PENGERTIAN IMPIAN KAMAR MERAH

By On Sunday, March 30th, 2014 Categories : Antropologi, Review

PENGERTIAN IMPIAN KAMAR MERAH – Atau Hung Lou Meng novel tragedi percintaan Cina jaman Manchu yang di­tulis oleh Tsao Hsueh-chin dan Kao Ngo pada tahun 1765. Novel ini terdiri atas 120 bab; 80 bab permula­an ditulis oleh Tsao Hsueh-chin, dan 40 bab terakhir ditulis oleh Kao Ngo. Tokoh yang dimainkan cukup banyak, yaitu 232 pria dan 189 wanita. Semula para penulis novel ini tidak dikenal, baru pada tahun 1917, Dr. Hu Shih melalui penelitiannya menemukan penulis novel ini. Kedua penulis itu adalah orang Cina pri­bumi di bawah pemerintahan bangsa Manchu (Dinasti Ching).
Novel ini juga diberi judul Shih Tou Chi (Kisah Se­potong Batu) berdasarkan cerita pendahuluan dalam novel ini. Plot cerita sederhana. Dalam keluarga bang­sawan Chi di Shintou, hidup Chia Cheng yang memi­liki tiga anak. Anak tertua seorang lelaki yang me­ninggal pada usia muda, anak kedua, perempuan, diambil sebagai selir kaisar dan anak bungsu, seorang lelaki yang dilahirkan dengan sepotong pualam da­lam mulutnya. Nama anak ini Pao-yu. Pao-yu amat dimanjakan oleh neneknya dan hidup di lingkungan wanita. Dalam rumah keluarga Chia Cheng hidup pula sanak saudara yang kebanyakan gadis-gadis. Salah se­orang bernama Tai-yu yang sebaya dengan Pao-yu. Ada juga seorang gadis bernama Pao-Chai. Pao-yu lebih tertarik kepada Tai-yu yang sakit-sakitan, na­mun berperasaan halus. Tai-yu begitu mencintai alam sehingga bunga yang rontok pun dikuburnya. Namun pihak keluarga Pao-yu menghendaki agar Pao-yu ka­win dengan Pao-Chai. Pao-yu sering bertengkar de­ngan kekasihnya, Tai-yu, karena cemburu jika meli­hat Pao-yu masuk ke kamar Pao-Chai yang juga men­cintai Pao-yu.
Sebuah malapetaka menimpa Pao-yu, yaitu kehi­langan potongan batu pualam yang menyertainya se­jak lahir. Kejadian ini menandakan keadaan kurang baik. Akhirnya keluarga mengambil keputusan untuk mengawinkan Pao-yu dan Pao-Chai. Namun untuk melunakkan hati Pao-yu, keluarga memberitahukan bahwa ia akan dikawinkan dengan Tai-yu. Pao-yu amat berbahagia, namun Tai-yu menjadi murung dan patah hati karena mengetahui rencana sebenarnya. Pada saat perkawinan Pao-yu, Tai-yu jatuh sakit ka­rena menderita patah asmara dan akhirnya mening­gal dunia. Mengetahui hal ini Pao-yu mendadak ja­tuh sakit berkepanjangan. Sementara itu malapetaka menimpa keluarga Chia; rumah disita negara akibat persengkongkolan penyelewengan ayah Pao-yu dan pejabat negara. Apalagi perlindungan istana sudah tidak ada lagi, karena anak Chia yang menjadi selir kaisar meninggal dunia. Dalam keadaan hampir ma­ti, tiba-tiba muncul seorang biksu yang menemukan batu pualam Pao-yu dan menolongnya. Dalam ke­adaan pingsan itu, sang biksu mempertemukan Pao- yu dan arwah kekasihnya. Pada saat Pao-yu hendak berbicara dengan kekasihnya, tiba-tiba tirai bambu kamar merah diturunkan. Pao-yu tersadar dari ping­sannya.
Setelah berangsur sembuh, Pao-yu dididik sampai lulus ujian sarjana kerajaan. Ia dapat menolong kem­bali keluarganya yang morat-marit. Kecerdasan Pao- yu menarik perhatian kaisar yang kemudian memang­gilnya dan memulihkan hak keluarganya. Setelah itu Pao-yu lenyap dari lingkungan keluarganya. Ayahnya mendengar semua itu, lalu memutuskan untuk kem­bali pulang. Di tengah pelayaran menyusuri sungai, dalam bulan purnama, ketika ia sedang beristirahat di tepi sungai, tiba-tiba datang seorang biksu muda gundul yang membenturkan kepalanya empat kali ke tanah. Chia Cheng, sang ayah, segera mengenal bik­su itu sebagi anaknya. Belum sempat ia berbicara pa­danya, seorang biksu tua dan seorang pendeta Tao se­gera membawa Pao-yu pergi. Ketika sang ayah me­ngejarnya, Pao-yu sudah melenyap. Yang ditemuinya hanya sebilah pedang yang tertimbun salju.
Novel ini merupakan salah satu karya sastra Cina yang termasyhur dan sudah diterjemahkan dalam ba­hasa Inggris. Ketenaran novel ini menimbulkan ilham banyak penulis untuk melanjutkan kisah novel, maka lahirlah novel sejenis seperti Impian Kamar Merah Lanjutan, Impian Kemudian di Kamar Merah, Impian Kamar Merah Lagi. Pada dasarnya para penulis se­lanjutnya ini menghilangkan kesan tragis novel asli­nya. Banyak ahli berpendapat bahwa novel ini meru­pakan autobiografi pengarangnya, karena banyak ke­samaan peristiwa antara keluarga pengarang dan ke­jadian dalam cerita, antara lain penyitaan dan pemu­lihan kembali martabat keluarga Tsao Hsueh-chin, sang pengarang.

PENGERTIAN IMPIAN KAMAR MERAH | ok-review | 4.5