PENGERTIAN INDIVIDUALISME

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Individualisme adalah istilah zaman modern. Istilah ini untuk pertama kalinya dipergunakan pada 1840 ketika ia muncul dalam terjemahan Inggris dari Democracy in America-nya Tocqueville (1856). Di situ dikatakan bahwa: “Nenek moyang kita tidak memiliki kata ‘individualisme’ sebuah kata yang kita bentuk untuk keperluan zaman kita, karena pada kenyataannya di zaman mereka tidaklah ada individu yang tidak menjadi anggota suatu kelompok, tak seorang pun bisa melihat dirinya mutlak berdiri sendiri”. Di negara-negara modern, seperti AS, “Karena orang tidak lagi terikat satu sama lain oleh kasta, kelas, perusahaan, keluarga, maka mereka jadi terlalu condong berkutat pada masalah pribadi saja… sehingga terjebak pada individualisme sempit”. Gambaran kontras antara masyarakat yang didasarkan pada kelompok dan yang didasarkan pada individu merupakan bagian dari upaya akademik di abad sembilanbelas untuk memahami perubahan besar-besaran yang dibawa oleh bangkitnya Revolusi Perancis dan Revolusi industri. Semua bapak pendiri ilmu sosial modern Marx, Durkheim, Weber, Tonnies, Simmel dan sebagainya merefleksikan hubungan-hubungan baru antara individu dan kelompok. Sebagai contoh, Maine (1861) mencatat bahwa ‘satuan masyarakat kuno adalah Keluarga, sedangkan dalam masyarakat modern adalah individu’. Pada umumnya disepakati bahwa pemisahan lingkungan kehidupan dan ekonomi dari masyarakat, agama dari politik, dan seterusnya, tidak hanya memberi individu kebebasan lebih, namun, seperti dalam pemikiran Mill, juga meruntuhkan makna dan kehangatan hidup individualisme kemudian dilihat sebagai bagian pokok dari ‘modernitas. Bell(1976)menulis bahwa ‘asumsi dasar dari modernitas… adalah bahwasanya unit sosial masyarakat bukan lagi kelompok, gilda, suku, atau kota, melainkan orang per orang’. Keyakinan akan keutamaan individu tidak saja kuat. melainkan juga ditonjolkan. Dumont (1977) berpendapat bahwa ‘di antara peradaban-peradaban besar yang telah diketahui, tipe masyarakat holistik tampaknya amat dominan sehingga seolah-olah merupakan suatu aturan baku, dengan satu-satunya pengecualian adalah peradaban modern kita dan tipe masyarakatnya yang individualistik’. Esensinya diringkas oleh Gellner (1988): ‘masyarakat berusaha berdiri tegak dengan individu-individu yang seolah-olah menggotong keseluruhan kebudayaan sendirian, tanpa ada saling bantu’. Pandangan-pandangan itu perlu dinilai dari berbagai sudut. Pertama, semua masyarakat manusia memang memiliki konsep ‘orang’ yang berdiri sendiri.
Sebagaimana ditulis Mauss, ‘Jelaslah… bahwa tidak pernah ada manusia yang tidak menyadari keberadaannya, bukan hanya secara fisik, melainkan juga individualitasnya, baik secara spiritual maupun fisik’. Lebih jauh lagi, para antropolog juga mencatat bahwa bentuk-bentuk individualisme dapat ditemukan dalam berbagai masyarakat mulai dari masyarakat berburu-meramu yang sederhana hingga peradaban yang paling kompleks, seperti masyarakat Jepang sejak ratusan tahun lalu. Kontras yang terlalu dilebih-lebihkan antara ‘Barat’ dan ‘bukan Barat’ dengan demikian tidak bisa dibenarkan. Jelaslah pula bahwa teori individualisme yang demikan terlalu sederhana. Kendati biasanya dikatakan bahwa tradisi individualistik memang berakar lama dalam peradaban Barat, yang ada kaitannya dengan kekristenan, acapakali diasumsikan bahwa abad delapanbelas, dengan munculnya kapitalisme pasar, merupakan saat munculnya tatanan baru yang menonjolkan individualisme. Tetapi, terlepas apakah kita melihat sistem kepemilikan Anglo-Saxon Inggris di mana Maitland menemukan sebuah sistem yang cocok dengan kepemilikan ‘individualisme yang nyaris absolut’, atau filosofi abad pertengahan yang dirumuskan Ockham dan penerus-penerusnya. atau sekian abad sebelumnya ketika pan-dangan individualisme ekstrim mengisi kebanyakan filosofi Yunani, tidak diragukan lagi bahwa tidak ada kesinambungan perkembangan antara kapitalisme dan individualisme. Lagi-lagi, dikotomi sederhana antara ‘dulu’ dan ‘kini’ tidak terjamin kebenarannya. Hal ini membuat masa depan tidak begitu gampang diprediksi. Ada yang percaya bahwa kecenderungannya menuju peningkatan individualisme dan egoisme. Pembagian kerja dan penetrasi nilai-nilai pasar kian dalam, dan semakin menyebar pula konsep-konsep politik mengenai kesamaan dan pengagungan hak-hak asasi manusia, yang pada akhirnya akan mengarah pada peningkatan individualisme, seperti ramalan Tocqueville. Ada juga yang berpendapat bahwa kita sekarang tengah bergerak menuju desa global (global village), di mana, dalam kalimat Donne, ‘orang tidak lagi seperti pulau terpisah’. Secara elektronik, atau malah secara organik, kita akan kembali pada masyarakat holistik. Sejumlah ilmuwan, seperti Foucault, Derrida dan Lacan, mempersoalkan segala bentuk individu yang dianggap independen. Perkembangan dalam teknologi medis, khususnya transplantasi organ dan teknologi pembiakan, telah membuat batas-batas antara individu satu dengan lainnya menjadi lebih kabur daripada sebelumnya. Masa depan individualisme sedang diuji, baik makna maupun nilainya.

PENGERTIAN INDIVIDUALISME | ok-review | 4.5