PENGERTIAN ILMU EKONOMI KLASIK

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Inti visi ilmu ekonomi klasik terletak pada gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi berlangsung melalui interaksi antara akumulasi modal dan pembagian kerja. Akumulasi modal dapat dilakukan dengan menunda atau mengurangi penjualan output dan hal ini baru akan bermanfaat jika dibarengi pengembangan spesialisasi dan pembagian kerja. Kontribusi rintisan yang diwariskan oleh Hume terutama berkaitan dengan kajian komprehensif-ilmiah mengenai uang dan neraca pembayaran (balance of payments). Sedangkan karya besar Smith yang menjadi pijakan berkembangnya ilmu ekonomi modern berfokus pada masalah kunci di seputar pertumbuhan ekonomi (economic growth) dan meliputi berbagai topik penting seperti pem-bagian tenaga kerja (division of labour), distribusi, akumulasi modal, kebijakan perdagangan dan kolonial, serta keuangan publik. Tokoh penting berikutnya adalah Thomas Robert Malthus yang sangat terkenal dengan karya-karyanya mengenai kependudukan. walaupun sesungguhnya Malthus tidak hanya mengulas soal-soal yang nantinya menjadi cikal-bakal ekonomi kependudukan, namun juga membahas berbagai topik ekonomi secara luas. Ilmu ekonomi klasik meliputi puluhan bidang ekonomi, namun penekanannya terletak reda berbagai masalah di seputar ukuran-ukuran agregat seperti pertumbuhan ekonomi. Individu-individu senantiasa bergerak berdasarkan motivasi pengejaran kepentingan diri mereka sendiri, dan bahwa upaya-upaya mereka itu senantiasa dibatasi oleh suatu kerangka hukum, agama, tradisi, dan pertimbangan-pertimbangan kepentingan sosial. Ini berarti dalam soal kebijakan ekonomi, ilmu ekonomi klasik cenderung menolak campur-tangan negara atau pemerintah yang justru dianggap mengganggu kepentingan-kepentingan individual. Keyakinan itu juga didasarkan pada asumsi bahwa individu memiliki pengetahuan serta motivasi yang lebih baik ketimbang negara atau pemerintah sehingga kerangka hukum atau legislatif yang harus dipatuhi tidak perlu diperluas atau ditekankan karena setiap individu akan dapat mempelajari segala norma dengan cepat berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Pembagian kerja itu sendiri nantinya akan dapat meningkatkan total output sehingga memudahkan dilakukannya akumulasi modal lebih lanjut. Jadi jelaslah bahwa antara kedua hal itu terdapat hubungan timbal-balik yang sangat penting. Pertumbuhan ekonomi hanya dapat ditingkatkan jika modal bisa ditambah, dan atau jika alokasi sumber daya (pembagian kerja) dapat disempurnakan. Namun pembagian kerja itu sendiri dibatasi oleh ukuran atau skala pasar, yang pada gilirannya ditentukan oleh jumlah penduduk dan pendapatan per kapita yang ada. Tatkala modal mulai terakumulasi, tenaga kerja akan kian dibutuhkan sehingga tingkat upah pun meningkat untuk memenuhi kebutuhan “subsisten”, baik secara psikologis maupun fisiologis. Populasi akan bertambah sebagai respon terhadap peningkatan upah itu. Pertambahan penduduk tersebut selanjutnya akan meningkatkan pasokan tenaga kerja yang akan menurunkan kembali tingkat upah sehingga menyamai tingkat subsistennya. Ketika tingkat upah naik, laba perusahaan pasti turun yang selanjutnya akan membatasi akumulasi modal. Namun selama laba itu di atas batas minimum, akumulasi modal akan terus berlangsung. Dengan demikian, output, populasi dan modal dapat tumbuh secara bersamaan. Namun pertumbuhan ekonomi bisa terganggu oleh kelangkaan input penting ketiga yakni tanah. Seiring dengan kian lajunya pertumbuhan ekonomi, maka pangan kian mahal sehingga para pemilik tanah akan menikmati keuntungan yang kian bertambah dari penyewaan lahannya. Aspek ini sangat ditekankan oleh Malthus dan Richardo. Kenaikan biaya atau harga pangan juga mengisyaratkan bahwa ambang subsisten dapat turun sehingga upah yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik pokok pun meningkat. Ricardo berpendapat hal itu dapat menurunkan laba dan selanjutnya menghentikan akumulasi modal serta pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Smith sendiri dahulu percaya pertumbuhan ekonomi pun dapat terhenti yakni apabila peluang-peluang investasi susut. Ricardo menggunakan analisisnya itu untuk menghimbau pencabutan Corn Laws yang membatasi impor bahan pangan, karena impor pangan memung-kinkan tercapainya ambang subsisten secara lebih murah. Para ekonom klasik berikutnya seperti McCulloch dan J.S. Mill bersikap optimis terhadap adanya kemajuan-kemajuan teknologi pertanian yang mereka yakini memang bersifat positif karena akan dapat memperlambat atau menunda penurunan pertumbuhan ekonomi karena teknologi tersebut dapat menurunkan biaya output pertanian.
Argumen pencabutan undang-undang pembatasan masuknya aneka produk impor ke Inggris itu (Com Laws) itu pula yang menjadi salah satu landasan klasik bagi dilangsungkannya perdagangan bebas. Hasrat memperluas pasar guna memaksimalkan pembagian kerja adalah argumen berikutnya. Argumen bagi adanya perdagangan bebas yang lebih canggih dirumuskan oleh R. Torrens (1820; 1821) dan juga Ricardo, dalam bentuk teori keunggulan komparatif (comparative advantage) yang selanjutnya disempurnakan dan dikembangkan lebih lanjut oleh J.S. Mill. Teori dasar perdagangan internasional ini memperlihatkan bahwa suatu negara dapat memperoleh keuntungan dengan mengimpor komoditi-komoditi yang keunggulan komparatifnya tidak ia kuasai, dan untuk selanjutnya ia harus berkonsentrasi memproduksi komoditi-komoditi yang keunggulan komparatifnya ia kuasai (di mana faktor produksi yang dibutuhkan untuk membuat komoditi itu berlimpah). Bagi para ekonom klasik, keseimbangan neraca pembayaran akan tercipta secara otomatis. David Hume adalah tokoh pertama yang mengembangkan rumusan itu, yang selanjutnya menjadi landasan moneter klasik (teori Hume itulah yang disebut sebagai mekanisme arus harga-logam mulia). Dalam model ini, defisit neraca pembayaran akan mengakibatkan arus keluar emas yang selanjutnya menurunkan penawaran uang dan tingkat harga sehingga produk ekspor dari negara yang bersangkutan kian kompetitif dan impor menjadi kian mahal. Proses tersebut akan terus berlangsung sampai arus keluar emas terhenti (perdagangan negara itu mencapai keseimbangan) dan neraca pembayarannya mencapai kondisi ekuilibrium. Dengan demikian tingkat harga senantiasa ditentukan oleh tingkat penawaran uang. Pandangan klasik yang berlaku sejak zaman Ricardo sampai Lord Overstone (1837) adalah bahwa penawaran uang harus dibatasi ketika emas mengalir keluar.

PENGERTIAN ILMU EKONOMI KLASIK | ok-review | 4.5