PENGERTIAN INSKRIPSI ERLANGGA

By On Saturday, March 1st, 2014 Categories : Antropologi

Atau prasasti Erlangga mencakup semua prasasti yang dikeluarkan Raja Erlangga (Airlangga), antara lain Prasasti Kalkuta (963 Saka), Cane (943 Saka), Kamalagyan (959 Saka), Pandan (964 Saka), Rambang Putih, Pamwatan (964 Saka), dan Turun Hyang (958 Saka). Raja Erlangga adalah anak Mahendradatta Gunapriyadharmmapatni dengan Dharmmodayana Warmadewa, seorang raja di Bali. Ia mempunyai dua orang saudara bernama Marakata dan Anak Wungsu. Ia dilahirkan pada ta­hun 922 Saka. Masa kanak-kanaknya dihabiskan ber­sama orang tuanya di Bali, tetapi setelah menikah dengan putri raja Dharmmawangsa Tguh, ia kemu­dian menjadi raja terkenal di Jawa Timur.
Semasa pemerintahannya, Erlangga berhasil menyatukan kembali Kerajaan Dharmmawangsa yang telah hancur (Lihat KALKUTA, PRASASTI), dan berusaha membangun perekonomian rakyatnya dengan memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh di muara sungai Brantas dan Kambang Putih (Tuban). Di daen Waringin Sapta dibangunnya pula tanggul untuk menahan banjir dari Sungai Brantas. Erlangga juga memperhatikan bidang sastra. Banyak karya sastra dihasilkan pada jamannya, antara lain yang sangat terkenal kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa pada tahun 957 Saka. Isi kitab ini merupakan kiasan kehidupan Erlangga sendiri.
Erlangga mempunyai beberapa orang anak, di antaranya seorang putri bernama Sanggramawijaya yang diangkatnya menjadi rakryan Mahamantri i
hino, jabatan tertinggi setelah raja. Putri ini dicalonkan sebagai pengganti Erlangga, tetapi ia lebih suka hidup sebagai seorang pertapa. Untuk memenuhi permintaan putrinya, Erlangga membuat sebuah tempat pertapaan di Pucangan pada tahun 963 Saka. Akibatnya, Erlangga mengalami kesulitan untuk menurunkan takhta kerajaan. Untuk mengatasi konflik di antara putra-putranya, atas bantuan seorang brahmana terkenal, Empu Bharada, Erlangga membagi kerajaannya atas dua bagian pada tahun 963 Saka, yakni Janggala dan Panjalu. Kedua kerajaan ini dibatasi oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Kerajaan Janggala meliputi daerah sekitar Malang, delta Sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, dan
Rembang serta Pasuruan, dengan ibu kota Kahuripan. Kerajaan Panjalu, yang lebih dikenal dengan Kediri, meliputi Madiun dan Kediri, dengan ibu kota Daha atau Dahanapura. Setelah pembagian kerajaan ini (1041 M), Erlangga mengundurkan diri dan menjadi pertapa dengan na- ma Resi Gentayu. Pada tahun 971 Saka ia meninggal dan dimakamkan di Tirtha, suatu bangunan berupa kolam di lereng timur Gunung Penanggungan (Candi Belahan). Erlangga diwujudkan sebagai patung Wisynu yang duduk di atas garuda, dan patung itu sekarang disimpan di Museum Mojokerto.

PENGERTIAN INSKRIPSI ERLANGGA | ok-review | 4.5