PENGERTIAN INDO EUROPEESCHE VERBOND

By On Monday, March 31st, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN INDO EUROPEESCHE VERBOND – Yang sering di­singkat IE V, sebuah organisasi politik kaum peranak­an Eropa di Indonesia, yang tujuan utamanya mem­bela kepentingan-kepentingan mereka. Organisasi yang didirikan pada tahun 1919 ini menempuh poli­tik kerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda, dan dapat bertahan lama. Akan tetapi, setelah peme­rintahan Hindia Belanda runtuh, organisasi ini turut runtuh. Peranan golongan peranakan Indo-Belanda lenyap pula di Indonesia maupun di negeri Belanda.
Menurut hukum yang berlaku saat itu, peranakan Eropa, yang lebih terkenal dengan sebutan Indo, di­masukkan ke dalam golongan orang Belanda (Eropa). Bahkan sebagian besar orang yang dikelompokkan se­bagai orang Eropa adalah golongan Indo ini. Tetapi, dalam kenyataannya, mereka diperlakukan berbeda, selalu dianaktirikan dalam segala bidang kehidupan, dan dipandang rendah oleh orang Belanda. Dari segi sosial-ekonomi, golongan Indo-Belanda ini sebagian besar terdiri atas pegawai rendahan, orang yang ku­rang mampu, dan yang keadaannya lebih dekat ke­pada pribumi. Tetapi orang Indo-Belanda sendiri me­mandang dirinya sebagai bagian dari golongan yang dipertuan.
Sekitar tahun 1910, timbul keinginan di kalangan mereka untuk melampiaskan rasa ketidaksenangan mereka kepada pemerintah Nederland, dan bersama- sama dengan orang Indonesia mengadakan perlawan­an terhadap pemerintah Hindia Belanda. Maka mun­cul aksi-aksi di kalangan mereka, yang menggelora­kan Euraziatis dalam tubuh Indische Partij Douwes Dekker. Indische Partij mengobarkan nasionalisme Indiers untuk mencapai Hindia Belanda yang berdiri sendiri.
Karena sikap politiknya ini. Indische Partij meng­hadapi kesulitan besar, dan kemudian dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun Indische Partij menjelma dalam tubuh Insulinde, dengan makin kuat­nya arus pergerakan nasional, Insulinde tidak bisa tumbuh seperti yang diharapkan. Sebagian besar go­longan Indo beralih ke pihak orang Belanda, lebih- lebih setelah tahun 1919, ketika perjuangan pergerak­an nasional Indonesia sampai pada taraf yang mem­bahayakan kaum peranakan Eropa. Maka dibentuk­lah Indo Europeesche Verbond di bawah pimpinan orang-orang Indo lapisan atas, untuk melindungi kepentingan golongan Indo.
Di bidang kemasyarakatan, Indo Europeesche Ver­bond mungkin mengalami keberhasilan. Organisasi ini berhasil mendirikan sekolah-sekolah dan aktif di bi­dang agraris untuk memberi penghidupan yang layak bagi orang-orang Indo. Mereka mencita-citakan ter­bentuknya suatu kelas petani Indo-Belanda, dan di­bentuklah sebuah perkampungan petani, De Diesting. Tetapi usaha ini terbengkalai.
Umumnya, IEV melihat orang Indonesia sebagai saingan besar mereka. Tetapi di lain pihak, orang Indo-Belanda tetap merasa ditinggalkan pemerintah, yang dengan ragu-ragu memberikan bantuan. Orang Indo merasa dikesampingkan dan menganggap peme­rintah hanya memikirkan kelompok kecil tertentu. Mereka kecewa terhadap sikap pemerintah yang tidak mengalami perubahan dan mereka tidak memiliki harapan terhadap kebaikan sikap pemerintah.
Pada tahun 1936, F. de Hoog, pemimpin IEV se­jak tahun 30-an, bersikap sebagai juru bicara orang- orang yang tidak puas, sekalipun tetap bersikap loyal. Oleh sebab itu, ketika petisi Sutardjo muncul, IEV mendukungnya, sekalipun dengan kepentingan yang berbeda. Orang Indonesia menginginkan Indonesia merdeka, sedangkan IEV menginginkan otonomi Hindia-Belanda. IEV berpendapat bahwa Indonesia sudah cukup matang, dan sudah sepantasnyalah peme­rintah Belanda memberikan lebih banyak hak kepada Indonesia. Pada tahap pertama, IEV meminta supaya dibentuk suatu Dewan Kerajaan (Rijksraad) yang ber­anggotakan wakil Belanda dan Indonesia dengan tu­gas menimbang setiap perselisihan antara Belanda dan Indonesia. Sesungguhnya IEV berdiri jauh dari per­gerakan nasional Indonesia, meskipun di kalangan me­reka terdapat juga golongan yang menginginkan kerja sama yang baik dengan golongan Indonesia, bahkan ada yang menempatkan dirinya sebagai orang Indo­nesia asli.
Dalam tubuh IEV timbul pula rasa tidak senang terhadap De Hoog. Orang menuduh De Hoog lebih mengutamakan kepentingan kelompok tertentu dari­pada kepentingan umum golongan Indo. Selain itu, perpecahan terjadi dan muncul dua kubu, yaitu me-_ reka yang tidak dapat melihat adanya keuntungan da­lam mempersatukan diri dengan pergerakan nasional Indonesia dan memihak kepada Nederland, dan me­reka yang ingin melihat kepentingan mereka itu di­perjuangkan dengan bekerja sama dengan orang Indo­nesia. Pada tahun 1937, usul-usul untuk bekerja sama dengan kaum nasionalis Indonesia ditolak oleh peng­urus besar IEV. Penolakan ini mendorong kelompok yang menginginkan kerja sama dengan orang Indo­nesia memisahkan diri, dan di bawah pimpinan J. J.E. Teeuwen pada tahun 1938 mereka mendirikan lagi Insulinde. Peristiwa ini disambut gembira oleh orang Indonesia. Mereka melihat timbulnya lagi cita-cita lama sebelum tahun 1919 tentang kerja sama. Akan tetapi pengikut Insulinde tidak banyak. Orang Indo- Belanda pada umumnya bergabung dalam IEV, se­mentara IEV tetap menjalankan politik lamanya, ju­ga setelah F. de Hoog meninggal pada tahun 1939 dan digantikan Ir. Wermuth.
Kenyataan bahwa Insulinde tetap berdiri merupa­kan petunjuk bahwa di dalam golongan Indo-Belanda terdapat orang-orang yang berkeinginan bekerja sa­ma dengan orang Indonesia.

PENGERTIAN INDO EUROPEESCHE VERBOND | ok-review | 4.5