PENGERTIAN ILMU EKONOMI EVOLUSIONER – EVOLUSI

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Ekonomi

Perhatian pokok analisis ekonomi evolusioner adalah untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana perekonomian dunia berubah, sehingga tinjauannya bersifat dinamis demi menangkap keragaman perilaku yang memperkaya perubahan sejarah. Evolusi bukanlah perubahan semu melainkan perubahan nyata yang relatif lambat yang dialami entitas-entitas tertentu dalam suatu populasi dan hal itu dipengaaihi oleh beroperasinya mekanisme-meknisme tertentu. Ini merupakan tema yang dibicarakan secara intensif dalam sejarah (Landes, 1968; Mokyr, 1991). Struktur entitas ekonomi yang senantiasa berubah, yang antara lain bisa diamati dengan naik turunnya pertumbuhan ekonomi dan jatuh bangunnya perusahaan, kota-kota, kawasan dan negara, mencerminkan evolusi selalu beroperasi pada tingkat yang berlainan dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda dan hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya bidang-bidang baru kegiatan ekonomi. Digantikannya energi gas oleh listrik, cepatnya pemakaian robot di pabrik-pabrik, serta tergusurnya toko-toko kecil oleh supermarket, berkembangnya pola kerja paruh waktu yang mengimbangi pola kerja secara penuh, serta bergesernya perimbangan sektor-sektor penyerap tenaga kerja, antara pertanian, manufaktur dan jasa-jasa. semuanya bertolak dari suatu mekanisme yang sama yang menentukan pula keragaman perilaku ekonomi. Itulah fakta dasar yang membuat setiap ilmu sosial berusaha memahami interaksi antara individu dan organisasi. Seperti halnya pada teori evolusioner modern, proses ini berlaku pula di berbagai kegiatan ekonomi, tergantung pada apa yang dianggap layak sebagai unit-unit seleksi. Namun terlepas dari apakah kadar persoalannya sama, unsur-unsur spesifikasi keragaman perilaku dan identifikasi mekanisme seleksi akan menerjemahkan keragaman ke dalam perubahan ekonomi, dan analisis umpan balik serta berbagai mekanisme lainnya yang membentuk dan meregenerasikan keragaman itu dari waktu ke waktu. Hal lain yang termaktub di dalamnya adalah suatu perspektif populasi yang memandang perilaku senantiasa berulang, kecuali ketika hal itu berfungsi sebagai suatu artefak statistik. Sebelum menjabarkan konsepsi tersebut lebih jauh, kita perlu menyimak rumusan Lewontin (1982) mengenai syarat-syarat bagi berlakunya teori evolusioner, yakni entitas-entitas yang memiliki berbagai karakteristik atau ciri perilaku. Kita perlu memperjelas hal ini terlebih dahulu agar kita tidak terjebak pada pandangan-pandangan mengenai evolusi yang relatif naif dan tidak didasarkan pada mekanisme genetik apa pun. Apa yang terpenting di sini adalah stabilitas kelangsungan perilaku dari waktu ke waktu, sehingga kita dapat mengaitkan ciri-ciri perilaku di masa mendatang dengan yang ada pada saat ini. Jadi, inersia (inertia) adalah elemen pengikat penting dan tampak jelas bahwa evolusi tidak dapat berlangsung di dunia di mana individu- individu atau organisasinya berperilaku secara acak/random. Dalam kajian mengenai sumber keragaman perilaku ekonomi, para pengamat cenderung menekankan pengaruh teknologi, organisasi dan manajemen berdasarkan pemahaman bagaimana suatu tindakan dilangsungkan sehingga memunculkan ciri-ciri perilaku yang menguntungkan. Lalu apakah revolusi itu mengandung rasionalitas? Tampaknya tidak. Dalam dunia di mana pengetahuan dihargai cukup mahal dan kapasitas komputasional senantiasa terbatas, maka kita tidak memiliki pijakan yang layak untuk mengupayakan optimisasi yang pasti sebagai pedoman untuk menilai perilaku. Tidak disangkal lagi bahwa individu senantiasa mencari hasil yang terbaik dari serangkaian pilihan yang tersedia, namun kalkulasi yang dipergunakannya bisa saja bersifat lokal, dan tidak hams bersifat global. Di sinilah terletak sumber keragaman perilaku itu. Setiap orang mengetahui banyak hal, mereka hidup di dunia yang sama, namun mereka memiliki persepsi (bayangan) yang berbeda-beda. Jadi tidaklah mengherankan kalau analisis evolusioner menegaskan rasionalitas memang tidak perlu dipersoalkan meski pun pada prakteknya perilaku seseorang senantiasa didasarkan pada aturan-aturan yang stabil dan berkembang menyesuaikan diri sesuai dengan situasi yang ada. Hanya dengan pemahaman itulah maka kita bisa memperoleh keuntungan dari studi mengenai fungsi internal organisasi. Karena fondasi dari berbagai persoalan seperti itu adalah akuisisi pengetahuan, maka jelaslah tidak ada benang merah yang utuh dalam epistemologi evolusioner yang tengah berkembang pesat itu. Intensionalitas atau tujuan perilaku ekonomi itu bukan merupakan suatu masalah, bahkan sebaliknya dapat membantu kita untuk memahami bagaimana variasi ekonomi dapat ditata dan disalurkan pada berbagai individu dan organisasi yang tepat yang masing-masing juga memiliki perilaku berbeda. Hal sederhana yang perlu kita tanggapi di sini adalah bahwa sumber-sumber keragaman ekonomi itu jauh lebih kaya ketimbang sumber-sumber keragaman biologis.
Gambaran dasar mengenai mikro-evolusi ekonomi adalah sebagai berikut. Perhatian utamanya tertuju pada suatu populasi yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang saling bersaing, yang masing-masing menghasilkan satu atau lebih produk, dan setiap produk dibuat dengan metode tersendiri sesuai dengan teknologi, organisasi dan aturan-aturan manajemennya yang dimiliki suatu perusahaan. Perusahaan adalah wahana koordinasi kegiatan yang bertujuan melaksanakan produksi output yang dapat dijual yang oleh para evolusionis disebut replikator karena dalam proses itu perusahaan yang bersangkutan melakukan pola perilaku tertentu yang sama dan berulang-ulang. Perusahaan itu berinteraksi dengan perusahaan lain di pasar yang sama guna menjual produk dan membeli input yang diperlukannya untuk proses produksi. Hasil dari interaksi pasar itulah yang menentukan kualitas ekonomis dari produk-produknya, kelayakan harga yang dapat dikenakannya serta biaya ekonomis yang harus ditanggungnya dalam melangsungkan produksi. Pihak pemakai senantiasa mengadakan perbandingan atau pemilihan produk dan mereka selalu siap berpindah pada produk lain yang kualitas dan harganya lebih baik. Hal ini harus senantiasa dipertimbangkan oleh perusahaan demi mempertahankan laba mereka dalam rangka mengaku-mulasikan kapabilitas produktif dan pemasaran. Singkatnya, perbedaan-perbedaan dasar dalam aturan perilaku akan menjurus pada perbedaan harga, biaya dan tingkat profitabilitas yang selanjutnya berfungsi sebagai landasan pertukaran dinamis. Aturan umumnya adalah, semakin menguntungkan suatu perusahaan, maka ia akan terus berkembang atas pengorbanan perusahaan lain yang kurang menguntungkan. Atau. dalam setiap pasar senantiasa terkandung mekanisme seleksi jenis produk dan metode produksi yang pada akhirnya bisa menentukan perusahaan mana saja yang bisa bertahan dan siapa yang harus tersingkir. Inilah yang sesungguhnya dimaksudkan dengan gagasan ketangguhan ekonomis. Jika prosesnya terus berlangsung, dengan catatan lingkungan tidak mengalami perubahan yang berarti, maka frekuensi distribusi output akan memusatkan kekuatan pada perusahaan yang mampu menekan biaya dan menghasilkan produk yang lebih baik. sedangkan perusahaan-perusahaan lain pada akhirnya harus menyingkir karena bangkrut. Konsentrasi pasar dan evolusi berjalan beriringan karena keduanya merupakan wujud kompetisi yang akan melenyapkan yang lemah. Jadi, selama evolusi ekonomis itu berlangsung, mekanisme-mekanisme dalam pasar terus akan bekerja meregenerasikan keragaman. Atas dasar itu inovasi adalah komponen penting dalam kajian makro-evolusioner. Di mata ekonom, inovasi tersebut bisa diwujudkan sebagai peningkatan kegiatan teknologi, serta pemanfaatan peluang-peluang produktif yang baru. Inovasi harus senantiasa diupayakan, namun hal ini tidak mudah mengingat inovasi itu sendiri bagaikan mutasi acak yang kehadirannya tidak bisa sepenuhnya dipastikan. Dalam menjelaskan terjadinya keragaman di pasar, pendekatan evolusionis sekaligus juga mencoba menjelaskan proses sejarah yang tengah berlangsung. Hal penting yang tersirat dalam penjelasan di atas adalah adanya perspektif ganda mengenai evolusi ekonomi. Perspektif itu terpusat pada peran tradisional pasar sebagai wahana koordinasi. Dinyatakan bahwa dalam interaksi-interaksi pasar itulah profitabilitas dari berbagai pola perilaku ditentukan, yang kemudian akan menentukan cara investasi sumber daya dan pengembangan inovasi. Semuanya berlangsung atas dasar kompetisi di dalam dan antar-sektor industri. Ini merupakan pandangan eksternalis evolusi yang mengaitkan unit seleksi dengan kondisi lingkungan. Hai lain yang tidak kalah pentingnya adalah perspektif internalis yang berkenaan dengan proses pembentukan dan seleksi yang berlangsung dalam ruang lingkup organisasi yang akan menentukan ketangguhan pola dan aturan perilaku dari organisasi yang bersangkutan dari waktu ke waktu Proses internal dan eksternal ini berinteraksi dengan kecepatan dan tingkatan yang berbeda secara kompleks. Proses yang sama sesungguhnya juga terjadi di lingkungan masyarakat ilmiah yang senantiasa menggali, menyeleksi dan merumuskan berbagai hipotesa sebagai bahan penje-lasan atas suatu fenomena atau peristiwa. Proses itu pula yang ditempuh oleh pemerintah dalam memainkan perannya sebagai pengatur. Semua turut memberi implikasi bagi perspektif ganda dalam evolusi ekonomi. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa perspektif evolusioner dalam ilmu ekonomi itu sangat menarik. Setelah terlepas dari perspektif biologi serta berbagai perangkat komputasi dan matematika modem, kini tersedia agenda yang begitu kaya untuk dieksplorasi yang menghapuskan keraguan mengena: prospek perkembangan, pendekatan atau perspektif ini. Dalam waktu bersamaan perspektif tersebut telah menjawab salah satu pertanyaan filosofi tertua yakni bagaimana tatanan dan struktur bisa muncul dari perilaku yang beragan. Jika bukan Darwinisme universal, sekurang-kurangnya kita bisa mengatakan bahwa dari perspektif itu kita telah memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai evolusi dan kedudukannya dalam sejarah.

PENGERTIAN ILMU EKONOMI EVOLUSIONER – EVOLUSI | ok-review | 4.5