PENGERTIAN IKLAN

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN IKLAN, Suatu bentuk pernyataan yang memuat pesan mengenai gagasan, produk, atau jasa yang di­tawarkan oleh perorangan atau perusahaan dan lem­baga, baik swasta maupun pemerintah. Iklan dapat pula berisi sekadar pengumuman yang tidak menyang­kut kepentingan ekonomis dan komersial. Dulu, iklan lebih dikenal dengan istilah advertensi (dari adverten- tie, Belanda), yang sekarang pun masih digunakan orang. Dalam bahasa Inggris iklan disebut advertise­ment atau disingkat ad (jamak ads). Ada pula istilah lain yang lazim digunakan, yaitu reklame {reclame, Belanda).
Tetapi iklan mengandung pengertian yang lebih luas bila dibandingkan dengan reklame. Reklame menon­jolkan unsur dan kepentingan ekonomis, agar orang membeli suatu produk atau jasa, serta unsur psikolo­gis, supaya orang melakukan suatu tindakan. Tetapi iklan, selain dapat mengandung kedua unsur tersebut, bisa juga hanya memuat informasi sekadar untuk di­ketahui oleh khalayak, misalnya pemberitahuan ten­tang kematian, perkawinan, dan kelahiran.
Perbedaan lain di antara keduanya menyangkut media yang digunakan. Iklan memakai media pers ter­cetak (surat kabar dan majalah), radio, televisi, film, atau buku, seperti buku petunjuk telepon, dan bro­sur seperti yang diedarkan dalam pameran atau per­tunjukan kesenian. Reklame biasanya diartikan sebagai iklan yang menggunakan media di luar media massa, umpamanya media “pinggir jalan”, seperti poster, selebaran, ballyhoo (istilah yang berasal dari Amerika Serikat untuk menggambarkan propaganda atau iklan berisi pesan yang menggebu-gebu), dan bill­board (Inggris), yakni papan reklame yang dipancang­kan secara mencolok di tempat-tempat terbuka se­hingga mudah dilihat orang ramai.
Dewasa ini terdapat kecenderungan untuk me­nyebut semuanya iklan saja, termasuk pula pengerti­an reklame. Persatuan Perusahaan Periklanan Indo­nesia (PPPI) merumuskan pengertian iklan sebagai “sebuah pesan penawaran yang ditujukan kepada massa kelompok tertentu, dan berusaha melalui cara persuasi menjual barang, jasa, gagasan, serta cita-cita atas nama sponsor yang membiayainya.”
Peranan Iklan terasa penting pada awal abad ke-20, setelah terjadi revolusi industri yang memperluas ke­giatan perdagangan di Eropa sekitar pertengahan sam­pai akhir abad ke-19. Melonjaknya produksi pabrik sehingga barang harus mencari pembeli, munculnya persaingan di antara para produsen yang menghasil­kan barang yang sejenis, dan semakin banyaknya negara industri, kian memperbesar peranan iklan da­lam dunia usaha. Kemudian, iklan tidak hanya ber­munculan di negara produsen masing-masing, melain­kan menyebar ke negara-negara konsumen, karena perusahaan-perusahaan multinasional raksasa memer­lukan media kampanye untuk memperkenalkan ba­rang mereka ke seluruh dunia.
Colgate-Palmolive di Amerika Serikat, umpama­nya, yang pada tahun 1979 menjual lebih dari 60 per­sen produknya di luar negeri, menghabiskan dana per­iklanan untuk seluruh dunia sebesar 273 juta dolar AS, yang 55 persen di antaranya digunakan di luar Amerika Serikat. Agen iklan terbesar di dunia dewasa ini, jika diukur dari operasi dan pendapatannya, ada­lah Dentsu di Jepang, diikuti oleh J. Walter Thomp­son, McCannDErickson, Ogilvy & Mather, dan Young & Rubicam, semuanya dari Amerika Serikat.
Luasnya perindustrian dan perdagangan suatu ne­gara memberikan efek yang besar pula terhadap peng­gunaan anggaran untuk iklan. Data tahun 1977 me­nunjukkan bahwa penelitian di 50 negara mengungkap­kan Amerika Serikat sebagai negara yang paling ba­nyak menyediakan dana bagi periklanan (22.254 juta dolar AS). Jepang menduduki tempat kedua (3.714 juta dolar AS), diikuti oleh Jerman Barat (2.482 juta dolar AS). Bandingkan misalnya dengan Indonesia, yang pada tahun yang sama hanya mengeluarkan 50,9 juta dolar AS.
 
Iklan di Indonesia juga tidak terlepas dari pasang- surutnya perkembangan perekonomian di dalam ne­geri. Pada tahun 1982-1986, terdapat kenaikan pada anggaran periklanan dibandingkan dengan tahun 1977. Selama lima tahun itu, seluruh biaya iklan pa­da kebanyakan media pers saja, baik surat kabar mau­pun majalah, berjumlah Rp 430 miliar (262 juta dolar AS). Kalkulasi ini didasarkan pada tarif kotor iklan, karena penelitian itu tidak dapat memantau potong­an harga dan biaya agen iklan.
Jumlah terbesar diterima oleh harian Kompas di Jakarta, yang selama lima tahun itu menyedot seper­empat dari total biaya untuk iklan di surat-surat ka­bar yang keseluruhannya berjumlah Rp 327 miliar (199 juta dolar AS). Menyusul di belakangnya harian Sinar Harapan (kini Suara Pembaruan) di Jakarta (14,48 persen) harian Pikiran Rakyat di Bandung (7,33 per­sen), harian Suara Merdeka di Semarang (5,74 per­sen), dan harian Surabaya Post (5,57 persen). Selebih­nya adalah anggaran iklan untuk majalah, sebesar se­kitar Rp 102,5 miliar (63 juta dolar AS), yang terutama disedot oleh Tempo (20,31 persen), Kartini (19,02 per­sen), Femina (16,46 persen), Sarinah (12,9 persen), dan Gadis (6,38 persen).
Pemasang iklan terbanyak selama kurun waktu yang sama ialah perusahaan Unilever yang mempro­duksi barang-barang konsumsi seperti sabun cuci, sa­bun mandi, pasta gigi dan beberapa jenis kosmetika, Rp 5,28 miliar. Unilever, yang berpusat se­bagian di Inggris dan sebagian lagi di Belanda, juga diduga merupakan pemasang iklan terbesar di dunia.
Sementara itu, data pemuatan iklan dalam bulan Juni 1987 menunjukkan bahwa Kompas tetap merupa­kan media penerima iklan terbesar Harian ini mem­peroleh Rp 1,9 miliar dari antara Rp 3,8 miliar, atau setengah dari seluruh biaya iklan yang dikeluarkan oleh 163 merek dagang selama satu bulan itu untuk tujuh media pers di Jakarta. Di belakangnya ialah Suara Pembaruan (Rp 565,9 juta), Kartini (Rp 491 juta), Tempo (Rp 433 juta), Sarinah (Rp 225,3 juta), Femina (Rp 156,6 juta), dan majalah Intisari (Rp 43,5 juta).
Perluasan kegiatan periklanan akibat peningkatan arus perdagangan dan investasi modal asing dengan cepat menambah jumlah perusahaan yang mengageni pemuatan atau penyiaran iklan, yang disebut juga ba­lai iklan. Di Jakarta, perusahaan periklanan, yang pa­da tahun 1975 hanya berjumlah belasan, berkembang menjadi 52 pada tahun 1987. Jumlah ini adalah se­pertiga dari ke-153 agen iklan di seluruh Indonesia. Tiga perusahaan periklanan terbesar di Indonesia pada tahun 1987 adalah Citra Lintas, Matari, dan Fortune.
–‘ > Contractor ~ Supplier & Tindiuit iMJITliSQlL t ” height=”28″ align=”left” hspace=”7″ vspace=”7″ width=”183″>Para agen iklan di Indonesia pernah mengalami “panen”, yaitu sebelum dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor 30/1981 tanggal 1 April 1981, yang menghentikan penyiaran iklan oleh Tele­visi RI (TVRI). Siaran itu dihentikan karena dinilai amat berpengaruh terhadap pola konsumsi masyara­kat. Sementara itu media pers tercetak dibatasi dalam pemuatan iklan yang diterimanya. Keputusan Dewan Pers, yang mulai berlaku tanggal 1 April 1981, me­nentukan bahwa baik surat kabar maupun majalah hanya boleh memuat iklan rata-rata maksimal 35 per­sen dari seluruh luas halamannya. Dalam ketentuan ini terdapat kenaikan 5 persen dibandingkan dengan ketentuan sebelumnya, sebesar 30 persen, yang ber­laku sejak 1 Maret 1980. Ketentuan ini dimaksudkan agar iklan tidak melimpah hanya di media tertentu. Untuk tujuan yang sama, peraturan serupa ini per­nah dikeluarkan oleh Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) pada tahun 1958 ketika koran-koran, yang waktu itu hanya empat halaman, tidak boleh memuat iklan lebih dari sepertiga luas halaman.
Jenis-jenis iklan
Mencerminkan unsur-unsur yang hendak ditonjolkan, ditekankan atau dikesankan da­lam setiap penampilannya. Dalam kaitan ini, dikenal enam jenis iklan: (1) Iklan Gengsi atau Iklan Prestise, yang mengasosiasikan produk dengan kedudukan atau kekayaan; (2) Iklan Harga, yang mengesankan harga yang wajar; (3) Iklan Institusional, yang menonjol­kan nama perusahaan atau lembaga; (4) Iklan Merek, yang menonjolkan merek dagang; (5) Iklan Mutu atau Iklan Kualitas, yang mengesankan mutu yang tinggi; (6) Iklan Produk, yang menekankan manfaat suatu produk.
Nama-nama iklan yang dimuat dalam media pers tercetak didasarkan bukan hanya pada bentuk dan pe­nampilannya, melainkan juga pada penempatannya. Di antaranya dikenal: (1) Iklan Baris atau Iklan Mini, yang memuat hanya beberapa baris kalimat dalam ruangan kolom berukuran kecil dan diklasifikasikan menurut jenis produk atau jenis yang ditawarkan; (2) Iklan Blok atau Iklan Display, yang menyertakan gam­bar atau foto dan hiasan yang menarik, dan biasanya berukuran besar; (3) Iklan Buta, yang merupakan iklan anonim karena tidak menyebutkan identitas pe­masangnya; (4) Iklan Halaman Muka, yakni iklan yang dimuat di halaman depan, umumnya di surat ka­bar, dengan tarif yang lebih tinggi daripada iklan di halaman dalam karena lebih cepat terlihat oleh pem­baca; (5) Iklan Keluarga, yang memuat pesan-pesan keluarga seperti berita kelahiran, pertunangan, per­kawinan, atau kematian; (6) Iklan Kuping, iklan yang dimuat di dalam boks berukuran kecil di sebelah kiri dan kanan logo (nama) surat kabar; (7) Iklan Muhi­bah,, yakni iklan yang dimaksudkan sebagai pelayan­an masyarakat, yang biasanya dimuat atau disiarkan oleh media massa dengan kerja sama organisasi atau lembaga, baik pemerintah maupun swasta. Pesannya sugestif, berisi anjuran agar masyarakat bersikap atau bertindak positif, umpamanya memelihara kelestarian alam lingkungan; (8) Iklan Pulau, yakni iklan yang dimuat “menyendiri” pada suatu halaman koran atau majalah dan dikelilingi berita atau tulisan; (9) Iklan Sponsor, yakni iklan berupa tulisan yang sepintas tampak seperti laporan biasa, tetapi sarat dengan pe­san untuk mempromosikan suatu perusahaan atau produk. Adakalanya iklan jenis ini digunakan untuk memperkenalkan suatu negeri; umumnya mengenai kemajuan perekonomian dan perdagangan negeri ter­sebut.
Di samping itu, di Indonesia sudah lama dikenal bentuk iklnn pos langsung, berupa brosur atau surat selebaran berisi penawaran produk dan jasa, atau pemberitahuan, yang disampaikan kepada para pene­rima surat dengan menggunakan jasa pos. Selama be­berapa tahun terakhir, cara penyebaran iklan seperti ini dipopulerkan kembali oleh pihak pos dengan nama surat pesta. Kata “pesta” adalah singkatan “penyebar­an surat tanpa alamat.”
 

PENGERTIAN IKLAN | ok-review | 4.5