PENGERTIAN IKEBANA

By On Friday, March 28th, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN IKEBANA. Dari kata ikeru (hidup) dan hana (bu­nga), adalah seni merangkai bunga khas Jepang. Ikebana tidak hanya merangkai bunga saja di jambangan, tetapi menyusunnya sedemikian rupa seolah-olah hidup, berjiwa, menyerupai keadaan di alam bebas. Ikebana disebut juga kado. Ikebana berbeda dengan seni menata bunga murni. Perhatian dalam ikebana ditekankan pada pemilihan materi tanaman dan wa­dah rangkaian, penempatan tangkai bunga, dan kaitan antara wadah dan ruang sekeliling.
Ikebana Tradisional.
Ikebana lahir dari seorang bangsawan yang menjadi pendeta Budha, Ono-no- Imoko, pada permulaan abad ke-7. Imoko mempela­jari seni merangkai bunga dari Cina sebagai peleng­kap altar Budha, selain dupa dan lilin. Ketiga elemen itu disebut mitsugusoku. Wadah yang digunakan ter­buat dari logam dan berbentuk tinggi dengan bunga asli yang mempunyai lebar bervariasi. Itulah sebab­nya karya ikebana menggambarkan hasil kristalisasi hidup spiritual dan sikap mental perangkainya
Di Kyoto pada tanggal 25 Februari 1492, Sengyo (Senkei) dari sekolah Ikebono menciptakan rangkaian bunga dengan jambangan emas yang dikenal sebagai gaya rikka (bunga berdiri). Gaya Sengyo secara kese­luruhan asimetris dengan simbolisme kompleks pada setiap tangkai. Rangkaian gaya rikha berasal dari konsep bahwa bunga dirangkai untuk melambangkan Shumisen gunung suci kaum Budha. Gaya rikha se­ring disebut “taman kecil dalam rumah”, karena rang­kaian bunga ini melambangkan pemandangan alam semesta, seperti pegunungan, lembah atau air terjun.
Gaya rikka menggunakan sembilan tangkai fung­sional, yaitu (1) shin, tangkai utama, di tengah rang­kaian dengan tinggi tiga atau empat kali tinggi jam­bangan dengan bentuk lurus (sugushin) atau meleng­kung (nokishin), semua tangkai disesuaikan dengan tangkai utama ini; (2) soe, tangkai pembantu, biasa­nya menggunakan bahan berbeda yang dirancang un­tuk mempertegas shin; (3) uke, tangkai penerima, di­tempatkan di bawah berlawanan dengan shin dan menggunakan bahan yang sama; (4) shoshin, tangkai lurus lambang kebenaran diletakkan di tengah rang­kaian, jika berasal dari rumputan, di depan shin, ji­ka pepohonan di belakang; (5) mikoshi, tangkai men­jalar, jika dari pepohonan berada di belakang shin, jika rumputan diletakkan antara shoshin dan shin; (6) hikae, tangkai pengganti, berlawanan dengan uke dan menggunakan bahan yang sama, memberikan kesan rangkaian dalam dan luas; (7) nagashi, tangkai meng­gantung, ujung tangkai ditekan; (8) do, tangkai ba­tang, berada di depan shin yang memberikan kesan ruang bagi bunga dan daun besar; (9) maeoki, tang­kai interior, ditempatkan terakhir di bagian depan rangkaian yang memberikan kesan dalam dan luas.
Pada akhir abad ke-16 muncul gaya naturalistik, yaitu nageire. Gaya ini biasa digunakan dalam acara minum teh. Sebenarnya gaya ini sudah diperkenalkan Cina pada abad ke-12 kepada pendeta Budha Zen. Gaya ini menekankan segi naturalisme atau kemampu­an perangkainya untuk menghasilkan komposisi yang memberikan kesan pertumbuhan bunga yang diguna­kan. Gaya ini memberikan kesempatan perangkainya mengekspresikan konsep seninya. Gaya ini merang­kaikan bunga dalam jambangan secara alamiah, apa pun jenis bunga yang digunakan.
Rangkaian masa itu mencapai tinggi sekitar 2,5 sampai 3,5 meter dan hanya dinikmati golongan masyarakat atas, seperti kalangan istana, keluarga bangsawan, samurai, dan kuil Budha. Karena itu pada abad ke-17 muncul satu gaya yang lebih sederhana dari gara rikka yang dinikmati oleh golongan menengah dan rakyat jelata. Gaya ini disebut gaya shoka atau seika dan merupakan gabungan gaya rikka dan na­geire. Gaya ini memberikan variasi tidak terbatas dan menjadi populer pada akhir abad ke-I8.
Dalam rangkaian gaya shoka dikenal tiga jenis tang­kai: (1) shin, tangkai pertama, tingginya 1,5 sampai 3,5 tinggi wadah rangkaian; (2) soe, tangkai kedua, tingginya 2/3 tinggi shin; (3) tai, tangkai ketiga, ting­ginya 1/3 tinggi shin. Shoka mempunyai tiga jenis variasi, yaitu (1) isshuike menggunakan satu jenis ba­han; (2) nishuike menggunakan dua jenis bahan; dan (3) sanshuike menggunakan tiga jenis bahan. Yang pertama dan kedua digunakan dalam shoka tradisio­nal, sedang yang ketiga digunakan dalam shoka modern.
Ikebana gaya rikka dan shoka biasa dipraktekkan di sekolah yang berbeda dan terus berkembang se­lama berabad-abad. Dalam perkembangan ini ike­bana mengalami perbaikan yang diterima masyarakat Jepang sebagai warisan kebudayaan. Berbagai sekolah baru bermunculan dengan adanya modifikasi sekolah lama, sesuai perkembangan jaman, sehingga muncul­lah berbagai persaingan keindahan.
 
Ikebana Modern.
Setelah restorasi Meiji pada ta­hun 1868, seni tradisional Jepang sempat dilupakan akibat antusianisme kebudayaan Barat. Pada tahun 1890-an, ikebana mulai bangkit ketika Ohara Unshin menciptakan suatu gaya yang disebut moribana. Gaya m0ribana menekankan warna dan kesan pertumbuh­an tanaman secara natural. Moribana dikenal juga se­bagai rangkaian pada wadah rendah dan dangkal.
Gaya moribana dirangkai sesuai kehidupan Barat, tetapi lebih tepat dikatakan bahwa gaya ini dirancang untuk tanaman Barat. Publikasi Unshin sangat mem­pengaruhi ikebana bunga Barat dan rangkaian deko­rasinya. Rangkaian gaya bebas yang dimulai sekitar tahun 1921 mengembangkan kebebasan merangkai. Gaya ini dimulai dengan moribana. Gerakan gaya be­bas ini tidak hanya merupakan reaksi terhadap ike­bana tradisional rikka dan shoka, tetapi juga usaha untuk melepaskan formalitas moribana.
Umumnya sekolah ikebana mengajarkan rangkaian moribana dan nageire. Walau masing-masing meng­gunakan metode berbeda, keduanya menggunakan da­sar rangkaian sama, yang terdiri atas tiga tangkai fungsional, yaitu ten (alam), chi (bumi),y’/>7 (manusia). Beberapa aliran ikebana menyebutnya tangkai utama satu, dua dan tiga untuk mempermudah perangkai bu­kan orang Jepang. Ketiga tangkai ini jika ditangani secara bebas dapat menghasilkan berbagai bentuk tak terbatas yang disebut jiyuka (gaya bebas) atau zen- eibana {avant-garde).
Ikebana tidak hanya populer di Jepang, tetapi se­telah Perang Dunia II juga di negara-negara Barat, bahkan di Indonesia. Walaupun di Indonesia ikebana masih sedikit peminatnya, Indonesia menjadi tuan ru­mah dalam Konferensi Ikebana Internasional Asia I pada bulan September 1988.

PENGERTIAN IKEBANA | ok-review | 4.5