PENGERTIAN INFLASI DAN DEFLASI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Inflasi pada umumnya didefinisikan sebagai naiknya semua atau hampir semua harga-harga, atau (dilihat dari sudut lain) turunnya daya beli unit moneter pada umumnya. Sejak kurun pertengahan 1930-an, inflasi terus-menerus terjadi di Inggris dan hampir terus-menerus terjadi di AS. Sepanjang periode itu, harga-harga konsumen naik tigapuluh lima kali lipat di Inggris dan lebih dari duabelas kali lipat di AS. Hanya harga-harga resmi di sejumlah negara sosialis yang bisa mengelak dari kecenderungan global ini. hingga jatuhnya rezim-rezim itu. Pengertian deflasi yakni turunnya harga-harga secara umum tidak begitu dikenal karena telah sekian lama tidak pernah terjadi lagi. kendati sempat terjadi hampir di semua negara pada awal 1920-an hingga pertengahan 1930-an, dan dalam periode yang panjang pada awal dan akhir abad sembilanbelas. Deflasi barangkali lebih sering digunakan untuk merujuk pada turunnya total pemasukan uang atau total stok uang, atau secara lebih longgar, pada menurunnya tingkat pertambahannya. Inflasi juga acapkali digunakan dalam pengertian yang lebih longgar ini.
Gagasan bahwa nilai uang, atau daya beli, hanya tergantung kepada jumlah peredaran dan jumlah barang-barang merupakan gagasan yang berakar lama, paling tidak sejak abad sembilanbelas. Selama semua atau sebagian besar mata uang terdiri dari koin-koin emas dan/atau perak, penerapan doktrin ini memang mudah. Pembahasan mengenai alasan yang melandasi perubahan-perubahan besar dalam kecenderungan harga di abad sembilanbelas sekalipun dapat dikaitkan dengan penemuan-penemuan emas pada abad pertengahan dan perubahannya pada 1890-an (beserta inovasi-inovasi pengolahan biji logam) merombak lagi pola pertambahan output fisik barang-barang. Akan tetapi, sejak itu pula kertas-kertas klaim para debitor perserikatan (trust) atau uang kertas pemerintah mulai lebih sering dipakai sebagai alat pembayaran, dan klaim-klaim atau uang kertas semacam itu dalam bentuk pasiva bank dan lembaga-lembaga semi-perbankan, kini telah menggantikan ‘uang komoditas’ (yaitu koin emas atau perak, yang diedarkan sesuai dengan nilai intrinsiknya) harnpir secara keseluruhan. Ini menyebabkan definisi uang menjadi kian sukar dipastikan dan mau tidak mau bersifat arbitrer. Selain itu, kendati pasokan uang menjadi subyek yang dipengaruhi oleh hal-hal lain, selalu responsif hingga taraf tertentu terhadap permintaannya, sedemikian rupa sehingga tidak bisa dianggap independen. Jenis proses inflasi modern yang paling sederhana adalah di mana pemerintah merasa perlu, barangkali dikarenakan situasi perang, untuk menaikkan aliran barang dan jasa, dan membayar semua itu sebagian dengan mencetak uang lagi (dalam prakteknya, dana itu dipinjam dari sistem perbankan). Jika suatu perekonomian pada awainya mengalami full-employment, dan jika kita kesampingkan dulu kemungkinan perlunya melakukan impor, maka hal tersebut akan menaikkan harga-harga sebanding dengan kenaikan total pembelanjaan (pemerintah dan non-pemerintah). Ketika uang yang dibelanjakan pemerintah lari ke tangan bank-bank swasta, pembelanjaan pribadi meningkat, dan pemerintah dapat menaikkan saham output riil nasional hanya dengan terus-menerus mencetak uang untuk menutupi pembelanjaannya. Andaikata tidak ada komplikasi dari rigiditas harga dan perpajakan, maka timbul inflasi eksponensial yang takterhingga. Dalam prakteknya, komplikasi-komplikasi semacam itu terjadi dan membuat harga menjadi turun, sehingga pemerintah dapat menaikkan rigiditas harga melalui kontrol harga, yang biasanya diimbuhi dengan tindakan rasioning. Akan tetapi, inflasi dapat benar-benar eksplosif dalam kasus-kasus ekstrim ‘hiperinflasi’, contohnya Jerman pada tahun 1923, dan yang lebih dahsyat lagi Hungaria pada tahun 1946, manakala harga mendadak-sontak menjadi dua kali lipat setiap hari. Hiperinflasi ini dibantu oleh keadaan-keadaan khusus; kecepatannya yang amat tinggi membuat usaha mengumpulkan pendapatan menjadi sia-sia, sedemikian rupa sehingga nyaris semua pembelanjaan pemerintah dibiayai dengan pencetakan uang. dan karena orang menduga bahwa inflasi akan terus berlanjut maka gaji dan upah pun terus-menerus disesuaikan dengan laju inflasi, dan gangguan perekonomian (misalnya karena pemogokan besar-besaran atau pendudukan oleh tentara asing) membuat aliran barang berkurang sehingga pemerintah dan para pembeli lain harus bersaing memperolehnya. ‘Hiperinflasi’sejati terjadi manakala kondisi yang mirip dengan yang tersebut terakhir itu terjadi. Inflasi lebih sering dipandang dari sudut bahwa harga-harga itu terbentuk dengan cara-cara yang berbeda. Harga kebanyakan bahan mentah dan bahan pangan, di pasar dunia, sifatnya fleksibel dan cepat sekali dipengaruhi oleh kondisi-kondisi suplai dan permintaan. Gelombang kenaikan harga yang terjadi pada 1972-74, sebagian diinduksi oleh ledakan hasil industri dan permintaan (yang bagaimanapun tidak lebih besar dalam hubungannya dengan kecenderungan yang terjadi pada akhir 1960-an), terutama gandum (penurunan beberapa tahun setelah World Wheat Agreement disusul dengan penurunan stok secara meluas, dan kegagalan panen di Uni Soviet). Minyak, yang harganya meningkat empat kali lipat, merupakan hal khusus; harganya dibentuk secara administratif dan bukan oleh pasar, namun wewenang administrasi tersebut kini telah berpindah dari perusahaan-perusahaan minyak internasional ke tangan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). Selain itu, pandangan mengenai penemuan-penemuan minyak baru di masa depan dan sumber energi alternatif (yang selama ini terlalu tergantung pada minyak bumi) telah memperburuk keadaan. Kejadian tiba-tiba yang menyebabkan kenaikan harga terbesar adalah Perang Arab-Israel 1973. (Kejadian di Iran menyebabkan sekali lagi kenaikan besar pada 1979).
Sebaliknya, harga-harga manufaktur tampaknya lebih dikarenakan ongkos-ongkos produksi yang bergantung pada upah, harga bahan mentah dan bahan bakar serta produktivitas tenaga kerja kendati juga masih dipengaruhi oleh pengaturan administrasi, bukannya prinsip ‘lelang’ dalam mekanisme pasar. Determinan-determinan (faktor penentu) upah lebih kompleks. Hal-hal itu pula yang membentuk prinsip pasar kliring” yang menyaring para pencari kerja sampai mereka benar-benar memperoleh pekerjaan. Hal lain yang harus diperhitungkan adalah solidaritas pekerja dan kebutuhan akan adanya jaminan kesejahteraan minimum. Tawar-menawar kolektif juga memberi pengaruh terhadap penentuan upah di banyak negara, termasuk di Inggris dan, dalam proporsi lebih rendah, AS. Dalam konteks ini, upah tidak ditentukan oleh mekanisme pasar, melainkan oleh perundingan, dan dampaknya inflasi agak sulit dipastikan, meskipun banyak yang menduga bahwa penentuan upah seperti ini lebih inflasioner. Upaya penting untuk mengaitkan upah dan inflasi dilakukan oleh A. W. Phillips yang menderivasikan data empiris Inggris, dan menelusuri hubungan negatif antara tingkat upah dan pengangguran. Rumusannya yang kemudian dikenal sebagai Kurva Phillips itu menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak sepenuhnya linier, khususnya untuk kasus Inggris, AS dan juga Jerman. Dalam waktu bersamaaan Milton Friedman (1968) menegaskan bahwa hubungan itu tidak bisa dipastikan setiap saat. Pengalaman upah-inflasi menjadikan orang-orang menduga hal itu akan terjadi lagi, sehingga mendorong mereka untuk berusaha menghindarinya. Bentuk kurvanya menjadi vertikal pada satu titik yang melambangkan tingkat pengangguran tertentu (tingkat alamiah), yang tidak semata-mata ditentukan oleh inflasi, sehingga dalam bentuk selanjutnya kurva itu bisa mengarah ke atas atau ke bawah. Kajian tentang data inflasi dan pengangguran di sejumlah negara menunjukkan bahwa hubungan antara dua variabel yang perkiraannya didasarkan pada pengalaman akan menyulitkan terciptanya pola hubungan yang pasti. Usaha-usaha untuk menjelaskan formasi upah secara ekonometrik ternyata juga tidak begitu berhasil. Sejak usainya perang dunia, pemerintah di banyak negara telah berupaya membendung desakan inflasi akibat kenaikan upah (ini dalam kondisi ketika tingkat pengangguran relatif rendah). Peran serikat pekerja kalah pengaruh dibandingkan organisasi pemilik perusahaan, dan hal ini turut menyebabkan upah sulit naik. Pemerintah sendiri tidak ikut campur, karena ia sendiri khawatir bahwa kenaikan upah akan menaikkan inflasi. Inilah yang terjadi di AS dan Eropa Barat di tahun-tahun pertama seusai perang. Di masa selanjutnya kebijakan peredaman inflasi bahkan lebih ketat lagi. Sejumlah negara seperti Austria dan Jerman bahkan tidak ragu-ragu membatasi kenaikan upah. Jepang juga berhasil menekan inflasi, terutama berkat sistem gaji yang berlaku semata-mata dikaitkan dengan produktivitas. Jadi kalau pun kenaikan upah memicu inflasi, hal itu diimbangi oleh kenaikan produktivitas. Kita perlu membedakan inflasi yang bersumber dari permintaan output final di suatu negara (deman pull), dan yang berasal dari kenaikan produk impor (cost-push). Yang pertama cenderung menaikkan output, sedangkan yang kedua justru menurunkannya. Lebih jauh kita perlu menelaah mengapa inflasi cost-push dapat menaikkan harga yang tidak disusui oleh kenaikan penawaran. Hal ini mulai dibahas oleh aliran monetarist yang ditokohi Milton Friedman (meskipun aliran itu dapat dipilah-pilah lagi menjadi beberapa versi). Friedman berpendapat bahwa tingkat harga bisa menyimpang dari tingkat penawaran uang, dan itu bisa dikontrol tanpa mengganggu tingkat output riil dan employment, yakni dengan cara menambah pasokan uang sesuai dengan kapasitas fisik dari perekonomian yang bersangkutan. Fakta aslinya sendiri sangat kompleks. Kontrol atas penawaran uang sama sekali tidak mudah. Liang juga diciptakan oleh bank-bank komersial melalui saluran kredit, sehingga tidak semua uang beredar bisa dikendalikan langsung oleh otorita moneter. Setiap kali terjadi kenaikan transaksi pembayaran, saat itu pula kalangan perbankan mengimbangi dengan mengubah ambang kredit. Kebijakan uang ketat dan liberalisasi moneter memang bisa berpengaruh, namun itu sekedar upaya menyesuaikan penawaran uang, bukan instrumen-instrumen kontrol yang selalu efektif. Lagipula, masa pemberlakuan kebijakan seperti itu biasanya terbatas, yakni dua hingga empat tahun. Dalam jangka panjang, penerapan kebijakan uang ketat cenderung membiakkan uang semu atau penghimpunan dan penyaluran dana-dana oleh lembaga-lembaga di luar sistem perbankan. Sejak pertengahan 1970-an. kontrol terhadap pertumbuhan stok uang sebagai cara pengendalian inflasi kian terbukti tidak bisa diandalkan. Pengalaman menunjukkan sulitnya mencapai angka-angka target, antara lain karena alasan-alasan yang dikemukakan di atas, dan juga karena kekakuan otorita moneter sendiri, atau kurang luwesnya kebijakan moneter yang diterapkan sehingga pada akhirnya inflasi hanya dapat ditekan dengan mengorbankan prospek peningkatan standar hidup atau penurunan pengangguran.
Output biasanya tidak tersentuh oleh kebijakan-kebijakan deflasioner (ini juga tergantung pada pengaturan institusional di negara yang bersangkutan), namun sangat peka terhadap kebijakan- kebijakan inflasioner. Inflasi cost-push mudah merebak, meskipun hal ini diimbangi oleh kenaikan daya beli. Kondisi seperti ini berpotensi mengacaukan distribusi pendapatan, meskipun yang lebih sering terjadi hal tersebut menyurutkan output. Dampak terburuk dari lonjakan inflasi adalah berkembangnya ekspektasi bahwa inflasi akan terus berlangsung, dan pada akhirnya kenaikan inflasi pun benar-benar berlarut-larut dan bisa menjurus ke hiperinflasi (jika ada faktor eksternal yang ikut berperan). Inflasi tidak pernah populer, bahkan bagi pihak-pihak yang tidak dirugikan secara langsung, karena inflasi memperbesar ketidakpastian mengingat hal itu mengikis nilai alat tukar dan patokan nilai untuk semua transaksi ekonomi. Dewasa ini, perekonomian dapat menghindari inflasi tanpa harus menerapkan kebijakan-kebijakan deflasioner, asalkan perekonomian itu mampu mengembangkan kebijakan-kebijakan pemacu pendapatan yang tepat dan permanen, atau mampu memodifikasikan institusi-institusi pengatur upah dan gaji (ini akan lebih mudah dilakukan jika perekonomian itu sudah berada dalam kondisi full employment seperti yang dialami oleh sejumlah negara maju pada 1960-an). Namun harus diingat bahwa ketika inflasi berada di titik terendah (1970-an). penawaran dan permintaan terus terpacu sehingga mengganggu kestabilan ekonomi secara keseluruhan (hal ini diperburuk oleh terjadinya krisis dan lonjakan harga minyak). Pengalaman ini menyadarkan negara-negara maju akan betapa pentingnya koordinasi perencanaan pasokan agregat dan suplai bahan mentah berharga, energi dan bahan pangan, demi menstabilkan laju pertumbuhan ekonomi mereka. Namun rencana pembentukan forum kerja sama dan koordinasi internasional itu menjadi terlalu ambisius sehingga gagal membuahkan kemajuan ekonomi seperti yang diinginkan.

PENGERTIAN INFLASI DAN DEFLASI | ok-review | 4.5