PENGERTIAN KECACATAN DAN CACAT

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Psikologi

Selain fakta bahwa antara 4 sampai 5 persen populasi negara-negara industri dapat digolongkan cacat, hal lain yang sering menarik perhatian adalah bahwa konsepsi kecacatan itu sendiri tampak lambat dalam menerima sumbangan pemikiran dari para ilmuwan sosial. Hampir semua riset yang pernah dilakukan bersifat deskriptif, terikat pada agenda perumusan dan evaluasi kebijakan, upaya-upaya analisa atau memonitor populasi. Cacat telah menjadi fenomena sosial berdasarkan empat alasan. Pertama, manusia hidup lama dan kerusakan fisik selalu terjadi pada usia tertentu. Kedua, kemajuan teknologi pengobatan telah memberikan masalah yang sangat sulit mengenai kelangsungan hidup bayi-bayi yang terlahir dengan kekurangan fisik yang serius. Ketiga, kebijakan pelayanan kesehatan masyarakat telah memungkinkan populasi penderita cacat untuk hidup lebih layak secara sosial Keempat, perkembangan gerakan orang-orang cacat yang telah dipolitisir mencerminkan bahwa orang-orang cacat menolak dan mempertanyakan penggolongan/pembedaan sosial yang dibuat oleh masyarakat sekelilingnya. Pertanyaan yang paling mendasar, dan mungkin paling kontroversial adalah mengenai definisi cacat itu sendiri. Badan Kesehatan Dunia WHO membedakan “ketidaklengkapan” (impaier tidak adanya atau kerusakan dari mekanisme sebuah tungkai, anggota tubuh, “cacat” atau “keterbatasan (disability/disablement) (kurangnya atau hilangnya sebagian fungsi atau kemampuan Karena ketidaklengkapan fisik) dan “cacat jasmani” (handicap) (ketidakberuntungan atau tekanan sebagai akibat ketidakmampuan). Kondisi sosial selalu berpengaruh sehingga suatu ketidaklengkapan acapkali menjadi lebih pasrah. Sementara itu cacat jasmani tampaknya lebih menderita karena faktor-faktor sosial daripada sebagai konsekuensi dari ketidakmampuan fisik. Dengan gamblangnya pengakuan terhadap kenyataan ketidaklengkapan fisik, model ini telah dianggap memberikan tekanan berlebih terhadap peran atau pengaruh aspek-aspek sosial dan budaya bagi kecacatan. Dari satu segi, yang berhubungan dengan penggolongan cacat jasmani, kecacatan acapkali merupakan produk dari pengucilan dan penyampingan sosial (Oliver 1990). Selain itu. ada pendapat bahwa pusat perhatian sebaiknya diarahkan pada lingkungan yang berpengaruh terhadap kecacatan itu, dan kurangnya tanggapan masyarakat terhadap ketidaklengkapan fisik, bukannya kondisi berbeda para penyandang cacat.
Ada beberapa tema menarik yang dikemukakan dalam literatur analisis ilmu sosial. Sebagai hasil dari penggambaran perspektif sosiologi penyimpangan. ada suatu ketertarikan yang telah lama tumbuh mengenai bagaimana para penyandang cacat menghadapi dan menanggapi pelecehan yang ditunjukkan oleh masyarakat sekelilingnya. Kajian yang lebih baru adalah mengenai interaksi di antara tafsiran masyarakat mengenai ketidakmampuan dan cacat jasmani dan stratifikasi, kemiskinan dan ketertutupan masyarakat Jenkins 1991). Hal ini berhubungan dengan pertanyaan mengenai reproduksi sosial dari ketidakberuntungan dan ketidaklengkapan fisik. Pemikiran sosial seperti itu mencerminkan suara baru yang mungkin merupakan perkembangan terakhir dari ilmu sosial yang menekankan arti kecacatan ditinjau dari pengalaman dan kesaksian penyandangnya (Ferguson dkk 1992 Salah satu sumbangan terbesar dari literatur m diberikan oleh karya Robert Murphy mengena: kelumpuhan yang dideritanya dan asumsi bertingkat mengenai identitas sosialnya sebagai seorang cacat. Banyak pertanyaan dan masalah kecacatan uang menjadi ka;ian iimu sosial. Ada dua contoh. Pertam3 analisis terhadap sesuatu yang di Inggris dikenal sebagai kesulitan belajar atau cacat mental. yang di Amerika disebut sebagai keterbelakangan mental, menunjukkan sebuah rangkaian pertanyaan mengenai kesulitan metode riset. Sebagai contoh, talsafah perawatan masyarakat yang diterapkan kepada penyandang kelemahan intelektual mempersulit penafsiran sosial dan gangguan “normal. Dokumentasi mengenai pemahaman dan pengalaman sosial penyandang kesulitan belajar ternyata dapat memberikan jawaban terhadap masalah metodologis dan filosofis. Kedua, studi perbandingan kecacatan yang semula diabaikan. Pengertian kita mengenai keragaman antar-budaya terhadap penafsiran dan batasan cacat ternyata tidak sistematis dan dangkal. Hal ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh keterbatasan ilmu pengetahuan. Pada berbagai masyarakat di negara-negara sedang berkembang, cacat merupakan subyek kajian yang bersifat praktis. Cacat dimengerti sebagai akibat ketidakseimbangan diet, buruknya pelayanan kesehatan dan sosial; di pihak lain, kecacatan berperan dalam terjadinya kemiskinan dan keterbelakangan. Singkatnya, kecacatan menawarkan tantangan kepada ilmu-ilmu sosial yang bersifat teoretis, metodologis dan etis.

PENGERTIAN KECACATAN DAN CACAT | ok-review | 4.5