PENGERTIAN JALAN

By On Thursday, April 3rd, 2014 Categories : Antropologi, Review

PENGERTIAN JALAN – Adalah jalur di atas daratan tempat lalu- lalangnya manusia, kendaraan bermotor dan kendara­an beroda lainnya. Jalan yang sesungguhnya dibangun pertama kali di Asia Barat Daya segera setelah roda ditemukan, sekitar tahun 3500 SM. Ketika perdagang­an berkembang antara desa, kota, dan daerah seke­lilingnya, jalan sebagai jalur perdagangan mulai di­buat. Salah satu jaringan jalan perdagangan serupa itu adalah Rute Perdagangan Sutera Tua yang pan­jangnya mencapai 9.700 kilometer untuk menghu­bungkan Cina, Roma, dan daratan Eropa. Para sau­dagar menggunakan rute kuno ini untuk membawa sutera Cina menyeberangi Turkestan, India, dan Per­sia.
Dewasa ini, negara termaju dalam pembuatan ja­lan adalah Amerika Serikat. Amerika Serikat memi­liki ra gkaian jalan umum sepanjang lebih dari 6,1 juta kilometer untuk melayani lebih dari 150 juta ken­daraan bermotor. Dua negara Asia yang memiliki ja­lur jalan terpanjang adalah India dan Jepang, masing- masing 1,2 juta dan 1 juta kilometer.
Selain di negara-negara maju, program pembuatan jalan raya juga telah dimulai di banyak negara Afrika dan Asia. Uni Soviet dan Cina juga mengembangkan lalu lintasnya. Di Uni Soviet, jalan dengan permukaan yang sudah diaspal mungkin tidak melebihi 560.000 kilometer, sebagian besar di antaranya terdapat di ba­gian barat negeri itu. Sekitar tahun 1800-an, Cina me­miliki jaringan jalan raya yang mungkin lebih unggul dibandingkan dengan beberapa negara Eropa, tetapi pada tahun 1958 seluruh jaringan jalannya hanya ter­catat 96.000 kilometer.
Jalan di Indonesia.
Jalan raya di Indonesia yang tercatat pertama kali adalah Jalan Raya Daendels, yang dibangun pada tahun 1809 sampai 1811. Jalan yang menghubungkan Anyer di Jawa Barat dan Pa- narukan di Jawa Timur ini panjangnya sekitar 1.000 kilometer. Pembangunan jalan di Indonesia hingga ta­hun 1965-an tidaklah berkembang pesat. Baru sete­lah tahun 1969, data statistik menunjukkan bahwa panjang jalan di seluruh Indonesia mencapai 82.125 kilometer. Pada tahun 1987 angka ini naik menjadi “0.703 kilometer. Menurut jenis permukaannya, 69.132 kilometer merupakan jalan aspal, 44.991 kilo­meter jalan kerikil, dan sisanya jalan tanah. Seluruh jaringan jalan menurut fungsinya dapat di­bagi menjadi tiga macam, yakni jalan arteri yang me­layani angkutan utama antarpropinsi atau antarkota, dengan ciri-ciri untuk melayani perjalanan jauh, ke­cepatan rata-rata tinggi, dan dengan jumlah jalan ma­suk yang dibatasi; jalan kolektor yang melayani ang­kutan pengumpulan untuk perjalanan jarak sedang dengan kecepatan rata-rata sedang; serta jalan lokal yang melayani angkutan setempat berjarak dekat de­ngan jumlah jalur masuk yang tidak dibatasi.
Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pe­kerjaan Umum mengklasifikasikan jalan di Indonesia berdasarkan kekuatannya menjadi enam kelas, yakni, kelas I, kelas II, kelas III, kelas IIIA, kelas IV, dan kelas V. Masing-masing dibedakan atas kemampuan­nya menerima beban kendaraan yang melintas di atas­nya.
Perencanaan Pembuatan Jalan harus mempertim­bangkan kebutuhan jangka panjang suatu negara atau propinsi untuk merencanakan pembuatan jalan arteri. Negara membutuhkan jalan yang baik, sanggup me­nerima lebih banyak lalu lintas dengan keamanan dan kecepatan lebih besar, dan yang biaya pemeliharaan­nya kecil.
Dalam merencanakan jaringan jalan, perencana ha­rus mempelajari banyak hal, termasuk tempat kelom­pok-kelompok masyarakat bertempat tinggal, tempat mereka sering pergi, bagaimana mereka mencapai tempat itu, tempat mereka bekerja, sertU tempat mereka menjual hasil bumi. Harus diperhitungkan pula be­rapa banyak dan apa saja jenis kendaraan yang me­lintas, serta kapan saat lalu lintas paling sibuk. Dari berbagai faktor itu, perancang dapat meramalkan ja­lan untuk kebutuhan saat ini dan beberapa tahun men­datang. Mereka dapat menduga kemungkinan pertum­buhan penduduk dan perkembangan industri di masa depan, perubahan penggunaan tanah, serta bagaimana perubahan-perubahan itu akan mempengaruhi kebu­tuhan jalan raya.
Sebelum memulai pekerjaannya, perencana juga ha­rus mempersiapkan suatu pernyataan mengenai anali­sis dampak lingkungan. Dari pernyataan itu dapat di­ketahui seluruh kemungkinan timbulnya pengaruh baik dan pengaruh buruk yang terjadi pada masyara­kat dan lingkungan di sekitarnya.
Merencanakan jalan baru, atau membangun kem­bali jalan yang sudah ada, umumnya diawali dengan pembuatan peta jalan. Untuk pembuatan peta ter­kadang juga digunakan foto udara. Peta itu menun­jukkan lokasi jalan lain, jalan kereta api, kota, tanah pertanian, pemukiman masyarakat, dan bangunan lainnya. Dalam peta itu juga tergambar ciri-ciri alam seperti sungai, danau, hutan, bukit, serta kemiringan tanah.
Dengan peta tersebut, para ahli teknik dapat me­lokalisasi jalur jalan baru dan membuat gambar detail­nya. Rencana itu menunjukkan dengan pasti batas- batas jalur dan batas pemakaian tanah yang dibutuh­kan untuk trotoar, bahu jalan, parit-parit pengatusan air, dan lereng pinggir jalan. Peta juga menunjukkan lokasi tanjakan, tikungan jalan, serta lokasi jembat­an dan urung-urung. Ahli teknik jalan raya menggam­bar secara mendetail konstruksi jalan yang akan di­buat, termasuk ketebalan tiap lapisan, jenis pondasi, lapisan permukaan untuk jenis lalu lintas yang ber­beda, jumlah jalur yang dibutuhkan, ketajaman ti­kungan yang diperbolehkan, serta kecuraman tanjak­an yang diizinkan.
Desain Jalan Raya meliputi desain geometri dan struktural. Desain struktural mencakup jenis dan vo­lume lalu lintas jalan yang akan dilayani, kemungkin­an perkembangannya di masa depan, serta kondisi ta­nah dasarnya. Desain geometri menguraikan kemiring­an potongan melintang jalan raya, kemiringan tanjak­an dan tikungan, banyak dan lebarnya jalur, serta si­fat lainnya.
Desain kecepatan adalah batas kecepatan aman ke­tika cuaca dan kondisi lalu lintas cukup baik. Desain kecepatan ini sangat bergantung pada kehalusan per­mukaan jalan raya. Termasuk di dalamnya ciri-ciri da­sar seperti keketatan dan kemiringan tikungan, jarak pandang ke depan dan samping, serta tingkat penentu­an desain kecepatan. Desain kecepatan harus dirancang lebih tinggi dibanding rata-rata kecepatan yang diharapkan. Sebagai contoh, desain kecepatan yang dianjurkan untuk jalan raya arteri di daerah luar kota yang rata adalah 112 kilometer per jam.
Kapasitas jalan raya adalah jumlah maksimum ken­daraan yang dapat dengan layak melintas melalui suatu titik pada suatu periode waktu. Kapasitas jalan raya selalu dinyatakan sebagai jumlah kendaraan yang lewat per jam. Dalam keadaan ideal, satu jalur jala bebas hambatan dapat menampung sekitar 2.000 mo. bil penumpang per jam. Sebuah jalan dua jalur da pat menampung sampai 1.000 mobil penumpang jam dalam setiap arah. Ada interaksi antara kecepat an kendaraan dan kapasitas jalan. Pada saat volume lalu lintas mendekati kapasitas maksimum, kecepatan rata-rata berkurang secara mencolok. Dengan kece patan antara 50 sampai 70 kilometer per jam, jalan raya tertentu sudah mencapai kapasitasnya. Gejala- gejala ini dijadikan dasar alasan “pembatasan jalan” pada beberapa jalan bebas hambatan: pada saat ke­macetan mulai tampak pada tingkat-tingkat tertentu lalu lintas baru dilarang memasuki jalan bebas ham­batan itu.
Garis tanjakan adalah profil longitudinal jalan raya, yakni penampang untuk melihat ukuran titik te­ngah jalan raya saat naik dan saat turun. Di jalur luar kota yang rata, penampang longitudinalnya rata te­tapi konstruksinya dinaikkan cukup tinggi di atas per­mukaan tanah untuk mengalirkan air menuju drainase di pinggir jalan. Tanjakan 6 atau 7 persen hampir ti­dak mempengaruhi kecepatan mobil penumpang, te­tapi berpengaruh besar bagi truk yang lamban. Per­hatian khusus harus diambil pada puncak bukit untuk meratakan tanjakan, agar para pengemudi dapat me­lihat kendaraan-kendaraan yang datang dari arah yang berlawanan.
Tikungan jalan raya saat ini merupakan masalah yang paling menarik dalam mendesain jalan raya. Ti­kungan yang terlalu tajam selalu dihindari, tetapi be­berapa belokan melengkung jalan raya membantu pe­ngemudi agar tetap waspada. Lengkung tikungan yang dilewati pada kecepatan tinggi menghasilkan gaya sen­trifugal yang cenderung menekan kendaraan ke luar jalur jalan. Gaya itu dapat diimbangi dengan menum­puk badan jalan—dengan membuat bagian luar ti­kungan lebih tinggi dibanding bagian dalam. Tingkat penumpukan harus dirancang dengan sangat hati-hati, sebab tidak seluruh kendaraan akan melintas tikung­an pada kecepatan yang sama.
Sebagai pedoman umum, struktur perkerasan ja­lan raya biasanya terdiri atas empat bagian: lapisan perkerasan bawah {sub grade), lapisan perkerasan atas (sub base course), lapisan pengikat (bending course), dan lapisan permukaan (.surface course). Masing- masing memiliki tebal yang bervariasi, bergantung kapasitas dan kelas jalan yang direncanakan.
Sejarah.
Pada jaman dahulu, orang Mesir, Kartago, maupun Etruria telah membangun jalan. Tetapi yang pertama-tama membangun jalan dengan per­kerasan adalah bangsa Romawi. Mereka mengetahui cara membuat perkerasan dan cara membuat jalan dari batu-batu yang rata. Orang Romawi juga me­ngetahui bahwa jalan harus dibuat sedikit landai ke kedua tepinya agar air dapat mengalir keluar dari ba­dan jalan. Mereka juga membangun parit di sepan­jang sisi jalan untuk mengalirnya air. Bangsa Romawi membangun lebih dari 80.000 kilometer jalan, dan beberapa di antaranya masih digunakan sampai se­karang.

PENGERTIAN JALAN | ok-review | 4.5