PENGERTIAN JAYABAYA

By On Saturday, April 5th, 2014 Categories : Budaya

PENGERTIAN JAYABAYA – Raja Panjalu yang naik takhta keraja­an menggantikan Sri Maharaja Bameswara. Ia meme­rintah dari tahun Saka 1057 (1135 M) sampai sekitar tahun 1079 (1157 M), dengan gelar Sri Maharaja Sri J Warmmeswara Madhusudanawataranindita Suhrtsingha Parakrama Digjayattunggadewanama Jayabayahayalancana. Di antara raja-raja Panjalu, Raja Jaya- baya tampaknya merupakan raja yang paling besar dan paling masyhur. Kemasyhurannya masih terlihat sampai sekarang. Namanya selalu dikaitkan dengan J ngka Jayabaya, ramalan-ramalan tentang nasib Pu­lau Jawa, sekali pun belum terbukti bahwa Jangka Jayabaya ditulis pada masa pemerintahannya. Bisa ja­di Jangka Jayabaya im ditulis oleh pujangga-pujangga Jawa di masa kemudian.
Keberhasilan dan kemasyhuran Raja Jayabaya da­pat dilihat pula pada hasil sastra pada masa pemerin­tahannya. Atas perintahnya, pujangga-pujangga ke­raton berhasil menyusun kitab Bharatayudha. Kitab ini ditulis oleh Empu Sedah pada tahun Saka 1079, dan kemudian diselesaikan oleh Empu Panuluh. Kakawin Bharatayudha itu dimaksudkan un­tuk mengabadikan kebesaran raja dan memperingati kemenangan-kemenangan Sri Maharaja
Jayabaya. Dalam kakawin ini, Raja Jayabaya juga disamakan dengan titisan Wisnu, yakni Bhatara Krisna. Digam­barkan bahwa keadaan Pulau Jawa rusak pada masa sebelum pemerintahan Jayabaya, karena diperintah oleh raja-raja yang merusak. Bhatara Wisnu yang tu­run dari kahyangan sangat masgul melihat keadaan Pulau Jawa, dan kemudian menitis ke dalam tubuh Raja Jayabaya. Berkat penitisan inilah Raja Jayabaya se alu berhasil membinasakan musuh-musuhnya. Me­nurut Slamet Mulyono, kakawin Bharatayudha itu disebut Jayasastra, artinya karya sastra tentang ke­menangan.
Anggapan atau pengakuan bahwa Raja Jayabaya titisan Wisnu disebut-sebut pula dalam prasasti Ngantang berangka tahun 1135 M dan prasasti Talan be­rangka tahun 1136 M. Untuk menunjukkan bahwa ia titisan Wisnu, dalam prasasti ini Jayabaya disebut se­bagai Madhusudana Awatara. Dalam prasasti Ngantang, Jayabaya disebut juga Hemabhupati, artinya semua musuh sang prabu tunduk dan menghadap sang raja yang mulia.
Pada waktu kakawin Bharatayudha ditulis, Raja Jayabaya telah berusia lanjut dan telah mendekati akhir pemerintahannya. Dua tahun kemudian sang raja meninggal, dan digantikan oleh Sri Maharaja Rakai Sri Sareswara Janarddhanawatara Wijayagraja sama Singhanadaniwaryyawiryya Parabrama Digjayattunggadewanama.

PENGERTIAN JAYABAYA | ok-review | 4.5