PENGERTIAN KAMPUNG

By On Tuesday, April 8th, 2014 Categories : Antropologi, Budaya

PENGERTIAN KAMPUNG – Suatu tempat pemukiman tetap kesa­tuan sosial yang jumlah anggotanya relatif tidak be­sar. Mereka saling mengenal dan bergaul, dengan la­tar belakang budaya yang bersifat homogen. Latar belakang budaya itu menyebabkan terwujudnya suatu pola perkampungan tertentu (lihat Pola Perkam­pungan).
Para anggota suatu kampung biasanya terikat oleh kesatuan wilayah, sehingga ada rasa cinta, rasa bang­ga terhadap wilayah pemukimannya mereka, dan sua­tu kepribadian umum. Namun ada pula kampung yang anggotanya benar-benar masih terjaring dalam ikatan kekerabatan yang jelas. Pada masa lalu, mereka bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan di sekitar ling­kungan pemukiman itu. Mereka hidup dari mata pen­caharian bercocok tanam, berburu, meramu atau menangkap ikan. Kampung dapat disebut salah satu contoh komunitas, dalam hal ini komunitas kecil (li­hat juga Desa).
Pada sejumlah suku bangsa di Indonesia, istilah kampung digunakan untuk menamakan tempat pemu­kiman seperti tersebut di atas. Suku bangsa yang menggunakan istilah kampung itu, antara lain, Sangir- Talaud, Minahasa, Banjar, Melayu Riau, Tamiang, Palembang, dan Gayo. Beberapa suku bangsa lain ju­ga menggunakan istilah kampung, tetapi dengan sedi­kit perubahan pengucapan, misalnya kampong (Sum­bawa), kampuang (Aneuk Jamee), gampong (Aceh), kambungu (Gorontalo).
Ratusan suku bangsa lainnya di Indonesia tentu ju­ga mempunyai tempat pemukiman tetap seperti ko­munitas kecil tersebut, yang sudah ada secara tradisio­nal. Namun berbagai suku bangsa itu menggunak kan istilah tersendiri, misalnya negeri (Seram), tiyuh (Lampung), nuch (penduduk Teluk Humboldt, Irian Jaya), banjar (Bali), banua (Nias), desa (Jawa), kuta (Karo), rae kowa (Sawu), dasan (Sasak), beo (Mang­garai), dll.
Suku bangsa yang menggunakan istilah kampung untuk komunitas kecil biasanya menamakan pemim­pin kampungnya kepala kampung, misalnya suku bangsa Sangir Talaud, yang juga menamakannya opo- lao atau kapiten laut; suku bangsa Sumbawa, yang melafalkannya kepala kampong. Beberapa suku bang­sa lainnya tidak menyebut pemimpinnya kepala kam­pung, tetapi menggunakan istilah lain, misalnya hu­kum tua (Minahasa), datok atau penghulu (Tamiang), taudaa (Gorontalo), gindo (Palembang), keucik (Aceh, Aneuk Jampenghulu (Melayu Riau), dll.
Suatu kenyataan lain di kota-kota di Indonesia memperlihatkan penggunaan istilah kampung sebagai nama tempat atau bagian wilayah kota. Sebagian na­ma itu mengacu kepada nama etnik. Di Jakarta, misal­nya, banyak bagian wilayah diberi nama kampung, misalnya Kampung Bugis, Kampung Ambon, Kam­pung Melayu, Kampung Bali, dan Kampung Makasar. Mungkin wilayah ini dulu menjadi tempat pemukim­an orang-orang yang berasal dari kelompok etnik ter­sebut, namun sekarang sudah menjadi sangat padat dan didiami orang dari berbagai latar belakang buda­ya. Sekarang kampung nama etnik tersebut tinggal na­ma belaka.
Kenyataan seperti ini juga terdapat pada kota-kota lain di Indonesia. Di kota Medan terdapat wilayah de­ngan nama Kampung Keling, Kampung Mandailing. Di Banda Aceh ada Kampung Jawa, Kampung Cina, Kampung Keling, dll.

PENGERTIAN KAMPUNG | ok-review | 4.5