PENGERTIAN IRIGASI

By On Monday, March 31st, 2014 Categories : Antropologi, Ilmu Alam

PENGERTIAN IRIGASI – Suatu metode pengairan buatan untuk mengairi lahan-lahan pertanian atau perkebunan. Fungsi utamanya adalah mengatur pembagian air pada suatu lahan pertanian yang luas dan mengairi lahan di suatu daerah yang menerima sedikit hujan.
Air irigasi umumnya diambil dari sungai, waduk, danau, atau pengumpul air lainnya. Di akhir tahun 1970-an, di seluruh dunia terdapat lebih dari 200 juta hektar tanah pertanian yang memakai sistem irigasi. Di beberapa negara, lebih banyak air yang digunakan untuk irigasi dibanding yang digunakan untuk keper­luan lainnya. Lebih dari 40 persen air di Amerika Se­rikat digunakan untuk irigasi.
Irigasi terutama digunakan di tiga daerah iklim. Di daerah gurun seperti Mesir atau Arab Saudi, perta­nian tidak mungkin ada tanpa didukung irigasi. Di daerah beriklim tropis seperti Indonesia atau Argen­tina, irigasi memungkinkan pertanian tetap berlang­sung selama musim kemarau. Dan di daerah basah seperti sebelah timur Amerika Serikat dan sebelah barat Eropa, irigasi juga berfungsi selama musim kering.
Sumber Air Irigasi.
Irigasi membutuhkan banyak air segar (tidak bergaram). Air permukaan dan air tanah merupakan dua sumber utama air segar. Air permukaan adalah air di permukaan bumi, termasuk air sungai dan danau. Air permukaan sebagian besar berasal dari hujan dan salju. Jumlah terbesar berasal dari kumpulan salju di dataran tinggi dan gunung- gunung selama musim dingin. Pada musim semi, sal­ju leleh dan mengalir menjadi air permukaan.
Di seluruh dunia, ahli-ahli teknik membangun ben­dungan yang memotong sungai untuk menyimpan air di waduknya. Danau buatan ini berfungsi sebagai tan­don penyimpan air. Waduk modern dapat menyim­pan air dalam jumlah sangat besar. Contohnya, Wa­duk Batujai yang dibangun di Sungai Penunjak, Nusa Tenggara, mampu menampung air sebanyak 158.000.000 meter kubik. Waduk Riam Kanan di Kalimantan Se­latan, dapat menyimpan 1.200.000.000 meter kubik air.
Air tanah tersimpan di bawah permukaan bumi, di ruangan-ruangan antara batu-batuan, butir-butir pa­sir, dan tanah. Air mengisi ruangan-ruangan itu pada saat meresap ke dalam tanah. Air akhirnya tertahan lapisan batuan atau tanah kedap air. Tanah di atas lapisan ini menjadi daerah jenuh air yang disebut aquifer. Air di aquifer mungkin membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terkumpul. Air laut juga bisa di­gunakan untuk irigasi jika garamnya dapat dihilang­kan. Tetapi penghilangan garam dan pemompaan air ke daratan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Menyalurkan Air Irigasi.
Berbagai metode khusus digunakan untuk menyalurkan air irigasi ke tanah per­tanian. Umumnya tanah pertanian memperoleh air permukaan dengan memakai jaringan kanal. Jika ke­tinggian tanah pertanian lebih rendah dibanding sum­ber pemasok, air mengalir menuju kanal-kanal dengan kekuatan gravitasi. Tetapi jika tanah pertanian lebih tinggi dibanding sumber, air harus dipompa naik.
Air tanah harus dipompa agar sampai di permu­kaan. Pompa menaikkan air lewat pipa yang mem­bawanya menuju tanaman. Jika keadaan memung­kinkan, sumur air irigasi digali pada atau di dekat tanah pertanian yang membutuhkannya. Jika sumur jauh dari lahan pertanian, sistem kanal dibutuhkan untuk membawa air menuju tanaman. Air kiriman itu bisa hilang sebelum mencapai tanaman karena menguap. Waduk dengan permukaan yang besar akan ke­hilangan banyak air. Penguapan dapat dikurangi de­ngan membuat waduk yang dalam dan memiliki luas permukaan lebih kecil.
Di daerah pertanian yang tanahnya berbutir kasar, air bisa hilang karena meresap ke dalam tanah. Rem­besan terjadi ketika air meresap dari dasar waduk dan kanal-kanal irigasi. Rembesan pada waduk dapat di­hindari dengan melapisi waduk dengan lapisan tanah berbutir halus sehingga air tidak mudah meresap. Rembesan di kanal-kanal irigasi dapat dicegah dengan membuat kanal atau saluran-saluran dari bahan kedap air, seperti aspal atau beton.
Selain penguapan dan perembesan ke dalam tanah, transpirasi rumput-rumput liar di dekat atau pada ka­nal-kanal irigasi bisa menyebabkan hilangnya air da­lam jumlah banyak. Hilangnya air itu dapat dihindari dengan melapisi kanal-kanal dengan material kedap air sehingga mencegah tumbuhnya tanaman-tanaman liar di sepanjang kanal.
Metode Irigasi. Metode irigasi yang paling banyak digunakan adalah irigasi sepanjang tahun, yaitu irigasi yang mensuplai air secara periodik dan teratur sepan­jang tahun. Bagi irigasi untuk lahan besar, airnya berasal dari sebuah sungai atau waduk yang dialirkan melalui sebuah saluran induk yang kemudian dipecah ke beberapa saluran sekunder, dan satu saluran se­kunder dipecah ke beberapa saluran tersier. Petak- petak sawah tidak boleh mengambil air dari saluran induk, sekunder, dan tertier, melainkan hanya dari saluran kuarter atau parit-parit yang merupakan ca­bang saluran tersier.
Jenis irigasi kedua disebut irigasi pasang surut, yaitu irigasi dengan cara membendung sebuah sungai. Batas garis tanah di sepanjang tepi sungai membagi air ke dalam sederetan cekungan besar. Ketika sungai me­luap, airnya masuk menuju cekungan-cekungan dan, melalui kanal-kanal yang sudah tersedia, mengalir ke lahan pertanian. Airnya tetap dipertahankan di atas tanah untuk beberapa minggu. Bila tidak dibutuhkan lagi air dibuang ke sungai pada saat airnya sedang surut. Tanah basah itu kemudian ditanami.
Pembagian air irigasi biasanya dilakukan dengan salah satu dari dua cara, yaitu irigasi luapan atau irigasi beralyr. Pada irigasi luapan, lahan-lahan per­tanian dibagi menjadi petak-petak dengan permukaan yang hampir rata. Pada metode ini air dialirkan ke seluruh permukaan lahan. Pada irigasi beralur, da­taran diubah menjadi lahan dengan parit-parit seja­jar dalam satu arah di seluruh permukaannya. Meng­airi lahan dilakukan dengan mengalirkan air ke dalam alur-alur itu. Tanaman padi-padian dan makanan ter­nak selalu menggunakan metode irigasi luapan, se­dangkan kapas, jagung, kentang, tebu, dan tanaman berderet lainnya selalu diairi dengan irigasi beralur.
Sprinkel yang berputar sendiri maupun yang tidak bergerak (statis), juga digunakan untuk membagikan air irigasi. Tekanan yang dibutuhkan oleh sprinkel dapat dihasilkan oleh kekuatan gravitasi maupun oleh pompa khusus. Sistem sprinkel umumnya digunakan pada tanah-tanah yang memiliki permukaan tidak beraturan dan kurang cocok untuk irigasi luapan ataupun beralur. Sistem ini juga digunakan pada kon­disi tanah yang sangat permeabel dan memiliki ke­mampuan kecil untuk menyimpan air, sedangkan la­han itu membutuhkan air pada waktu-waktu tertentu.
Kebutuhan Air. Jumlah air yang dibutuhkan un­tuk irigasi bervariasi, besarnya sangat tergantung pada jenis tanaman yang dipelihara, keadaan tanah asli dan kemampuannya untuk menyimpan air, suhu, kelem- bapan, dan jumlah curah hujan setempat. Di beberapa tempat, seperti di Kepulauan Nusa Tenggara dan be­berapa bagian Pulau Jawa, curah hujan sangatlah kecil sehingga seluruh air yang dibutuhkan oleh ta­naman harus disuplai melalui irigasi.
Perhitungan jumlah air yang dibutuhkan tanaman yang sedang tumbuh mencakup juga perhitungan ke- , hilangan air karena penguapan selama perjalanan, penggunaan air oleh akar tumbuhan, dan di daerah irigasi yang luas, juga merembesnya air pada saluran- saluran. Beberapa penelitian yang dilakukan para ahli menemukan hubungan antara kebutuhan air dan kon­disi iklim, jenis tanah, serta ketinggian air tanah. Di Mesir sebelah utara tanaman kapas membutuhkan sekitar 90 sentimeter jumlah air yang akan meng­genangi lahan pertanian sedalam 90 sentimeter jika air dituang seluruhnya sekaligus), sedangkan di sebe­lah selatan lebih banyak lagi. Padi yang tumbuh mem­butuhkan sekitar 2,5 kali air yang dibutuhkan tanam­an kapas. Di Afrika bagian selatan, tanaman padi- padian biasanya dapat tumbuh dengan 38 sentimeter air. Di Amerika Serikat bagian selatan.
Sistem Kanal.
Irigasi sepanjang tahun pada lahan yang besar membutuhkan sebuah sungai atau waduk sebagai sumber air dan sebuah sistem irigasi sebagai penyalur air menuju lahan pertanian. Sistem kanal Umumnya terdiri atas kanal utama yang mengambil air secara langsung dari sungai, kanal sekunder, dan jcanal tersier. Kemudian dari kanal tersier air baru dialirkan ke saluran-saluran atau parit-parit permanen menuju lahan besar atau sekelompok lahan kecil.
Untuk memastikan bahwa ketinggian air di dalam jcanal cukup tinggi untuk mengalir secara bebas ke seluruh dataran dan untuk memastikan bahwa setiap lahan menerima cukup air, peran sebuah sistem pem­bagi air amatlah penting. Salah satu bagian sistem pembagi ini adalah sebuah bendung atau bangunan penyadap, yang dibangun di sebuah sungai untuk menyadap air bagi kanal utama. Bangunan itu adalah struktur bangunan seperti jembatan yang penuh de­ngan pintu air untuk lewatnya air menuju kanal uta­ma. Pintu air bisa ditutup selama terjadinya banjir sehingga air tidak meluap ke kanal utama dan meng­genangi lahan-lahan pertanian. Pada bagian ujung kanal utama terdapat sebuah alat pembagi, seperti bendung yang dilengkapi beberapa pintu air. Dengan mengatur pintu-pintu air pada bangunan bagi dan mengatur pintu sadap di bendung, air di kanal utama bisa dinaikkan sampai ketinggian yang sesuai sehingga kanal utama memiliki cukup air. Bangunan bagi di kanal utama mengontrol jumlah air yang mengalir ke dalam kanal-kanal sekunder untuk mengatur suplai air pada setiap parit sawah.
Waduk Penyimpan Air. Aliran air di banyak sungai pada umumnya berubah-ubah, tetapi selama kebu­tuhan air ada di bawah debit minimum sungai, ketidaktentuan itu tidak menjadi masalah. Tetapi jika kebutuhan air melebihi batas minimum air sungai, perlu dibuat waduk yang dapat menyimpan air ketika sungai tinggi dan digunakan ketika air sungai rendah.
Bangunan waduk penyimpan dibuat dengan me­motong sungai. Bendung pada sebuah waduk berfung­si untuk menaikkan tinggi muka air sungai, sehingga dapat mengalir ke petak-petak sawah yang terjauh. Tetapi bila tanpa pembendungan sungai, air sudah cukup tinggi dan sudah mencukupi kebutuhan lahan, tidak perlu dibuat bendung, dan pintu sadap saja sudah cukup. Dengan mengatur pintu sadap dan pin­tu bangunan bagi, jumlah air dalam saluran induk dapat dikontrol. Air yang tidak dibutuhkan untuk irigasi dibiarkan mengalir melalui mercu bendung atau pintu bangunan pelimpah ke dalam aliran sungai. Di sepanjang sungai besar bisa dibangun beberapa salur­an induk.
Semua air yang digunakan untuk irigasi mengan­dung garam-garam mineral, dan sewaktu air menguap dari tanah, mineral-mineral itu tertinggal di dalam tanah. Untuk mencegah terkumpulnya garam terlalu banyak di dalam tanah, harus dibuat sistem drainase yang dapat mengeringkan air dalam tanah dan mem­bubarkan konsentrasi garam di dalamnya. Pada waktu daratan menerima cukup banyak air, air dapat meng­genangi hampir seluruh permukaan daratan, dan menyebabkan tanih jenuh air. Umumnya tanaman mem­butuhkan cukup udara di dalam tanah, karena di dalam tanah yang jenuh air tidak terdapat cukup udara. Untuk menjaga agar tanah tidak jenuh air perlu dibikin suatu sistem drainase. Lihat Drainase.
Sejarah Irigasi.
Peradaban kuno berkembang di sepanjang sungai-sungai besar di seluruh dunia dan di sana pulalah irigasi mulai dipakai. Pada permulaan tahun 5.000 SM, bangsa Mesir yang hidup di daerah gurun dapat mengolah daratan menjadi subur dengan mengalirkan air Sungai Nil. Kemudian sekitar tahun 3.000 SM, mereka membangun sistem kanal yang lebih terinci untuk membawa air Sungai Nil menuju ladang- ladang mereka, sistem irigasi yang besar juga mening­galkan bekas konstruksinya pada waktu itu di bagian- bagian Cina, India, dan Asia barat daya.
Suku Indian di Meksiko dan Peru menggunakan air sungai untuk mengairi tanaman jagung pada per­mulaan tahun 800 SM. Ketika bangsa Spanyol datang di negara itu pada tahun 1.500, mereka menemukan dasar peradaban besar pada irigasi pertanian. Arkeolog-arkeolog menemukan parit-parit untuk mengairi ribuan hektar tanah yang dibuat oleh bangsa Indian pada tahun 600 di daerah Arizona.
Irigasi modern mulai dibuat di Amerika Serikat sekitar tahun 1840-an. Pada saat itu, bangsa Mormon membangun sistem irigasi dengan kanal-kanal di lem­bah Danau Garam. Selama demam emas di Kalifornia pada akhir tahun 1850-an, perintis-perintis meng­gali banyak parit untuk mencuci emas. Beberapa di antaranya kemudian berfungsi sebagai parit irigasi.

PENGERTIAN IRIGASI | ok-review | 4.5