PENGERTIAN IMPERIALISME

By On Sunday, March 30th, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN IMPERIALISME – Dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk menguasai atau mengendalikan negara lain atau sebagian wilayah Negara lain demi keuntungan ekonomi, geografi, politik, maupun so­sial budaya. Kata imperialisme yang dapat juga diarti­kan penjajahan, berasal dari bahasa Latin imperare yang artinya memerintah, dan imperium yang artinya hak untuk memerintah. Pada awalnya, yang biasa diberi imperium adalah raja, sehingga ia juga sering disebut imperator, dan wilayah kerajaannya disebut imperium. Pada jaman kuno, kebesaran raja diukur menurut luas wilayahnya, sehingga timbul keinginan raja-raja untuk memperluas wilayahnya dengan cara merebut daerah negara lain. Tindakan seperti inilah yang menjadi awal pengertian imperialisme.
Istilah imperialisme itu sendiri muncul pertama kali di Inggris pada abad ke-19, ketika Disraeli menjadi perdana menteri Inggris. Cita-cita politik Disraeli ada­lah memperluas Kerajaan Inggris ke seluruh dunia, sehingga akhirnya Kerajaan Inggris disebut empire. Meskipun mendapat tentangan dari kaum oposisi (yang sering disebut Little England), cita-cita politik Disraeli itu masih tetap mendapat dukungan dari be­berapa tokoh politik di Inggris, seperti Joseph Cham­berlain dan Cecil Rhodes.
Lazimnya imperialisme dibagi menjadi dua macam, yakni imperialisme kuno dan imperialisme modern. Tetapi ada pula yang membaginya menjadi tiga ma­cam, yaitu imperialisme kuno, imperialisme modern, dan imperialisme ultra modern. Imperialisme kuno berlangsung pada jaman kuno dan Abad Pertengahan, yang menurut Huszar, ahli politik Hungaria, dan Stevenson, ahli politik Amerika, berlangsung sampai sekitar tahun 1500. Imperialisme kuno menekankan ekspansi atau perluasan teritorial yang dilakukan oleh negara kuat kepada negara- negara lemah tetangganya, misalnya yang terjadi dalam sejarah India Kuno, Cina Kuno, Persia, Ke­rajaan Mongol, Yunani, Masedonia, dan Romawi Ku­no. Di samping motif teritorial, imperialisme kuno juga terjadi karena alasan ingin menyebarkan agama, mengejar kekayaan, serta mencari kejayaan. Atas da­sar ini sering dikatakan bahwa inti imperialisme kuno adalah tiga g, yakni gospel (injil, penyebaran agama), gold (emas), dan glory (kekayaan).
Inti utama imperialisme modern adalah alasan eko­nomi. Imperialisme modern timbul akibat adanya Re­volusi Industri. Pada umumnya imperialisme modern dibagi atas permulaan jaman modern yang sering juga disebut Early Modern Times, yaitu dari tahun 1500 hingga sekitar akhir abad ke-I8, dan sesudah abad ke-18 hingga akhir Perang Dunia II, yang oleh Huszar dan Stevenson disebut Recent Times. Penemuan alat- alat baru di bidang industri, termasuk industri perang dan pelayaran, misalnya kompas, dan penemuan be­nua baru, antara lain Amerika, menjadi pendorong tumbuhnya imperialisme modern.
Revolusi Industri menyebabkan timbulnya keingin­an untuk mencari daerah pasaran hasil industri dan daerah untuk mendapatkan bahan mentah yang di­perlukan bagi kelangsungan industri tersebut. Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Aus­tralia menjadi rebutan negara-negara Eropa. Negara Eropa Barat, seperti Inggris, Belanda, Belgia, Spanyol, Portugal, Perancis, dan Italia menjadi negara-negara imperialis yang memperebutkan wilayah di dunia ini. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan daerah- daerah jajahan, dan Inggris dengan angkatan lautnya yang kuat berhasil mengatasi negara-negara Eropa lainnya, sehingga banyak daerah di Asia, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, serta Australia yang jatuh ke tangan Inggris.
Setelah Perang Dunia II, situasi seperti ini diman­faatkan oleh Uni Soviet untuk menanamkan penga­ruhnya di daerah-daerah jajahan negara-negara Barat dengan mendorong munculnya gerakan kemerdekaan. Apa yang menjadi semboyan gerakan kemerdekaan acap kali dan bahkan selalu hampir sejalan dan se­iring dengan apa yang diperjuangkan oleh negara ko­munis. Akibatnya, sering sulit membedakan seorang tokoh nasionalis dan tokoh komunis. Namun, pen­dudukan Uni Soviet atas negara-negara Eropa Timur yang kemudian menjadi satelitnya telah menempat­kan negara Uni Soviet sebagai salah satu negara yang melakukan imperialisme. Tampaknya pendudukan Uni Soviet itu, selain sebagai strategi perang meng­hadapi Amerika Serikat dan kawan-kawannya, juga merupakan usaha penyebarluasan ideologi komunis.
Sesudah Perang Dunia II, muncul bentuk imperia­lisme yang lebih modern, yang disebut imperialisme ultra modern, atau, dengan istilah yang lebih dikenal, neokolonialisme. Bentuk imperialisme seperti ini bu­kan lagi penguasaan teritorial atau ekonomis, tetapi lebih mengutamakan bidang mental, ideologi, dan psikologi.
Atas dasar motif-motif atau maksud-maksud impe­rialisme itu, sering pula orang membagi imperialisme atas: (a) imperialisme politik, yang hendak menguasai segala-galanya dari negara atau daerah yang diduduki. Negara atau daerah yang diduduki merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya; (b) imperialisme eko­nomi, yang hanya menguasai perekonomian negara atau daerah yang diduduki atau direbut. Cara ini di­lakukan apabila si imperialis tidak dapat atau sulit menguasai negara lain melalui imperialisme politik. Cara ini acap kali dilakukan oleh negara-negara indus­tri, karena sukarnya penguasaan melalui imperialisme politik akibat kuatnya nasionalisme negara-negara ba­ru; (c) imperialisme kebudayaan, yang hendak me­nguasai jiwa suatu bangsa. Jika kebudayaan suaru bangsa dapat diubah, jiwa bangsa itu pun dapat di­ubah, karena dalam kebudayaan itulah terletak jiwa suatu bangsa. Apabila jiwa suatu bangsa dapat di­ubah, kebudayaan bangsa itu dapat lenyap dan digan­tikan dengan kebudayaan negara imperialis. Me­nguasai jiwa suatu bangsa juga berarti menguasai segala-galanya dari bangsa itu; (d) imperialisme militer, yang tidak ingin menguasai seluruh negara lain, tetapi cukup beberapa tempat yang sangat stra­tegis untuk kepentingan militer atau perang, atau yang cukup baik untuk kepentingan ekonomi. Tempat- tempat semacam ini dapat dipergunakan untuk men­jamin keselamatan negara-negara imperialis maupun untuk pangkalan guna melakukan agresi ke wilayah lain di negara lain. Menurut seorang ahli tata negara, Hans J. Morgan, untuk melaksanakan imperialisme dapat dipergunakan tiga metode, yaitu metode militer, metode ekonomi, dan metode kebudayaan.
Bagi Indonesia, imperialisme diyakini sebagai hal yang bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh sebab itu, dalam Pembukaan Undang- undang Dasar 1945, ditegaskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sebab tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri ke­adilan. Dalam hubungan ini pula negara Indonesia ter­panggil untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan ke­adilan sosial. Masa penjajahan yang cukup lama di Indonesia, 350 tahun oleh Belanda, Inggris, dan Jepang, merupa­kan masa yang suram dalam sejarah bangsa Indonesia. Bekas-bekasnya, terutama dalam bidang mental atau psikologi, sampai sekarang sering kali masih terasa. Acap kali dijumpai sikap rendah diri, penurut dan ta­kut mengambil keputusan yang seharusnya diambil.
Lamanya penjajahan ini menjadikan masa-masa dari tahun 1602 hingga 1945 sebagai jaman pertentang­an terhadap imperialisme. Di banyak tempat dijum­pai perang melawan penjajahan, sampai saat Indo­nesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi baru pada tahun 1949, sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Namun, Irian Barat (Irian Jaya) masih di bawah pen­jajahan Belanda. Baru setelah adanya Operasi Trikora dan Pepera, Irian Barat kembali ke pangkuan RI.
Berakhirnya penjajahan Belanda atas Indonesia mi tidak berarti bahwa imperalisme telah terkikis habis. Bentuk-bentuk penjajahan lain, seperti dalam bidang ideologi, ekonomi, dan kebudayaan masih tampak mengganggu perjalanan bangsa Indonesia. Dalam rangka ini pula, kita sering diingatkan oleh pidato- pidato Presiden RI pertama, bahwa Indonesia tidak hanya menentang penjajahan dalam arti teritorial saja, tetapi menentang imperialisme dan kolonialisme da­lam segala bentuk dan manifestasinya.

PENGERTIAN IMPERIALISME | ok-review | 4.5