PENGERTIAN JALAN KERETA API

By On Thursday, April 3rd, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN JALAN KERETA API – Atau rel kereta api, suatu lin­tasan yang terdiri atas dua logam sejajar untuk lewat­nya kereta api. Lokomotif uap pertama, yang dibuat George Stephenson, berjalan di atas rel yang lebar­nya 1,435 meter. Jarak ini kemudian menjadi jarak  standar rel kereta api di Inggris, juga kemudian di Amerika Serikat. Tetapi jarak lebar rel di seluruh du­nia bervariasi dari 60 sentimeter sampai 240 senti­meter. Standar jarak 1,435 meter digunakan menye­luruh di Amerika Utara, negara-negara Eropa, serta hampir 60 persen jalan kereta api di seluruh dunia. Di Indonesia, PJKA menggunakan rel kereta api yang mempunyai lebar 1,067 meter.
Dalam pemasangan rel kereta api, yang pertama di­lakukan adalah mencari rute yang mungkin dilewati. Rute yang dipilih harus memenuhi semua persyarat­an termasuk standar kemiringan tikungan, kecuraman tanjakan, dan kualitas konstruksi. Idealnya, rel ke­reta api harus memiliki sesedikit mungkin kemiringan pada waktu membelok dan sesedikit mungkin tanjak­an. Tingkat kemiringan rel kereta api tanpa roda gigi atau kabel yang terbesar terdapat di Perancis, yaitu sebesar 9 derajat. Untuk mengurangi atau meniada­kan tanjakan, para ahli membuat galian, timbunan, jembatan, dan terowongan. Untuk mengimbangi pe­ngaruh gaya sentrifugal pada saat kereta api meni­kung, sering kali lintasan rel sebelah luar dinaikkan 2,5 sentimeter atau lebih dibanding rel sebelah dalam tikungan.
Konstruksi jalan kereta api terdiri atas timbunan batu pecah, bantalan rel, sepasang rel, lempeng peng­ikat, penyambung rel, dan paku atau baut. Balas rel kereta api dibuat dari timbunan kerikil atau batu pe­cah. Balas berguna untuk memegang bantalan peng­ikat pada tempatnya, memindahkan dan menyebar­kan beban rel ke atas tanah, serta sebagai drainase. Balas juga menghasilkan lintasan yang lebih rata, me­ngurangi debu, dan meredam getaran sewaktu kereta lewat.
Rel kereta api pertama dipasang di atas hamparan batu. Tetapi masyarakat menuntut kenyamanan yang lebih tinggi. Maka perusahaan-perusahaan kereta api mulai beralih ke bantalan kayu yang daya lenturnya lebih besar. Sekarang, sekitar 1800 bantalan diguna­kan pada setiap kilometer panjang rel. Ini berarti bah­wa jarak setiap bantalan sekitar 54 sentimeter. Pada pertengahan abad ke-19, kreosot mulai digunakan un­tuk melumuri bantalan kayu dalam usaha memper­panjang umur pemakaiannya. Kini di berbagai negara, termasuk Indonesia, selain kayu sudah digunakan be­ton dan baja untuk bantalan.
Rel baja menjadi populer setelah tahun 1890-an. Karena kereta api bertambah berat, dibutuhkan rel yang lebih berat. Rata-rata rel kereta api jaman se­karang memiliki berat 42 sampai 58 kilogram per meter.
Lintasan konvensional dengan dua rel umumnya di­gunakan kereta api dengan lokomotif bertenaga uap atau diesel, tetapi lokomotif listrik membutuhkan “rel ketiga” atau sistem katenari di atas gerbong untuk mensuplai arus listrik kepada lokomotif. Pada sistem rel ketiga, lokomotif menerima arus listrik melalui se­patu penghubung logam yang meluncur di sepanjang rel pengisi listrik tepat di sebelah luar rel biasa. Pada system katenari, arus listrik dari kabel penghubung di bagian atas gerbong masuk menuju lokomotif lewat alat pengumpul yang dapat diulur-tarik. Ada pula lintasan kereta api yang menggunakan rel ketiga di tengah sebagai pengait. Rel ini lazimnya di pasang pada kereta api yang melintasi tanjakan di gunung atau bukit. Rel tengah ini memiliki luban lubang yang dipakai sebagai gerigi pemegang saat kereta api mendaki.

PENGERTIAN JALAN KERETA API | ok-review | 4.5