PENGERTIAN INDISCHE PARTIJ

By On Monday, March 31st, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN INDISCHE PARTIJ – Didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Dr. E.F.E. Douwes Dekker, Suwardi Surjaningrat, dan Tjipto Mangun- kusumo. Tujuan partai politik ini adalah memper­satukan semua Indier, yakni semua orang kelahiran Hindia Belanda dan orang yang mengakui bertanah air Hindia, sebagai persiapan untuk kehidupan bangsa yang merdeka.
Perumus gagasan pembentuk Indische Partij ada­lah E.F.E. Douwes Dekker, yang kemudian dikenal dengan nama Danudirdja Setiabudhi. Douwes Dekker melihat adanya keganjilan-keganjilan dalam masya­rakat kolonial, khususnya diskriminasi antara ke­turunan Belanda totok dan Indo, dan berpendapat bahwa nasib golongan Indo tidak ditentukan oleh pe­merintah kolonial, tetapi ditentukan oleh kerja sama dengan penduduk Hindia lainnya. Ia juga tidak senang melihat superioritas Indo atas penduduk pribumi dan menghendaki hilangnya golongan Indo melalui peleburan ke dalam masyarakat pribumi.
Sepulangnya dari Eropa pada tahun 1910, Douwes Dekker menetap di Bandung. Ia menerbitkan majalah dua mingguan Het Tijdschrift, dan kemudian pada bulan Maret 1912 harian De Expres. Melalui kedua media massa ini Douwes Dekker mengungkapkan pa­ham dan sikap politiknya. Kolonialisme dikecamnya habis-habisan. Dikemukakannya bahwa setiap gerak­an politik di tanah jajahan harus bertujuan menghi­langkan keterikatan dengan kuasa kolonial dan meng­arah kepada kemerdekaan hidup rakyat. Setiap pa­ham yang bertentangan dengan cita-cita kenegaraan ini harus diberantas. Pemerintah jajahan bukanlah pe­merintahan, tetapi kelaliman, dan kelaliman itu ada­lah musuh kemakmuran rakyat yang paling berba­haya. Program politiknya Hindia untuk Hindia, dan ia menekankan bahwa masa depan golongan Indo pri­bumi terancam bahaya yang sama, yakni eksploitasi kolonial.
Untuk mencapai cita-citanya, dibentuklah Indische Partij. Sebagai persiapan, Douwes Dekker mengada­kan perjalanan propaganda di Pulau Jawa dari tang­gal 15 September sampai tanggal 3 Oktober 1912. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, gagasan Douwes Dekker mendapat dukungan. Ia bertemu de­ngan dr. Tjipto Mangunkusumo dan mengadakan tukar pikiran mengenai pembinaan partai yang ber­corak nasional. Di Bandung ia mendapat dukungan dari Suwardi Surjaningrat dan Abdul Muis yang pada waktu itu telah menjadi pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI) cabang Bandung. Di Yogya ia mendapat sambutan dari pengurus Budi Utomo. Redaktur- redaktur surat kabar Jawa Tengah di Semarang dan Cahaya Timur di Malang juga menyokong berdirinya Indische Partij. Bukti nyata diterimanya gagasan Douwes Dekker ini ialah terbentuknya 30 cabang segera setelah Indische Partij didirikan dengan jum­lah anggota sekitar 7.300 orang, kebanyakan dari golongan Indo-Belanda.
Segera setelah Indische Partij berdiri, melalui mu­syawarah disusunlah anggaran dasar partai. Anggaran dasar ini memberi corak Indische Partij sebagai partai yang berdiri di atas dasar nasionalisme luas menuju kemerdekaan Indonesia. Paham ini pada waktu itu di­kenal sebagai Indische Nationalisme, yang kemudian melalui Perhimpunan Indonesia dan PNI menjadi Indonesisch Nationalisme atau Nasionalisme Indo­nesia. Cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tu­juan partai: (1) memelihara nasionalisme Hindia de­ngan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua “Indier”, meluaskan pengetahuan ilmu tentang seja­rah budaya Hindia, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan kepada diri sendiri; (2) memberantas rasa kesombongan rasial dan keistimewaan ras, baik da­lam bidang ketatanegaraan ataupun dalam bidang ke­masyarakatan; (3) memberantas usaha membangkit­kan kebencian agama dan sektarisme, sehingga dapat memupuk kerja sama atas dasar nasional; (4) mem­perkuat daya tahan rakyat Hindia dengan memper­kembangkan individu ke arah aktivitas yang lebih be­sar secara teknis dan memperkuat kekuatan batin da­lam soal kesusilaan; (5) berusaha mendapatkan per­samaan hak bagi semua orang Hindia; (6) memper­kuat daya rakyat Hindia untuk mempertahankan ta­nah air dari serangan asing; (7) menyatukan, mem­perluas, memperdalam, dan meng-Hindia-kan peng­ajaran, yang diajukan untuk kepentingan ekonomi Hindia; (8) memperbesar pengaruh pro-Hindia di da­lam pemerintahan; (9) memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama memperkuat mereka yang ekonominya lemah.
Pemerintah Hindia Belanda bersikap tegas terha­dap Indische Partij. Permohonan yang diajukan ke­pada Gubernur Jenderal untuk mendapat pengakuan sebagai badan hukum pada tanggal 4 Maret 1913 di­tolak atas dasar pasal III Regeerings Reglement (RR), bahwa perhimpunan-perhimpunan atau rapat-rapat yang membahayakan ketertiban umum di Hindia Belanda dilarang. Juga setelah pihak pimpinan In­dische Partij mengadakan audiensi dengan Gubernur Jenderal dan mengubah pasal 2 anggaran dasarnya, Indische Partij tetap tidak dapat dikukuhkan sebagai badan hukum. Alasannya, perubahan anggaran da­sar tidak mengubah sifat dan maksud perhimpunan yang sebenarnya.
Sikap pemerintah Hindia Belanda ini menyebabkan partai mendapat banyak kesulitan. Maka pada akhir Maret 1913 pemimpin Indische Partij mengambil ke- putusan mengubahnya menjadi Partai Insulinde. Akan tetapi perkembangan partai ini tidak juga menggem­birakan. Pengaruh SI sangat kuat di lingkungan pen­duduk pribumi, sehingga partai Insulinde kurang men­dapat tanggapan.
Pada waktu akan diadakannya perayaan ulang tahun ke-100 kemerdekaan Belanda dari jajahan Perancis, di Bandung didirikan Komite Bumiputra, yang bermaksud mengirimkan telegram kepada Ratu Belanda yang isinya permintaan pencabutan pasal III RR, dibentuknya majelis perwakilan rakyat yang se­jati, dan permintaan ketegasan adanya kebebasan ber­pendapat di daerah jajahan. Suwardi Surjaningrat, sa­lah seorang pemimpin komite ini, menulis sebuah ri­salah yang berjudul Als ik een Nederlander was…, yang berisi sindiran tajam, antara lain tentang pem­bebanan biaya pesta perayaan kemerdekaan Belanda kepada rakyat jajahan. Kegiatan komite ini oleh pe­merintah dipandang membahayakan. Oleh sebab itu, pada bulan Agustus 1913 dijatuhkan hukuman buang terhadap pemimpin-pemimpin Komite Bumiputra. Douwes Dekker akan dibuang ke Kupang, dr. Tjipto Mangunkusumo ke Banda, dan Suwardi Surjaningrat ke Bangka. Tetapi atas permintaan mereka sendiri, ketiganya meninggalkan Hindia Belanda dan pergi ke Negeri Belanda sebagai tempat pengasingannya. Dengan ditangkapnya ketiga pimpinan ini, Partai Insulinde makin suram perkembangannya.
Kembalinya Douwes Dekker dari pengasingannya pada tahun 1918 tidak terlalu berarti bagi Partai In­sulinde, juga ketika Partai Insulinde berganti nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP) pada bulan Juni 1919. Dalam perkembangan selanjutnya, partai ini tidak pernah mempunyai pengaruh terhadap rak­yat banyak, bahkan akhirnya hanya merupakan per­kumpulan orang terpelajar. Kalau orang pribumi lebih tertarik pada Sarekat Islam, orang Indo pada umum­nya masih ingin mempertahankan statusnya sebagai Europeanen (dikelompokkan sebagai orang Eropa). Malahan untuk maksud ini, pada tahun 1919 mereka mendirikan organisasi Indo-Europeesche Verbond.

PENGERTIAN INDISCHE PARTIJ | ok-review | 4.5