PENGERTIAN IMPERIALISME

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Kata imperialisme sudah memiliki begitu banyak pengertian sehingga selayaknya kata ini tidak lagi dipakai oleh para ilmuwan sosial, keluh Profesor Hancock pada 1950. “Di Inggris dan Amerika, para sejarawan yang kacau otaknya memakai istilah ini untuk berbagai nuansa pengertian, yang hanya Tuhanlah yang tahu berapa banyaknya, sementara penulis-penulis di Soviet memakainya untuk meringkas teori dan praktek perang”. Sialnya, kekeliruan-kekeliruan itu terus berlanjut. Penguasa otokratis yang memerintah penduduk dengan seenaknya telah ada sejak Kekaisaran Indo-Eropa Aleksander Agung. Namun bagi Marxis, imperialisme dewasa ini berarti kemenangan monopoli keuangan modal (hampir semua) negara Eropa Barat terhadap sekian banyak masyarakat non-Eropa pada akhir abad sembilanbelas, suatu jenis imperialisme yang jelas sangat berbeda. Bagi sebagian teorisi keterbelakangan, istilah ini tak lain dan tak bukan adalah sinonim dari kapitalisme pada umumnya, bukan cuma tahap monopolistiknya. Mitos imperialisme, dengan demikian berlangsung begitu mudah. Teori-teori imperialisme Marxis yang mula-mula tumbuh pada 1900-an dan 1910-an pada dasarnya ingin menjelaskan mengapa keruntuhan kapitalisme yang diramalkan Marx itu tertunda begitu lama. Tinjauan terhadap pengaruh Perang Dunia Pertama, dan fakta bahwa para pekerja Eropa saling menyerang satu sama lain ketimbang menyerang kaum majikan, menambah dorongan baru untuk pemikiran ini. Tampaknya, nasionalisme juga ada pengaruhnya terhadap keadaan ini, selain karena otonomnya pilihan politik di masa perang terhadap rasionalitas ekonomi. Namun hampir semua penulis Marxis mencari alasan lain untuk menjelaskan hal itu sebagai amunisi untuk menembak sasaran yang lebih sektarian. Tak lama sebelum Perang, Rosa Luxemburg membuat analisis imperialisme dalam Die Akkumulation des Kapitals (1913) yang hingga kini masih dihargai karena kepeloporannya dalam mencari titik-titik artikulasi antara perluasan kapitalisme dan pembentukan masyarakat pra-kapitalis di luar Eropa. Tapi selama dan setelah Perang Dunia Pertama, ia lebih menarik perhatian lantaran advokasinya terhadap pemogokan massa revolusioner demi mempercepat jatuhnya kapitalisme, agar ekspansi imperialis tidak sempat mendapat nafas baru. Marx sendiri melihat bahwa ekspansi kapitalisme ke luar tempat kelahirannya di Eropa adalah gejala yang tidak begitu penting dan ia tidak mempersoalkannya seperti Luxemburg. Bagi Marx, ini adalah masalah marjinal, paling tidak dalam dua hal. Akan tetapi Luxemburg memandang kapitalisme hanya bisa bertahan jika ia berekspansi ke luar wilayah asalnya. Salah satu persoalan adalah, sebagaimana ditunjukkan Mommsen (1981), “pijakan Rosa Luxemburg adalah teori Marx yang ruwet dan kontroversial mengenai nilai tambah, yang secara definitif hanya terjadi dalam kapitalisme semata-mata, sehingga Rosa Luxemburg tidak memperhitungkan bahwa seandainya kapasitas konsumen dari masyarakat tidak meningkat, pasar internal mungkin tidak bisa menyediakan peluang yang cukup untuk meningkatkan investasi ‘non-konsumtif”, yakni reinvestasi nilai tambah”. Kekurangan lain adalah bahwa pemikiran Luxemburg kurang memperhitungkan signifikansi peningkatan besar-besaran investasi Eropa ke luar negeri di awal abad duapuluh. Beserta Hobson, sebelumnya, dan Lenin, sesudahnya, ia mengasumsikan bahwa hal itu berkaitan erat dengan aneksasi kolonial.
Dalam kenyataannya, sebagaimana diperlihatkan Robinson dan Gallagher (1961), kapitalisme terpisah dari aneksasi kolonialisme. Hilferding mengambil pandangan yang agak berbeda. Dalam Das Finanzkapital (1910), ia lebih berminat untuk menjelaskan mengapa kaum kapitalis tidak banyak mengalami krisis (tidak ada krisis sejak 1896) seperti diperkirakan Marx. Ia berpendapat bahwa perdagangan bebas telah menggantikan peran modal finansial dalam mendominasi dan mengintervensi negara lain, sehingga hal itu menunda keruntuhan kapitalisme buat sementara waktu. Tapi wartawan Inggris dan pendukung perdagangan bebas, Hobson, dengan pandangannya yang luas, menyerang peran investasi luar negeri dan aneksasi kolonial dalam Imperialisme (1902), yang digunakan secara ekstensif oleh Lenin dalam studinya yang terkenal Imperialisme: The Highest Stage of Capitalism (1917). Buku ini ia tulis tidak hanya untuk menjelaskan pengaruh Perang Dunia Pertama tapi juga untuk menohok reformisme Kari Kautsky, yang mengatakan bahwa tibanya keruntuhan kapitalisme mungkin masih akan tertunda lebih lama dengan munculnya ‘ultra-imperialisme’ yang menghentikan buat sementara perang antara sesama imperialis. Bila ditinjau lebih jauh lagi, karya Lenin mengenai imperialisme lebih banyak dibaca sebagai fiksi berapi-api ketimbang risalah ilmiah, namun bobotnya tentu saja meningkat dengan keberhasilan faksi Lenin merebut kekuasaan di Rusia pada 1917 sehingga bertahun-tahun sesudahnya karya itu tetap dipandang sebagai semacam kitab suci yang tidak bisa diganggu-gugat. Tidak berapa lama setelah Revolusi Rusia, Lenin juga terpaku pada salah satu penafsiran konsep imperialisme, yakni sebagai ideologi politik, sebagai senjata melawan kerajaan non-komunis. Kecenderungan ini terus dilanjutkan Stalin, yang berkata pada Kongres Keduapuluh Partai Komunis Rusia pada 1923: “Kita bisa jadi akan berhasil mengendalikan usaha-usaha dalam merevolusionerkan sayap belakang impe-rialisme negara-negara kolonial dan semi-kolonial di Timur  dan dengan demikian mempercepat keruntuhan imperialisme; atau bisa jadi kita akan gagal melakukan hal itu dan demikian malah memperkuat imperialisme dan memperlemah kekuatan gerakan kita”. Pernyataan Stalin ini membalikkan pandangan asli Marx bahwa imperialisme bermanfaat bagi kapitalisme tapi hanya menempati posisi marjinal dalam perkembangannya, dan ia memasukkan sebuah kebijakan klise bahwa, pertama, imperialisme adalah kabar buruk bagi semua bagian dunia yang tertinggal, dan kedua, imperialisme menempati posisi sentral dalam perkembangan kapitalisme itu sendiri. Pandangan pertama itu kemudian disebarluaskan oleh mahzab underdevelopment yang dipelopori Andre Gundar Frank, dan menyerang pandangan kedua dari jurusan kanan dan kiri. Pandangan kedua ini membawa para sejarahwan kepada perdebatan yang fokusnya aneh, yakni partisipasi kekuatan kolonial Afrika menjelang abad sembilanbelas, dan ‘teori imperialisme ekonomi’ menjadi semacam boneka sawah dalam perdebatan ini, karena imperialisme (dalam hampir semua pandangan Marxis) belum muncul sampai terjadinya Scramble of Afrika. Lenin jelas keliru menafsirkan arah dari penanaman modal luar negeri, apalagi mengenai makna politisnya. Hanya pada kasus Afrika Selatan (dan barangkali Kuba) terdapat kasus yang masuk akal di mana imperialisme ekonomi identik dengan aneksasi kolonial: di daratan Eropa waktu itu. Perang Afrika Selatan justru populer dengan nama Boers contre la Bourse . Kelemahan-kelemahan lain dari pandangan imperialisme Marxis disebabkan Lenin memakai konsepsi imperialisme Hobson (1923). Hobson adalah pengecam keras penanaman modal Inggris ke luar negeri, tapi untuk alasan-alasan yang sangat tidak Marxis. Ia sendiri adalah penganut liberalisme perdagangan yang melihat aneksasi-aneksasi kolonial dan perang sebagai cara yang benar-benar ekspansif untuk meningkatkan kekuatan dan keuntungan bagi segelintir kelas rentenir kapitalis, yang ingin mengejar laba di luar karena sempitnya peluang di dalam negeri sendiri. Hanya dengan memanipulasi massa melalui daya tarik patriotisme mereka, maka segelintir kelas kapitalis ini bisa menjalankan tipu muslihat yang luar biasa itu. Idealnya, reformasi sosial seharusnya meningkatkan daya beli massa dan dengan demikian menambah kekuatan imperialisme. Lenin tidak mengacuhkan teori Hobson dan ia hanya mengambil fakta-faktanya saja. Dalam rumusannya, fakta-fakta mengenai kesesuaian penanaman modal luar negeri dengan aneksasi kolonial tampaknya telah disalah tafsirkan, demikian pula teorinya. Pandangan Hobson tentang under-consumption lalu diambil alih dan diberi makna baru oleh John Maynard Keynes, sementara intuisi-intuisinya mengenai hubungan antara aneksasi-aneksasi di luar negeri dan struktur sosial metropolitan belakangan diambil alih oleh Joseph Schumpeter dan Hannah Arendt (untuk analisis mengenai asal-usul Fasisme). Schumpeter menulis esainya Zur Soziologie der Imperialismen (1919) sebagai serangan langsung terhadap teori-teori imperialisme Marxis. Dalam anggapannya, kapitalisme itu sendiri pada hakikatnya bersifat anti-imperialis, sehingga kecenderungan-kencenderungan monopolostik dan ekspansionis yang menjadi ciri kapitalisme sebelum 1914 ia letakkan sebagai pengaruh buruk dari perjuangan militerisme yang anakronistik di akhir masa feodal Eropa. Schumpeter mendefinisikan imperialisme sebagai watak yang tak terbendung dari pihak negara untuk melakukan ekspansi dengan kekuatan tak terbatas’. Kelemahan mendasar dari rumusan ini adalah aneksasi kolonial Eropa di akhir abad sembilanbelas dan awal abad duapuluh hanya kadang-kadang saja demikian, tapi tidak selalu. Demikian pula halnya dengan penanaman modal Eropa di luar negeri di akhir abad sembilanbelas tidak selamanya menuju wila-yah aneksasi kolonial Eropa, tapi memang kadang-kadang demikian. Lebih jauh, kendati teori imperialisme ekonomi mungkin hanya boneka sawah dalam perdebatan mengenai sebab-sebab Scramble for Afrika, adalah hal yang absurd untuk mengatakan bahwa para partisioner tidak yakin bahwa Afrika Hitam memiliki sesuatu yang mengandung manfaat ekonomi. Imperialisme memang perlu didemitologisasi, bukan sekedar dipromosikan begitu saja. Barangkali imperialisme akan lebih baik di-definisikan dalam ukuran-ukuran menengah saja. Sebagaimana yang termaktub dalam etimologi kata ini sendiri, imperialisme berhubungan erat dengan imperium dan kolonialisme, tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam Doktrin Monroe (1823) Amerika disahkan sebagai sebuah imperium baru negara-negara Eropa — namun ini tidak termasuk ‘diplomasi dolar Amerika yang terjadi di masa sesudahnya, yang kadang-kadang disokong dengan kekuatan senjata, meskipun biasanya sudah cukup dengan sedikit ancaman dan manipulasi keuangan. Kapitalisme juga tidak mesti berhubungan dengan imperialisme teritorial, kendati kadang-kadang demikian, khususnya dalam kasus ketergantungan kolonial Afrika dan Asia yang terjadi selama paruh kedua abad sembilanbelas. Karena itu, analisis imperialisme sebaiknya dipisahkan dari analisis kapitalisme dan kolonialisme, dan secara terpisah diperlakukan sebagai tujuan dan kebijakan ekonomi yang tak setara antar-negara, yang didukung dengan penggunaan kekerasan. Dengan definisi demikian, imperialisme sebagai imperium formal (‘atau kolonialisme’) sebagian besar adalah cerita masa lalu, kecuali strategi koloni (colonies de position). Namun imperialisme sebagai imperium informal (atau meminjam istilah Nkrumah, ‘neo-kolonialisme’) barangkali masih memiliki masa depan  dalam pembelahan dunia komunis dan non-komunis yang bertahan hingga akhir Perang Dingin.

PENGERTIAN IMPERIALISME | ok-review | 4.5