PENGERTIAN KALATIDA

By On Monday, April 7th, 2014 Categories : Antropologi, Budaya

PENGERTIAN KALATIDA – Sebuah rangkaian puisi Jawa jaman Su­rakarta karya pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873). Rangkaian puisi ini terdiri atas 12 bait tembang sinom yang mempunyai satu kesatuan arti. Banyak kalangan awam menilai puisi ini sebagai jenis puisi ramalan pujangga, sejajar dengan Jakalodang, Sabda jati, Sabda Pranawa, Sabdatama. Jika ditilik makna isinya, puisi ini termasuk puisi lirik yang mengungkapkan sikap dan perasaan penyairnya ter­hadap lingkungan hidupnya. Ada dugaan bahwa Ka- latida adalah puisi protes dan kekecewaan penyairnya pada jamaiyiya. Kalatida berarti “jaman cacat”. Mungkin pujangganya kecewa terhadap raja yang diabdinya, Paku Buwono IX (1861-1893), seperti ter­baca dalam bait 4 dan 5 tentang desas-desus pengangkatan sang pujangga ke pangkat lebih tinggi tetapi ti­dak jadi. Sebenarnya isi Kalatida lebih bersifat keke­cewaan umum, bahkan universal. Itu sebabnya puisi ini sering dikutip bait ke-7-nya, jika terjadi pemba­likan nilai, yakni merendahkan nilai luhur dan men­junjung tinggi perilaku yang sesat. Bait itu dikenal sebagai “jaman edan”. Bukti bahwa puisi ini ditulis oleh Ranggawarsita dapat dilihat dari namanya pada baris terakhir bait ke- 12 (terakhir). Ada yang menetapkan bahwa puisi ini ditulis tahun 1861.
Kalatida memiliki nilai estetika yang tinggi sebagai puisi. Meskipun terbatas oleh banyak baris, banyak suku kata dan keterikatan rima, sang penyair mampu menaklukkan hambatan itu dan bebas merdeka de­ngan kehebatan kepenyairannya. Musikalitasnya me­ngagumkan, begitu pula imajinya yang konkret dan sekaligus simbolis. Kalatida memang menunjukkan kehebatan sang pujangga sebagai penyair istana dalam bahasa Jawa Baru. Dipandang dari puisi modern pun, Kalatida te­tap menunjukkan kelasnya.

PENGERTIAN KALATIDA | ok-review | 4.5