PENGERTIAN IKLIM

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Ilmu Alam

PENGERTIAN IKLIM. Adalah cuaca rata-rata suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Setiap tempat di bumi memiliki iklim sendiri. Tempat-tempat yang berjauhan letak­nya bisa memiliki iklim serupa. Namun, mungkin ada perbedaan iklim antara bukit dan lembah di dekat­nya, atau kota dengan desa-desa di sekelilingnya. Se­cara keseluruhan, iklim mempengaruhi kehidupan ma­nusia. Contohnya, iklim mempengaruhi jenis pakaian yang dikenakan dan jenis makanan yang disantap atau ditanam. Iklim juga mempengaruhi bentuk rumah un­tuk didiami dan jenis transportasi yang digunakan.
Para ahli selalu mengungkapkan iklim dalam ben­tuk suhu dan curah hujan rata-rata suatu daerah per bulan dan per tahun. Iklim dan cuaca tidak sama. Cuaca adalah kondisi atmosfer dalam kurun waktu singkat yang berubah dari hari ke hari. Untuk menentukan iklim suatu daerah, ahli-ahli klimatologi harus mempelajari kondisi cuaca setiap hari di suatu daerah selama beberapa tahun, umumnya 10 tahun.
Klasifikasi dan Penentuan Iklim.
Klimatologi ada­lah pengetahuan tentang iklim. Dalam menggambar­kan iklim tempat tertentu, ahli klimatologi memper­timbangkan sejumlah sifat atmosfer. Yang terpenting adalah suhu, curah hujan, kelembapan udara, tekanan udara, sinar matahari, dan angin. Selain perubahan rata-rata yang dinyatakan sebagai cuaca tahunan, iklim juga mengalami perubahan musiman curah hu­jan dan suhu. Beberapa perubahan memberikan sifat khusus terhadap iklim di tempat-tempat tertentu. Se­bagai contoh, Dili dan Bandung yang sama-sama ter­letak pada posisi sekitar 8°LS dan tergolong beriklim tropis, berbeda curah hujan dan suhu rata-ratanya. Bandung adalah kota bercurah hujan rata-rata 2.500 milimeter setahun dan bersuhu rata-rata 22°C, sedang­kan Dili bercurah hujan rata-rata 900 milimeter se­tahun dengan suhu rata-rata 33°C. Hal ini disebab­kan karena Bandung lebih tinggi terhadap muka air laut dan mendapat angin yang kaya uap air dari Samu- dera Hindia, sedangkan Dili mendapat angin yang miskin uap air.
Para pakar klimatologi mengembangkan berbagai sistem klasifikasi iklim. Akan tetapi, umumnya me­reka menyetujui adanya 12 jenis iklim utama, yaitu (1) iklim tropis basah, (2) iklim tropis kering, (3) iklim dataran tinggi, (4) iklim gurun, (5) iklim stepa, (6) iklim subtropis dengan musim panas yang kering, (7) iklim subtropis beruap air, (8) iklim lautan beruap air, (9) iklim benua beruap air, (10) iklim tundra, (11) iklim kutub, dan (12) iklim es abadi. Peta dunia dalam ar­tikel ini menunjukkan lokasi iklim-iklim tersebut.
Iklim diklasifikasikan dan dibedakan karena sejum­lah sebab, yaitu perbedaan posisi lintang, perbedaan suhu daratan dan air, dan perbedaan permukaan daratan.
Perbedaan posisi garis lintang sangat mempenga­ruhi iklim suatu daerah. Tempat-tempat yang berbeda jaraknya dari khatulistiwa menerima panas matahari dengan intensitas yang berbeda. Hal ini terjadi karena bumi berbentuk bulat, sehingga ada perbedaan sudut jatuhnya sinar matahari terhadap bagian bumi yang berlainan. Sinar matahari di daerah dekat khatulis­tiwa—daerah antara garis balik Utara dan garis balik Selatan pada peta, dan disebut beriklim tropis— jatuhnya hampir tegak lurus di atas kepala pada siang hari sepanjang tahun. Sinar matahari ini sangat pa­nas dan menghasilkan suhu tinggi di atas tanah. Te­tapi daerah khatulistiwa umumnya memiliki iklim ha­ngat sampai panas. Makin dekat khatulistiwa, bumi menerima panas dalam jumlah semakin besar.
Di daerah kutub matahari tidak pernah naik lebih tinggi dari garis horizon, karena itu di sana terjadi iklim kutub. Matahari yang lebih rendah dari garis cakrawala mempunyai pancaran sinar yang jatuhnya condong terhadap bumi. Sinar matahari yang condong memiliki intensitas panas yang sangat sedikit diban­ding yang jatuhnya tegak lurus, sehingga menghasil­kan suhu rendah dan iklim dingin.
Daerah lintang tengah atau daerah subtropika cen­derung memiliki suhu antara suhu daerah khatulistiwa dan suhu daerah kutub. Tempat ini lebih panas di­banding daerah kutub tetapi lebih dingin dibanding daerah khatulistiwa, dan menciptakan iklim sedang. Daerah subtropika terletak di antara Lingkaran Artik dan garis balik Utara di belahan bumi utara, dan di antara Lingkaran Antartika dan garis balik Selatan di belahan bumi selatan. Di sini sinar matahari, ja­tuh dalam berbagai variasi sudut.
Tempat-tempat yang berbeda jaraknya dari kha­tulistiwa bisa juga memiliki perbedaan curah hujan. Udara menyerap uap air dalam jumlah terbesar dari udara hangat yang berkembang di atas lautan dekat khatulistiwa. Umumnya uap air itu jatuh ke tanah se­bagai hujan di daratan sepanjang pantai. Akibatnya, tempat-tempat terbasah di dunia adalah daerah di de­kat khatulistiwa. Pada sisi lain, hujan ringan terjadi di daerah kutub.
Tempat-tempat yang berbeda jaraknya dari kha­tulistiwa bisa memiliki sirkulasi angin yang berbeda.
Angin dihasilkan dari pemanasan udara secara tidak rata di sekeliling bumi. Udara panas akan mengem­bang dan mengangkasa, aliran udara dingin meng­alir masuk menggantikan tempatnya. Proses perganti­an ini menghasilkan lingkaran angin-angin umum. Di daerah khatulistiwa, angin cenderung bertiup dari ti­mur ke barat. Di daerah subtropika, angin bertiup dari barat ke timur. Ahli iklim percaya bahwa angin-angin di daerah dekat kutub bertiup dari arah timur ke ba­rat. Angin mempengaruh keteduhan, kelembapan, curah hujan, dan suhu suatu daerah. Akibatnya, dae­rah yang memiliki perbedaan angin umum bisa me­miliki perbedaan iklim.
Perbedaan suhu daratan dan lautan juga mempe­ngaruhi iklim. Meskipun daerah-daearah iklim sudah dibagi berdasarkan garis lintang, dua lokasi pada ke­lompok garis lintang yang sama bisa memiliki iklim yang berbeda. Situasi ini bisa terjadi jika satu tempat terletak di tengah suatu benua dan yang lainnya me­rupakan daerah pantai. Lautan menjadi dingin dan panas secara lebih perlahan dibanding daratan. Pada musim panas, massa air tidak sepanas daratan, dan pada musim dingin air juga tidak terlalu dingin. Aki­batnya, daerah di tengah-tengah benua bisa lebih panas dalam musim panas dibanding daerah pantai, karena daerah pantai didinginkan oleh udara lautan. Sebaliknya pada musim dingin, daratan di tengah benua bisa lebih dingin dibanding daerah pantai, ka­rena daerah itu dipanaskan oleh udara lautan. Iklim di Indonesia tidak memiliki perbedaan suhu yang ekstrem—antara siang dan malam atau antara musim hujan dan kemarau— juga karena sebab ini.
Perbedaan muka daratan menghasilkan banyak perbedaan iklim. Ketika udara naik dan mengembang, suhunya menjadi lebih rendah. Udara dingin tidak da­pat memegang banyak uap air seperti udara hangat. Udara yang naik melintas gunung menjadi lebih dingin dan bisa melepaskan banyak uap air di tempat itu. Akibatnya, lokasi di atas gunung biasanya lebih di­ngin, beriklim lebih basah dibanding tempat yang le­bih rendah. Lereng gunung yang sisinya dilewati angin dari laut memiliki hujan yang lebat.
Daerah pegunungan memiliki iklim dataran tinggi. Jenis iklim ini tidak dapat didefinisikan secara pasti. Tempat di dekat daerah dataran tinggi agak berbeda iklimnya jika ketinggiannya berbeda, atau jika posisi relatifnya terhadap angin yang umum berbeda.
Gunung sangat berpengaruh terhadap iklim pada daerah-daerah rendah di dekatnya. Sebagai contoh, deretan Pegunungan Bukit Barisan di Sumatra mem­pengaruhi curah hujan di daerah-daerah di sekitarnya. Karena mendapat angin barat yang membawa uap air dari Samudera Hindia, daratan sebelah barat Sumatra yang membentang dari Aceh hingga Sumatra Selatan bercurah hujan rata-rata 3.000 hingga 4.000 milimeter setahunnya. Angin barat sudah kehilangan banyak uap air di sisi sebelah barat, maka sisi sebelah timur pulau Sumatra rata-rata bercurah hujan 2.000 mili­meter.
Berubahnya iklim.
Perubahan iklim selalu terjadi secara bertahap sepanjang tahun. Sebagai contoh, iklim di beberapa tempat di Amerika Utara agak le­bih dingin di akhir tahun 1960-an dan permulaan ta­hun 1970-an dibanding iklim sekitar 1930 dan 1940-an. Perubahan ini adalah bagian bentukan pola pendingin­an yang meliputi seluruh dunia pada akhir tahun 1940-an. Namun iklim di Amerika Utara lebih panas saat ini dibanding sekitar 15.000 tahun yang lalu. Pa­da saat itu, gletser menutup sebagian besar Kanada dan Amerika Serikat sebelah utara.
Ahli iklim mengetengahkan beberapa hal yang me­nyebabkan iklim berubah. Salah satunya adalah per­ubahan jumlah energi yang dipancarkan matahari atau berada di orbit bumi di sekitar matahari. Debu-debu volkanik merupakan sebab yang lainnya. Ketika gu­nung api meletus, semburannya mengeluarkan banyak debu volkanik ke atmosfer. Debu itu tetap berada di udara selama beberapa tahun, sehingga mengkaburkan sinar matahari dan mengurangi cahaya matahari vang diterima tanah. Para pakar iklim berpendapat bahwa manusia juga mempengaruhi perubahan iklim. Kegiatan pertanian dan industri menyebabkan lepas­nya sejumlah besar partikel ke udara. Partikel ini me­miliki pengaruh sama dengan debu volkanik.
Perubahan cuaca juga dapat disebabkan oleh kar­bon dioksida, gas yang terjadi secara alamiah di at­mosfer. Karbon dioksida juga dihasilkan dari proses pembakaran. Sejak terjadinya Revolusi Industri, jum­lah karbon dioksida di atmosfer bertambah pesat se­kali karena manusia membakar bahan bakar dalam jumlah besar di rumah atau di pabrik-pabrik. Karbon dioksida mengizinkan sinar matahari masuk ke bumi dan memanaskan permukaannya, tetapi mencegah pa­nas keluar dari atmosfer. Timbullah apa yang disebut efek rumah kaca, yang cenderung menaikkan suhu di dekat tanah.
Walaupun pendinginan iklim bumi secara kese­luruhan sudah terjadi sejak tahun 1940-an, ada bebe­rapa daerah yang menjadi lebih hangat. Beberapa dae­rah menjadi lebih basah, dan yang lain menjadi lebih kering. Ahli iklim tidak mengetahui secara pasti me­ngapa perubahan itu terjadi. Beberapa ahli iklim per­caya bahwa perubahan suhu yang disebabkan oleh pe­nambahan karbon dioksida atau partikel-partikel di udara bisa menyebabkan perubahan pada sistem sir­kulasi angin di bumi. Pakar iklim ingin mempelajari mengapa iklim berubah, terutama karena perubahan- perubahan itu menyebabkan berkurangnya produksi makanan.

PENGERTIAN IKLIM | ok-review | 4.5