PENGERTIAN KALENDER

By On Monday, April 7th, 2014 Categories : Budaya, Teknologi

PENGERTIAN KALENDER – Merupakan sistem yang membagi sua- tu tahun menjadi bagian-bagian berulang yang ber­manfaat bagi masyarakat dan perorangan yang membutuhkan. Tanggal satu bulan mana pun dalam bahasa Romawi kuno disebut kalendae. Peranan ka­lender antara lain: (/) menetapkan tanggal, sehingga peristiwa alam, sejarah, keagamaan, dan kebudayaan lain, baik yang berkala maupun yang tidak, dapat di­catat kapan terjadinya; (//) mengukur selang waktu yang sama; ini penting antara lain dalam kegiatan so­sial, bisnis, dan industri.
Pengukuran Waktu. Kalender erat berkaitan de­ngan pengukuran waktu, yang erat pula dihubungkan dengan bergeraknya berbagai benda langit. Bumi bergasing dengan kecepatan sudut yang seragam, sehing­ga dapat digunakan untuk mendefinisikan hari. Satu hari adalah satu putaran penuh, sehingga sebuah bin­tang yang jauh akan tampak tepat di titik seperti ke­marinnya. Hari ini disebut hari sidereal (sidus Latin berarti bintang), yang penting di dalam astronomi. Namun awam mendasarkan penetapan hari berdasar­kan nampaknya matahari (hari solar). Karena di sam­ping bergasing, bumi juga beredar mengitari matahari dengan arah sedemikian, maka matahari terlambat nampak 4 menit waktu (atau 1° sudut) dibandingkan bintang yang jauh dalam kembalinya ke titik yang sa­ma seperti kemarin. Di samping itu, karena garis edar bumi bukan suatu lingkaran sempurna dengan mata­hari berada di pusatnya, hari solar ini tidak konstan panjangnya. Awam menggunakan hari solar rata-rata setahun, dan hari itu disebut hari sipil, yang dimulai tengah malam (umat Islam, dan juga orang Jawa, menganggap hari dimulai pada matahari terbenam se­belum hari itu).
Bulan sesuai dengan namanya umumnya didasar­kan pada benda langit bulan, yaitu lamanya bulan melengkapi satu daur, misalnya dari purnama ke pur­nama, atau dari bulan baru ke bulan baru. Penggal waktu ini tidak identik dengan edaran lengkap bulan mengitari bumi, karena bumi, bersama-sama bulan, beredar mengitari matahari. Satu bulan lunar pun ti­dak konstan*panjangnya, namun rata-rata 29,5306 hari sipil, dengan sebaran plus-minus 6 jam. Di sam­ping bulan lunar, ada pula bulan anomali, bulan side­real, dan bulan-bulan lain.
Tahun adalah waktu edar bumi lengkap mengitari matahari, dan merupakan penggal waktu yang lebih sukar untuk didefinisikan. Orang kuno mengira 1 ta­hun adalah 360 hari, namun kemudian ternyata rata- rata adalah 365 hari. Tahun astronomi didefinisikan berdasarkan menyeberangnya matahari di katulistiwa dari Belahan Selatan ke Belahan Utara; satu tahun astronomi adalah waktu yang diperlukan oleh mataha­ri dari penyeberangan yang satu ke penyeberangan berikutnya. Tahun solar ini juga tidak konstan. Peng­amatan selama beberapa abad sampai pada harga ra­ta-rata sebesar 365,2422 hari sipil (tahun sidereal yang diukur relatif terhadap bintang yang jauh adalah 365,2564 hari sipil; berdasar kalender Gregorius [li­hat bawah] dengan adanya tahun kabisat tiap 4 tahun dan dibatalkan tiap 100 tahun kecuali bila tahun itu bisa dibagi 400, maka tahun kalender menurut perhi­tungan eksak adalah 365,2425 hari sipil).
Perlu dicatat bahwa definisi penggal waktu detik ti­dak lagi didasarkan pada gerakan benda langit, me­lainkan didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan 9.192.631,770 daur radiasi, yang dipancarkan atom sesium selama transisi antara dua subtingkat pada keadaan dasar.
Pekan atau minggu tidak berkaitan dengan gerakan benda langit. Namun nama hari dalam sepekan bagi kebanyakan bangsa Barat dikaitkan dengan nama benda langit.
Macam Kalender.
Ada tiga jenis kalender: (1) lu­nar, (2) solar, dan (3) lunisolar. Kalender Islam meru­pakan contoh dari kalender lunar, karena didasarkan semata-mata pada penampakan bulan. Satu tahun ter­diri atas 12 bulan lunar, dan satu bulan terdiri atas se­lang-seling 29. atau 30 hari sipil. Jadi satu tahun lunar adalah 354 hari (tepatnya 354,367056 hari sipil), atau 11 hari lebih pendek daripada tahun solar. Bila pada tahun 1968 Lebaran jatuh berdekatan dengan Hari Na­tal, maka 365/11= 33 tahun lagi, atau pada tahun 2001, peristiwa itu akan berulang.
Kalender Julius, Kalender Maya, dan Kalender Me­sir Kuno adalah kalender solar. Kalender ini tidak mengindahkan bulan lunar, sehingga panjang satu bu­lan ditetapkan sebagai 1/12 tahun solar. Lama tahun solar adalah 365,2422 hari sipil. Karena bilangan ini bukan bilangan bulat, maka ada tahun-tahun kabisat untuk memperhitungkan pecahan. Untuk memeriksa apakah kalender ini berjalan dengan baik, ekuinoks harus jatuh pada hari-hari tertentu .tidak bergeser) tiap tahunnya dalam kalender itu.
Kalender lunisolar menggunakan tahun tropis (so­lar) dan bulan lunar disertai sejumlah penyesuaian. Penyesuaian ini dapat berupa penyisipan sejumlah ha­ri atau bulan ke-13 tiap 2 atau 3 tahun sekali. Contoh kalender lunisolar adalah Kalender Yahudi.
Era, Daur, dan Periode. Era atau jaman merupa­kan sistem waktu yang lebih panjang daripada satu tahun kalender. Dalam era ini tahun-tahun kalender diberi nomor, berawalkan suatu peristiwa bersejarah tertentu. Misalnya Era Olimpik dari Tahun Yunani Kuno, Era Romawi (tahun 2742 AUC, anno urbis conditae, tahun dibangunnya kota Roma, adalah ta­hun 1989 Gregorius), Era Islam (Tahun Hijriah; era ini dimulai dengan hijrahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah), Era Ajisaka (Tahun Saka Jawa), dsb.
Era Kristen atau Tahun Masehi mengambil kelahir­an Yesus Kristus sebagai tahun 1. Ini diusulkan oleh Denys le Petit (? -540) pada tahun 532. Menurut pe­nelitian Denys, Kristus lahir pada tanggal 25 Desem­ber tahun 753 Romawi. Oleh ahli kronologi, Era Kristen digeser mundur sehingga jatuh pada hari Sab­tu tanggal 1 Januari. Tetapi Gereja Katolik mengang­gap Kristus lahir beberapa tahun sebelum tanggal yang disebut Denys, agar sesuai dengan dokumen me­ngenai matinya Herodes.
Era Kristen langsung dimulai pada tahun 0001, sehingga tidak dikenal tahun 0000 Masehi. Jadi sebe­lum Masehi tahun kabisat jatuh pada tahun 1 SM, 5 SM, 9 SM, dst. Namun para astronom menyisipkan tahun 0 sebagai tahun 1 SM, dan menggunakan tanda aljabar. Jadi tahun kabisat pada awal era ini adalah 8, 4, 0, – 4, – 8, dst.
Daur Meton ditemukan oleh astronom Yunani se­kitar tahun 432 SM. Sebenarnya daur ini sudah dike­nal di Cina sekitar tahun 2260 SM. Daur ini me­rupakan hubungan antara tahun tropis dan bulan lu­nar. Daur sepanjang 19 tahun solar (Julius) akan tepat terdiri dari 235 bulan lunar (19 x 269,2425 = 6939,6; 235 x 29,5306 = 6939,7).
Periode Julius sebesar 7980 tahun Julius sering di­gunakan untuk membandingkan peristiwa yang ber­jauhan saat terjadinya. Bilangan ini merupakan hasil perkalian tiga bilangan: 19, 28, dan 15, dan diusulkan oleh Joseph Scaliger, cendekiawan Perancis dalam ta­hun 1582. Menjadi perdebatan apakah nama Julius untuk periode ini diambil dari nama Julius Caesar yang menandai tahun Masehi kala itu, ataukah nama ayah Joseph Scaliger. Bilangan 19 diambil dari daur Meton tersebut di atas. Bilangan 15 diambil dari In- diksi Romawi, dan 28 dari daur solar; kedua daur ter­akhir ini tidak ada hubungannya dengan peristiwa astronomi. Pada tanggal 1 Januari 4713 SM, ketiga daur itu kebetulan mulai bersama-kama, dan akan mulai lagi bersama-sama kelak pada tanggal 1 Januari 3267 (=7980 -4713).
Kalender Bersejarah di Dunia. Di samping Kalen­der Islam dan Kalender Masehi,.dikena] beberapa ka­lender yang bersejarah, misalnyJ Yunani [lunar, yang tiap 8 tahun disisipi 3 bulan (30 hari) agar sesuai de­ngan tahun solar], Romawi (pendahulu Kalender Ma­sehi), Yahudi (lunisolar yang disisipi satu bulan tambahan tiap 3 tahun), Mesir, Cina (mula-mula lu­nar, kemudian diganti lunisolar dengan koreksi), dan Maya.
Kalender Islam. Kalender Islam bersifat lunar tan­pa bulan sisipan untuk menyesuaikan dengan tahun solar dan dengan pergantian musim. Panjang bulan berselang-seling 29 dan 30, menurut nampaknya bu­lan baru. Agar kalender ini benar-benar menepati bu­lan lunar, dalam kurun 30 tahun-kalender disisipkan 11 hari, sehingga ada 19 tahun biasa (354 hari sipil), dan 11 tahun sisipan (355 hari sipil), yaitu tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29 dalam daur 30 tahun tersebut. Kurun waktu ini terdiri atas 10.631 ha­ri sipil (30 x 12 x 29,5306= 10.631,016; pengabaian desimal hanya akan mengakibatkan kemelesetan se­banyak 1 hari dalam 2000 tahun).
Meskipun ada kalender ini, umat Islam mengawali dan mengakhiri bulan Ramadan (puasa) berdasarkan nampaknya bulan baru di atas cakrawala barat pada senja hari. Disparitas ini tidak merepotkan, karena umat Islam biasa menyertakan nama hari dalam me­nyebut suatu hari besar. Hari besar agama biasa diang­gap dimulai pada maghrib sebelum hari itu.
Kalender Masehi. Bila diperhatikan benar, Sep­tember, Oktober, November, dan Desember seharus­nya merupakan bulan ke 7, 8, 9, dan 10. Memang kalender Latin (Romawi, abad 8 SM) mula-mula ter­diri atas 10 bulan (304 hari). Sebelum tahun 700 SM, Raja Numa Pompilius menambahkan 2 bulan: Janua- rius dan Februarius, sehingga 1 tahun kalender terdiri atas 7 bulan 29 hari, 4 bulan 31 hari, dan Februarius dengan 28 hari (total 355 hari). Sekitar tahun 451 SM, anggota dewan (magistrat) menata-ulang bu­lan-bulan itu, sehingga diperoleh urutan seperti seka­rang ini.
Pada tahun 46 SM Julius Caesar melakukan peru­bahan besar agar kalender Latin itu sesuai dengan per­ubahan musim. Tahun 46 SM diperpanjang dengan menyisipkan suatu bulan sebanyak 23 hari antara Fe­bruari dan Maret, dan 2 bulan (34 dan 33 hari) antara November dan Desember, sehingga tahun itu menjadi 445 hari dan disebut tahun bingung. Selanjutnya Ju­lius Caesar membuat panjang tahun 365 hari, kecuali tahun ke-4 yang menjadi 366 hari. Februari pada ta­hun kabisat berubah dari 24 menjadi 25 hari. Tahun Latin ini menjadi samasekali tahun tropis (solar). Ta­hun lunar ditinggalkan. Masih ada beberapa perubah­an, antara lain bulan Februari sempat memiliki 29 hari (30 hari pada tahun kabisat). Pada tahun 44 SM, ka­lender itu resmi bernama Kalender Julius, dengan awal musim semi tiap tanggal 25 Maret.
Dalam praktek (44—8 SM) terdapat kekeliruan, dengan diadakannya tahun kabisat 3 tahun sekali. Un­tuk mengoreksi, tahun 5 SM, 4 Masehi dan 8 Masehi tidak dijadikan tahun kabisat. Setelah itu tahun (UAU) yang habis dibagi 4 dijadikan tahun kabisat. Untuk menghormati Augustus Caesar, Maharaja Ro­mawi yang pertama (Julius Caesar bukan maharaja, ia Pontifex Maximus), bulan Agustus diubah dari 30 menjadi 31 hari, dengan mengorbankan bulan Februa­ri, sementara itu September dan November diubah da­ri 31 menjadi 30, dan Oktober serta Desember dari 30 menjadi 31 hari (konon demi kesetimbangan). Namun beberapa ahli berpendapat bahwa perubahan ini telah dilakukan sejak Julius Caesar.
Tahun Kalender Julius yang panjangnya 365,25 hari sipil itu terlalu panjang 11 menit 14 detik di­bandingkan tahun solar rata-rata yang sebenarnya. Se­telah berjalan beberapa abad ingsutan maju peristiwa alam makin terasa. Pada konsili di Nicaea pada tahun 315, didekritkan agar Hari Raya Paskah dirayakan pa­da hari yang sama untuk semua gereja Kristen. Na­mun baru tanggal 24 Februari 1582 diputuskan perubahan terhadap kalender Julius/Augustus oleh Paus Gregorius XIII sebagai berikut: (1) tahun 1582 dipendekkan 10 hari; setelah 4 Oktober langsung me­nyusul 15 Oktober. Dengan demikian awal musim se­mi selanjutnya akan jatuh kembali pada tiap 21 Maret (seperti pada tahun 325 itu); (2) tahun yang berakhir dengan 00 dan tak dapat dibagi 400 dibatalkan untuk menjadi tahun kabisat.
Putusan ini membingungkan banyak orang selama bertahun-tahun. Namun negara-negara Katolik segera menaati dalam waktu 1—2 tahun. Inggris (agama ne­gara: Anglikan) baru mengikuti pada tahun 1752, se­kaligus mengubah tahun barunya dari 25 Maret ke 1 Januari. Rusia (agama negara: Katolik Ortodoks) baru mengikuti setelah kekaisaran dirobohkan oleh revolu­si Bolshevik dalam tahun 1917. Kalender ini dikenal sebagai Kalender Gregorius.
Tahun Gregorius masih 26 detik terlampau panjang dibandingkan dengan tahun tropis. Pada tahun 3300- an kelak, selisih ini akan menumpuk menjadi 1 hari.
Perbaikan Kalender.
Meskipun cukup tepat, Ka­lender Gregorius dirasakan kurang teratur untuk kehi­dupan modern. Bunga bank, penggajian, berbagai statistika dan banyak perilaku modern lain menuntut sistem penanggalan yang seragam.
Cacat Kalender Gregorius yang utama adalah pem­bagian yang tak berimbang menjadi semester, triwu­lan (90, 91, 92 hari), dan bulan (28, 29, 30, 31 hari). Memang kalender mana pun akan menjumpai kesulit­an, karena panjang tahun solar bukan kelipatan bi­langan bulat dari hari sipil. Bilangan bulat yang terdekat (365 dan 366) juga tidak habis dibagi 7, pa­dahal 7 hari dalam sepekan sudah mendarah daging bagi kebanyakan bangsa, termasuk bangsa-bangsa yang tidak berkebudayaan Yudeokristen (termasuk Islam).
Dalam Kalender Gregorius, bila suatu tahun biasa (bukan kabisat) diawali dengan misalnya hari Senin, untuk menjumpai suatu tahun biasa berikutnya yang dimulai dengan hari Senin, orang harus menunggu 28 tahun (angka 28 ini disebut daur solar, dan merupakan faktor Periode Julius tersebut di atas). Apa lagi bila tanggal 1 Januari itu, misalnya, jatuh pada Minggu Pa­iring, maka orang harus menunggu lebih lama lagi (ji­ka ia masih hidup) untuk bertahun baru pada Minggu Pahing.
Karena nama hari dan tanggal tidak berpadanan, untuk hari raya yang harus jatuh pada hari tertentu pa­da musim tertentu (misalnya Jumat Suci sebagai per­ingatan disalibnya Kristus bagi umat Kristen), tanggalnya selalu bergeser. Sebaliknya hari raya pada tanggal tertentu, misalnya 17 Agustus atau Hari Natal (25 Desember), tidak jatuh pada hari yang sama dari tahun ke tahun. Belum lagi hari raya Islam yang per­hitungannya didasarkan pada penampakan bulan.
Dalam perjalanan sejarah, berbagai usul pernah di­lontarkan orang. Beberapa di antaranya adalah seba­gai berikut:
Kalender Tetap Internasional dilontarkan oleh Au- guste Comte (1797-1857) dan direvisi oleh Moses Brunes Cotsworth (1859-1943), sorang ahli statistik. Kalender yang diusulkan akan terdiri dari 13 bulan masing-masing 28 hari. Tanggal 1 selalu jatuh pada hari Minggu. Karena 365 – (13 x 28) = 1, maka setelah 28 Desember akan selalu ada satu hari tanpa nama la­zim, katakan diberi nama Khirtah (akhir tahun). Em­pat tahun sekali ada dua hari semacam itu, di samping Khirtah adalah, katakan, Kabisat. Nama-nama bulan ditanggalkan dan diganti dengan bilangan Latin.
Cacat kalender ini adalah kemonotonan. Di sam­ping itu sukar membaginya menjadi semester, catur- wulan maupun triwulan, dan kalender ini terlalu drastis berbeda dari Kalender Gregorius yang sudah mendarah-daging bagi kebanyakan bangsa di dunia.
Kalender Dunia (Universal) merupakan kompromi antara Kalender Tetap dan Kalender Gregorius. Ka­lender ini didasarkan pada triwulan yang terdiri atas 13 pekan (91 hari). Tiap triwulan identik: diawali de­ngan hari minggu dan terdiri atas 3 bulan yang panjangnya berturut-turut 31, 30, dan 30. Tambahan kabisat disisipkan setelah triwulan 2 (setelah 30 Juni) dan setelah 30 Desember selalu ada 1 hari tanpa nama (Khirtah seperti Kalender Tetap tersebut di atas).
Keberatan atas kalender ini adalah adanya bulan yang terdiri atas 5 minggu, dan bahwa awal bulan (ke­cuali Januari, April, Juli, dan Oktober) tetap jatuh pa­da hari yang berlainan, sedangkan hari raya Kristen (Paskah) bergeser drastis dari tahun ke tahun.
Kalender Abadi disusun mirip susunan triwulan Kalender Universal, yaitu 30 + 30 + 31. Hari tanpa nama yang disisipkan setelah 31 Desember sekaligus merupakan hari libur tahun baru.

PENGERTIAN KALENDER | ok-review | 4.5