PENGERTIAN JALUR HIJAU

By On Thursday, April 3rd, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN JALUR HIJAU – Suatu ruang terbuka di daerah perkotaan, tempat dilakukan usaha penanaman tumbuh­an hijau, baik di daerah pemukiman, perkantoran industri, dan lain-lain. Usaha penanaman itu berupa pengelolaan taman kota, taman lingkungan, hutan kota dan lain-lain. Tanaman yang ditanam di jalur hijau diharapkan memenuhi tiga fungsi utama dalam penataan ruang luar, yaitu fungsional, pelestarian ling­kungan, dan estetika.
Sebagai tanaman fungsional, tanaman untuk jalur hijau diharapkan mampu berperan sebagai dinding, pengatap/pelantai ruang (lansekap) dengan memba­tasi dan membentuk ruang seperti zone pembatas se­cara fisik dan ekologis di antara dan di dalam daerah perkotaan. Tanaman tersebut juga diharapkan dapat memberikan perlindungan dari gangguan alam di se­kitar kota, seperti angin, sengatan matahari, kebisirig- an, polusi, debu, dan bau-bauan; berpengaruh baik terhadap kesehatan, karena mengisap karbondioksida (CO 2) dan mengeluarkan oksigen (O 2) yang dibutuh­kan makhluk hidup; serta menjadi penghalang ter­hadap pemandangan yang kurang menyenangkan.
Sebagai salah satu unsur pelestarian lingkungan, ta­naman jalur hijau mempengaruhi kualitas udara, yaitu sebagai paru-paru kota yang memproduksi oksigen yang diperlukan makhluk hidup untuk pernapasan, dan mengurangi pencemaran udara, karena tanaman menyerap beberapa pencemar udara. Tanaman terse­but juga dapat berfungsi sebagai pengendali erosi dan air tanah. Hal ini disebabkan adanya persediaan air tanah yang berasal dari air hujan yang ditahan oleh setiap bagian tanaman. Air hujan itu kemudian me­resap ke dalam pori-pori tanah. Dengan demikian da­pat dicegah terjadinya erosi permukaan akibat hujan, angin, maupun manusia, sekaligus mengurangi ke­mungkinan banjir dan polusi air (hutan dapat mem­bantu memurnikan air). Selain itu, tanaman jalur hi­jau dapat mempengaruhi iklim mikro, karena bisa ber­fungsi sebagai pengatur lingkungan yang menimbul­kan hawa sejuk, nyaman, dan segar dengan menye­rap dan melepas air; menyetimbangkan alam/edafis, yang merupakan pembentukan tempat hidup alami bagi satwa yang hidup di sekitarnya; mengurangi ke- bisingan, karena tanaman dapat menghalangi dan me­nyerap kebisingan kota; serta menjadi sarana pendidikan, seperti kebun raya, dan lain-lain.
Dalam memenuhi fungsi estetikanya, tanaman ja­lur hijau dijadikan titik perhatian yang dominan de­ngan memberikan karakteristik ukuran, bentuk, war­na, dan tekstur tertentu. Dengan demikian, jalur hijau menjadi tempat menyenangkan, tenang, dan indah. Jalur hijau juga dapat menambah variasi dalam ling­kungan kota, sehingga pemandangan tidak hanya di­dominasi beton dan aspal yang monoton.
Jalur hijau di perkotaan juga diharapkan dapat di­manfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi penduduk kota yang membutuhkan tempat-tempat rekreasi yang dekat, baik untuk kepentingan anak-anak, orang de­wasa, bahkan untuk kepentingan pengembangan bu­daya golongan etnik tertentu. Diharapkan, separe dari taman-taman kota dapat dipakai sebagai tempat re­kreasi. Separo lagi hanya untuk kepentingan peng­hijauan.
Untuk mendapatkan area yang cukup untuk peng­hijauan di suatu daerah pemukiman, maka peren­canaan pemukiman sebaiknya tidak lagi dibuat secara konvensional. Penempatan rumah tidak lagi secara berderet-deret, tetapi dengan memakai sistem kelom­pok yang menghasilkan area cukup luas untuk penghi­jauan.
Pendekatan baru tersebut memasukkan unsur- unsur taman, ruang terbuka, dan daerah rekreasi. Ruang terbuka, baik untuk kepentingan bersama mau­pun untuk tiap rumah, direncanakan secermat mung­kin. Suatu ruang, kecil atau besar, diatur sedemikian nipaagar dapat mempengaruhi, dan disesuaikan de­ngan, perilaku calon penghuni yang tidak akan sama di setiap lokasi. Untuk itu, perlu diminta bantuan ahli ilmu sosial atau budaya untuk bersama-sama meren­canakannya, sehingga bisa diperoleh perencanaan pe­mukiman yang menyeluruh, tidak hanya dari segi fi­sik saja.
Selain dalam skala pemukiman, perencanaan jalur hijau sebaiknya dibuat juga dalam skala yang lebih luas, yaitu skala perkotaan. Untuk itu dibuat jalur hi­jau yang mengelilingi suatu metropolitan. Setiap ko­ta kecil baru, yang direncanakan akan dibangun di se­kitarnya, dihubungkan dengan jalan dan jalur hijau. Setelah itu dibuat koridor jalan raya radial, sementa­ra kota-kota yang dibangun di antaranya dipisahkan oleh daerah hijau dan ruang terbuka.

PENGERTIAN JALUR HIJAU | ok-review | 4.5