PENGERTIAN INDIKATOR PENCEMARAN

By On Monday, March 31st, 2014 Categories : Ilmu Alam

PENGERTIAN INDIKATOR PENCEMARANAdalah sejumlah pa­rameter kimia-fisik, sosial, dan hayati, yang dapat di­pergunakan sebagai petunjuk adanya pencemaran lingkungan. Parameter-parameter tersebut menunjuk­kan adanya derajat ketidakseimbangan yang telah ter­jadi dalam ekosistem. Parameter kimia-fisik meliputi, antara lain, tingginya konsentrasi fosfat dalam per­airan, rendahnya DO dan suhu dalam suatu ekosistem yang berada di bawah/di atas nilai peruntukannya. Yang menjadi parameter sosial antara lain tinggi ren­dahnya angka kematian bayi, angka penderita pe­nyakit seperti diare dan disentri. Organisme hayati, seperti bakteri dan beberapa jenis tumbuhan serta hewan yang dapat menunjukkan adanya pencemaran seperti gulma air (eceng gondok), sering dijadikan parameter hayati.
Kegiatan industri di berbagai bidang membawa dampak semakin banyaknya unsur pencemar dalam lingkungan yang semakin sulit dilacak sumbernya. Dalam banyak hal, teknik monitoring pencemaran masih belum memadai dan data jangka panjang sulit diperoleh. Sementara itu, penelitian mengenai akibat kronis atau akibat tertunda dari suatu zat pencemar, membutuhkan kedua hal tersebut di atas. Secara geo­grafis, konsentrasi pencemaran dapat bervariasi. Begitu pula tingkat pemaparan suatu zat pencemar tertentu terhadap seseorang sering sulit ditentukan dengan tepat. Kesulitan dalam menghadapi bahaya pencemaran semakin tinggi karena bila diteliti sen­diri, suatu zat pencemar bisa saja tidak membahaya­kan, namun apabila telah bercampur dengan zat pen­cemar lainnya dapat membahayakan.
Adanya organisme indikator pencemaran yang peka terhadap pencemaran dapat digunakan sebagai petun­juk adanya kualitas lingkungan yang mulai mengalami pencemaran ringan, sedangkan organisme yang to­leran amat penting sebagai indikator kualitas ling­kungan yang mulai mengalami pencemaran berat. Dengan mengetahui tanda-tanda awal adanya ketidak­seimbangan ini, selanjutnya dilakukan penelitian la­boratorium dengan menggunakan sejumlah parameter kimia, antara lain, DO (.Dissolved Oxygen), BOD {Bio­logical Oxygen Demand), SS {Suspended Solid), agar tingkat pencemaran dapat diketahui secara tepat.
Contoh indikator pencemaran perairan adalah bak­teri Escherichia coli. Adanya bakteri ini menjadi indi­kator pencemaran oleh tinja manusia. Bakteri itu sen­diri sebenarnya tidak berbahaya, tetapi kehadiran­nya dalam suatu perairan menunjukkan kemungkinan adanya bakteri patogen dan virus dalam tinja vang dapat menyebabkan penyakit diare dan disentri. Pe ningkatan pertumbuhan gulma air, ledakan pertum­buhan ganggang biru-hijau, ganggang merah, gang­gang cokelat, dan peningkatan zat organik pada dasar perairan yang menunjukkan adanya akumulasi peng- kayaan zat hara seperti kalium karbonat, fosfat, sulfur, kalsium, magnesium, nitrat, dan lain-lain, juga dapat dijadikan indikator pencemaran perairan. Beberapa indikator lainnya, antara lain lintah, se­bagai indikator pencemaran organik dan timbel (Pb); Epistylis, Sphaerotilus, dan Charchesium, sebagai indikator pencemaran limbah domestik; serta cacing Tubifex dan larva nyamuk, sebagai indikator pen­cemaran organik. Indikator pencemaran udara karena limbah kegiat­an industri, pertambahan kendaraan bermotor, dan lain-lain, umumnya dapat ditemui pada beberapa je­nis tumbuhan. Pencemaran oleh gas SO2 menyebab­kan kerusakan jaringan. Sering pula terjadi gangguan pertumbuhan tanaman yang menyebabkan gugurnya daun sebagai akibat gas etilena yang berasal dari pabrik kimia, kendaraan bermotor, dan hasil pem­bakaran lain di perkotaan. Gangguan lainnya adalah kerusakan pada kloroplast (klorosis) yang menyebab­kan perubahan warna dan menurunnya produksi ta­naman tertentu.
Ada beberapa tanaman yang dapat dijadikan indi­kator pencemaran udara. Lumut kerak (Lichenes) dan lumut (Bryophyta) amat peka terhadap SO 2 dan fluorida. Di kota-kota besar dan di sekitar pabrik, kedua tumbuhan ini hampir sama sekali tidak tum­buh. Jenis cemara tertentu juga sering dijadikan indi­kator pencemaran gas SO 2- Begitu pula jagung, yang sensitif terhadap sulfur tetapi resisten terhadap O3. Tanaman tomat, jagung, dan kacang-kacangan me­rupakan indikator pencemaran gas dan debu fluorida yang dihasilkan oleh kegiatan industri, antara lain pabrik aluminium; baja, yang menggunakan fluo- fosfat; superfosfat; semen; serta pembuatan bata dan pembakaran keramik. Selain itu, tanaman jeruk dan limau juga merupakan indikator pencemaran fluorida. Tanaman ini akan mengalami panen yang merosot bila lingkungannya sudah tercemar fluorida. Pencemaran zat tersebut pada tanaman gladiol mengakibatkan ta­naman itu berwarna cokelat dan kemudian mati.

PENGERTIAN INDIKATOR PENCEMARAN | ok-review | 4.5