PENGERTIAN IMUNISASI

By On Sunday, March 30th, 2014 Categories : Kesehatan

PENGERTIAN IMUNISASI – Tindakan untuk menimbulkan keke­balan terhadap penyakit menular, merupakan upaya untuk mencegah penyebaran penyakit menular ter­tentu dengan cara memberikan vaksin kepada orang yang masih sehat. Seseorang dapat menjadi kebal ter­hadap penyakit menular tertentu bila ia pernah ter­kena penyakit tersebut lalu sembuh. Kekebalan yang sifatnya alamiah ini bertahan selama beberapa wak­tu atau seumur hidup, karena di dalam tubuhnya te­lah terbentuk zat anti (antibodi) terhadap penyakit tersebut.
Kekebalan dapat juga diberikan dengan sengaja (buatan), yaitu dengan cara memasukkan kuman pe­nyakit yang telah dimatikan atau dilemahkan ke dalam tubuh, sehingga tubuh membentuk antibodi. Bila ka­dar antibodi telah berkurang atau menghilang, keke­balan tubuh juga berkurang. Untuk menjaga agar ka­dar antibodi tetap cukup, dilakukanlah vaksinasi ulang.
Contoh baik untuk upaya imunisasi yang sukses ialah imunisasi terhadap penyakit cacar. Dunia telah dinyatakan bebas dari penyakit cacar berkat upaya imunisasi dan pemberantasan penyakit cacar. Indo­nesia sejak tahun 1974 telah bebas dari penyakit ini. Bekas imunisasi cacar, berupa dua guratan di lengari atas kiri, masih bisa disaksikan pada orang dewasa generasi sekarang dan sebelumnya.
Kejadian kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu rata-rata setiap tiga menit satu kematian bayi akibat penyakit menular yang dapat dicegah de­ngan imunisasi. Terdapat enam jenis penyakit menular yang sering menyerang bayi dan anak balita sehingga mendapat prioritas untuk
dicegah dengan imunisasi, yaitu tuberkulosis (TBC), difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, polio dan campak. Sejak tahun 1977 Departemen
Kesehatan mulai menggalakkan program imunisasi yang disebut Pengembangan Program Imu­nisasi (PPI) di seluruh Indonesia. Melalui program ini diharapkan 80 persen dari seluruh bayi di Indonesia, pada tahun 1990, mendapatkan imunisasi lengkap ter­hadap penyakit-penyakit menular yang diprioritaskan itu. PPI juga menggiatkan upaya imunisasi tetanus bagi ibu hamil agar bayi yang akan dilahirkannya ti­dak terserang penyakit tetanus. Keenam jenis penyakit itu telah dicegah dengan imunisasi massal yang disedia­kan secara gratis melalui Puskesmas dan fasilitas ke­sehatan pemerintah lainnya. Imunisasi diberikan di posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), puskesmas, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), rumah sakit, atau tempat praktik dokter atau bidan. Penyakit menular lain, seperti hepatitis, juga dapat dicegah dengan imu­nisasi, namun upaya pencegahannya belum dilakukan secara massal karena biayanya yang masih dipandang terlalu mahal.
PPI mempunyai jadwal dan metode imunisasi yang seragam untuk seluruh Indonesia. Vaksin BCG (Bacil Calmette Guerin) disuntikkan ke dalam kulit pada lengan kanan atas bayi sedini mungkin, untuk men­cegah penyakit TBC. Vaksin DPT disuntikkan ke da­lam otot paha sebanyak tiga kali, mulai bayi berumur 2 bulan dengan selang pemberian suntikan minimal 4 minggu, untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin polio diteteskan ke dalam mulut bayi sebanyak tiga kali, bersamaan waktunya dengan pemberian suntikan DPT, untuk mencegah penyakit polio. Vaksin campak disuntikkan pada kulit lengan atas sebayak satu kali, ketika bayi berumur 9 bulan, untuk mencegah penyakit campak. Vaksin tetanus toxoid (TT) juga disuntikan ke dalam otot lengan atas pada ibu hamil pada umur kehamilan 3 dan 8 bulan, untuk menjaga agar bayi yang akan dilahirkannya ti­dak terserang penyakit tetanus.
Vaksin telah dibuat di Indonesia oleh Perum Bio Farma di Bandung. Vaksin BCG mengandung kuman tuberkulosis yang telah dilemahkan. Vaksin DT me­ngandung toksin (racun) difteri dan tetanus yang te­lah diubah menjadi toksoid sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Vaksin pertusis mengandung kuman pe­nyakit pertusis yang telah dimatikan. Vaksin polio dan campak masing-masing mengandung virus penyakit yang telah dilemahkan.
Sebelum dipakai, vaksin harus disimpan di tempat yang dingin, yaitu sekitar 4—8°C untuk vaksin BCG, DPT, DT dan TT. Sedangkan vaksin polio dan cam­pak harus disimpan di tempat yang lebih dingin (di bawah 0°C). Panas dan sinar matahari akan merusak­kan vaksin. Untuk keperluan imunisasi massal, dosis 1 ampul vaksin BCG dapat dibagi menjadi 36 suntik­an (diberikan kepada 36 anak), 1 flakon vaksin DPT atau DT untuk delapan anak, 1 flakon TT untuk de­lapan ibu, 1 flakon vaksin campak atau polio untuk delapan anak. Tindakan sterilitas dan jarum suntik sekali-pakai-buang (disposable) menjamin keamanan imunisasi massal ini.
Imunisasi tidak boleh diberikan pada bayi atau anak yang sedang menderita sakit berat atau sedang menderita demam tinggi (lebih dari 38°C). Kulit tem­pat suntikan juga harus steril dan bebas dari penya­kit kulit. Efek samping ringan yang biasanya timbul setelah pemberian imunisasi adalah demam. Ini bu­kanlah gejala penyakit, melainkan reaksi imunisasi yang akan hilang dalam 1-2 hari. Untuk itu biasanya diperlukan obat penurun panas.
Reaksi normal setelah suntikan BCG terjadi dua minggu setelah vaksinasi berupa pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan, dengan garis tengah se­kitar 10 milimeter. Setelah 2—3 minggu, pembengkak­an menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 milimeter. Luka tersebut akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut ber­garis tengah 3—7 milimeter, yang akan menetap se­umur hidup. Jaringan parut ini menunjukkan bahwa anak tersebut telah mendapat imunisasi BCG. Reaksi normal setelah suntikan DPT berupa pembengkakan kemerahan dengan rasa panas pada kulit di sekitar tempat suntikan.
Efek samping yang lebih berat berupa pembengkakan dan abses pada tempat suntikan. Hal ini terjadi bila jarum suntikan dan kulit tempat suntikan tidak steril. Keterampilan petugas dan sterilitas alat-alat imunisasi dapat mencegah efek samping. Komplikasi lain yang jarang terjadi ialah pembengkakan kelenjar getah bening, kejang, reaksi alergi atau radang otak (ense- falitis). Komplikasi ini memerlukan pertolongan di rumah sakit.

PENGERTIAN IMUNISASI | ok-review | 4.5