PENGERTIAN IMAM

By On Sunday, March 30th, 2014 Categories : Antropologi, Filsafat, Review

PENGERTIAN IMAM – Dari kata Arab yang berarti pemimpin iba­dat dan/atau umat. Dalam Perjanjian Lama, kata itu mula-mula berarti kepala keluarga atau suku yang menjalankan fungsi imamat, kemudian kepala keluar- E ga Harun dari suku Levi untuk seluruh Israil. Sejak jaman Raja Salomon hanya keturunan Sadok yang I boleh menjalankan fungsi imamat dalam Baitullah yang dibangun raja itu di Yerusalem pada abad ke-10 SM. Imamat Perjanjian Lama diwariskan dalam ke­luarga dengan tugas pokok mengajar agama dan iba­dat (Taurat), mempersembahkan kurban dan meng­urus Baitullah. Kaum imam dan ibadat mereka di Yerusalem sering dikritik oleh para nabi. Para imam kepala dan kaum Saduki menolak Yesus antara lain karena sikap kritis Yesus terhadap komersialisasi kur­ban. Tetapi setelah kebangkitan Yesus banyak imam bertobat menjadi Kristen.
Perjanjian Baru menggunakan perkataan imam (bahasa Yunani hiereus) hanya untuk imam Yahudi dan untuk Kristus sebagai Imam Agung. Kristus me­nyelesaikan imamat dan segala kurban Perjanjian La­ma dengan mengurbankan diri di kayu salib. Kurban ini memadai untuk segala jaman, sehingga kurban sembelihan Yahudi dan kurban lain apa pun diang­gap tidak berarti lagi. Umat Kristen Yerusalem mula- mula masih mengunjungi Baitullah di kota itu, tetapi hanya untuk berdoa. Kurban dan imam mereka satu- satunya adalah Yesus Kristus yang ditolak oleh imam kepala dari kaum Saduki, tetapi dibenarkan Allah dengan membangkitkanNya dari antara orang mati (Surat Ibrani 4-12).
Keduabelas rasul, yang dipilih Yesus supaya men­jadi saksi mata tentang pengajaran, wafat dan kebangkitan-Nya, menerima Roh Kudus untuk mewartakan Kabar Gembira tentang Yesus, Utusan Ilahi, sampai ke ujung bumi. Mereka ditugasi Yesus untuk mem­baptis dan menghimpun orang yang percaya pada per- wartaan mereka dan menggembalakan umat baru. Para rasul diberi tugas dan wewenang khusus oleh Yesus supaya merayakan Perjamuan Suci. Pengganti para rasul, yaitu para uskup dan imam, yang dalam Gereja Katolik disebut presbiter (Yunani) atau priest (Inggris), dalam bahasa Indonesia diterjemahkan de­ngan imam, yang arti aslinya adalah pemimpin umat dan ibadat dan bukan pembawa kurban dan pengan­tara, sebab imam dan pengantara satu-satunya ada­lah Kristus.
Karena pada Abad Pertengahan segi kultus (mem­bawa kurban dan memimpin upacara) terlalu diton­jolkan dalam teologi Katolik, maka para reformator abad ke-16 menolak imamat jabatan dan hanya meng­akui imamat umum semua orang beriman. Konsili Triento (1545-1563) mempertahankan imamat jabat­an dalam Gereja Katolik yang diberikan dengan Sakra­men Tahbisan oleh seorang uskup, sebab para imam mengetuai perayaan Ekaristi, yaitu persembahan syu­kur kepada Allah Bapa yang dilakukan Kristus ber­sama umat-Nya sebagai kepala. Kristus adalah satu- satunya Imam, tetapi Ia direpresentasikan atau diwa­kili dalam umat oleh imam jabatan. Mereka menge­tuai umat Allah dalam perayaan dan bertindak atas nama Yesus Kristus. Kedua fungsi itu saling ber­hubungan.
Anggota imamat jabatan diperbantukan pada us­kup untuk memberi pelayanan rohani terhadap umat yang semakin banyak dan semakin tersebar. Dalam liturgi tahbisan, sesudah uskup, para imam yang ha­dir juga menumpangkan tangan ke atas kepala rekan- rekan baru itu. Imam boleh menerimakan semua sakramen (kecuali tahbisan). Ia mewartakan sabda Allah sebagaimana terdapat dalam Kitab Suci dan diterangkan oleh tradisi Gereja dan membina umat, se­hingga mewujudkan persatuan dan persaudaraan da­lam imam. Dibedakan antara imam praja dan imam religius yang menjadi anggota salah satu ordo atau kongregasi. Dalam Gereja Katolik para imam Ritus Latin tidak boleh menikah (selibat), sedangkan dalam Ritus Timur terdapat imam Katolik yang beristri.
 
PENGERTIAN IMAM – Dalam agama Islam, secara bahasa berarti seorang pemimpin yang berdiri di depan. Dalam ke­hidupan umat Islam, imam adalah orang yang me­mimpin salat. Yang berhak menjadi imam salat ada­lah setiap orang muslim yang mampu membaca ayat- ayat al-Quran dengan fasih. Biasanya imam salat itu dikaitkan dengan mesjid, tempat melakukan salat far- du. Karena itu dikenal sebutan imam rawatib, yaitu seseorang yang diberi kepercayaan untuk memimpin salat berjamaah di mesjid atau langgar, setiap waktu salat. Untuk mesjid besar atau mesjid jami’ yang ling­kungan jamaahnya cukup luas, dikenal jabatan imam besar yang biasa memimpin salat Jumat atau salat Id. Imam besar itu sekaligus menjadi tokoh yang memim­pin mesjid jami’ dengan segala kegiatannya. Imam be­sar biasanya seorang ulama.
Di samping berkaitan dengan salat atau mesjid, se­butan imam juga diberikan kepada para ulama besar, sehingga dikenallah sebutan imam mazhab, yaitu ula­ma pendiri atau pemuka suatu mazhab, seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Han- bali dalam bidang fikih; Imam Asy’ari dan Imam Ma- turidi dalam bidang teologi (kalam); dan Imam Gha- zali dalam bidang tasawuf. Sebutan imam juga dibe­rikan kepada ulama besar lainnya, seperti Imam al- Thabari sebagai tokoh ahli tafsir, Imam Bukhari dan Imam Muslim sebagai tokoh pengumpul hadis, dan Imam Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaharu.
Di kalangan muslim Syiah, sebutan imam diberi­kan kepada pemimpin keagamaan sejak Imam Ali bin Abi Thalib sampai Imam Muhammad (lahir pada tahun 868) yang menghilang, yang dipercayai akan datang kembali sebagai Imam Mahdi di akhir jaman. Sekarang Khomeini sebagai tokoh sentral revolusi di Iran juga dipanggil oleh pengikutnya dengan sebutan Imam.

PENGERTIAN IMAM | ok-review | 4.5