PENGERTIAN KALA

By On Sunday, April 6th, 2014 Categories : Budaya, Ilmu Alam

PENGERTIAN KALA – Dalam agama Hindu, dapat berarti (1) wak­tu; (2) nama yang diberikan kepada Batara Yama, ha­kim tertinggi peradilan kematian. Dalam kitab suci Atharwa Weda, kala atau waktu dipuja sebagai sum­ber dan penguasa segala sesuatu: ‘Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi daripada-Nya.” Waktu bukanlah sumber unsur kausalitas pertama, tetapi merupakan pelengkap.
 
PENGERTIAN KALA – Suatu jenis binatang bernas. Tubuhnya me­manjang dengan bagian kepala dan dada menyatu. Pa­da bagian depan tubuhnya terdapat sepasang sapit besar dengan ujung seperti gunting. Perut bagian de­pannya membesar dengan tujuh ruas badan, tetapi bila dilihat dari bawah perut hanya tampak lima ruas. Pe­rut bagian belakangnya mengecil dan terdiri atas enam ruas. Ruas terakhirnya membentuk sengat yang dapat mengeluarkan bisa. Bagian ini dapat bergerak lentur ke atas depan sampai di depan mulut. Kulitnya berkhitin tebal dan berambut pendek.
Mulutnya terdiri atas sepasang rahang kecil yang diapit oleh sepasang sapit. Rahang kecil ini berujung meruncing, bergerigi, dan dapat digerakkan seperti gunting untuk mengunyah makanan. Sebenarnya, sa­pit adalah alat peraba yang berubah bentuk dan fungsi. Sapit terdiri atas enam ruas, berkhitin tebal dan kuat, serta berbentuk seperti kaki, namun lebih besar. Ujung sapit membesar, memipih, dan bercabang dua; cabang ini meruncing dan bergerigi. Sapit yang dapat digerakkan seperti gunting atau penjepit ini berguna untuk menjepit mangsa. Sepasang mata terletak di te­ngah-tengah kepala-dada atas dan pasangan kelom­pok mata kecil-kecil terletak pada sisi luar depan. Kepala-dada sebelah bawah tertutup oleh sebuah bi­dang berbentuk segi lima. Di belakang bidang itu ter­dapat lubang kelamin dan sepasang gigi sisir. Ka­kinya, yang beruas enam, berjumlah empat pasang de­ngan ujung bercakar.
Ruas perut pertama dan kedua sisi bawah seolah- olah tertutup kepala-dada. Alat pernapasannya, yang berupa paru-paru buku, terletak berpasangan pada sisi bawah, yakni mulai ruas ketiga sampai keenam. Ben­tuknya lonjong atau bundar. Ruas ketujuh makin me­ngecil ke arah belakang.
Perut bagian belakang, yang biasa disebut ekor, ter­diri atas enam ruas. Ekor ini gilik, langsing, dan dapat digerakkan melentur. Kulitnya berkhitin tebal, kasar, keras, dengan bintil-bintil kecil berjajar. Permukaan kulit ruas kelima tampak berbeda dengan ruas-ruas di depannya. Dubur terletak di ujung ruas kelima. Ruas badan terakhir meruncing dan melengkung ke bela­kang, berakhir sebagai sengat yang runcing dan tajam. Di dalam ruas terakhir terdapat sepasang kelenjar bi­sa. Kelenjar ini berbentuk kantong lonjong atau bulat telur, dan mempunyai saluran bisa menuju ke ujung sengat. Bisa kala berupa cairan jernih, tidak berwarna, bersifat asam, dan mengandung berbagai macam ra­cun, di antaranya racun darah dan saraf.
Biasanya, warna tubuh kala sesuai dengan tempat hidupnya. Misalnya, jenis kala yang hidup di tanah mempunyai warna lebih gelap daripada yang hidup di batu-batuan dan kayu kering. Warna tubuh sebelah atas biasanya lebih gelap daripada bagian bawahnya.
Kala jantan dan betina mudah dibedakan. Kala jan­tan biasanya berukuran lebih kecil. Lubang kelamin yang jantan tampak ganda, karena terdapat sekat di tengahnya; sedangkan lubang kelamin kala betina ha­nya satu dengan bentuk membundar dan tanpa sekat. Kala jantan memiliki perut lebih langsing dan gigi si­sir lebih lebat dan lebih besar.
Kala berkembang biak dengan melahirkan anak. Bayi kala dilahirkan dalam keadaan lemah dan terbungkus selaput tipis yang kemudian akan dirobek sapit induknya. Selanjutnya, dengan menggunakan sapit, induknya mengangkat bayi kala tersebut dan meletakkannya di punggungnya. Tubuh anak kala tampak gemuk, berwarna keputih-putihan, dan ekor­nya kecil. Setelah ganti kulit, anak kala mulai berjalan dan merayap. Ketika tubuhnya sudah kuat, binatang kecil yang hidup berkelompok ini meninggalkan in­duknya. Di alam, untuk mencapai tahap dewasa, anak kala membutuhkan waktu 2—3 tahun, dengan 8—10 kali ganti kulit, yaitu 4—5 kali pada tahun pertama, dan 1—2 kali setiap tahun pada tahun berikutnya. Se­tiap melahirkan, induk kala melahirkan 20—35 ekoi anak kala dan setiap tahun beranak 1—2 kali.
Kala termasuk binatang karnivora. Makanannya berupa berbagai jenis binatang kecil, seperti labah-la- bah, jengkerik, belalang, cacing tanah, cicak, dan serangga. Kala memiliki sifat kanibal; yang menjadi mangsa terutama kala yang baru ganti kulit, anak kala, atau pejantan yang baru usai kawin. Kala aktif menca­ri makan pada waktu malam; sedangkan pada siang hari, kala bersembunyi di liang atau tempat-tempat gelap, seperti di bawah batuan, tumpukan kayu, sam­pah maupun serasah, atap atau dinding, dan daun ke­ring.
Kala sebenarnya tidak suka menyerang atau meng­ganggu manusia, tetapi jika terganggu binatang ini akan menyengat. Sengatannya terasa seperti tusukan jarum. Bekas gigitan dan sekitarnya akan bengkak de­ngan warna kemerah-merahan dan mati rasa. Kelenjar getah bening setempat juga bengkak, disertai gejala demam tinggi, banyak keringat, kejang-kejang atau gemetar, terutama pada ujung anggota badan, seperti jari, hidung, dan telinga. Gejala lainnya adalah pe­ning, mual, milntah, sukar menelan, sukar berbicara, haus, denyut nadi terlalu kuat atau sangat lemah, dan kelumpuhan saluran pernapasan. Di Indonesia, belum pernah dilaporkan kasus kematian akibat sengatan ka­la. Jenis kala yang mempunyai bisa sangat kuat dite­mukan di Timur Tengah, Afrika, dan daerah tropika Amerika. Gejala sengatannya berlangsung selama 2—8 jam.
Di seluruh dunia dikenal sekitar 650 jenis kala. Daerah penyebarannya hampir seluruh belahan bumi lintang selatan sampai 45 derajat lintang utara. Di In­donesia dikenal kira-kira 35 jenis kala; 11 di antara­nya ditemukan di Jawa.
Kalajengking Kayu
Bercirikan bidang dada berbentuk segi lima, dan sapit memipih dengan sudut sisi membentuk siku. Kelompok mata kecilnya masing- masing terdiri atas tiga mata samping. Sepasang gigi sisirnya terletak di belakang pangkal kaki keempat, masing-masing berjumlah 5—8 buah, biasanya 6-—7 buah. Tubuh bagian atas, sapit, dan ekornya merah kecokelatan atau cokelat kehijauan, sedangkan ba­gian bawah lebih pucat. Ekor dan sapitnya berwarna lebih gelap. Kaki dan kantung bisa merah keku­ningan. Panjang total tubuhnya sekitar 4 sentimeter. Panjang total tubuh betinanya dapat mencapai 4,5 sentimeter.
Pada siang hari, kalajengking kayu bersembunyi di lubang bambu, sela-sela pelepah daun pisang, bambu, dan palma yang kering, gulungan daun pisang kering, celah-celah kayu, kulit kayu, maupun atap dari daun rumbia, ilalang, atau pun ijuk, di bawah batu maupun bata merah dan tumpukan barang bekas. Daerah penyebarannya meliputi Asia Tenggara sampai Austra­lia.
Kalajengking Belang
Tergolong kalajengking yang sering ditemukan di dalam rumah. Sebagai ciri khas­nya, tubuhnya berwarna kuning kemerahan dengan garis-garis hitam, di kepala depannya terdapat gam­baran segi tiga hitam, rahang hitam, sapit merah ke­kuningan, serta pinggiran luar dan jari bagian bawah gelap. Gigi sisir berjumlah 19—24 buah. Ekornya be­lang-belang. Kantong bisanya merah kecokelatan. Panjang tubuhnya sekitar 5 sentimeter. Binatang ini tersebar dari Asia Tenggara sampai Flores.
Ketonggeng
Mempunyai dada berbentuk segi li­ma. Pada dada bagian atas tengah terdapat sepasangmata dan pada sisi depan terletak sepasang kelompok mata kecil, masing-masing berjumlah tiga buah, ping­giran depan memiliki beberapa tonjolan lemah de­ngan sisi depan berlekuk. Gigi sisirnya berjumlah 12—16 buah. Sapitnya memipih, sisi atas membulat, dan tidak rata; sedangkan sisi dalam memipih dan ta­jam. Kaki dilengkapi dengan sebuah taji. Perut memi­pih dengan ruas ketujuh makin mengecil ke belakang. Ekor terdiri atas enam ruas. Ruas pertama sampai ke­empat dilengkapi dengan dua deretan tonjolan kecil. Ruas kelima panjang dan langsing, dengan sebuah de­retan tonjolan kulit. Ruas keenam mengecil, meleng­kung, dan meruncing tajam; di dalamnya terdapat sepasang kelenjar bisa. Ketika menyengat, ketong­geng mampu menyemprotkan bisanya sejauh 30 sen­timeter. Tubuhnya mempunyai panjang total 13 sentimeter dan berwarna cokelat gelap atau kehijauan agak mengkilap. Permukaan tubuh bagian bawah ber­warna lebih cerah daripada bagian atasnya. Kaki-ka­kinya berwarna merah kecokelatan.
Ketonggeng aktif mencari makan pada malam hari, kecuali ketika cuaca berawan atau hujan. Pada siang hari, ketonggeng bersembunyi di tempat gelap dan lembap, seperti di bawah tumpukan kayu ataupun ran­ting kayu lapuk, batu-batuan, gundukan sampah, ba­rang bekas dan pada liang dalam tanah, terutama pada tebing sekitar daerah aliran sungai.
Bisa ketonggeng mengandung racun darah dan ra­cun saraf. Dalam waktu 15 menit, cacing tanah yang disengatnya akan mati. Paha ayam yang disuntik bisa ketonggeng dapat lumpuh selama tiga minggu, namun sebulan kemudian berangsur sembuh.
Sengatan ketonggeng pada manusia terasa amat sa­kit, tetapi tidak menyebabkan kematian. Jika bekas se­ngatan terletak dekat mulut, dapat menyebabkan sukar menelan, sukar berbicara, dan kadang-kadang sukar bernapas. Daya kerja racun ketonggeng ber­langsung selama 2—8 jam. Untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah menjalarnya racun ke jantung, ba­gian di atas bekas sengatan harus diikat. Bekas sengat­an yang bengkak dikompres es atau kain basah. Di Jawa Barat, ketonggeng disebut langir.
Selain itu dikenal beberapa jenis binatang yang mi­rip kala. Tubuhnya berbentuk seperti kala dan labah- labah, di antaranya kala cambuk.
Kala Cambuk termasuk bangsa Arthropoda yang bentuk tubuhnya mirip kala. Ciri khasnya, bagian an­tara kepala-dada dan perut berbatas jelas. Kepala-dada berbentuk segi lima yang menyempit ke depan, sapit gemuk dengan sisi dalam bergerigi, perut bulat telur dan beruas 12, dengan tiga ruas terakhir menge­cil berbentuk tabung, kemudian dilanjutkan dengan ekor panjang mirip cambuk yang ujungnya tidak ber­sengat. Kaki pertama panjang dan langsing seperti alat peraba. Kaki kedua dan ketiga sedang. Kaki ke­empat lebih panjang daripada sapitnya. Bila digang­gu, kala cambuk menyemprotkan cairan berbau seperti asam cuka melalui ekornya. Habitatnya tem­pat-tempat lembap, seperti di bawah batu-batuan, maupun tumpukan bata di sekitar sumur atau kamar mandi.

PENGERTIAN KALA | ok-review | 4.5