PENGERTIAN JAYAKATWANG

By On Saturday, April 5th, 2014 Categories : Budaya

PENGERTIAN JAYAKATWANG – Yang dikenal juga dengan nama Joyokatong, menjadi raja Kediri dan berkuasa pula atas Singasari, setelah meruntuhkan kekuasaan Raja Kertanegara melalui suatu pemberontakan yang dilan­carkannya pada tahun 1292. Akan tetapi kekuasaan­nya tidak berlangsung lama. Pada tahun 1294, Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, dengan bantuan tentara Tartar dan Adipati Wiraraja dari Sumenep berhasil menaklukkan Kediri. Dalam pertempuran Jayakatwang tertangkap oleh tentara Tartar, lalu di­bawa ke Ujung Galuh, markas mereka, dan di sana Jayakatwang akhirnya dibunuh.
Jayakatwang adalah paman Raden Wijaya sendiri, anak Narasinga. Dalam kidung Harsa-Wijaya, ia di­sebut seorang samantharaja, artinya masih dianggap famili raja (Singasari). Sebenarnya ia sangat taat ke­pada Raja Kertanegara. Akan tetapi berkat bujukan Wiraraja, bupati Sumenep, dan Mahesa Mundarang, patihnya sendiri, Jayakatwang akhirnya memberon­tak terhadap Raja Kertanegara. Dalam pemberon­takan yang dilancarkannya, Kertanegara terbunuh.
Adipati Wiraraja adalah bekas pembesar Singasari yang dipecat setelah meletusnya pemberontakan Mahisa Rangkah tahun 1280. Ia bersama-sama dengan sejumlah pembesar Singasari lainnya dianggap bersa­lah karena menyebabkan terjadinya pemberontakan ini, dan mereka dipecat. Tampaknya ia menaruh den­dam terhadap Raja Kertanegara. Ketika Wiraraja melihat Singasari dalam keadaan lemah, karena ke­kuatannya terpecah akibat adanya Pamalayu, ia me­ngirim surat kepada Jayakatwang. Dalam surat itu ia mengibaratkan Jayakatwang seorang pemburu, yang bila tidak dapat menggunakan kesempatan yang baik, tidak akan mendapatkan buruannya. Dilukiskan pu­la bahwa Singasari dalam keadaan kosong. Panglima-panglima perang dan sebagian pasukan Singasari ha­rus tetap di Melayu untuk mengawasi daerah-daerah yang direbut dalam Pamalayu. Jayakatwang menge mukakan saran Wiraraja kepada patih Mahesa Mun­darang. Patih mendukung gagasan Adipati Wiraraja dan mengatakan bahwa moyang Jayakatwang, Kertajasa, terbunuh oleh pemberontak Rajasa. Pasukan Kertajasa dihancurkan, dan Singasari kemu­dian dijajah. Akibat hasutan-hasutan ini, Jayakat­wang bangkit menentang Singasari dan memerintah­kan penyerangan terhadap Singasari. Serbuan segera dilaksanakan. Singasari digempur dari dua arah. Pa­sukan Kediri yang dipimpin oleh Jaran Goyang me­nyerbu Singasari dari arah utara dan pasukan yang dipimpin oleh Mahesa Mundarang menyerbu dari se­latan. Pasukan Singasari yang mempertahankan ibu kota kerajaan di bawah pimpinan Raden Wijaya ter­pukul, dan akhirnya dapat dipatahkan. Singasari run­tuh. Raja Kertanegara terbunuh, dan Raden Wijaya beserta sisa pasukannya mengungsi ke daerah Kudadu dan kemudian terus ke Madura untuk meminta ban­tuan Adipati Wiraraja.
Menurut Nagarakretagama (yang ditulis pada tahun 1365) dan Pararaton (yang ditulis pada tahun 1465 dan 1486), penyerbuan Jayakatwang terhadap Singasari di­lancarkan dari Kediri, dan dikatakan bahwa Jaya­katwang pada waktu itu adalah raja Kediri. Akan te­tapi dalam prasasti Mula-Manurung yang berangka tahun 1255 (jadi dikeluarkan pada masa Singasari) di­sebutkan bahwa penyerbuan Jayakatwang terhadap Singasari dilancarkan dari Gelang-gelang, dan Jaya­katwang pada waktu itu adalah raja Gelang-gelang. Diterangkan pula bahwa Jayakatwang menjadi raja Gelang-gelang karena perkawinannya dengan Nararya Turukbali, putri raja Seminingrat atau Wisnuwarddhana (1250-1266), yakni raja Singasari yang me­merintah sebelum Kertanegara. Baru setelah Singasari runtuh, Jayakatwang menduduki ibu kota Kerajaan Kediri. Prasasti Pananggungan yang berangka tahun 1296 menyebutkan pula bahwa Jayakatwang menjadi raja Kediri setelah ia berhasil mengalahkan Kerta­negara, dan memerintah Singasari dari Kediri sebagai negara bawahan.

PENGERTIAN JAYAKATWANG | ok-review | 4.5