PENGERTIAN IKATAN PERS MAHASISWA INDONESIA

By On Friday, March 28th, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN IKATAN PERS MAHASISWA INDONESIA. Di­singkat IPMI, didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955 sebagai organisasi ekstra universitas bagi para maha­siswa yang berminat mendalami masalah pers dan ter­jun dalam praktik pengelolaan pers mahasiswa. Te­tapi nama IPMI sebenarnya baru lahir tiga tahun ke­mudian, sebagai gabungan dua organisasi para pe­ngelola media pers mahasiswa— Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI).
Pada tahun 1955 itu, para pengelola sepuluh pener­bitan mahasiswa dari lima kota universitas utama— Yogyakarta, Jakarta, Makasar (sekarang Ujungpan­dang), Bandung, dan Surabaya— berkumpul di Kali­urang, Yogyakarta, pada tanggal 8-10 Agustus. Ini adalah Konferensi Pers Mahasiswa Seluruh Indonesia pertama, yang diprakarsai majalah Gama (Gajah Mada) di Yogyakarta. Mereka bersepakat memben­tuk organisasi bernama IWMI yang berkedudukan di Yogyakarta, sebagai wadah para pengelola pers maha­siswa dalam bidang redaksional, yaitu reporter dan redaktur. Diilhami oleh pers umum yang memiliki Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) selain Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), mereka pun sepakat men­dirikan SPMI yang berkedudukan di Jakarta, sebagai wadah para pengelola manajemen pers mahasiswa. T. Jacob terpilih sebagai ketua IWMI, sedangkan SPMI diketuai oleh Nugroho Notosusanto. Sebagai penghubung antara kedua organisasi itu, diadakan Badan Kontak IWMI-SPMI.
Dalam Konferensi Pers Mahasiswa Indonesia ke­dua pada tanggal 16-19 Juli 1958, juga di Kaliurang, diusulkan agar dilakukan penggabungan di antara ke­dua organisasi itu sehingga, demi praktisnya, hanya ada satu wadah bagi seluruh pengelola pers mahasis­wa. Pertemuan menyepakati berdirinya IPMI yang berkedudukan di Jakarta dan dipimpin oleh pengurus baru seperti M. Anis Ibrahim, sebagai ketua, A.T. Birowo, Wisaksono Noeradi, Alex Rumondor, dan Sjariff Saleh.
Awal Masa Orde Baru. Selama tahun-tahun ter­akhir masa pemerintahan Orde Lama, kegiatan IPMI mengalami kelesuan akibat suasana politik dan ke­adaan ekonomi yang menyulitkan kehidupan organi­sasi ini. IPMI waktu itu boleh dikatakan berada da­lam keadaan antara hidup dan mati.
Tetapi, bersamaan dengan lahirnya Orde Baru, ge­rakan mahasiswa pada awal tahun 1966 untuk ikut mendorong pembaruan politik membangkitkan pula gairah organisasi ini. Dari kalangan anggota IPMI ber­munculan berbagai jenis penerbitan seperti surat ka­bar harian, mingguan, atau buletin di sejumlah kota, di luar dan di dalam kampus perguruan-perguruan tinggi terkemuka. Penerbitan-penerbitan itu dilahir­kan baik oleh pers kampus, yang bergerak di dalam lingkungan perguruan tinggi, maupun pers mahasiswa, yang dikelola di luar kampus.
Di Jakarta, di luar kampus diterbitkan Harian Kami, yang demikian populer sehingga di pasaran ber­saing dengan surat-surat kabar umum. Harian itu di­kelola oleh para anggota pengurus IPMI seperti M. Anis Ibrahim, Nono Anwar Makarim, Sueeng Sarjadi, Willy Karamoy, Ismid Hadad, Adi Sasono, Zulharmans, dan Eka Masni Djamaan. Surat kabar minggu­an ukuran tabloid Mahasiswa Indonesia, yang dikenal kritis dan juga beredar di pasaran umum, lahir pula di Bandung.
Harian Kami dan Mahasiswa Indonesia mengalami nasib yang sama seperti penerbitan pers umum, ketika pada bulan Januari 1974 terjadi pembreidelan ter­hadap sebelas surat kabar dan satu majalah berita.

PENGERTIAN IKATAN PERS MAHASISWA INDONESIA | ok-review | 4.5