau tatanan, yang semuanya merujuk pada pembagian atau pemilah-milahan suatu masyarakat. Pergeseran makna tersebut mencerminkan susutnya arti penting peringkat atau bobot turunan secara umum, serta meningkatnya arti penting kepemilikan serta pendapatan sebagai penentu kedudukan sosial seseorang. Oleh karena itu, istilah kelas selanjutnya cenderung diartikan sebagai kelompok yang anggota-anggotanya memiliki orientasi politik, nilai budaya, sikap-sikap atau perilaku sosial yang secara umum sama. Uniknya teori Marx tersebut berdampingan dengan pandangan liberal yang juga dominan, yang menafsirkan tindakan individu senantiasa didasarkan pada pengejaran kepentingan sepihak yang selanjutnya diyakini pula sebagai penggerak utama perilaku manusia. Kelanggengan teori kelas Marxis ditunjang pula oleh kejelian Marx dalam memadukan aspek-aspek ilmiah dengan observasi sehari-hari yang mudah menarik perhatian dan mudah dipahami, serta rumusannya mengenai strategi antagonisme kelas sebagai pengejawantahan konflik kepentingan ekonomi yang memang senantiasa terjadi antara berbagai pihak yang ada dalam setiap proses ekonomi. Namun teori kelas berhaluan Marx tersebut diliputi banyak kelemahan. Salah satu di antaranya adalah, kaum pekerja industri terbukti gagal mencapai kemajuan apa pun dalam mengubah statusnya. Setelah satu setengah abad sejak terbitnya karya Marx mengenai teori kelas yang berjudul Communist Manifesto atau “Manifesto Komunis” (1980 [1848]), para pekerja di dunia industri nampaknya tidak mencapai kemajuan setapak pun dalam menuju formasi masyarakat sosialis. Singkatnya apa yang diprediksikan Marx sama sekali tidak terbukti. Kesenjangan antara prediksi teori kelas dengan kecenderungan aktual sejarah kembali dapat dilihat pada kasus pecahnya Revolusi Oktober di Rusia di tahun 1917. Meskipun menyatakan diri diinspirasikan oleh pemikiran Marx (antara lain mereka menyatakan akan membentuk masyarakat sosialis), latar belakang dan perkembangan revolusi itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dirumuskan oleh Marx. Terjadinya berbagai penyimpangan memaksa para teorisi penganut pemikiran Marx berulangkah membuat revisi yang semuanya tetap saja tidak mampu membuktikan prediksi umumnya. Revisi utama yang cukup menonjol dikemukakan oleh Lukacs (1967 [1923]). Lukacs mengemukakan teori “kesadaran yang keliru”. Dalam tulisannya ia membedakan “kesadaran kelas” dari “kesadaran tentang kelas”. Istilah yang pertama secara empiris semata-mata merupakan kumpulan gagasan dan motif para anggota kelas yang terwujud dari pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan yang kedua sekedar merupakan hasil observasi dari situasi yang ada di masyarakat dan studi rasional atas keseluruhan informasi yang berkaitan dengan sistem sosial (dalam hal ini Lukacs dipengaruhi oleh metode “tipe ideal” Weber). Dalam pandangan Lukacs kedua jenis kesadaran itu tidak berkaitan secara langsung. Informasi yang diperlukan untuk mengkonstruksikan “kesadaran kelas” yang ideal itu tidak tersedia dalam pengalaman individu yang kehidupan sehari-harinya sudah dibebani keharusan mempertahankan hidup. Kesadaran empiris tentang kelas, karena itu cenderung diliputi oleh suatu “kesadaran yang keliru” yang mempersempit wawasan dari individu yang bersangkutan. Kekeliruan itu hanya dapat diluruskan jika individu-individu dibantu oleh analisis ilmiah yang menyaring pemikiran para pekerja, dan bantuan akan tersedia jika mereka bergabung dengan organisasi-organisasi politik. Dalam paparan revisi Lukacs ini, berbeda dari versi aslinya, perjuangan kelas tidak akan muncul dengan sendirinya, dan apa yang semula diyakini sebagai logika ekonomi kapitalis tidak begitu saja memancing reaksi. Sejak saat itu pula pertentangan kelas telah bergeser menjadi pertentangan ideologi.
Berbagai rumusan lainnya telah pula dikemukakan dalam kepustakaan sosiologi sejak pertengahan 1960-an untuk mengatasi atau menjembatani kesenjangan antara pencapaian tujuan para pekerja dengan lemahnya perlawanan mereka terhadap sistem yang ada. Salah satu di antaranya diajukan oleh Dahrendorf (1959) yang menganalisa “kelompok-kelompok semu” yang hanya dapat disatukan melalui “kepentingan laten” menjadi “kelompok-kelompok kepentingan” yang lebih efektif dalam mengusahakan tujuan bersama dalam bentuk “kepentingan-kepentingan nyata/manifest”. Namun kesamaan kepentingan, meskipun diperlukan, tidak cukup untuk menggerakkan suatu kelompok. Harus ada faktor-faktor lain yang menunjangnya. Bertolak dari pemikiran itu Morris dan Murphy (1966) menyatakan bahwa kesadaran kelas itu hanyalah satu batu loncatan, yang tentunya harus didukung oleh batu-batu loncatan lainnya. Dalam kumpulan studinya yang paling berpengaruh, The Black-Coated Worker, Lockwood (1958) beranjak lebih jauh dari studi kelas ala Marx, la memerinci sejumlah persyaratan atau karakteristik yang harus dimiliki para pekerja agar mereka dapat memperjuangkan perubahan. Parkin (1974) mengajukan pemikiran serupa. Kali ini Parkin menyatakan pula bahwa proses menuju perubahan itu tidak hanya satu, dan para pekerja dapat menempuh sejumlah cara, sesuai dengan kondisinya, guna mencapai perubahan yang diinginkan itu. Teori-teori revisi tersebut semuanya berasumsi bahwa situasi kehidupan sehari-hari para pekerja dalam sistem produksi kapitalis pasti akan menumbuhkan kecenderungan atau sikap anti-kapitalis dalam benak mereka. Hanya asumsi inilah yang terus bertahan dan terus dipelihara seperti halnya dalam versi teori kelas yang asli. Selebihnya asumsi-asumsi lainnya, telah mengalami perubahan secara mendasar. Pergeseran beruntun seperti itu tidak dialami oleh rumpun teori kelas lainnya yang bersumber dari pemikiran Max Weber. Weber merevisi teori kelas Marx dalam tiga aspek penting. Pertama, meskipun menerima gagasan Marx mengenai kelas sebagai suatu kategori utama dalam jaringan hubungan ekonomi, Weber menolak peran dominan hubungan tersebut yang oleh Marx dikatakan membawahi hubungan sosio-kultural dan politik di masyarakat. “Kelompok-kelompok status”. Rumusan Weber mengenai keragaman keias dan variasi peran pasar, oleh para sosiolog Inggris, dikembangkan lebih lanjut menjadi analisis persepsi diri dari setiap kelas yang melandasi respon mereka terhadap ketimpangan kelas. Model-model teoretis yang muncul dari analisis ini tidak dibatasi oleh kesadaran kelas struktural yang oleh Marx dan kawan-kawan dianggap sebagai kerangka baku bagi munculnya sikap dan pendapat dari kelas yang bersangkutan Secara empiris model baru tersebut lebih sesuai karena dapat menangkap keragaman ideologi. Kebijakan dan tindakan para pekerja. Ada dua rumusan yang perlu dicatat disini, salah satu diantaranya dikemukakan oleh W. G. Runciman (1966) yang melontarkan konsep deprivasi relatif” (ini setara dengan konsep “keadilan terbelenggu yang dikemukakan oleh Moore). Menurut mode; ini, kesadaran dan kemampuan dari setiap kelas, termasuk yang tertindas tidaklah seragam, demikian pula reaksi mereka terhadap ketimpangan kepemilikan sehingga tidak mungkin mereka bertindak secara runut dan terarah. Analisis mengenai konflik kelas yang agak mirip dikemukakan pula oleh Parkin (1979) yang melansir konsep “ketertutupan” akses.
Kandung dalam rumusan Weber yang mereka gunakan sebagai pijakan untuk menjajagi kuat- lemahnya korelasi antara kekayaan, prestise dan pengaruh Sebagian besar sosiolog Amerika (ter- .a sampai 1960-an) cenderung melihat peran sentra; pada dimensi prestise (berbagai studi prestise marak pada masa itu). Dalam kontess irilah istilah “kelas” digunakan dalam pengertian yang agak berbeda. Warner atau Centers sahkan memakai istilah itu berdasarkan makna psikologis primer yang tidak sama dengan pengertian yang diberikan oleh Weber. Pendekatan Amerika yang berbeda terhadap ketimpangan sosia. itu berkembang lebih jauh sehingga bahkan tidak bisa disebut sebagai teori kelas. Pemikiran- pemikirannya cenderung tumbuh sebagai kumpulan teori tersendiri, seperti halnya teori-teori stratifikasi (yang didasarkan pada citra gradasi, bukannya pada pemilahan kelas) yang turut menyemarakkan perdebatan mengenai kelas.
Pendekatan-pendekatan yang berkembang pada periode pasca Marx dan pasca Weber itu tetap mengaku sebagai bagian dari teori kelas karena mereka masih berpegang pada premis-premis dasar yang dirumuskan di abad 19. Antara lain. kelas masih diyakini pada dasarnya sebagai suatu fenomena ekonomi, dan konflik kelas pada hakekatnya adalah perjuangan mempertahankan atau memperbaiki posisi ekonomi (untuk memperebutkan distribusi surplus sosial). Secara umum pendapat mengenai pembentukan kelas itu sendiri berubah-ubah. Jika semula kelas diyakini terbentuk dari proses ekonomi, selanjutnya muncul pula pendapat bahwa kelas bisa pula terbentuk dari konflik-konflik sosial. Hal ini nampak mencolok semasa Revolusi Perancisdan tumbuhnya negara-negara baru sekitar tahun 1848. Baru-baru ini pun muncul kecenderungan peninjauan kembali model kelas yang bahkan mempertanyakan premis-premisnya yang paling mendasar. Salah satu studi terpenting mengenai hal itu dilakukan oleh Foucault (1980) yang berhasil mengungkapkan adanya kaitan erat antara sistem sosial modern dengan jenis kekuasaan “disipliner” baru yang bertujuan menerapkan kontrol terhadap manusia (pendapat sebelumnya lebih mengaitkan sistem sosial modern itu dengan kemajuan-kemajuan teknologi). Dari perspektif ini, konflik sosial di awal abad sembilanbeias dapat ditafsirkan kembali sebagai manifestasi atau perwujudan gerakan pekerja yang menolak tekanan penguasa, dan serikat-serikat buruh yang bermunculan pada masa itu merupakan produk dari konflik distribusi surplus sosial. Terlepas dari kadar aplikasi konflik sosial guna memahami kondisi sosial di Eropa dan negara-negara industri selama dua abad yang lampau, kini banyak pihak yang mempertanyakan manfaat studi tersebut guna memahami perkembangan sosial yang terjadi dewasa ini. Habermas (1978 [1973]), Offe (1964), Gorz (1982) dan Touraine (1971) merupakan sebagian pakar yang melontarkan skeptisisme atas kegunaan teori kelas. Salah satu alasannya mereka adalah kian susutnya angkatan kerja industri, susutnya peran para pemilik modal dan pekerja industri dalam pengorganisasian distribusi surplus, serta meningkatnya peran mediasi pemerintah dalam pengaturan produks. dan distribusi surplus. Jadi bertolak dari kenyataan tersebut, pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa keanggotaan kelas merupakan faktor kunci dalam mekanisme reproduksi kesenjangan atau diferensiasi sosial memang kian sulit dipertahankan. Perilaku individu mau tidak mau harus dipisahkan dari perilaku kelompok. Namun sampai sekarang belum ada konsep alternatif yang cukup komprehensif untuk menjelaskan ketimpangan sosial dewasa ini. Sejumlah sosiolog mencoba menggantikan pendekatan kelas dengan pendekatan yang didasarkan pada kriteria lain seperti gender (jenis kelamin), etnik, ras atau budaya. Namun secara umum, para sosiolog kontemporer itu sendiri belum dapat menyepakati salah satu dimensi terbaik untuk menyusun stratifikasi sosial sebagai kerangka kerja telaah lebih lanjut. Identitas secara umum masih diberlakukan sebagai suatu hal yang bersifat multidimensional, dan kemampuan setiap individu untuk mengkonstruksikan identitas-identitas sosial mereka kian diakui. Bahkan, kebebasan setiap individu yang kian diakui tersebut memberikan banyak peluang yang memungkinkan individu yang bersangkutan bergerak melampaui kelompok atau status sosialnya. Kenyataan itu mengharuskan para ilmuwan untuk meninggalkan konsep pembagian masyarakat yang terlalu kaku. Mereka harus mengakui, bahwa kategori sosial merupakan satu hal yang sangat rumit dan kompleks. Bahkan, sampai sejauh ini belum ada suatu prinsip atas suatu stratifikasi yang bisa diterapkan bagi semua anggota dari suatu masyarakat. Konsep “semi kelas”, misalnya, mengisyaratkan bahwa ada bagian dari populasi yang tidak termasuk dalam “sistem kelas”.

PENGERTIAN KELAS SOSIAL | ok-review | 4.5